Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
82. Daffa Yang Perhatian


__ADS_3

"Entah Tuan, kami tidak tahu." Merasakan tubuh Safira bergetar, Daffa pun segera membawa Safira masuk ke dalam mobil yang dibawa oleh ajudannya, dan melupakan sesaat tentang para laki-laki yang baru saja menyelamatkan dirinya dan Safira.


"Cepat bawa kami ke rumah sakit terdekat, agar istri saya bisa mendapatkan perawatan." Titah Daffa.


"Nggak, Mas. Aku ingin pulang ke rumah Mang Ardi saja." Ucap Safira lirih.


"Tapi sayang, kondisimu saat ini pasti sangat terguncang."


"Aku hanya ingin kembali ke rumah Mang Ardi, Mas." Pinta Safira kembali.


"Baiklah, kita akan pulang ke rumah Mang Ardi." Kata Daffa yang akhirnya menuruti Safira.


Mobil yang membawa Daffa dan Safira pun telah sampai di halaman rumah Ardi, Ardi dan Rani yang sedari tadi sedang menunggu kedatangan keduanya di depan rumah dengan perasaan gelisah pun


langsung berlari mendekat ke arah mobil yang baru saja terparkir.


"Apa Neng Fira ada di dalam, Pak?" Tanya Rani dengan menyelidik melalui kaca mobil.


"Entah, Bu." Jawab Ardi yang belum tahu.


Tidak lama, pintu mobil pun terbuka dan terlihat Daffa yang sudah keluar dari dalam mobil dengan menggendong Safira yang terlihat lemas.


"Ya Allah, Neng. Apa yang terjadi?" Tanya Rani cemas.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Rani, Daffa langsung membawa Safira ke dalamn kamar, diikuti oleh Ardi dan Rani di belakangnya.


"Daffa, sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian?" Tanya Ardi kepada Daffa yang baru saja merebahkan tubuh Safira di atas


kasur.


"Ini semua ulah Baron, Mang. Setelah kepergian Mang Ardi dan yang lainnya, tiba-tiba saja anak buah Baron menyusup masuk melalui pintu belakang, dan memukulku dengan balok kayu hingga jatuh pingsan.


Dan sepertinya, sebelum mereka menyusup masuk, semua ajudan Papah di serang untuk mengalihkan perhatiannya dari kami, agar anak buah Baron yang lainnya berhasil


menyusup dan membawa kami pergi."


"Pak, apa jangan-jangan Kang Ujang bersekongkol juga dengan Baron? Sepertinya Kang Ujang memang sengaja membuat berita bohong, agar kita meninggalkan Daffa dan Neng Fira hanya berdua saja di sini." Ujar Rani yang mencocologikan kejadian.


"Benar juga apa yang Ibu katakan," Timpal Ardi seraya menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.


"Mas Daffa..." Panggil Safira lirih. Daffa yang semula duduk di sisi ranjang pun segera mendekatkan dirinya kepada Safira.


"Iya sayang, aku di sini." Ucap Daffa mengusap lembut pipi Safira. Sedangkan Ardi dan Rani yang tidak enak, khawatir mengganggu Daffa dan Safira pun akhirnya

__ADS_1


memilih keluar dari kamar itu.


"Kalau begitu Bi Rani akan membuatkan teh manis hangat dulu ya untuk kalian, ayo Pak." Ucap Rani kepada Daffa dan Safira, kemudian dilanjut mengajak Ardi keluar.


"Iya, Bi. Terimakasih banyak." Saut Daffa.


"Sayang, apakah ini sakit?" Tanya Daffa yang masih mengusap lembut wajah Safira, yang sebelumnya mendapati tamparan dari Baron.


Safira pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Maafkan aku sayang, ini semua karena aku yang kurang baik dalam menjagamu."


"Tidak, Mas. Ini semua bukan kesalahan Mas Daffa."


"Bagaimana jika besok kita pulang ke jakarta sayang? Aku tidak ingin jika kejadian tadi terulang lagi. Meskipun Baron dan anak buahnya sudah diserahkan kepada polisi, namun kita belum bisa memastikan, apakah masih ada anak buah Baron lainnya di luaran sana atau tidak.


Melihat Baron banyak sekali antek-anteknya, membuatku cemas akan keselamatanmu."


"Baiklah, Mas."


Disela-sela obrolan Daffa dan Safira, tiba-tiba saja ponsel milik Daffa berdering. Terlihat nama Papah Bagaskara pada layar ponsel itu.


"Halo assalamu'alaikum, Pah." Ucap Daffa pada benda pipih miliknya.


'Wa'alaikumussalam, Daff.


"Alhamdulillah kami baik-bailk saja, Pah."


'Apa tidak bisa kamu dan Fira pulang saja, Daff? Rasanya Papah tidak tenang jika kalian masih di sana.'


"Iya Pah, rencananya juga besok Daffa dan Fira pulang. Oh iya, apakah Papah mengirimkan ajudan yang lainnya kemari?" Tanya Daffa yang masih penasaran dengan kesepuluh orang tadi yang menolongnya.


"Tidak, Papah hanya mengirimkan kelima ajudan itu saja, dan kamu pun mengetahuinya sendiri. Memangnya ada apa?'


"Jika mereka bukan ajudan Papah, lantas siapa mereka sebenarnya? Mengapa mereka menolongku dan juga Fira? Lalu,


darimana mereka tahu jika aku dan Fira tengah disekap di dalam bangunan tua itu?" Monolog Daffa dalam hati yang sibuk dengan pikirannya sendiri.


'Halo Daff?' Ucap Bagaskara memastikan bahwa sambungan suaranya masih terhubung.


"Ah, iya Pah?" Saut Daffa yang berhasil tersadar dari lamunannya.


'Apa ada orang lain di sana selain ajudan Papah?' Tanya Bagaskara yang menangkap pertanyaan Daffa sebelumnya.

__ADS_1


"Iya, Pah. Sebenarnya tadi yang menolongku dan juga Fira bukan ajudan kita, tetapi ada sepuluh laki-laki yang tiba-tiba saja datang entah dari mana."


'Ah, mungkin itu hanya warga sekitar saja yang kebetulan menolong kalian.'


"Tidak mungkin, apalagi postur tubuh mereka dan cara berpakaiannya seperti bodyguard." Gumam Daffa dalam hati.


"Ya sudah, Papah tunggu kedatangan kalian di rumah ya, assalamu'alaikum.' Pungkas Bagaskara bersamaan terputusnya sambungan suara.


"Wa'alaikumussalam" Jawab Daffa lalu meletakan ponselnya kembali di atas nakas.


"Nao, panggilkan Teh Fira dansuaminya di kamar ya." Titah Rani yang tengah sibuk membawa makanan dari dapur ke ruang tam


"Iya, Bu." Ucap Naomi patuh.


Tok tok tok.


"Teh Fira, Kak Daffa. Dipanggil Ibu untuk makan malam." Kata Naomi dari arah luar kamar.


"Iya, Nao." Jawab Safira dari dalam.


"Sayang, apakah kepalamu masih sakit?" Tanya Daffa ketika Safira sudah bangkit dari posisi sebelumnya.


"Sedikit, Mas."


"Atau begini saja, kamu tetap di sini. Biar aku yang mengambilkan makan malam untukmu, agar kamu tidak perlu keluar dari kamar."


"Nggak, Mas. Gak enak dengan Mang Ardi, dan yang lainnya. Lagi pula aku pulang kemari, tujuannya kan untuk menghabiskan waktu bersama mereka." Tolak Safira.


"Tapi sayang, kepalamu saja masih sakit seperti itu. Lebih baik kamu beristirahat saja di kamar." Titah Daffa kepada Safira yang tidak ingin kondisi istrinya semakin


memburuk.


"Insyaallah tidak papa, Mas."


"Hmm... Baiklah, tapi aku tidak memperbolehkanmu ke ruang tamu dengan berjalan kaki." Ucap Daffa yang akhirnya mengalah, namun memiliki syarat. Mendengar ucapan Daffa, Safira hanya mengerutkan keningnya samar.


"Jangan bilang, kalau Mas Daffa akan menggendongku lagi?" Selidik Safira dengan memicingkan matanya.


"Loh? Kenapa memangnya?"


"Ruang tamu itu hanya di depan, Mas. Masa iya ke sana saja digendong"


Tidak ingin mencari masalah dengan Safira yang saat ini kondisinya tengah kurang sehat, Daffa pun akhirnya memilih untuk menuruti semua keinginan istrinya itu. Meskipun sebenarnya Daffa tidak rela, jika Safira harus berjalan kaki.

__ADS_1


"Baiklah, baiklah. Aku tidak akan melarangmu jika ingin berjalan sendiri." Daffa yang akhirnya memilih pasrah lagi.


"Pintar!" Puji Safira tersenyum seraya mengusap pucuk kepala Daffa.


__ADS_2