
Dipaksa Menikah Bagian 21
Oleh Sept
Rate 18 +
Malam ini, Sofi harus membayar perbuatannya. Suka atau tidak, hukuman dari Garda sudah harus ia terima. Garda yang saat ini terpengaruh minuman, sudah siap menyerang wanita bandel yang berani tidak patuh padanya.
"Kamu milikku! Mengerti?" bisik Garda dan dengan cepat langsung menyesap bibir sofi. Wanita itu hanya bisa terbelalak dan tidak bisa menghindar.
Garda yang sudah gelap mata tersebut, menyerang Sofia dengan kasar. Ia sesap dalam-dalam dan sempat mengigit bibirnya. Bahkan, lidah wanita itu pun jadi korban. Pria yang tengah marah karena api cemburu itu ingin menunjukkan pada Sofi, bahwa dialah pemilik tubuh itu sepenuhnya.
Sofi sendiri berusaha melawan, ia meronta. Berusaha menutup mulut rapat, tapi kekuatan Garda tidak sebanding. Pria itu terlalu kuat untuk dilawan. Sofi hanya bisa menjerit dalam hati, ketika Garda membungkam mulutnya.
Semua dilakukan pria itu dengan paksa, tidak peduli Sofi suka atau tidak. Garda hanya melakukan sesuai gejolak jiwanya yang semakin membara karena api amarah.
Garda dengan kegilaannya malam ini terus berusaha mendesak Sofi, mulai dari sentuhan bibir dan jari-jari tangan yang kelewat kreatif.
"Ini juga milikku!"
Mata sofia berkaca-kaca, tak kala Garda masuk dengan paksa. Tanpa pemanasan yang cukup, dengan kasar ia membuat Sofi kesakitan. Garda sengaja, karena ini adalah hukuman untuk istrinya yang tidak patuh.
Masih dengan mata yang sudah basah, Sofi memejamkan mata menahan sakit. Garda sama sekali tidak iba padanya. Pria itu menyentuh tanpa perasaan. Hanya menyisahkan luka yang tidak berkesudahan.
***
Keesokan hari, secercah sinar mentari menembus masuk kamar villa mereka tanpa permisi. Lewat jendela kaca yang terang, matahari mengintip dari luar sana. Sementara itu, di atas ranjang yang besar, dua pasang kaki menyembul dari balik selimut. Garda pertama kali yang membuka mata.
Begitu bangun ia merasa pusing, pasti karena minum semalam. Pria itu memegangi kepalanya yang pusing sebelah. Sembari memijit kepala, ia melirik ke samping. Rasa pusing kembali menyerang tak kala mengingat apa yang terjadi semalam.
Flashback On
Garda yang masih dalam pengaruh minuman, berada tepat di atas tubuh Sofi. Setelah masuk dengan paksa, ia kemudian melepaskan wanita itu. Tanpa ada yang keluar, karena memang belum. Ia kemudian menatap Sofi intense dan lama-lama berubah sendu. Dilihatnya Sofi yang terisak karena berbuatannya.
__ADS_1
"Lihat aku, Sof!" ucap Garda lirih.
Tangis Sofi malah pecah, dan Garda tidak tahan akan hal itu.
"Diam!"
Bukannya diam, Sofi masih saja menangis.
"Aku katakan diam!"
CUP ...
Kali ini Garda mengecupp istrinya itu lembut, Sofi bahkan bisa merasakan perbedaan dengan yang tadi.
Sesaat kemudian, Garda menarik diri. Ia usap mata Sofi yang basah. Keduanya pun malah saling menatap lama, dan ketika Sofi membuang muka, Garda kembali mendekatkan wajahnya.
[Dia milikku! Hanya milikku!]
CUP ...
Sofi sendiri tubuhnya seperti tersihir. Ia malah diam saja, tidak berontak ketika Garda kembali memulai aksinya.
[Sadar, Sof!]
Sofi semakin panik ketika jari-jarinya Garda mulai bermain di tempat terlarang.
[ASTAGA! Sadar, Sof!]
Wajah Sofi menegang, terasa panas, jari-jari Garda membuatnya merasa sesak. Pria itu tiba-tiba saja membuatnya bergejolak. Sentuhan lembut, ciumann yang hangat, jari-jari yang membuatnya geli, semua membuat Sofi hilang kendali.
Sementara itu, Garda yang merasa istrinya sudah basah. Ia langsung saja memasukkan barangnya. Kali ini Sofi tidak menangis, wanita muda itu malah memejamkan mata.
Tubuh Sofi mengeliat tak kala pria itu naik turun dengan teratur. Hal yang sama juga terjadi pada Garda, pria itu tiba-tiba merasa tegang.
__ADS_1
Sofi sempat kaget, ketika sesuatu yang hangat terasa di dalam sana. Ia sempat melirik wajah suaminya yang sepertinya menahan sesuatu.
Bukkkkk
Garda langsung ambruk, ia merebahkan tubuhnya di sisi Sofi kembali setelah pertempuran tanpa perlawanan barusan.
Flashbacks end.
Karena hari ini ada pertemuan penting, Garda pun langsung turun dari ranjang. Berikutnya setelah selesai mandi, kini ia sudah terlihat rapi dengan setelan jas warna hitam. Wajahnya kembali dingin.
Matahari sudah meninggi, sang istri masih tidur pulas. Tidak ingin membangunkan, ia berangkat begitu saja. Meninggalkan Sofi dalam kamar.
Begitu Garda keluar, Sofi langsung menarik sedikit selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Rupanya ia sudah bangun sejak tadi, hanya saja canggung menghadapi sang suami.
"Bagaimana ini?"
Sofi dilanda dilema, merutuki sifat plin-plannya, ia pun bergegas mandi. Tubuhnya terasa lengket karena sisa-sisa keringat semalam.
Di dalam kamar mandi, cukup lama ia terdiam di depan cermin. Ia menatap wajahnya sendiri, tiba-tiba ia terbayang-bayang kejadian semalam. Mengapa ia terkesan menikmati?
Keluar kamar mandi, ia menatap ranjang, ketika berdiri di meja rias. Sofi seolah melihat bayang semu suaminya. Tidak ingin terjebak dengan kehaluan bersama Garda di kamar, ia memilih keluar.
Tap tap tap,
Kebiasaan Sofi, ia selalu terburu-buru ketika menuruni tangga. Sedangkan di meja makan, begitu Bibi penjaga rumah mendengar derap langkah nyonya rumah, Bibi itu hanya melirik. Kemudian menyiapkan makan untuk Sofi.
Setelah selesai makan, Sofi mencoba ke luar villa. Dilihatnya beberapa bodyguard masih berjaga.
"Ish!" Ia menghela napas panjang.
Sofi pelan-pelan melangkah ke halaman, di belakangnya ada seorang pengawal yang mengekorinya sejak keluar dari pintu. Ia benar-benar seperti tahanan yang harus diawasi.
Bosan karena terus diawasi bila sedang di luar, akhirnya ia masuk kembali ke dalam. Sofi yang merasa jenuh, ia pun melihat-lihat villa tersebut. Ia membuka salah satu kamar yang membuatnya penasaran. Ada apa di dalamnnya. Dan ketika ia masuk ruangan itu, ia malah seperti melihat hantu.
__ADS_1
BERSAMBUNG