
Sudah selang tiga hari, dia belum menemui kedua anaknya. Dia tak bisa memahami perasaannya sendiri, ketakutan itu selalu membayanginya hingga tak sanggup bertemu dengan orang-orang di sekitarnya.
Bruk.
Ditengah lamunannya, Sean dikejutkan dengan suara pintu yang di buka dengan keras. Siapa orang yang mengganggu nya di waktu jam kerja nya ini?
"Sepertinya kau memiliki kekuatan lebih, hingga mengabaikan kesehatan mu dan bekerja bagai robot seperti ini." Ucap Kai memecahkan keheningan, suaranya juga terdengar sedikit tajam.
Sean langsung merubah ekspresi wajahnya setelah mengetahui siapa orang yang telah mengusiknya.
"Aku pikir kau sudah bersikap dewasa, ternyata masih tetap sama adikku." sindir Kai pada Sean.
"Sebaiknya kau tutup mulut mu Hyung, aku tidak ingin berbicara dengan mu.'' timpal Sean tak kalah tajam dengan kata-kata nya.
"Hahaha." Kai tertawa sedikit keras. " hah, maafkan aku karena tertawa. Tapi kau memanglah seorang Sean.'' ucap Kai kembali mengatakan hal ambigu yang membuat Sean merasa tak paham dengan situasi yang terjadi.
Sudah cukup Hyung nya masuk begitu saja ke dalam ruangannya, kini dia berucap hal-hal yang membuatnya berpikir keras. "Aku akan panggilkan Jack untuk menyeret mu keluar." ucap Sean tajam tanpa menatap sang empu.
"Hah, seharusnya aku merebut Crystal saat itu." Ucap Kai dengan santainya. "Dengan begitu Ana dan Cleo tidak perlu memiliki Appa yang pengecut seperti Mu...."
Tersulut emosi dengan kata-kata yang di ucapkan oleh Kai hingga pena yang tengah di pegangnya patah menjadi dua. "Tutup mulutmu itu sialan!" Teriak Sean sambil menggerakkan giginya menatap nyalang Kai yang tersenyum tanpa merasa bersalah.
"Kenapa? Bukankah aku benar. Dengan begitu Crystal akan hidup bahagia denganku, tanpa ada dirimu dalam hidupnya." Kai semakin melontarkan kata-kata yang membuat amarah adiknya memuncak.
__ADS_1
"Brengsek!" Geram Sean bangkit dari tempat duduknya, melangkah lebar menghampiri Hyungnya. "K-A-U..." Sean menarik keras kemeja Hyung nya, kedua matanya menatap Kai tak suka. "Ini adalah urusanku, sebaiknya kau enyah dari masalah keluarga kami."
"Hah, keluarga? Hahahaha.. Ini sungguh lucu Sean. Mana ada Keluarga, Kau..." Kai mengarahkan Ibu jarinya pada dada Sean. "Pria paling pengecut dan..."
"Sialan!" Teriak Sean bergegas menghampiri Kai dan langsung melayangkan tinju nya ke arah pipi Kai.
Bruk.
Kai tersungkur ke lantai setelah mendapatkan satu tinju dari sang adik, Dia memegang pipinya yang berdenyut nyeri.
Wajah Sean memerah menatap tajam Kai, terdengar juga nafasnya yang tak beraturan. "Ini hasilnya jika kau terus mengatakan hal-hal yang tak berguna, Hyung." Ujar Sean berbalik memunggungi Kai.
Dia ingin segera kembali ke tempat duduknya, entah kenapa tubuhnya terasa sakit, nafasnya pun mulai terasa sesak. "Ah.."
Bruk.
Kai segera merogoh ponsel di sakunya dan langsung menghubungi Jack.
"Jack." Seru Kai setelah panggilan tersambung. "Cepat ke kantor Sean, dia pingsan." ucap Kai. "Dan suruh orang untuk siapkan mobil." titahnya Kembali.
Setelah panggilan selesai, Kai mencoba mengangkat tubuh adiknya dan Ia baringkan ke sofa.
"Aish, anak ini benar-benar pala batu! Dia memang terlalu banyak memforsir tubuhnya untuk bekerja."
__ADS_1
Tak selang berapa lama pintu itu terbuka, terlihat wajah panik dari Jack. "Tuan Kai..." Panggil Jack.
"Mobilnya sudah siap?" ucap Kai langsung bertanya.
"Sudah Tuan." Jawab Jack.
"Baiklah, bantu Aku bawa Sean ke rumah sakit."
"Baik Tuan." Jack segera membantu Kai membawa Sean yang masih tak sadarkan diri.
...****************...
Saat ini Crystal tengah menemani kedua anaknya yang tengah bermain bersama teman-teman nya di sekolah. Dia tersenyum menatap Putri cantiknya yang mudah sekali berbaur dengan anak-anak sepantaran dengannya.
"Eomma, sebaiknya Aku kembali ke kelas Cleo saja." celetuk Cleo.
"Kenapa?" tanya Crystal pada Putranya.
"Aku merasa bosan di sini dan lagi ini membuang-buang waktuku." Jawab Cleo, membuat sang Eomma tak habis pikir dengan jawaban darinya.
Seketika Crystal memijat keningnya, entah kenapa Putra nya berbanding terbalik dengan Putrinya. Dia benar-benar menyukai kesendiriannya. "Hm, baiklah. Katakan pada Eomma jika butuh sesuatu, hm?"
"Iya Eomma, sampai jumpa." Ucap Cleo langsung berdiri dari duduknya dan pergi ke kelas nya sambil membawa buku di tangannya.
__ADS_1
"Entah siapa yang dia tiru, padahal Appa nya tak sependiam itu dulu." celetuk Crystal, menatap punggung Cleo yang semakin hilang dari jangkauannya.
"Ah, ngomong-ngomong Sean. Entah kenapa perasaanku jadi tak enak, semoga saja dia tak kenapa-kenapa." gumam Crystal sedikit merasa cemas.