Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
Kandang Macan


__ADS_3

Dipaksa Menikah Bagian 45


Oleh Sept


Rate 18 +


Jelas sekali Sofi merasa kaget, ia tersentak sekilas karena tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.


"Ada apa dengannya? Kenapa memelukku dengan erat. Ya ampun ... sesek banget. Sampai enggap!" batin Sofi. Ia heran dengan sikap suaminya itu. Padahal mereka masih di area perusahaan. Yang pasti mereka akan jadi pusat perhatian.


Dan kini, meskipun Sofi belum melihat wajah suaminya langsung, ia sudah menebak bahwa sosok yang memeluk tubuhnya dari belakang itu adalah Garda. Itu karena Sofi hafal aroma tubuh suaminya tersebut. Harumnya khas, seperti semalam. Tiba-tiba, ia tersenyum tipis membayangkan kejadian tadi malam.


"Kita dilihat orang!" ucap Sofi kemudian setelah beberapa saat.


Garda masih terdiam, tapi tetap memeluk tubuh istrinya. Pria itu sepertinya tidak peduli meski sedang banyak mata menatap pada mereka. Sebagian karyawan memperhatikan Garda, tapi tidak berani menatap langsung. Mereka yang lewat hanya melirik, mungkin takut dipecat.


"Lepasin ... Malu!" bisik Sofi saat menyadari semua mata semakin banyak yang tertuju padanya.


"Mau ke mana?" tanya Garda sembari memutar tubuh Sofi.


Ia pegang kedua bahu istrinya itu, dan menanti jawaban Sofi. Apakah istrinya itu hendak kabur kembali?


"Aku bosan," ujar Sofi yang melihat keseriusan di wajah sang suami.


"Bukan mau kabur lagi?" celetuk Garda.


Sofi pun mencoba melepaskan tangan suaminya.


"Kabur? Kabur apa sih! Aku mau jalan-jalan sebentar, cari udara segelar. Sepertinya dia bosan di ruangan lama-lama!" kelit Sofi sembari mengusap perutnya.


Seketika Garda tersadar, ia sudah kelewat panik. Kecemasan yang berlebihan, mungkin trauma pada si Sofi yang hobby kabur tersebut. Pria itu lalu mengusap wajahnya dengan berat, sambil merutuk sikapnya sendiri yang negative thinking itu.


"Ya sudah, mau ke mana? Aku temani."


Sofi menggeleng.


"Nggak, kamunya sibu!" tolak Sofi yang tahu suaminya sedang banyak pekerjaan.


"Bisa ditunda, kamu mau ke mana?"


"Jangan! Selesaikan dulu pekerjaan itu. Nih ... aku masuk lagi."


Garda pun melihat jam di pergelangan tangannya. Memang ia sedang sibuk banget hari ini.


"Oke, tunggu satu jam lagi!" pinta Garda dengan muka yang masih kelihatan serius.


Sofi mengangguk, mereka berdua pun kembali ke ruangan Garda. Di sana, mereka seperti rantai kapal, gandengan terus sampai tiba di ruang kerja pimpinan Rajasa Group tersebut.

__ADS_1


***


Ketika Garda melanjutkan pertemuan pentingnya. Sofi nampak rebahan di sofa yang ada dalam ruang kerja suaminya. Belum juga satu jam, Sofi terus saja menguap dan tertidur pulas.


Mungkin karena perutnya kenyang, sehingga suasana mendukung. Apalagi AC ruangan yang cukup nyaman membuat orang ingin malas-malasan, alhasil Sofi pun meringkuk di atas Sofa. Ia sudah mimpi indah ketika Garda masuk.


KLEK


Sebuah senyum tergambar jelas di wajahnya, Garda menatap Sofi dengan lembut. Kemudian melepaskan jas yang ia pakai. Ia selimuti gadisnya yang sudah sangat jinak itu. Meski tadi sempat membuatnya ketar-ketir.


Beberapa jam kemudian


Sofi merenggangkan tubuhnya, ototnya terasa kaku karena tidur di sofa.


"Astaga! Aku ketiduran!"


Sofi buru-buru bangkit, tapi sebuah tangan memintanya untuk tetap di tempat.


"Duduk dulu, jangan langsung bangun ... baru buka mata juga. Minum ini dulu!" ucap Garda sembari memberikan minum pada istrinya.


"Makasih, jam berapa ini? Aku ketiduran lama ya?"


Sofi menatap jendela kaca yang terbentang lebar di sebelahnya. Langit sudah berubah warna, menjadi jingga merata.


"Kamu pasti kecakepan, tidur pules begitu."


"Nggak, nggak capek ... Kan nggak ngapa-ngapain. Tadi kenapa nggak bangunin?"


Sofi pun merasa aneh. Sejak kapan suaminya jadi nggak tegaan? Biasanya juga raja tega.


"Ya sudah, kamu cuci muka dulu. Mari kita pulang."


"Iya," jawab Sofi sambil memakai sepatu sandalnya.


Beberapa saat kemudian


Sofi sudah terlihat segar, begitu pula dengan Garda. Pria berwajah serius itu kini terlihat sedap dipandang. Karena sesekali ia tersenyum saat memperhatikan Sofi.


Bahkan di lobby tempatnya bekerja pun, ketika beberapa karyawan menyapa, Garda sempat melempar senyum. Padahal, biasanya juga super jutek dan cuek. Para karyawan yang diperlakukan dengan hangat sampai heran, apa pimpinan mereka sudah tertukar?


Di dalam mobil


"Kita ke rumah saja ya," pinta Sofi.


"Iya, langsung pulang kok. Kamu kan juga butuh mandi. Pasti lengket semua, seharian cuma tiduran."


"Maksudnya bukan pulang ke rumah mama."

__ADS_1


Garda yang duduk di sebelah Sofi, langsung memutar tubuh. Kini ia menatap istrinya lekat-lekat.


"Terus? Bukannya kamu seneng tinggal sama mama lagi?"


Sofi menggeleng pelan. Dan tiba-tiba bibir Garda menggembang. Kemudian ia mulai menebak.


"Pulang ke rumah kita sendiri, ya? Biar puas mainnya?"


Spontan Sofi mendelik, ia melotot tajam ke arah suaminya.


"Apa sih!" tepisnya.


"Pak! Langsung ke rumah!" ucap Garda pada sopir di perusahaan. Karena tadi pas dia berangkat, Garda mengemudi sendiri. Karena sore ini sangat capek dan lelah, ia minta tolong diantar sopir.


Maunya kembali ke rumah mertua, eh di tengah jalan Sofi malah minta pulang ke rumah mereka sendiri. Garda seolah mendapat berkah yang luar biasa.


***


Kediaman Garda Arkasa Ragasha, dari luar terlihat besar, jauh lebih besar dari pada rumah orang tua Sofi. Dan ketika mobil baru masuk area halaman rumah yang luas itu, mereka langsung disambut beberapa pengawal.


"Aku nggak mau banyak penjaga," keluh Sofi melihat dari dalam mobil.


"Iya, nanti aku pecat mereka semua!" jawab Garda asal.


"Jangan! Jangan dipecat!" cegah Sofi buru-buru.


"Terus mau ngapain mereka? Kalau nggak boleh jaga rumah ini dan isinya, baiknya dipecat saja, kan?" ucap Garda, rupanya ia sedang memanipulasi pikiran Sofi.


"Biarin deh, jangan dipecat. Udah ... biarin aja!"


Dalam hati, Garda tersenyum menang. Bukannya apa-apa, hanya saja hatinya belum yakin melepaskan Sofi. Memberikan Sofi kebebasan untuk saat ini belum bisa ia lakukan. Melihat Sofi tadi pagi saja ia sudah spot jantung. Garda belum bisa percaya Sofi seratus persen.


Karena sudah tiba, mereka pun turun bersama-sama. Ketika masuk, Sofi merasa hawa yang berbeda. Dulu, ia merasakan rumah ini bagai penjara, tapi sekarang semua terlihat beda di matanya. Ketika dia menjadi bucin, hal yang dulu sangat ia benci kini malah ia sukai. Seperti suaminya sekarang ini.


Keduanya sudah di dalam kamar, Garda pun langsung melepaskan pakaiannya. Ia mau mandi.


"Bareng apa aku duluan?"


Wajah Sofi langsung seperti tomat. Sedangkan Garda, pria itu tersenyum licik dalam hati.


'Kamu sudah masuk kandang macan, Sayang!' batin pria berbadan tegap dan atletis tersebut. BERSAMBUNG


TINGGAL SEMINGGU LAGI


Ikuti give away Sept ya,


__ADS_1




__ADS_2