
Dipaksa Menikah Bagian 51
Oleh Sept
Rate 18 +
Mohon skip, untuk yang belum menikah ya. Yang sudah menikah ayo merapat di dunia perlobakan.
***
Gara-gara membuat suaminya cemburu, Sofi saat ini harus menanggung akibat dari perbuatannya itu.
Kediaman Garda Arkasa Ragasha, di sebuah rumah megah dan sepi itu, Sofi sedang nenanti detik-detik eksekusi.
Pulang dari kafe, Garda mengemudi sendiri mobilnya. Bersama Sofi ia langsung tancap gas ke rumah. Ternyata, aksi ciumann dadakan itu membuat Garda bergelora.
Wajah tadi terlihat tegang saat menyetir, Sofi takut suaminya marah karena ia membahas Juna. Padahal, Garda sedang mencoba untuk tetap fokus. Karena di sisinya ada Sofi yang membuatnya hilang kendali.
Garda ngebut, gass poll. Ia ingin segera tiba di kediamannya. Dan begitu tiba, tanpa ba bi bu, pria itu langsung membopong tubuh istrinya keluar menuju kamar.
***
"Kamu marah ya? Aku bahas Juna?" tanya Sofi yang merasa takut.
Ia merasa ngeri kalau Garda menghajarnya saat pria itu diliputi rasa marah. Mungkin Sofi juga trauma, saat pertama mereka menyatu. Di sana Garda memaksakan kehendaknya dengan kasar. Dan Sofi tidak menyukai hal itu.
Ia lebih suka Garda akhir-akhir ini yang memperlakukan dirinya dengan penuh kelembutan, memanjakan dia dan tidak marah meskipun dia berulah. Tapi sekarang, Sofi malah bergidik ngeri saat menatap sorot mata suaminya.
__ADS_1
Bukkkk ....
Sofi memalingkan muka, Garda sudah melempar jas yang semula melekat pada tubuh kekar pria tersebut.
[Mati aku!]
[Selamatkan aku .... siapa saja!]
Sofi terus saja berguman dalam hati, meminta diselamatkan.
"Kamu yang paling hebat kok, bukan yang lain ... apalagi dia. Dia sangat payah!" ucap Sofi, ia tidak mau menyebut nama Juna. Takut singanya bakal mengeluarkan taring.
Garda semakin mendekat, dan Sofi yang sudah terlentang mencoba beringsut.
"Swear! Jangan begini ... kamu membuatku takut!" Sofi mendesis campur takut.
"Aduh ... pertutku sakit!" Sofi mencari-cari alasan.
Bukannya panik, Garda malah menyibak pakaian Sofi. Hingga perutnya terbuka sempurna. Ia menurunkan wajahnya, kemudian ia kecupp perut itu dengan lembut, hembusan napas Garda yang hangat, membuat Sofi langsung mengeliatt.
[Aduh! Aduhhhh!]
Sofi langsung tidak bisa fokus. Bila ia tadi sempat takut, kini ia malah mencengkram punggung suaminya.
"Masih sakit?" tanya Garda dengan sengaja menggoda.
Wanita itu menggeleng pelan.
__ADS_1
"Jangan bohong ... hukumannya dobel!"
Tiba-tiba bibir Sofi menggembang, melihat mata Garda yang teduh menatapnya. Rasa takut yang sempat mampir dalam hati, mendadak hilang. Ia tahu, Garda tidak mungkin menyakiti dirinya seperti dulu. Kucingnya juga sudah jinak.
"Emm ... nggak balik ke kantor?" tanya Sofi basa-basi, sembari tangannya memainkan rambut Garda. Ia juga mengusap rahang yang tegas itu. Kelihatan gagah dan garang.
Pria itu masih ada di atasnya, dengan lengan sebagai tumpuan. Sofi sih santai, karena berada dalam kungkungan Garda sangat ini tidak semenyeramkan seperti dulu. Kalau setiap kali membuat Garda marah, dan hukumannya seperti ini. Sofi sih tidak takut. Malah nagih.
Cup ...
Sofi memulainya dengan sebuah kecupann pembuka, membuat Garda sedikit kaget. Tumben Sofi memulai duluan. Tepat di bibir pula. Biasanya juga selalu Garda yang punya initiative pertama kali. Dan sebagai seorang laki-laki normal, Garda menyukai hal ini. Kalau wanita minta duluan, berasa lebih berbeda.
Makin berdesirlah hati pria tersebut, tidak mau tergesa-gesa karena Sofi lagi hamil, Garda pun membuai dengan pelan.
Ia kecupp balik bibir yang terasa manis tersebut. Mencoba menyelami isi di dalamnnya. Bertukar rasa, saling menarik dan sisertai gigitan kecil.
Sofi sempat terkekeh, dan kaget karena Garda hampir menyesapnya begitu dalam. Sampai ia kesusahan untuk mengambil napas.
Mereka hanya lepas sesaat, hanya sebentar untuk mengambil oksigen. Berikutnya, kembali larut dalam lautan asmara yang mengelora di siang yang panas.
"Lebih cepat, sayang!" seru Sofi lirih.
BERSAMBUNG
Gass!!!! Wkwkwkwk
Skip ya.
__ADS_1