
"Kenapa? Sakit, ya?" Tanya Fitria dengan wajah mengejek. Bukannya Friska menjawab, dia justru melirik ke arah kaki Fitria yang terbalut gips di bawah sana.
"Lo nggak salah pilih istri, Ta? Masa wanita cacat kayak gini lo nikahi?" Sindir Friska sarkas Hingga berhasil membuat netra Agatha membola sempurna.
"Lo bilang apa tadi?" Tanya Agatha penuh intimidasi.
Sedangkan Fitria yang mendapati cacian bukannya kesal. Dia justru hanya memberikan senyuman kepadanFriska.
"Gue bilang cacat, apa lo tuli?" Ucap Friska mengulangi ucapannya, membuat tangan Agatha mengepal sempurna.
"Jaga ucapan lo, ******!" Bentak Agatha kesal, hingga suaranya menggema di ruangan itu.
PLAK.
"Harusnya lo berkaca dulu sebelum berbicara. Lihat, betapa busuknya ucapan yang keluar dari mulut lo itu. Apa lo nggak sadar kalau hati lo itu sakit?" Ucap Fitria yang akhirnya mengeluarkan suara, setelah
menampar wajah Friska kembali.
"Haissh... Sialan!" Desah Friska tidak terima mendapati tamparan untuk yang kedua kalinya pada bagian wajahnya.
PLAK.
Dengan gerakan secepat kilat, Friska berhasil membalas tamparan pada wajah Fitria.
"Jangan lo pikir karena gue tahanan, gue hanya diam saja." Ucap Friska penuh penekanan.
Dengan tangan yang memegangi sebelah sisi wajahnya, Fitria terus menatap Friska dengan tersenyum simpul.
"Kamu nggak apa-apa, Fit?" Tanya Agatha cemas dengan meraih wajah Fitria lalu mengusapnya lembut.
"Hmm, aku baik-baik saja." Jawab Fitria membuat Agatha lega.
Sesaat, Agatha beralih menatap Friska dan meraih tangan wanita itu, kemudian mencengkramnya kuat.
"Gue bisa patahkan tangan lo kapan saja, kalau lo berani menyentuh istri gue lagi!" Ancam Agatha dengan suara baritonnya.
"Beruntungnya Daffa bisa menikah dengan Fira, wanita yang baik dari segi mana pun. Tidak seperti mantannya yang seperti pelac*r." Sindir Fitria dengan menatap ke
sembarang arah.
BRAK.
"Siapa yang lo maksud pelac*r?" Tanya Friska setelah menggebrak meja berbahan kayu.
"Ups, lo tersinggung, ya? Maaf ya kalau ucapan gue benar." Sahut Fitria, membuat emosi Friska semakin mendidih dibuatnya.
"Pulang yuk sayang, aku tidak ingin mengotori mataku dengan pemandangan yang buruk seperti ini." Sambung Fitria kembali dengan mengajak Agatha pergi.
"Sialan! Berani sekali lo mengatakan itu kepada gue. Jangan pergi, urusan kita belum selesai." Teriak Friska saat Agatha dan Fitria mulai pergi meninggalkannya.
***
__ADS_1
Beberapa bulan kemudian..
Setelah Bagaskara sempat di rawat di rumah sakit beberapa hari yang lalu, Bagaskara secara tiba-tiba berkunjung ke rumah Daffa tanpa memberitahu kepada anak dan menantunya.
Sehingga membuat Daffa sempat terkejut saat mendapati Bagaskara tiba di kediamannya, meskipun dengan diantarkan oleh sopir pribadi dan kedua ajudan
Bagaskara.
Dengan wajah yang masih terlihat sedikit pucat, Bagaskara duduk di sofa yang berada di ruang kerja Daffa. Wajah Bagaskara begitu menegang, sesekali Bagaskara meminum tehnya yang sudah di sediakan untuknya di atas meja.
"Ada apa sebenarnya, Pah?" Tanya Daffa yang akhirnya membuka suara.
"Begini, Daff--" Ucap Bagaskara menggantungkan ucapannya.
Sedangkan Daffa yang semula tengah menyimak baik-baik, pun semakin dibuat penasaran dengan apa yang akan diucapkan oleh Papahnya itu. Pasalnya, Bagaskara benar-benar tidak seperti biasanya. Seperti ada sesuatu hal yang penting yang ingin dia sampaikan kepada
putra semata wayangnya itu.
"Apa ada masalah, Pah?"
"Cabang perusahaan di Amerika sedang mengalami masalah, Daff. Kemungkinan akan mengalami kerugian yang cukup banyak. Bahkan, bisa saja mengalami kebangkrutan." Ucap Bagaskara memaparkan masalahnya.
"Kenapa Papah baru memberitahuku?" Tanya Daffa cepat.
"Papah pikir bisa menyelesaikannya dari sini. Namun sepertinya, Papah harus
menyelesaikannya langsung di sana. Tapi... Kamu tahu sendiri, kondisi Papah juga belum sembuh total. Dokter, pun belum membolehkan Papah untuk melakukan perjalanan keluar negeri." Terang Bagaskara disambut anggukkan kepala Daffa sebagai jawaban mengerti.
"Pilihannya hanya dua, Daff. Kamu yang ke Amerika untuk menggantikan Papah di sana. Atau, kita biarkan cabang perusahaan itu bangkrut."
Daffa hanya bisa terdiam mendengar ucapan Bagaskara. Mengingat kandungan Safira sudah memasuki trimester tiga dan sudah mendekati hari persalinannya.
Sangat tidak mungkin jika Daffa meninggalkan istrinya ke Amerika di saat kandungannya sudah cukup tua. Bagaimana jika Safira tiba-tiba mengalami kontraksi di saat aku tidak berada di sisinya? Batin Daffa, dan masih banyak pertanyaan lainnya yang muncul di kepalanya.
Namun, jika melihat kondisi Bagaskara yang belum begitu pulih dari sakitnya, Daffa kembali dilema. Yang baru saja dikatakan Bagaskara memanglah benar, tidak mungkin jika laki-laki paruh baya itu melakukan perjalanan bisnis ke negeri Paman Sam di saat kondisinya seperti itu.
Tapi, jika Daffa membiarkan begitu saja, cabang perusahaan yang sudah susah payah Papahnya bangun, harus rela jika mengalami kebangkrutan yang memakan kerugian puluhan miliar.
"Daff." Panggil Bagaskara hingga berhasil menyadarkan Daffa dari lamunannya.
"Iya, Pah?"
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Aku bingung, Pah. Aku tidak bisa memberikan keputusan apa pun. Aku tidak mungkin jika meninggalkan Safira, apalagi usia kandungan dia sudah cukup tua. Jika membawa dia bersamaku ke Amerika, pun tidak mungkin."
"Papah mengerti, Daff." Ucap Bagaskara seraya menganggukkan kepalanya.
Safira yang baru saja keluar dari kamarnya tengah menuruni anak tangga satu per satu dengan netra yang menjuru ke sembarang arah untuk mencari keberadaan suaminya yang sejak tadi tak terlihat di dalam kamar.
Biasanya Daffa selalu menempel dengan Safira seperti anak itik yang takut kehilangan induknya. Safira menghentikan langkahnya saat melilhat dua wanita paruh baya yang tengah sibuk di dapur.
__ADS_1
"Bi, lihat Mas Daffa tidak?" Tanya Safira dengan netra yang masih sibuk melihat ke sembarang arah.
"Ada Non, Tuan Daffa sedang bersama Tuan Bagaskara di ruang kerjanya." Jawab salah satu asisten rumah tangga itu.
"Papah datang ke sini, Bi?" Tanya Safira cepat.
"Iya, Non."
"Terimakasih banyak." Pungkas Safira, lalu pergi menuju ruang kerja Daffa untuk menyapa Bagaskara.
Namun, langkah Safira terhenti saat melihat dua ajudan Bagaskara tengah berdiri di depan ruang kerja Daffa. Dengan cepat Safira kembali memundurkan langkahnya dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam sana.
"Sepertinya ada hal penting yang mereka bicarakan." Gumam Safira saat mendapati kedua ajudan Bagaskara tengah berdiri di depan pintu tidak seperti biasanya.
Akhirnya, Safira pun memilih untuk menunggu kedua laki-laki berbeda generasi itu di ruang keluarga agar kehadirannya tidak menganggu keduanya.
"Oh ya, Daff. Dari tadi Papah tidak melihat Fira. Sedang apa menantu Papah? Kamu tidak membuatnya kesulitan, 'kan?" Tanya
Bagaskara saat keduanya baru saja keluar dari ruang kerja Daffa. Kaki keduanya, pun terus melangkah menuju pintu utama.
Sedangkan Safira yang sudah menunggu suami dan mertuanya itu langsung buru-buru menghampiri keduanya, saat suara laki-laki berbeda generasi mulai terdengar di telinganya.
"Sepertinya dia sed-" Ucapan Daffa terhenti saat Safira tengah berjalan mendekat ke arahnya.
"Assalamu'alaikum, Pah." Ucap Safira dengan mencium tangan Bagaskara.
"Wa'alaikumussalam, bagaimana kabarmu dan cucu Papah?" Tanya Bagaskara dengan netra yang melihat ke arah perut yang sudah membuncit itu.
"Alhamdulillah kami baik, Pah."
"Oh ya, Papah mendapatkan amanah dari Oma untuk menyampaikan pesannya. Katanya, nanti malam kalian diminta untuk
makan malam dan menginap di sana."
Ujar Bagaskara.
"Bagaimana, sayang?" Tanya Daffa meminta persetujuan Safira. Safira mengangguk pelan.
"Insyaallah nanti sore kami ke sana, Pah." Kata Safira menyetujui.
"Ya sudah, kalau begitu Papah pulang dulu. Assalamu'alaikum." Pungkas Bagaskara lalu pergi bersama kedua ajudannya menuju halaman depan.
Setelah mobil Bagaskara telah pergi meninggalkan kediaman Daffa, Safira langsung menatap Daffa tanpa mengatakan apa pun.
Menyadari istrinya tengah menatapnya, Daffa pun langsung melemparkan pandangannya ke arah istrinya itu.
"Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan kepadaku, sayang?"
"Apa boleh, Mas?"
"Tentu saja boleh, katakanlah."
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, apa yang Papah bicarakan kepadamu tadi, Mas?" Tanya Safira ragu-ragu.