Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
122. Rencana Rahasia.


__ADS_3

Fitria yang saat ini masih bersembunyi di dalam selimut nampak ragu ketika tidak ada suara dari Agatha dalam waktu yang cukup lama.


"Ta, apa lo sudah memakai baju?" Tanya Fitria yang masih bersembunyi.


Biasanya Fitria selalu bar-bar dalam menghadapi banyak hal. Namun untuk kali ini, Fitria benar-benar seperti tidak memiliki


nyali, bahkan memilih untuk bersembunyi.


"Hmm." Jawab Agatha hanya bergumam.


Pelan-pelan Fitria mulai keluar dari selimut itu, dan mengedarkan pandangannya ke sembarang arah untuk mencari keberadaan Agatha saat ini.


Seketika Fitria langsung menatap Agatha kesal, saat mendapati laki-laki itu sudah berada di sofa dalam posisi tidur dan membelakanginya.


"Bisa-bisanya lo tidur begitu saja, Ta!" Teriak Fitria geram, membuat Agatha yang semula membelakanginya, pun langsung


membalikan tubuhnya agar menghadap ke arah Fitria.


"Lalu gue harus apa?" Tanya Agatha santai.


"Paling tidak bilang dulu kalau lo sudah memakai baju, jadi, gue nggak harus bersembunyi kayak tadi." Ucap Fitria meluapkan kekesalannya.


"Gue nggak menyuruh lo untuk bersembunyi, kenapa lo malah menyalahkan gue?"


"Baru beberapa jam gue jadi istri lo, rasanya tensi darah gue sudah naik drastis!" Desah Fitria kesal, lalu merebahkan tubuhnya kembali untuk tidur.


Tidak ada tanggapan apa pun dari Agatha, hanya suara langkah kaki saja yang Fitria dengar. Suara langkah kaki itu seolah mendekat ke arah Fitria saat ini.


"Maafin gue." Ucap Agatha yang baru saja duduk di sisi ranjang dan menatap ke arah Fitria yang menutupi tubuh hingga wajahnya dengan menggunakan selimut.


Dengan cepat Fitria langsung membuka selimutnya kembali saat mendapati ucapan maaf dari Agatha. Fitria benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Gue nggak salah dengar kan?" Tanya Fitria merubah posisinya menjadi duduk. Dan memastikan kalau pendengarannya itu masih berfungsi dengan baik.


Agatha hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban seraya menatap Fitria lekat, hingga membuat Fitria jadi salah tingkah mendapati tatapan seperti itu dari laki-laki yang baru saja menjadi suaminya.


Sesaat suasana kamar itu menjadi sangat hening.


GLUK.


Di sela-sela kedua pasang mata yang saling menatap lekat. Tiba-tiba saja Fitria menelan salivanya kasar, hingga bunyinya sangat jelas terdengar di telinga Agatha.


"Apa yang saat ini lo pikirkan sampai menelan air liur seperti itu?" Tanya Agatha dengan menaikkan salah satu alisnya.


"Telinga lo pasti salah dengar! Mana mungkin gue menelan air liur seperti itu, kurang kerjaan saja." Jawab Fitria berbohong, namun nampaknya Agatha tak


mempercayainya.


"Baiklah, gue anggap, gue nggak mendengarnya tadi."

__ADS_1


"AGATHA!"


"Gue mau tidur dulu." Kata Agatha bangkit dari posisinya yang tengah duduk di sisi ranjang, dan berjalan ke arah sofa untuk tidur di sana.


Begitupun dengan Fitria yang langsung merebahkan dirinya kembali saat Agatha sudah kembali ke sofa.


Setelah itu, tidak ada lagi suara yang keluar dari mulut keduanya. Baik Agatha, maupun Fitria, keduanya sama-sama bungkam


hingga satu jam lamanya.


Fitria yang semula tengah membelakangi sofa yang ada Agatha di sana, perlahan memutar tubuhnya dan melihat ke arah Agatha yang saat itu tengah membelakanginya.


"Apa lo sudah tidur, Ta?" Tanya Fitria memastikan.


"Belum, kenapa?" Tanya Agatha masih membelakangi Fitria.


"Ah, ng-nggak!" Jawab Fitria tiba-tiba saja gugup, Fitria kira Agatha sudah tidur dari satu jam yang lalu.


Namun ternyata perkiraan Fitria salah besar.


"Kalau belum tidur kenapa dari tadi dia terus membelakangi gue seperti itu? Apa dia begitu nggak menyukai gue?" Gumam Fitria dalam hati.


Sesaat Agatha pun memutar tubuhnya dan menghadap ke arah Fitria


DEG.


Lagi-lagi jantung Fitria berpacu lebih cepat ketika netranya bertemu dengan Agatha. Meskipun keduanya tidak satu ranjang, namun tetap saja hati Fitra terasa cenat-cenut saat ditatap seperti itu oleh laki-laki yang saat ini menjadi suaminya itu.


"Maksud lo, gue mengharapkan apa?" Tanya Fitria tidak terima mendapati ucapan itu.


Sedangkan Agatha hanya mengedikkan bahunya saja sebagai


"Ck, yang benar saja. Apa gue se mesum itu jadi wanita? Lagi pula siapa yang berpikiran ke arah sana." Gerutu Fitria kesal.


***


Keesokan harinya saat di meja makan, Safira dan Daffa yang tengah sarapan, tidak luput dari obrolan tentang rencana babymoon keduanya yang akan di lakukan beberapa hari lagi.


Safira yang baru teringat dengan pesan yang Fitria kirimkan semalam, pun langsung mengatakannya kepada Daffa.


"Mas, semalam Fitria mengirimkan pesan kepadaku." Ucap Safira di sela-sela obrolannya.


"Dia mengatakan apa sayang? Apakah mengenai tutorial malam pertama?" Tanya Daffa yang langsung di jawab dengan gelengan kepala oleh Safira.


"Lalu apa yang dia katakan?" Tanya Daffa kembali seraya mengunyah makanannya.


"Dia mengingatkan tentang permintaannya kepadaku tempo hari, Mas." Jawab Safira membuat Daffa hanya mengangguk mendengarnya.


"Bagaimana kalau lusa, sayang? Nanti akan aku siapkan tiket beserta tempat untuk mereka menginap selama honeymoon di sana." Papar Daffa membuat Safira menghentikan aktivitas makannya sejenak.

__ADS_1


"Mereka? Bukankah aku sudah mengatakan sebelumnya, kalau Fitria ingin honeymoonnya bersamaan dengan babymoon kita, Mas." Ucap Safira meralat ucapan suaminya itu.


"Ah iya, maksudku seperti itu sayang." Kata Daffa seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.


Ponsel milik Safira tiba-tiba saja bergetar, membuat obrolan keduanya pun terpaksa harus berhenti.


"Siapa yang menghubungimu sepagi ini, sayang? Sangat tidak sopan" Desah Daffa kesal.


"Fitria, Mas." Jawab Safira sebelum mengusap tombol berwarna hijau ke atas.


"Dia lagi.. Dia lagi.. " Gerutu Daffa menghirup napasnya dalam.


"Assalamu'alaikum, Fit." Ucap Safira dengan menempelkan benda pipih miliknya ke telinganya.


"Wa'alaikumussalam, Fir. Lo lagi sibuk nggak?' Tanya Fitria melalui sambungan suara.


"Aku lagi sarapan sih, Fit."


'Gimana dengan permintaan gue, Fir? Apakah Daffa menyetujuinya? Soalnya Papah dan mertua gue sudah meminta agar gue dan Agatha segera berangkat honeymoon secepatnya."


"Alhamdulillah Mas Daffa sudah menyetujuinya, Fit." Jawab Safira, yang disambut senang oleh Fitria.


'Benarkah? Terus rencananya kapan kita akan berangkat? Tanya Fitria tidak sabar menunggu jawaban.


"Kata Mas Daffa lusa, Fit" Jawab Safira.


"Berikan ponselnya kepadaku, sayang." Ucap Daffa mengulurkan tangannya ke arah Safira, dan langsung di berikan oleh istrinya itu.


'Lalu, Daffa bilang nggak kita akan pergi kemana, Fir?'


"Lo akan tahu sendiri nanti, gue akan mengurus semuanya. Anggap saja ini hadiah pernikahan dari gue dan Fira." Jawab Daffa mengambil alih.


'Daffa, Fira mana? Gue kan belum selesai ngomong sama dia. Masih banyak yang ingin gue bicarakan.' Protes Fitria ketika ponsel Safira diambil alih oleh Daffa.


"Fira lagi sarapan, gue nggak mau kalau sarapan Fira jadi nggak berkualitas gara-gara lo. Lagi pula ngapain lo menghubungi istri gue sepagi ini, sih? Kayak nggak ada waktu lain saja." Ujar Daffa mengomeli Fitria melalui benda pipih


itu.


'Sorry Daff, sorry. Oh iya, jadi kita akan berangkatnya kapan? Apakah lo sudah menentukan jadwalnya?'


"Lusa siang, kita bertemu di bandara."


'Oke, thank you ya buat kalian yang sudah membantu gue. Kalau gitu gue tutup dulu teleponnya.' Pungkas Fitria lalu menutup panggilannya.


Setelah panggilan telepon sudah terputus, Daffa langsung memberikan benda pipih itu kepada Safira kembali seraya memasang senyuman penuh arti.


Melihat itu Safira pun langsung memicingkan matanya ketika menangkap ada sesuatu yang Daffa rencanakan.


"Apa yang Mas Daffa rencanakan di belakangku?" Tanya Safira menginterogasi.

__ADS_1


"Nanti kamu akan tahu sendiri, sayang." Jawab Daffa enggan memberitahu.


__ADS_2