
"Apa kamu ragu dengan keputusanmu itu?" Tanya Arya dengan wajah meremehkan.
"Tidak, aku sama sekali tidak ragu! Tapi, Pah..." Jawab Fitria, yang sengaja menggantungkan ucapannya karena ada sesuatu hal yang masih mengganjal pada hatinya.
"Tapi apa?" Tanya Arya, dengan mengulangi ucapan Fitria sebelumnya.
"Kalau aku membawa laki-laki yang siap menikah denganku kehadapan Papah, bukan berarti aku harus menikah dengannya dalam waktu dekat, 'kan?" Tanya Fitria ragu-ragu.
"Tentu saja kamu harus menikah dalam waktu dekat dengannya, Papah ini sudah sangat ingin menimang cucu, Fit." Jawab Arya dengan santai.
Sementara, Fitria yang baru saja mendengar ucapan Arya, pun sudah berkeringat panas dingin.
"Mampus! Apa yang gue bakal lakukan sekarang? Gue kira akan lolos dari pernikahan itu, ternyata Papah masih gencar menginginkan gue menikah dalam waktu dekat." Gerutu Fitria dalam hati.
Arya tersenyum penuh arti ketika melihat Fitria yang tiba-tiba saja bungkam, tidak lagi banyak berbicara.
"Untuk apa kamu menyulitkan diri sendiri seperti itu, jika pada akhirnya kamu akan menyerah dan menerima perjodohan ini." Gumam Arya dalam hati, yang begitu yakin
dengan asumsinya bahwa Fitria akan
gagal dengan pilihan yang diambilnya.
Di sela-sela percakapan antara Fitria dan Arya, tiba-tiba saja wanita paruh baya datang, membuat atensi kedua orang yang sedang berbincang itu melihat ke arahnya.
Sedangkan Fitria yang mendapatkan sebuah ide untuk menjadikan wanita itu sebagai perisainya, pun langsung buru-buru
mendekat untuk mengadukan semua
keinginan Arya yang memaksanya
untuk menikah.
"Mah.." Rengek Fitria, dengan bergelayut di lengan Evi, Mamah Fitria.
Evi yang bingung dengan sikap putri semata wayangnya, pun segera melemparkan pandangannya ke arah suaminya itu.
"Apa yang terjadi sih, sayang?" Tanya Evi, kepada Fitria.
"Mah, masa Papah menjodohkanku dengan anak dari temannya. Bagaimana bisa Papah melakukan itu kepadaku?" Rengek
Fitria, mengadukannya kepada Evi.
Berharap agar Evi bisa membujuk Arya agar tidak lagi mendesaknya untuk menerima perjodohan itu.
"Loh, bagus dong sayang. Justru Mamah sangat mendukung keputusan Papahmu itu." Jawab Evi, di luar dugaan Fitria.
Fitria menelan salivanya kasar ketika Evi tidak berpihak kepadanya.
"Mah, kok Mamah malah dukung Papah sih?" Protes Fitria kesal.
"Bukan seperti itu, sayang--"
Belum sempat Evi menyelesaikan ucapannya, Arya sudah memotongnya lebih dulu.
"Bukankah Papah sudah memberikanmu opsi? Jika kamu sanggup membawa laki-laki kehadapan Papah yang siap
__ADS_1
menikahimu dalam waktu satu bulan, maka Papah tidak akan memaksamu untuk menerima perjodohan ini." Kata Arya yang menegaskan perjanjiannya dengan Fitria
"Baiklah, aku akan buktikan kepada Papah. Jika aku bisa mencari sendiri untuk pendampingku nanti." Pungkas Fitria, lalu pergi meninggalkan Evi dan Arya begitu
saja.
Sedangkan Evi dan Arya hanya bisa melihat kepergian putri semata wayangnya itu tanpa mengatakan apa pun.
Ketika Fitria sudah tidak lagi terjangkau di netra keduanya, Evi mengalihkan pandangannya ke arah Arya dengan tatapan tajam.
BUGH.
"Papah ini bagaimana, sih? Untuk apa memberikan opsi konyol seperti itu kepada Fitria? Jika Fitria sembarangan memilih laki-laki untuk dijadikan suami, bagaimana?" Tanya Evi kesal, setelah memukul lengan suaminya pelan.
"Mamah tidak perlu khawatir, dia pasti akan menyerah sendiri dan menerima perjodohan ini." Jawab Arya penuh keyakinan.
Fitria yang saat ini tengah berada di dalam kamarnya terus saja berjalan mondar mandir seperti memikirkan sesuatu. Sesaat Fitria pun langsung menyambar ponselnya yang berada di atas nakas dan langsung
menghubungi seseorang.
'Halo, Fit. Ada apa?' Tanya Farhan, ketika baru saja menerima panggilan dari Fitria.
"Lo lagi sibuk gak, Han?" Tanya Fitria, dengan meletakan benda Pipih di telinganya.
'Nggak silh, ada apa? Tumben lo hubungi gue.'
"Lo bisa bantu gue gak?" Tanya Fitria tanpa basa-basi.
"Bantu apa dulu?'Jawab Farhan dengan kembali bertanya, yang tidak langsung menyetujui permintaan Fitria.
'Maksud lo, gimana? Tanya Farhan yang belum mengerti dengan permintaan Fitria.
"Lo pura-pura mau nikahin gue di depan Papah gue, Han. Agar gue terbebas dari perjodohan sialan itu."
'Hahaha lo mau dijodohin? Nggak salah dengar gue?' Tanya Farhan tertawa lepas.
"Gimana Han? Lo bisa kan?'' Tanya Fitria, yang menunggu persetujuan laki-laki dari sambungan Suara.
"Sorry ya, Fit. Gue gak bisa, Lo tau sendiri kalau Om Arya mengenal baik keluarga gue, gue gak mau kalau nantinya Om Arya sampai tahu kalau gue bohong soal ini, dan keluarga gue ikut menanggung malu.' Jawab Farhan menolak permintaan dari
sahabatnya itu.
Fitria yang mendengar penolakan dari Farhan yang enggan membantunya, pun langsung melemas.
***
Selama beberapa minggu berlalu setelah kecelakaan itu terjadi. Kondisi Safira kini sudah kembali seperti biasanya. Bahkan sudah tidak ada lagi perban yang membalut bagian tubuhnya yang terdapat luka di sana.
Semenjak hubungan Safira dan Aida membaik, Aida menunjukkan sikap protektifnya terhadap menantunya itu, bahkan bisa dikatakan melebihi protektifinya Daffa.
Deringan ponsel milik Daffa menggema di ruangan keluarga. Daffa yang sebelumnya sedang tidur dipangkuan Safira, pun langsung meraih ponselnya yang terletak di
atas meja.
"Halo Mah, assalamu'alaikum." Ucap Daffa, setelah menggeser tombol berwarna hijau ke atas, pada layar ponselnya.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam. Nanti malam kamu dan Fira makan malam di sini ya, Mamah baru saja membeli bahan makanan yang kualitasnya nomor satu, bahkan Mamah sendiri loh yang memilihnya.'
"Mah, untuk apa Mamah sampai capek capek seperti itu? Mamah kan bisa meminta Bi Asih untuk membelinya."
'Mamah tidak ingin, jika cucu Mamah di dalam perut kekurangan gizi Daff, lagi pula Mamah tidak yakin jika Bi Asih bisa memilihnya dengan baik, Oh iya, baru saja Mamah menyuruh sopir untuk mengantarkan bahan makanan juga ke rumah kamu. Pokoknya mulai sekarang Mamah yang akan mengurus bahan makanan di rumah kamu deh Daff.'
"Nggak perlu, Mah. Daffa juga masih mampu untuk membeli itu semua."Tolak Daffa yang tidak ingin merepotkan Aida.
'Mamah tahu, kamu mampu membelinya. Tapi Mamah tidak percaya bahwa makanan yang di konsumsi menantu Mamah apakah kualitasnya baik atau tidak, jika bukan Mamah sendiri yang memilih nya.'
"Baiklah, baiklah. Terserah Mamah saja." Kata Daffa yang memilih pasrah.
"Ya sudah Mamah tutup dulu, dan ingat ya! Jangan buat menantu Mamah kelelahan, kalau Mamah sampai melihat keringat yang jatuh dari Fira akibat kelelahan, kamu akan Mamah beri pelajaran!' Ancam Aida
sebelum mengakhiri panggilannya.
Daffa menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menatap ponsel di tangannya, setelah selesai berbicara dengan Aida.
"Kenapa, Mas?" Tanya Safira yang menangkap ekspresi bingung dari suaminya.
"Akhir-akhir ini aku merasa kayak anak tiri bagi Mamah, sayang. Desah Daffa.
"Memangnya apa yang terjadi, Mas?" Tanya Safira kembali.
"Mamah selalu mengancamku jika tidak memberikan yang terbaik untuk kamu, padahal tanpa Mamah mengancam, pun aku selalu melakukannya. Sebenarnya di sini yang anak kandungnya itu aku atau
kamu, sih?" Gerutu Daffa merajuk.
Sementara Safira hanya tertawa ketika mendengar keluhan Daffa yang menurutnya terlihat menggemaskan.
"Terimakasih banyak untuk banyaknya cinta yang sudah kalian berikan kepadaku," Ucap Safira seraya memeluk erat tubuh Daffa.
"Berada di tengah-tengah kalian, adalah sebuah anugerah yang sangat aku syukuri." Sambungnya kembali.
CUP.
Daffa mendaratkan ciumannya pada pucuk kepala Safira yang dilapisi oleh hijab, saat mendengar ucapan yang begitu indah didengar oleh telinganya, yang membuat hatinya semakin berbunga-bunga terhadap
istrinya itu.
Tidak lama, seorang asisten rumah tangga mendatangi keduanya, yang membuat Daffa mendengus kesal. Mengganggu sekali! Gerutu Daffa dalam hati.
"M-maaf Tuan, sudah mengganggu waktunya." Ucap wanita paruh baya itu ketakutan, karena ditatap oleh Daffa dengan tatapan setajam elang.
"Ada apa?" Tanya Daffa dingin.
"Itu Tuan, ada tamu."
"Siapa?"
"Katanya teman Tuan dan Nona, namanya Fitria."
Mendengar itu, Daffa langsung menyugar rambutnya kasar.
"Astaga, dia lagi? Nggak honeymoon, nggak di rumah. Selalu saja jadi pengganggu!" Gerutu Daffa kesal, seraya berkacak pinggang.
__ADS_1