
Dipaksa Menikah Bagian 41
Oleh Sept
Rate 18 +
Selamat malam, mohon skip untuk yang belum menikah. Terima kasih atas pengertiannya. Yang maksa baca, mending mundur. Area skip.
***
Malam ini adalah malam kemenangan bagi pria bernama Garda. Pimpinan Rajasa Group itu kini sedang menikmati malam puncak kemenangan atas diri Sofi, istrinya.
Sebulan lebih ia tidak menyentuh istrinya, dan sekarang akhirnya ia mau buka puasa. Apalagi Sofi sedang hamil, sungguh aura Sofi dari kemarin sudah membuatnya nyut-nyutan. Sayang, karena kemarin Sofi masih sakit, lemas dan garang. Jadi Garda dibuat tidak bisa berkutik.
Tapi sekarang semua berbeda, Sofi tadi bahkan membalas sesapan lidahnyaa. Sempat terkejut, tapi Garda merasa senang. Akhirnya, bola saljunya sudah mencair. Gadis bandelll yang doyan kabur itu akhirnya membalas. Tidak mau buang-buang kesempatan, Garda mau mengunjungi gua angker yang sudah lama tidak dijamahh tersebut.
Sementara itu, Sofi terlihat gelisah. Tapi juga menelan ludah karena melihat betapa kekarnya tubuh suaminya itu. Garda terlihat menggoda, kekar, berotot dan ...
'ASTAGA! Ada apa dengan kepalaku?' batin sofi saat matanya fokus pada bidang kekar seperti roti sobek tersebut. Otaknya traveling kelilingi dunia, gara-gara bulu-bulu halus Garda.
Garda sendiri juga sebenarnya merasa gugup. Lama juga mereka tidak bersatu, ini seperti pengantin baru saja. Bahkan jantungnya pun sejak tadi berdegup kencang, tapi ia pandai menutupinya dengan memasang muka biasa.
"Aku hamil!" ucap Sofi tiba-tiba. Mungkin maksudnya dia sedang hamil muda. Apakah tidak apa-apa mereka bersatu malam ini?
Seolah mengerti ucapan dan tatapan Sofi, Garda hanya berbisik pelan. "Ya, aku paham. Aku akan pelan-pelan!"
"Astaga!" gumam Sofi. Jantungan hampir meletus. Ini karena Garda langsung naik ke atasnya. Siapa yang tidak terkejut. Apalagi suaminya itu begitu percaya diri, padahal tidak pakai apapun.
Sofi makin gugup tak kala lobak itu seolah menantang, siap mengajak perang di atas ranjang malam ini.
Keduanya sama-sama menelan ludah, sepertinya sudah sama-sama di atas ubun-ubun. Hanya saja masih sedikit kaku. Mungkin karena sudah lama tidak seperti ini.
Karena sudah nyut-nyutan, Garda langsung saja meraih kancing piyama Sofi. Matanya sih menatap ke dalam mata istrinya itu, tapi tangannya aktive melepas satu demi satu kancing yang terpasang tersebut.
__ADS_1
Sofi tidak menolak, tumben ia malah tidak sabar Garda melepaskan semua. Ia sampai heran, kenapa menjadi kegerahan sendiri. Wajahnya bahkan terasa menghangat. Bukan karena demam, bukan. Ini karena jiwanya sedang bergelora. Memanas, seperti ada yang terbakar di dalam sana.
Detik berikutnya, giliran jakun suaminya yang naik turun. Dan semua itu tak lepas dari perhatian Sofi. Sofi dapat melihat hal itu dengan jelas. Ia bisa melihat tatapan ingin dari suaminya.
"Aduh!" pekik Sofi.
Malu, ia memeluk tubuhnya sendiri. Tatapan suaminya membuat muka Sofi tambah terasa panas.
"Eh!"
Sofi mengeliat, ia kaget karena Garda langsung menyesap seperti bayi. Sedangkan tangan yang lain berkreasi dan sukses membuat Sofi jadi seperti cacing kepanasan.
Seperti vampire yang lama tidak minum darah, Garda menyesapnya dengan ganas. Hingga beberapa saat kemudian, ia melepaskan Sofi sebentar. Ia sedang menata posisi yang pas.
Akhirnya, setelah dirasa posisi yang paling nyaman. Garda kembali membawa Sofi berkelana menyusuri surga dunia. Sembari ia ciptakan banyak stempel pada leher jenjang Sofi. Hingga terlihat banyak ruam di sana.
Puas melakukan pemanasan, Garda rasa ini saatnya mendarat. Apalagi saat ia melihat di bawah sana sudah basah. Sepertinya landasan pacu sudah bisa dipakai.
Spontan, Sofi terkekeh. Padahal wajah suaminya sudah amat tegang.
"Kamu sempat-sempatnya menertawakan aku, Sof?" gumam Garda dengan dahi yang sudah dipenuhi keringat.
Sofi menggeleng, kemudian menyentuh pipi suaminya. Suaminya yang tampan tersebut. Pantas wanita lain mengejar suaminya.
Disentuh Sofi, Garda yang semula fokus pada lobak yang belum bisa masuk, mengecupp tangan Sofi kemudian fokus kembali pada tujuan utama.
Detik berikutnya, Sofi memejamkan mata tak kala sesuatu mendesak masuk. Semakin dalam, dan terasa panas.
Rupanya Garda sudah berhasil bertandang ke gua angker. Gua horor yang sebulan lebih tidak ditengok. Padahal tadi sejak awal janji mau pelan. Tapi begitu masuk malah ngegass dan enggan keluar.
Pria itu naik turun dengan irama yang semakin cepat, dan hal itu membuat Sofi mengeluarkan suata mistis yang menyeramkan.
Bukannya takut, Garda malah semakin mengebu. Ia terlalu bersemangat, effeknya belum begitu lama sudah ada yang mau meletus di dalam sana.
__ADS_1
"SOFF!" panggil Garda dengan suaranya yang serak. Seperti menahan sesuatu.
Tubuhnya mengejangg, dan di sisi lain, Sofi merasa sesuatu yang hangan mengalir di bawah sana.
Bukkkkk ....
Garda merebahkan tubuhnya di sisi Sofi, pria itu terlihat ngos-ngosan. Seperti habis lari mengelilingi lapangan. Puas mengatur napas, Garda kemudian menatap Sofi.
Ia kemudian menarik Sofi agar tidur berbantalkan lengannya. Dengan lembut ia kecupp kening Sofi.
"Jangan jauh-jauh dariku ... setelah kamu pergi, hidupku terasa hampa!" bisik Garda. Terdengar tulus dan agak sendu.
"Benarkah?"
Garda semakin mempererat pelukannya, membuat Sofi merasakan kehangatan tubuhnya.
"Aku bukan pria romantis, yang akan sering menghujanimu dengan kata cinta, Sof. Tapi ... kamu harus tahu. Hanya kamu, tidak ada yang lain."
"Bisahkan kata-kata ini dipercaya?"
"Astaga, Sofi ...!"
"Maaf, bagiku sangatlah sulit untuk percaya," terang Sofi dengan jujur.
"Ya ... aku tidak menyalahkan dirimu. Semua dari awal memang salahku. Salahku karena begitu terobsesi padamu. Tapi Sof ... aku benar-benar tidak bisa hidup bila itu bukan denganmu. Dan dengan anak kita!"
Garda melepas tangan yang semula memeluk tubuh Sofi. Kini tangan itu mengusap perut Sofi dengan hangat.
"Aku tidak bisa hidup tanpa kalian, dan ... bisahkan kamu bertahan di sisiku saja, Sof? Jangan membenciku ... karena aku terlanjur tergila-gila padamu!" BERSAMBUNG.
Hiburan di kala bulan puasa besok. Hehhehe
__ADS_1