
Dipaksa Menikah Bagian 16
Oleh Sept
Rate 18 +
“Jun ... Juna?” ucap Sofi lirih.
Meskipun saat ini sudah menikah, Garda bagi Sofi hanya suami di atas kertas. Tidak lebih dari itu.
"Jun! Kamu masih di sana, kan?"
“Temui aku di tempat biasa, nanti malam jam delapan. Aku tunggu!"
Tut tut tut,
Telpon malah terputus.
“Hallo... Hallo, Jun? Juna?” Sofi merasa jengkel, mengapa Juna memutus telponnya begitu saja. Padahal masih banyak yang ia ingin tanyakan pada pacarnya itu. Kesal, Sofi mengengam ponselnya sangat kuat. Hampir saja ingin ia lempar.
Drett drett ...
Tanpa melihat siapa yang memanggil, Sofi langsung saja mengangkat ponselnya.
“Kalau nanti malam, aku tidak jamin akan bisa!” ucap soft setengah berteriak.
“Cepat turun, sekarang!” seru pria di balik telpon.
DEG
Jantung Sofi berdegup kencang. Gawat, ternyata yang telpon adalah suaminya. Bukan Juna.
***
Di dalam mobil wajah Garda nampak tenang, dalam ketenangan itu tersimpan tanda tanya yang besar dalam hati.
"Nanti malam? Kita lihat apa yang akan kamu lakukan nanti malam!" gumam Garda.
Wajah itu mengeras seketika. Ada aroma kebencian yang tersirat di wajahnya yang tampan.
Sementara itu, di dalam kamar, Sofi langsung bergegas. Takut bila macan itu mulai marah. Tau sendiri bila Garda sudah mulai mengeluarkan tanduknya, ia sudah trauma.
Tap tap tap ...
Derap langkah Sofi terdengar cepat menuruni tangga, karena tak hati-hati hampir saja kakinya terpeleset. Untunglah dengan sigap tangannya meraih pengangan tangga yang berwarna emas mengkilap itu. Sehingga tubuhnya tidak jadi oleng dan jatuh.
__ADS_1
"Hampir saja!" keluh Sofi yang hampir jatuh.
Saat berjalan ke luar rumah, beberapa pasang mata tampak mengawasi gerak-gerik Sofi. Dan dia sadar betul, para bodyguard itu sedang mengawasi dirinya.
Sofi merasa miris, bahkan di rumah suaminya sendiri ia merasa seperti tahanan. Layaknya penjahat yang diawasi dua puluh empat jam penuh.
"Hidup macam apa ini?" sesal Sofi sambil terus melangkah menuju mobil sang suami yang sudah menantinya.
Begitu Sofi mulai dekat, sopir pribadi Garda langsung membuka pintu. Mempersilahkan nyonya muda itu untuk masuk.
"Terima kasih."
Sikap Sofi ramah terhadap karyawan sang suami. Namun, ketika dia duduk di samping Garda. Ia memasang wajah ogah-ogahan. Seolah ia sedang duduk sejajar dengan musuh bebuyutan.
Garda sendiri tidak peduli dengan ekspresi Sofi saat ini, ia sibuk memikirkan sesuatu. Sorot mata yang biasanya tajam itu kali ini sedikit melemah, seperti kosong menatap ke arah jendela.
Ketika mobil yang mereka tumpangi melesat di atas aspal hitam yang pekat, dua insan yang duduk di jok belakang masih nampak diam. Baik Garda atau Sofi, dua-duanya tidak banyak bicara. Sama-sama mengunci rapat mulut mereka. Sampai tiba di sebuah gedung yang tinggi.
Entah berapa ratus lantai yang tersusun rapi itu. Yang jelas, saat menatap pertama kali maka kesan pertama adalah wah, bangunan megah dan kokoh berdiri tepat di hadapan Sofi.
Sofi turun dari mobil ketika sopir membuka pintu untuknya, sempat takjub sesaat. Kemudian ia sadar dan bersikap seperti biasa.
"Apa ini kantornya?" Sofi bertanya-tanya pada hati ketika melihat megahnya bangunan di depannya saat ini.
"Masuk!" seru Garda saat melihat istrinya yang diam saja.
Dengan postur tubuh yang tegap, dan setelan jas yang pas sempurna ia kenakan. Garda berjalan masuk menuju kantornya. Tentu saja ia terlihat begitu berwibawa dan kharismatik. Dan ketika melewati banyak karyawan, semua menaruh hormat padanya. Kecuali Sofi, bibirnya meliuk-liuk seolah memandang remeh suaminya.
Bila saja salah seorang pengawal tak menatapnya, Sofi pasti tetap mengangkat dagu dengan percaya diri. Sayang, nyalinya mendadak ciut. Sofi pun berjalan mengekori suaminya dengan lesu.
Begitu lift terbuka hanya mereka berdua yang masuk ke dalam. Selebihnya mereka memilih naik lift yang lain.
Canggung, itulah gambaran suasana hati Sofi. Trauma dengan tragedi lift yang pernah terjadi, Sofi mengambil jarak dari suaminya. Wanita itu berdiri tepat di sudut ruangan. Aksi Sofi itu tak lepas dari pengawasan Garda. Melihat hal konyol itu, Garda mengeluarkan senyum tipis.
"Kau takut padaku?"
Mendengar pertanyaan Garda, ia hanya menelan ludah. Garda lalu berjalan mendekat, gerakkannya lamban. Membuat Sofi tidak nyaman.
"Ya Tuhan, mengapa dia semakin mendekat?" Sofi sudah komat-kamit baca mantra untuk mengusir suaminya agar menjauh.
"Lihat aku bila kita sedang bicara!" Garda marah, karena Sofi menengelamkan wajahnya. Seolah enggan untuk menatap padanya.
"Jangan mulai pertengkaran, aku lelah!" Sofi dengan sedikit kekuatan mengangkat wajahnya.
Garda mendengus kesal, apa maksud Sofi dengan pertengkaran? Bukankah ia hanya meminta Sofi menatap wajahnya saat bicara? Garda tak pernah mengerti jalan pikiran istrinya.
__ADS_1
Sofi masih menyalahpahami perasaan Garda padanya. Yang ia rasa ialah Garda yang selalu memaksa, padahal itu cara pria itu mengungkapkan rasa cinta pada Sofi.
***
Begitu pintu lift terbuka, mereka langsung keluar. Sadar dari lamunan masing-masing.
"Kenapa membawaku ke sini?"
"Ikut saja!" dengan sikap dingin Garda menyuruh Sofi masuk ruang kerjanya. Sedang dirinya sendiri, keluar untuk meeting bersama klien.
Beberapa saat kemudian.
Bosan malah terkurung di kantor suaminya itu, Sofi mencoba mengintip keluar.
"Ish, keterlaluan!"
Sofi kesal bukan main ketika melihat di luar sana ada pengawal, bisa-bisanya ia di penjara dalam ruang kerja Garda.
Dengan menahan kesal, ia mengebrak meja. Manik matanya menajam, ada sisa amarah di dalam sana. Mumpung Garda tidak ada, ia pun mulai menyusun rencana.
"Saya mau ke kamar kecil!" ucapnya sedikit sewot pada pengawal.
Karena mau ke kamar kecil, maka para pengawal tidak berani mengikuti. Takut bila dibilang tidak sopan terhadap istri bos mereka.
Maka Sofi dengan leluasa keluar menuju kamar kecil. Di dalam sana, ia mulai berpikir dengan keras. Pokoknya ia harus bisa pergi saat ini, meskipun janji dengan Juna adalah malam nanti. Sofi yakin itu tak mungkin.
Wanita cantik itu mengasah otak, mencoba berpikir dengan keras. Akhirnya ia merubah tampilannya.
Rambut yang semula tergerai indah kini ia ikat menjadi pendek sempurna, seperti petugas receptionist di hotel bintang lima. Sofi mulai merogoh ke dalam tas kembali, dicarinya alat-alat yang bisa membantu penyamaran saat ini.
Hanya ada peralatan make up di sana, ia pun mendapat ide. Sofi memakai riasan kembali, menebalkan semuanya. Pokoknya ia akan berdandan menor dengan warna bibir merah cabai. Ia akan merubah gayanya, semoga para penjaga tidak curiga. Berkali-kali ia berdoa dalam hati agar tidak ketahuan oleh sang suami dan para penjaganya.
"Perfect!" seru Sofi ketika menatap pantulan wajahnya di depan kaca.
Wanita yang semula cantik alami itu mendadak menjadi seperti ondel-ondel dengan tahiii lalat di pipi kirinya. Sempat tersenyum geli, Sofi tak habis pikir dengan hasil make overnya. Benar-benar bukan seperti dirinya. Sekarang tinggal pakaian, ia pun kembali berpikir keras. Begitu ada seorang yang masuk ia langsung merasa lega.
Seorang gadis office girls sedang ingin membersihkan kamar mandi. Kebetulan sekali, rupanya dewi fortuna ada di pihaknya. Dengan iming-iming beberapa lembar uang warna merah, gadis itu memberikan baju yang ia kenakan.
"Terima kasih, Mbak!" ucap Sofi ketika sudah bertukar pakaian.
Karena sudah mendapat imbalan, gadis itu tidak keberatan. Begitu Sofi sudah sempurna dengan penyamarannya. Ia keluar kamar kecil dengan percaya diri. Yakin bahwa ia tidak akan ketahuan.
Rupanya penyamaran Sofi terbilang sukses, karena tidak ada yg curiga pada dirinya. Saat akan masuk lift untuk turun ke lantai bawah, seseorang malah menyambar tubuhnya.
BERSAMBUNG
__ADS_1