Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
160


__ADS_3

Setelah selesai menangani Crystal, Kai meminta pada Jack untuk menghandle semua urusan perusahaan Sean. Dia tak ingin karena hal ini perusahaan adiknya menjadi tak terkontrol. Sebelumnya dia juga sudah memberitahu kedua orang tua nya untuk menjaga kedua ponakannya, tapi dia belum bisa memberitahu soal keadaan Sean pada Orang tuanya. Dia merasa cemas dan takut kabar ini akan mengguncang hati kedua orang tua nya, untuk itu dia terpaksa membohongi mereka. Entah sampai kapan dia harus berbohong, dia pun merasa kacau dengan situasi ini.


Kai menengok ke arah adik nya yang masih belum sadarkan diri, dia memang egois dan tak pernah berubah. Selalu melakukan sesuatu untuk orang lain yang di cinta tanpa memikirkan kondisinya lebih dulu. Seandainya dia lebih awal mengetahui kondisi Sean, mungkin dia akan langsung menyeretnya ke ruang operasi (saat itu). Namun, semuanya telah terjadi dia juga tak bisa menyalahkan Sean karena pada saat itu kondisi Crystal memang tidak baik.


Sekali lagi Kai menarik nafasnya kasar, memegang tengkuknya yang terasa sakit. "Sebaiknya aku hubungi Jenni." Kai merogoh saku celananya mengambil benda pipih dan berjalan keluar ruangan Sean. Wanita itu pasti mengkhawatirkan nya, hampir seharian ini dirinya belum memberi kabar pada Istrinya.


"Hallo sayang, kenapa kau baru menghubungi ku? Kau tau, aku mencemaskan mu seharian. Pesanku, jangan kau balas kau baca pun tidak."


Kai sedikit menjauhkan ponsel itu dari daun telinganya, benar saja Istrinya mulai mengomeli dirinya.


"Kenapa diam saja? Apa kau senang berjauhan dengan ku? huhuhuhu... seharusnya aku mengikutimu ke Korea, kenapa juga harus di Paris seorang diri seperti ini."


"Sayang maafkan aku.." Kai meminta maaf dengan suara lelah. "Ada banyak urusan yang Aku lakukan, jadi baru bisa mengabari mu sekarang." Sambungnya lagi.


"Oppa, kau tak apa?" tanya Jenni penuh khawatir. "Kenapa suara mu terdengar lelah seperti itu?" tanya Jenni lagi.


Kai, memijat pelipisnya yang terasa pusing. Dia bingung harus menceritakan nya dari mana pada Istrinya, dia khawatir Istirnya akan nekat terbang menyusulnya ke Korea.


"Tidak apa. Kau tak perlu memikirkan nya, semuanya baik-baik saja." Bohong, Dia merasa bersalah menyembunyikan semua ini pada Istrinya.


"Sungguh Oppa?"


"Hn, tak perlu cemas." Kembali lagi Kai mencoba menyakinkan Istrinya. "Hm, bagaimana jika kau kembali ke London menemui anak kita. Aku khawatir jika kau sendiri, sebaiknya kau bersama mereka dan Kedua.... -


"Tunggu Oppa," Sela Jenni, "Kenapa harus ke London? Bukankah kau tak akan lama berada di Korea?"

__ADS_1


Beberapa detik Kai terdiam, dia tidak tau harus mencari alasan apalagi pada Istrinya.


"a-a... amm, Appa menyuruhku untuk menangani masalah perusahaan yang ada di cabang B-usan." Jawab Kai gelagapan.


"Busan?"


"Hn, Busan."


"Hn, baiklah jika memang seperti itu." timpal Jenni dengan suara kecewa, karena dia harus jauh lagi dengan suaminya.


"Aku akan sering menghubungi mu sayang, maaf kan aku. Setelah ini selesai, aku janji akan menemani kemanapun kau mau." Bujuk Kai.


"Sungguh?" tanya Jenni dengan suara penuh antusias.


"Tentu."


"Baiklah, aku tutup telponnya. Kau hati-hati di sana, jika kesepian datanglah ke London."


"Iyah Oppa, Iyah."


"hn, Love you."


"Love you more."


Kai memutuskan panggilan dengan Istrinya, dia berjalan keluar koridor mencoba mencari udara segar.

__ADS_1


...******************...


"Terimakasih telah datang, Jes. Padahal hari ini kau sedang cuti."


Jessica tersenyum lalu mengangguk pelan. "Tidak apa Tuan, bukan masalah besar." Jawabnya dengan santai.


"Sebelumnya Saya minta maaf harus mengatakan ini, tapi saat ini benar-benar mendesak." Jack langsung membuka pembicaraan itu dengan serius.


Alis cantik Jessica mengerut, dia terlihat penasaran apa yang membuat Jack terlihat gelisah. "Ada apa? Sesuatu terjadi?"


Lengan Jack saling mengepal di atas meja, "Saat ini Tuan Sean tengah di rawat di rumah sakit, jadi Saya minta maaf Jes."


Jessica menutup mulutnya terkejut, " T-tuan Sean, astaga. Apa Yanga terjadi dengan Tuan Sean?" tanya Jessica dengan nada sedikit tinggi.


"Maaf Jes, saya sulit menceritakan hal ini. Tapi, Tuan Sean tidak bisa untuk datang ke Kantor terlebih dahulu. Jadi Saya meminta kau untuk datang bekerja, setelah Tuan Sean pulih Saya akan mengajukan Cuti kembali untuk mu."


Jack menatap Jessica dengan wajah memohon, dia tak bisa jika tak di bantu Jessica untuk menghandle semua pekerjaan Sean.


Jessica meletakan gelas Jusnya di atas meja, dia mencoba berpikir sejenak. "Seharusnya Saya minta kenaikan gaji pada Tuan Sean."


"Saya akan melakukannya Jes, setelah semua beres Saya yang akan mengatakannya." timpal Jack cepat.


Jessica tak bisa menahan tawanya, Jack memang orang yang lucu. "Baiklah-baiklah, untuk kali ini Saya menyetujuinya."


"Ah, syukurlah." Jack bernafas lega mendengar keputusan dari Jessica. " Sekali lagi terimakasih Jes, maaf telah mengganggu waktu liburmu."

__ADS_1


Jessica dengan cepat menggelengkan kepalanya, "tidak sama sekali, hari ini Saya mengambil cuti karena sayang aja kan kalo gak di ambil." timpal Jessica sambil terkekeh.


__ADS_2