
Terlihat raut wajah sumringah yang langsung terpancar pada wajah Daffa ketika mendengar ucapan Dokter Kayla.
"Aku akan turuti semua keinginanmu dan
calon anak kita. "
"Aku pengen Klepon mas" Ucap Safira.
***
Sesuai permintaan Safira sebelumnya, sepulang dari rumah sakit, Daffa memutuskan untuk mampir ke kantor untuk menunggu kedatangan penjual kue klepon itu.
Namun selama satu jam Daffa menunggu, penjual kue klepon itu pun tidak juga datang. Tidak ingin mengecewakan sang istri, Daffa pun membuat spanduk bertuliskan DICARI, ABANG PENJUAL KUE KLEPON DENGAN GEROBAK BERWARNA HIJAU, HARAP HUBUNGI NOMOR TELEPON DI BAWAH INI KARENA ISTRI SAYA SEDANG NGIDAM", spanduk itu pun
di pasang di depan kantor milik Bagaskara dengan ukuran yang cukup besar.
"Sekarang kita tinggal menunggu saja kabar dari penjual kue kleponnya, sayang." Ucap Daffa setelah spanduk itu telah selesai di pasang.
"Mas, apa ini tidak berlebihan? Tanya Safira yang keheranan dengan ide suaminya.
"Tidak sayang, sudah ku katakan sebelumnya kan? Bahwa aku akan menuruti semua keinginanmu dan calon anak kita."
"Iya mas, tapi tetap saja--"
Ucapan Safira terhenti ketika ada suara laki-laki paruh baya terdengar di telinganya.
"Bukankah kamu mengatakan kepada Papah sedang sakit pagi tadi? " Ucap Bagaskara yang tiba-tiba saja datang entah dari mana.
"Papah... " Panggil Daffa lirih.
"Sedang apa kalian di sini? Jika sedang salkit, kenapa tidak banyak istirahat saja di rumah sih Daff? Urusan pekerjaan tidak usah dipikirkan." Kata Bagaskara.
"Lagi pula siapa yang kemari karena pekerjaan, Daffa kemari untuk menunggu penjual kue klepon, Pah. " Saut Daffa.
"Kue klepon? Sejak kapan kamu gemar dengan jajanan kaki lima seperti itu?" Tanya Bagaskara dengan menaikkan salah satu alisnya.
"Bukan Daffa, Pah. Tapi cucu Papah. " Timpal Daffa.
"Cucu papah? Maksud kamu, Fira hamil? " Tanya Bagaskara dengan cepat.
"Iya Pah. " Jawab Daffa.
"Alhamdulillah... Selamat ya nak, Fira. Papah ikut senang mendengarnya," Ucap Bagaskara dengan wajah bahagia.
"Jadi di mana penjual kue kleponnya, Daff?" Lanjut Bagaskara kembali dengan bertanya.
"Belum datang Pah. " Jawab Daffa.
__ADS_1
"Bagaimana jika Papah kerahkan seluruh ajudan untuk mencari penjual kue klepon itu? Papah tidak ingin, jika cucu papah tidak kesampaian untuk merasakan kue kleponnya. " Kata Bagaskara.
"Tidak perlu Pah, Daffa sudah memasang spanduk itu. Nanti jika penjual kue itu lewat juga akan menghubungi Daffa. "
"Bagus! Ini baru anak papah. " Puji Bagaskara seraya menepuk pundak Daffa dengan penuh bangga.
Safira yang sedari tadi menyaksikan percakapan kedua laki-laki berbeda generasi itu, hanya menggelengkan kepalanya heran.
Safira baru tahu, ternyata Daffa dan
mertuanya sama saja.
Safira dan Daffa memutuskanbuntuk pulang ketika tidak mendapati penjual kue klepon yang ditunggunya. Bukan karena Daffa tidak ingin membelikannya, sebelumnya Daffa pun sudah menawarkan kue klepon yang di jual oleh pedagang lain,
namun Safira menolak.
"Sayang, maafkan Papah jika membuatmu menunggu kue kleponnya." Kata Dafa seraya mengusap lembut perut Safira.
Sedangkan Safira hanya tersenyum ketika melihat suaminya bersikap begitu manis, menurutnya.
"Sayang, mau langsung pulang ke rumah atau mampir dulu ke Oma?" Tanya Daffa ketika keduanya sedang berada di perjalanan.
"Lebih baik kita mampir ke Oma dulu, Mas. Bagaimanapun juga kita harus memberitahukan berita baik ini kepada Oma." Jawab Safira.
"lya sayang." Kata Daffa menyetujui.
"Hmm... Mas?" Panggil Safira lirih.
"Perutku lapar, Mas." Cicit Safira dengan meringis malu.
"Baiklah, kita mampir ke restoran dulu ya kalau begitu."
"Nggak usah, Mas. Nanti sekalian saja makan malam di rumah Papah."
"Kamu yakin sayang?" Tanya Daffa yang sedikit ragu.
"Maksud Mas Daffa apa?" Jawab Safira dengan kembali bertanya.
"Tidak, maksudku-"
Kata Daffa menggantungkan ucapannya seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
BUGH.
"Aww." Pekik Daffa ketika mendapati pukulan di bagian lengannya dari Safira yang tidak begitu keras.
"Mas Daffa mau bilang kalau aku kentung yang gemar makan, kan?" Cecar Safira dengan tatapan memburu.
__ADS_1
"Hahaha aku tidak sejahat itu sayang." Ucap Daffa dengan terkekeh.
"Lalu?" Tanya Safira yang tak puas dengan jawaban Daffa.
"Aku hanya tidak ingin kamu merasakan lapar sayang, sekarang bukan hanya kamu saja yang membutuhkan nutrisi, tetapi anak kita juga." Tutur Daffa menjelaskan
yang membuat Safira menganggukkan kepalanya sebagai tanda paham.
***
"Assalamu'alaikum Oma." Ucap Daffa ketika baru saja masuk ke dalam rumah Bagaskara.
"Wa'alaikumussalam, kenapa tidak memberitahu Oma dulu kalau mau kemari." Kata Oma Rahma yang sedang duduk di ruang keluarga.
Daffa dan Safira pun langsung mencium tangan oma Rahma setelah ikut bergabung dengan wanita yang tidak lagi muda.
"Iya, Oma. Daffa dan Fira tadi pulang dari kantor Papah, jadi sekalian mampir kemari." Saut Daffa.
"Apa keadaanmu sudah membaik, Daff?" Tanya Oma Rahma.
"Sudah Oma, babkan jauh lebih baik!" Jawab Daffa penuh semangat.
Oma Rahma yang bingung dengan sikap Daffa pun hanya mengerutkan kedua alisnya.
"Ada apa denganmu, Daff? Apakah ada sesuatu yang membuatmu senang?--" Tanya Oma Rahma dengan menghentikan ucapannya sejenak.
"Tunggu, tunggu. Apakah kalian sudah menemui Obgyn?" Lanjut oma Rahma kembali yang baru ingat dengan ucapan Dokter Kayla pagi tadi.
Daffa dan Safira pun hanya saling melemparkan pandangan tanpa langsung menjawab pertanyaan dari Oma Rahma.
Sedangkan Oma Rahma yang tidak mendapati jawaban dari keduanya pun hanya melihat ke arah Daffa dan Safira secara bergantian.
"Jangan membuat Oma penasaran, apa kalian sudah menemui Obgyn?" Tanya Oma Rahma kembali.
"Selamat menjadi Oma uyut, ya Oma." Kata Daffa yang membuat atensi Oma Rahma beralih ke arah Safira.
"Jadi kamu hamil, Nak?" Tanya Oma Rahma kepada Safira dengan netra yang sudah berembun.
"Iya, Oma." Jawab Safira penuh haru seraya menghamburkan pelukannya kepada Oma Rahma.
"Alhamdulillah... Oma sangat senang mendengarnya. Jika kamu menginginkan sesuatu katakan saja ya, Nak. Namanya Ibu hamil kan biasanya suka ngidam."
"Fira lagi kepingin kue klepon, Oma." Celetuk Daffa.
"Ya sudah cepat carikan kue klepon untuk istrimu, bukan malah duduk-duduk santai di sini!" Titah Oma Rahma kepada Daffa.
"Daffa sudah menunggu penjual kue klepon itu selama satu jam, Oma. Bahkan, Daffa sampai membuat spanduk agar penjual kue itu menghubungi Daffa jika melewati
__ADS_1
kantor Papah." Tutur Daffa dengan
membenarkan posisi duduknya.