
Mendapati informasi bahwa Safira telah kembali, laki-laki yang memiliki pengaruh besar di desa itu pun seketika membuang puntung rokoknya ke lantai.
"Kapan kau melihatnya?" Tanya Baron kepada salah satu anak buahnya yang baru saja menyampaikan informasi kepadanya.
"Baru saja bos. Aku melihatnya berada di rumah Mang Ardi."
Tidak ingin gagal mendapatkan Safira kembali, Baron pun langsung bergegas untuk menemui pujaan hatinya saat itu juga.
"Bos, mau kemana?" Tanya anak buah baron yang memiliki tato naga itu.
"Menemui calon istriku lah, kemana lagi!"
"Lebih baik jangan sekarang bos, karena aku melihat ada laki-laki berada di sana, sepertinya Neng Fira kembali bersama laki-laki itu." Tutur laki-laki bertato naga agar Baron tidak bertindak gegabah.
"Apa yang kamu katakan barusan? Neng Fira kembali bersama laki-laki lain? Brengsek! Berani sekali laki-laki itu mendekati calon istriku!" Geram Baron dengan berkacak pinggang.
Kali ini, emosi Baron tiba-tiba saja memuncak. Tidak bisa lagi menahan diri, Baron pun mengabaikan ucapan anak buahnya dan langsung pergi menuju rumah
Ardi.
"Maaf Mang, Bi. Bukannya aku tidak menyukai hidangannya, namun belakangan ini perutku memang agak susah menerima makanan." Ucap Daffa yang baru saja tiba dari toilet dengan wajah yang terlihat lemas, akibat memuntahkan semua isi
perutnya.
Sedangkan Ardi dan Rani hanya memberikan senyuman penuh arti sebagai respon.
Daffa yang tidak mengerti dengan maksud dari senyunman yang diberikan oleh sepasang suami istri di hadapannya pun segera melihat ke arah Safira untuk meminta penjelasan.
"Papahnya jabang bayi kayanya sayang banget ya, Neng. Sampai ngidam saja diborong semua" Celetuk Ardi.
"Jadi Mang Ardi sudah tahu?" Tanya Daffa.
"Baru saja Neng Fira memberitahu kepada kami, pasti sangat berat ya Daff, merasakan ngidam seperti itu?" Timpal Bi Rani.
"Jika dikatakan berat, ya lumayan Bi. Tapi lebih berat, jika aku melihat Fira yang merasakannya. Aku tidak bisa membayangkan, jika melihat Fira merasakan seperti ini. Apalagi Fira dan calon anakku sedang membutuhkan banyak nutrisi. Lebih baik aku yang kehilangan banyak berat badan, dari pada anak dan istriku yang mengalaminya. " Kata Daffa seraya mengusap perut Safira
lembut.
"Ya ampun kalian ih, kenapa manis pisan! Bi Rani jadi iri." Ucap Rani yang ikut merasakan baper dengan sikap Daffa kepada Safira.
"Hayu atuh, Bu. Kita produksi lagi." Saut Ardi menggoda Rani.
"Nggak. Ingat umur, Pak!" Kata Rani seraya menepuk lengan Ardi.
"Hahaha" Ketiga orang yang lainnya pun ikut mentertawakan Rani.
"Alhamdulillah, Mang Ardi ikut senang melihat kalian akur. Apalagi melihat Daffa begitu sangat menyayangi Neng Fira."
"NENG FIRA!"
"NENG FIRA!"
__ADS_1
"AKANG TAU KAMU BERADA DI SINI."
Teriak Baron yang baru saja turun dari motornya, membuat atensi orang-orang yang berada di dalam tertuju ke arah pintu depan.
TOK TOK TOK.
"Buka!"
"Cepat sekali Baron mengetahui jika Neng Fira telah kembali," Monolog Ardi seraya menatap ke arah pintu.
"Neng, lebih baik kamu masuk ke dalam kamar dengan Daffa. Biar Mang Ardi yang akan menemui Baron
" Titah Ardi kepada keduanya."
"Tapi itu bahaya Mang, lebih baik pintunya jangan dibuka saja, nanti juga Kang Baron pergi sendiri." Kata Safira yang tidak mau jika terjadi
"Baron tidak akan pergi Neng sebelum dia berhasil membawamu. Apalagi dia tahu kalau Neng Fira saat ini berada di sini, dia pasti akan mencari cara agar bisa menerobos masuk." Ujar Ardi yang membuat Daffa mengepalkan tangannya sempurna ketika mendengarnya.
"Benar apa yang dikatakan pamanmu, Neng." Timpal Rani membenarkan.
Kurang ajar sekali bajingan tengik itu, berani-beraninya ingin membawa istriku! Batin Daffa.
"Sayang, sebaiknya kamu masuk ke dalam kamar ya. Dan gunakan aerphone untuk mendengarkan murottal. Biar aku yang menghadapi laki-laki itu." Ucap Daffa lembut, agar Safira merasa tenang.
"Tapi, Mas--"
"Ssstt, kamu tidak perlu khawatir sayang. Apa kamu lupa siapa aku?" Daffa yang berusaha menenangkan Safira agar tidak khawatir.
"Tentu saja aku tidak lupa, Mas Daffa itu suamiku, dan bukan petinju. Makanya aku khawatir. Bagaimana jika Kang Baron memukul Mas Daffa lagi seperti dulu?"
TOK TOK TOK.
Khawatir Baron menerobos masuk, Daffa pun dengan cepat menggendong Safira dan membawanya ke kamar, kemudian
Daffa pun memasangkan aerphone pada telinga Safira yang dilapisi oleh hijab, dan menyalakan murottal pada ponsel miliknya.
Sebelum keluar dari kamar, Daffa pun berbicara kepada calon anaknya yang masih berada di dalam kandungan.
"Sayang, jika kamu mendengar ucapan yang buruk, tolong jangan di dengarkan ya. Maaf jika nanti banyak suara yang mengagetkanmu, anggap saja itu suara dari kembang api di malam tahun baru." Ucap Daffa kepada calon anaknya seraya mencium perut Safira.
"Ada perlu apa, ya?" Tanya Ardi yang baru saja membukakan pintu.
"Di mana calon istriku? Jangan coba-coba menyembunyikan dia lagi. Kali ini, tidak akan ku biarkan Neng Fira lepas dariku!" Tanya Baron dengan netra yang mengitari setiap sudut ruangan.
"Mohon maaf, tapi Neng Firanya sedang istirahat." Jawab Ardi sopan.
"Aku tidak perduli! Aku akan membawa Fira sekarang juga!" Kata Baron dengan mendorong tubuh Ardi yang berusaha menghalangi jalannya.
"Dasar bajingan tengik! Berani sekali kamu datang kemari!" Saut Daffa yang baru saja keluar dari kamar.
"Kamu? Bukankah kamu laki-laki yang ingin menjebloskan aku kedalam penjara waktu itu?" Tanya Baron kepada Daffa.
__ADS_1
"Benar, dan sialnya lo malah kabur! Dasar pengecut!" Jawab Daffa tersenyum meremehkan.
"Berani sekali kamu mengatakan bahwa alku pengecut!" Ucap Baron yang mulai geram.
Baron pun melayangkan sebuabh bogeman mentah ke arah Daffa. namun dengan cepat Daffa menangkisnya.
"Cih, segini doang kekutan, lo?" Kata Daffa meremehkan.
"Aku tidak akan membuang banyak energi untuk meladeni orang sepertimu!"
"Hahaha alasan!" Ejek Daffa tertawa puas.
"Lebih baik kamu pergi dari sini, atau kamu akan menyesal. Aku tidak ada urusan denganmu!"
"Tidak akan! Karena lo udah berani ganggu istri gue."
"Apa, istri? Siapa?" Tanya Baron yang belum tahu bahwa Daffa suami dari Safira.
"Safira Anastasya." Jawab Daffa dengan tatapan yang sudah setajam elang.
Tidak terima pujaan hatinya dikatakan sebagai istri orang lain, Baron pun mendekat ke arah Daffa dan mencengkram kerah bajunya dengan cukup kuat.
"Coba katakan sekali lagi?" Titah Baron dengan suara penuh penekanan.
"Apa telinga lo congek! Gue bilang jangan pernah ganggu Safira Anastasya, karena dia istri gue!" Jawab Daffa dengan melepaskan dirinya dari cengkraman Baron.
Karena kesal, Baron pun hendak memukul Daffa untuk yang kedua kalinya. Daffa yang menyadari pergerakan Baron, dengan cepat
Daffa pun memukul Baron lebih dulu.
BUGH.
"Itu hadiah dari gue!" Kata Daffa yang berhasil mendaratkan bogeman mentah pada wajah musuhnya hingga mengalir darah segar.
"Tuan Muda, apakah anda baik-baik saja?" Tanya kelima ajudan Bagaskara yang baru saja masuk ke dalam rumah Ardi.
"Bawa hama ini keluar sekarang juga!" Titah Daffa kepada salah satu
ajudan.
"Lepaskan!" Berontak Baron ketika dirinya diseret paksa.
Baron yang biasanya selalu disegani di desanya karena kekayaan, serta kekuasaannya. Namun kali ini Baron diperlakukan sangat tidak hormat oleh Daffa dan juga ajudannya, yang membuat kebencian.
Baron semakin menumpuk pada laki-laki berparas tampan, yang baru saja mengakui bahwa dirinya adalah suami dari wanita pujaan hati Baron.
"Lihat saja, kau akan menyesali perbuatanmu!" Ancam Baron sebelum meninggalkan halaman rumah Ardi.
Sedangkan Ardi kebingungan ketika kedatangan lima laki-laki berpakaian serba hitam dan bertubuh tinggi serta kekar di rumahnya.
Daffa yang menangkap ekspresi dari Ardi pun langsung memberikan penjelasan.
__ADS_1
"Gak perlu takut, Mang. Mereka ajudan yang diperintahkan oleh Papah untuk menjagaku dan juga Fira selama di sini."
Ucap Daffa kepada Ardi, yang disambut dengan anggukan kepala dari laki-laki paruh baya itu sebagai jawaban.