Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
92. Pengawal Utusan Aida


__ADS_3

"Hampir saja keberadaan gue diketahui oleh Daffa gara-gara laki-laki sialan tadi." Monolog Kartika, ketika kakinya sudah berlari cukup jauh dari area rumah sakit.


Kartika mengibaskan rambutnya kasar ketika sudah banyak keringat yang bercucuran di sekitar pelipisnya, akibat dirinya berlari di tengah kota yang udaranya cukup panas hari itu.


Dengan napas yang naik turun, Kartika berdiri di sisi jalan untuk menunggu taksi yang melintas, karena tidak mungkin bagi Kartika untuk kembali ke rumah sakit setelah berlari cukup jauh untuk menghindar bertemu dengan Daffa. Itu sama saja cari mati, 'kan? Batin Kartika.


Tidak butuh waktu lama, taksi yang Kartika tunggu, pun melintas ke arahnya. Kartika yang tidak ingin berlama-lama di sana dengan cepat menghentikan taksi tersebut, dan langsung masuk ke dalamnya. Safira yang sebelumnya telah setuju untuk kembali ke rumah sakit pun langsung dibawa oleh Daffa untuk keluar dari mushola itu, agar Safira cepat mendapatkan perawatan kembali.


"Sayang, apakah kamu yakin tidak apa-apa jika berjalan seperti ini?" Tanya Daffa, ketika Safira berjalan dengan menyandarkan tangannya pada bahu Daffa.


"Tenang saja, Mas. Aku baik-baik saja." Jawab Safira, dengan menggigit bibir bawahnya karena menahan sakit, yang tidak dilihat oleh Daffa.


Namun, Daffa yang peka dengan keadaan Safira, sesaat menghentikan langkahnya yang otomatis langkah Safira pun ikut terhenti, ketika menyadari bahwa Safira tengah menahan sakit.


Yang semula Safira melihat ke arah depan, pun langsung menoleh ke arah Daffa.


"Ada apa, Mas?" Tanya Safira, ketika Daffa menghentikan langkahnya.


"Aku tidak bisa membiarkanmu berjalan seperti ini sayang." Ucap Daffa, yang tidak ingin melanjutkan langkahnya lagi jika Safira memilih jalan seperti itu.


Safira hanya diam mematung tanpa mengatakan apa pun. Sedangkan Daffa yang tidak ingin kondisi Safira semakin memburuk, pun akhirnya menggendongnya ala bridal style.


"Mas, pelan-pelan." Kata Safira ketika Daffa tiba-tiba menggendong tubuhnya.


"Tenang saja, sayang. Kamu akan aman berada di gendonganku, meskipun sekarang beratmu sedikit berbeda dari biasanya." Ujar Daffa, terus berjalan dengan menggendong Safira.


BUGH.


"Aww, kok aku dipukul sih sayang?" Pekik Daffa, ketika Safira memukul dada bidangnya dengan cukup pelan.


"Apa baru saja Mas Daffa mengatakan bahwa aku gemuk?" Tanya Safira, yang tidak terima dengan ucapan Daffa sebelumnya.


"Kapan aku mengatakan bahwa kamu gemuk? Aku hanya mengatakan beratmu sedikit berbeda dari biasanya saja, sayang." Jawab Daffa hati-hati, karena Daffa tahu bahwa wanita sangat sensitiv jika berbicara mengenai berat badan.


"Itu sama saja Mas Daffa!" Gerutu Safira dengan mengerucutkan bibirnya dari balik cadarnya.


"Hahaha, kamu menggemaskan sekali jika sedang merajuk seperti itu. Aku jadi ingin cepat-cepat pulang ke rumah." Goda Daffa dengan tertawa lepas.


"Ish, Mas Daffa!" Ucap Safira, dengan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Daffa untuk menyembunyikan bahwa dirinya sedang merasakan malu.


"Sayang, mau kembali ke rumah sakit dengan aku gendong seperti ini sepanjang jalan, atau kita naik taksi dulu?" Tanya Daffa ketika langkahnya terhenti saat sampai di bahu jalan.


Meskipun jarak mushola itu tidak begitu jauh dari rumah sakit, tetap saja Daffa harus melewati sepanjang bahu jalan untuk kembali ke sana.


"Lebih baik kita naik taksi saja, Mas. Meskipun jaraknya dekat, daripada nanti kita viral gara-gara Mas Daffa menggendongku seperti ini sepanjang jalan."

__ADS_1


"Bagus dong! Agar seluruh Indonesia tahu bahwa kamu hanya milikku, dan aku hanya milikmu." Ujar Daffa yang tidak keberatan jika dirinya viral karena hal tersebut.


Safira yang tidak menyangka dengan jawaban yang diberikan oleh Daffa, pun hanya menatapnya datar.


Di sela-sela perbincangan keduanya yang berada di bahu jalan, sebuah taksi melintas ke arahnya, Daffa yang memang sedang


menunggu kedatangan taksi pun langsung menghentikan taksi tersebut dan meminta untuk membawa keduanya ke rumah sakit, yang sebenarnya dengan berjalan kaki pun


masih bisa di jangkau.


Tidak butuh waktu lama, taksi yang ditumpangi Daffa dan Safira telah sampai di rumah sakit. Setelah Daffa turun dari taksi tersebut, alih-alih Daffa mengambil


kursi roda yang tersedia di rumah


sakit, Daffa justru memilih menggendong Safira hingga sampai di kamarnya.


Baru saja Daffa dan Safira masuk ke dalam kamar inap, sudah ada laki-laki paruh baya di dalam sana yang sedang duduk di sofa tengah menunggu kedatangan keduanya.


"Apa yang terjadi, Daff?" Tanya laki-laki paruh baya, yang langsung berdiri dari posisi duduknya ketika melihat Safira dalam keadaan sedang digendong.


"Tidak, Pah. Daffa hanya mengajak Fira jalan-jalan saja tadi." Jawab Daffa menutupi.


"Kamu ini bagaimana sih, Daff. Istri sedang sakit malah diajak keluar, lagi pula kenapa tidak menggunakan kursi roda?"


"Daffa tidak ingin jauh dari Fira, Pah, meskipun hanya sejengkal. Makanya Daffa lebih suka menggendong Safira seperti ini, agar kita selalu menempel satu sama lain."


"Dasar budak cinta!" Umpat Bagaskara kepada putra semata wayangnya, yang tidak di gubris sama sekali oleh Daffa.


"Apa Papah sudah mnenunggu kami sejak tadi?" Tanya Daffa, yang baru saja membaringkan Safira di atas ranjang pasien.


"Tidak, Papah baru saja sampai," Jawab Bagaskara.


"Daff." Sambung Bagaskara kembali,ndengan memanggil Daffa.


Daffa yang melihat Bagaskara tengah memasang ekspresi serius, pun langsung mendekat ke arahnya untuk ikut bergabung duduk bersama laki-laki paruh baya itu.


"Ada apa, Pah? Apa ada masalah?" Tanya Daffa yang sudah berada di sisi Bagaskara.


Sedangkan Safira yang saat ini tengah berbaring di atas ranjang, hanya melihat kedua laki-laki berbeda usia itu tanpa mengeluarkan suara apa pun.


Bagaskara menghirup napasnya dalam sebelum membuka mulutnya.


"Kecelakaan ini bukan disebabkan oleh Mamah, Daff." Kata Bagaskara tanpa basa-basi.


"Apakah Papah bisa menjamin, bahwa Mamah tidak ada kaitannya dengan kecelakaan ini?" Tanya Daffa yang sudah memasang ekspresinya dingin pada

__ADS_1


wajahnya.


"Tentu saja, bahkan Mamah mengatakan kepada Papah bahwa dia sudah menerima Fira sebagai menantunya."


Sedangkan Daffa yang masih tidak yakin, hanya melihat ke arah lain.


"Apa kamu masih tidak percaya dengan ucapan Papah, Daff?" Tanya Bagaskara, yang ingin kesalahpahaman antara istri dan


anaknya segera usai.


"Hmm." Jawab Daffa hanya bergumam, sebagai tanda bahwa dirinya memang belum yakin dengan apa yang Bagaskara katakan.


"Baiklah, jika kamu belum percaya dengan ucapan Papah." Kata Bagaskara menggantungkan Ucapannya, kemudian melirik ke arah pintu.


"Bram, masuklah." Titah Bagaskara kepada laki-laki berpostur tinggi, yang sudah berdiri di depan pintu sejak tadi.


Ketika Bram mulai melangkah masuk ke dalam kamar, seketika Daffa membelalakkan matanya sempurna saat melihat wajah dari laki-laki itu.


"Bukankah kamu yang pernah menolongku waktu itu?" Tanya Daffa kepada Bram.


"Benar, Tuan muda." Jawab Bram.


Sementara Daffa yang membutuhkan penjelasan, pun langsung melihat ke arah Bagaskara.


"Apakah Papah mengenalnya?" Tanya Daffa dengan wajah penuh tanya.


Namun Bagaskara hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Lantas, mengapa Papah membawa dia kemari, jika Papah tidak mengenalnya?" Tanya Daffa kembali yang masih diselimuti rasa penasaran.


"Kamu tahu, kenapa Bram dan rekannya yang lain menolongmu dan Fira waktu itu?" Jawab Bagaskara dengan kembali bertanya.


Sementara Daffa hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban tidak tahu.


"Karena mereka telah ditugaskan oleh Mamah untuk mengawal kalian secara diam-diam." Ucap Bagaskara, yang membuat Daffa dan Safira tersentak kaget mendengarnya.


"Tapi, bukankah Papah sebelumnya mengatakan bahwa tidak mengetahui tentang kedatangan sepuluh laki-laki yang menolong Daffa pada saat itu? Bahkan, Papah pun mengatakan bahwa laki-laki yang menolong Daffa bisa saja hanya warga yang kebetulan mengetahui


penyekapan yang di lakukan oleh Baron?"


"Apa yang kamu katakan semuanya benar, Daff. Papah memang tidak mengetahui tentang keberadaan mereka di sana awalnya, Papah pun baru tahu itu semua dari Mamah yang menceritakan semuanya


kepada Papah."


"Jadi, Mamah Aida diam-diam menjaga kami." Monolog Safira dalam hati.

__ADS_1


Sesaat, Daffa langsung mengusap wajahnya kasar, kini dirinya benar-benar merasa bersalah atas apa yang telah diucapkannya terhadap Aida siang tadi.


__ADS_2