Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
Percaya


__ADS_3

Dipaksa Menikah Bagian 52


Oleh Sept


Rate 18 +


Lebih baik skip untuk kalian yang belom married. Oke!


Drettt ... drettt ...


"Siapa sih ganggu saja!" desis Garda.


"Ponselnya bunyi," ucap Sofi, meski dahinya sudah dipenuhi bulir keringat.


"Biarin saja."


Garda kembali naik turun.


Drettt ... drettt


"Astaga!"


Kesal, Garda langsung meraih ponselnya dan membuatnya menjadi mode pesawat.


"Siapa yang telpon?" tanya Sofi penasaran. Padahal napasnya masih memburu.


"Mama."


"Mamaku?"


Garda menggeleng, kemudian menengelamkan wajahnya ke dalam ceruk leher Sofi yang sejak tadi membuatnya ingin menerkam wanitanya itu.


"Mama?" tanya Sofi lagi.


"Udah, nanti aja aku telpon balik. Tanggung!"


Sofi mengangguk pelan, kemudian kembali fokus pada permainan. Tapi sayang, gara-gara tersela oleh telpon dari sang mama, giliran sang lobak yang menjadi slow response.


Sofi merasa aneh, apalagi dilihatnya wajah Garda yang nampak sangat serius.


"Sayang ...!" panggil Sofi untuk pertama kali.


Garda jelas heran, kemudian menatap istrinya itu. Padahal ia sedang fokus membangunkan lobak yang hampir mati suri.


"Udah ya ... lanjut nanti malam!" usul Sofi yang menyadari lobak mulai mengalami penurunan Gaya.


"Tanggung!" Jelas Garda tidak mau. Ini adalah harga diri sebagai laki-laki. Dengan membulatkan tekad, Garda kembali mengasah kemampuannya.


"Kamu pasti capek, lanjut nanti saja!" Sofi mencoba membujuk kembali. Karena ia bisa melirik bahwa MR Lobak bener-bener sudah telerrr.

__ADS_1


[Gara-gara telpon mama ini]


Garda merutuk, wajahnya mulai gelisah. Masa ia harus menyerah sebelum perang. Gensi, ia pun kembali membuat tawernya mencuat. Salah satunya adalah dengan mengerjai Sofi.


Beberapa saat kemudian


Akibat melihat Sofi yang mengeliat seperti cacing kepanasan, lama-lama membuatnya ikut panas. Dan akhirnya lobak kembali berjaya. Kapal mereka pun kembali berlayar. Semakin jauh semakin dalam.


Siang-siang mandi keringat, bukan karena kerja berat. Mereka hanya sedang olah raga tambahan.


***


Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Garda dan sofi kedatangan tamu.


"Bagaimana kabarmu, Sof?" tanya mama yang sore itu bertamu di rumah putranya.


"Baik, Ma."


Suasana keduanya terlihat kaku, dan sesaat kemudian Garda keluar dari kamar lalu menghampiri keduanya.


"Baru Garda mau telpon," Garda basa-basi.


"Mama tadi ke perusahaan. Katanya kamu pulang lebih awal. Dan kapan kamu menemukan Sofi?"


Dari wajahnya, mama sepertinya kurang suka dengan Sofi. Ini karena kemarin Sofi pakai acara kabur segala. Mama yang dulu kelihatan ramah dari luar, kini malah terlihat Kurang respect.


Sofi semakin canggung dan tidak enak. Ia merasa mertuanya marah padanya.


"Mama dengar kamu hamil, Sof?" tanya mama tanpa basa-basi.


"Iya, Ma."


Mama kemudian beranjak, kemudian mendekati bangku Sofi yang agak jauh darinya.


"Kamu yakin ini anakmu, Garda?"


JLEB


Sofi langsung menundukkan wajahnya. Ia tahu orang-orang pasti curiga. Karena semasa ia hamil, itu adalah masa-masa ia kabur dari rumah. Pasti orang-orang akan memikirkan hal yang tidak baik padanya.


"Ma!" Garda mau protes tapi mamanya kembali menyela.


"Perlu kamu tahu! Kamu tidak bisa punya anak!" ujar mama menatap tak suka pada Sofi. Ia merasa Sofi sudah mempermainkan putranya.


Sofi yang mendengar langsung kecewa. Kenapa mama mertua dan Amelia mengatakan bahwa suaminya tidak bisa memiliki anak ataupun keturunan. Apa mereka mengira ia wanita tidak baik?


"Jangan bicara omong kosong, Ma! Apa maksud Mama?" tanya Garda yang merasa tersinggung. Ia juga cemas kalau istrinya tersinggung dan sakit hati.


"Mama serius! Kamu tidak akan bisa memiliki keturunan pasca kecelakaan waktu kamu remaja! Mama sudah bawa kamu ke rumah sakit di manapun. Dan hasilnya sama. Kamu divonis tidak bisa memiliki keturunan saat dewasa!" ujar mama dengan sedikit emosi.

__ADS_1


Garda dan sofi jelas kaget. Terutama Sofi, dia adalah pihak yang paling merasa kecewa. Jika mama percaya Garda tidak bisa memiliki anak, maka secara tidak langsung sang mertua menganggap Sofi sudah bermain dengan pria lain.


Sangat kecewa, Sofi langsung meninggalkan ruang tamu. Ia berjalan menuju kamar dan langsung ke atas ranjang. Sembari menarik selimut, menangis di dalam sana.


Sementara itu, di luar sana Garda marah pada mama kandungan itu.


"Mama keterlaluan!"


Mama yang dituduh mengada-ada, langsung mengambil tas. Ia mengeluarkan hasil rekam medis Garda saat pria itu remaja.


Bukkkkk....


Tidak mau membaca, Garda langsung melempar kertas-kertas itu.


"GARDA!!!!" Mama memekik kesal. Ia marah karena anaknya sudah dibutakan oleh cinta.


Tap tap tap,


Garda meninggalkan sang mama, ia kemudian menyusul Sofi yang terisak.


"Sof," panggil Garda sembari menarik selimut. Tapi Sofi langsung menariknya lagi.


"Sana! Jangan dekat-dekat!" bentak Sofi dengan suara serak.


"Jangan marah, Mama pasti salah. Ini anak aku ... jangan dengarkan orang-orang itu." Garda mencoba menyentuh Sofi kembali.


"Nggak usah pegang-pegang!" teriak Sofi sambil menangis. Hamil membuatnya cengeng.


Garda menghela napas panjang, kemudian langsung merangkul Sofi yang masih berbaring itu. Ia pegang perut Sofi.


"Ini bayiku, kenapa kamu repot-repot mikirin apa kata orang. Kita yang buat sama-sama, sudah jangan menangis. Aku tidak percaya diagnosis dokter."


Sofi sedikit tenang, kemudian menyusut hidung. Ia juga membuka kain selimut yang menutupi wajahnya.


"Tapi bagaimana bisa mereka curiga padaku? Aku hanya melakukan itu hanya denganmu!" Sofi kembali marah.


"Iya, dan aku sangat percaya. Sudah, hapus air matamu. Kamu jelek kalau nangis!"


BUGH ...


Sofi langsung meninju suaminya. Dan Garda sedikit lega, Sofi tidak sulit untuk dibujuk. Ia belai rambut Sofi dengan lembut.


"Tapi kasian sekali, dia bahkan belum lahir ... semua meragukan siapa ayahnya!" keluh Sofi dengan mata berkaca-kaca. BERSAMBUNG


Jane anake sopo? Hehehe ...



IG Sept_September2020

__ADS_1


__ADS_2