
Dua hari kemudian, di mana Daffa sudah merencanakan babymoon bersama Safira, begitu juga dengan Agatha dan Fitria sebelumnya pun telah tiba.
Setelah Safira selesai sarapan, Safira kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengemasi pakaian yang akan dia bawa saat babymoon nanti.
"Sayang, aku tidak ingin kamu lelah. Lagi pula untuk apa kamu repot-repot mengemasi pakaian seperti itu, sih? Kamu kan bisa minta tolong kepada Bibi." Tegur Daffa saat melihat Safira sibuk mengemasi pakaian.
Sesaat Safira menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Ini tidak melelahkan kok, Mas. Lagi pula para asisten rumah tangga kita sedang sibuk di jam-jam seperti ini." Ujar Safira lalu melanjutkan aktivitasnya kembali.
Baru saja Safira melanjutkan aktivitasnya, kini Safira pun kembali berhenti ketika melihat Daffa memilih berbaring di ranjang.
"Kenapa Mas Daffa begitu santai Bukankah siang ini kita akan pergi Memangnya Mas Daffa tidak menyiapkan sesuatu, atau apa pun yang perlu Mas Daffa bawa?" Tanya
Safira.
Bukannya Daffa menjawab, Daffa malah berdiri dan berjalan ke arah Safira. Kemudian Daffa pun menarik tangan Safira lembut dan mengajak istrinya itu untuk berbaring bersamanya di ranjang.
"Mas, aku belum selesai membereskan pakaian kita." Ucap Safira ketika dirinya sudah berbaring di atas kasur.
"Aku tidak ingin kamu lelah, sayang."
"Tapi, Mas--" Kata Safira menggantungkan ucapannya, ketika mendapati tangan Daffa sudah memeluknya erat saat dirinya hendak bangun dari posisinya saat itu.
"Lebih baik kamu menemaniku seperti ini, daripada memikirkan hal itu."
"Rasanya aneh sekali melihat Mas Daffa nampak begitu santai seperti in, sebenarnya ada apa, Mas?" Tanya Safira yang tidak dihiraukan oleh Daffa.
"Apa Mas Daffa lupa jika siang ini jadwal keberangkatan kita?" Tanya Safira kembali mencoba mengingatkan Daffa, barangkali saja itu sedang lupa dengan rencananya sendiri.
"Tenang saja, sayang. Aku mengingatnya." Jawab Daffa memejamkan matanya.
"Loh, kok Mas Daffa malah tidur Daffa nampak diam, tak menanggapi ucapan Safira kembali. Selayaknya orang-orang yang tertidur pada umumnya.
"Mas?"
"Tumben sekali Mas Daffa tidur di jam seperti ini." Ucap Safira ketika Daffa terus saja tak menanggapinya.
CUP.
Sesaat, Daffa langsung membuka matanya kembali dan membungkam mulut Safira dengan sebuah ciuman.
"Tidurlah." Titah Daffa setelah melepaskan ciumannya dari bibir mungil milik Safira.
Di sisi lain, Fitria yang sudah siap berangkat ke bandara bersama Agatha, dengan membawa dua koper besar berisi pakaian milik Fitria sendiri, sementara Agatha hanya membawa satu koper kecil saja.
Nampaknya Fitria sudah menyusun rencana saat honeymoon nanti. Fitria sengaja membawa banyak pakaian untuk digunakan saat jalan-jalan bersama Safira untuk menghindari Agatha selama di sana.
__ADS_1
"Kalian hati-hati ya selama di sana. Dan untuk kamu, Fit. Layani suami kamu dengan baik, buat Agatha merasa nyaman berada di sisimu," Ucap Evi memberikan nasehat.
"Iya Mah, tenang saja. Mamah tidak perlu khawatir." Sahut Fitria seraya merangkul lengan Agatha agar terlihat harmonis di depan kedua orang tuanya.
"Mamah senang jika melihat kalian saling menyayangi satu sama lain seperti ini." Kata Evi senang melihat anak dan menantunya begitu akur.
"Ya sudah Pah, Mah, kalau begitu aku dan Agatha berangkat ke bandara dulu."
"Kok Agatha sih Fit manggilnya? Dia itu suamimu. Apa tidak ada panggilan yang lebih manis untuk menantu Mamah ini?" Tanya Evi melayangkan protesnya.
"Mmm..." Gumam Fitria tengah memikirkan panggilan apa yang akan dia berikan kepada Agatha saat di depan kedua orang tuanya, dan juga mertuanya.
"Darling," Celetuk Agatha yang baru saja mengeluarkan suaranya dan berhasil menarik atensi Fitria dan kedua mertuanya itu.
Fitria membelalakkan matanya sempurna saat mendengar ucapan Agatha, yang menurutnya begitu sangat menggelikan di telinga.
"Bagaimana bisa kamu lupa sih, sayang? Jelas-jelas sebelumnya kamu memanggil ku Darling." Sambung Agatha tersenyum menatap Fitria.
"DARLING? Astaga... Mendengarnya saja sudah membuatku geli, apalagi sampai
mengucapkannya." Gumam Fitria dalam hati.
"Ya ampun, kalian manis sekali. sih." Ucap Evi melihat keduanya.
"Ah, iya. Maafkan aku Dar-ling. Aku sampai lupa memanggilmu seperti itu, mungkin karena aku terlalu bersemangat untuk pergi
"Iya sayang, aku mengerti." Sahut Agatha.
"Lihat Mah, anak dan menantu kita begitu akur. Papah benar-benar lega melihatnya." Ucap Arya kepada Evi.
"Ya sudah Pah, Mah, kalau begitu kami berangkat dulu." Ucap Agatha lalu mencium tangan Arya dan Evi, disusul oleh Fitria setelahnya.
"Mamah tunggu kabar baik dari kalian setelah pulang honeymoon nanti ya." Ujar Evi bersemangat.
Sementara Agatha dan Fitria hanya saling melirik satu sama lain tanpa mengatakan apa pun.
"Papah titip Fitria ya, Ta. Kamu harus banyak sabar menghadapinya." Kata Arya memberikan pesan.
"Papah tenang saja, aku akan menjaga Fitria dengan baik. Kalau begitu kami jalan dulu ya, assalamu' alaikum." Pungkas Agatha lalu pergi bersama Fitria menuju bandara, dengan diantarkan oleh sopir pribadi milik Arya.
Daffa dan Safira yang sudah tiba di bandara lebih dulu, memilih duduk di salah satu kursi yang berada di bandara itu untuk menunggu kedatangan Agatha dan Fitria yang masih berada di perjalanan menuju
"Mas, kenapa koper kita tidak di bawa? Bukankah kita akan berangkat ke maldives bersama Agatha dan Fitria?" Tanya Safira ketika koper keduanya sengaja Daffa tinggalkan di rumah.
"Tenang saja sayang, tidak usah khawatir." Jawab Daffa santai.
"Aku harus tenang bagaimana, Mas?Memangnya kita tidak akan ganti baju selama babymoon di sana?"
__ADS_1
"Hei, percayalah kepadaku. Hmm?" Ucap Daffa menangkap wajah Safira dengan menggunakan kedua tangannya dan menatapnya lekat.
"Baiklah." Jawab Safira pasrah.
Tidak lama, Agatha dan Fitria yang baru saja tiba di bandara langsung menghampiri keduanya.
"Koper kalian mana?" Tanya Fitria menatap keduanya heran, saat tidak mendapati koper atau barang bawaan milik Daffa dan Safira di sana.
Safira hanya mengedikkan bahunya sebagai isyarat tidak tahu.
"Apa lo lupa siapa gue? Gue bisa saja membeli baju di sana. Jadi, untuk apa gue sampai repot-repot membawa koper seperti itu." Jawab Daffa menyombongkan diri.
"Iya, iya, gue percaya." Sahut Fitria memutar bola matanya malas.
"Sayang, bukankah kamu ingin memberikan Fitria sebuah hadiah?" Tanya Daffa kepada Safira.
"Ah iya, aku sampai lupa," Kata Safira, lalu memberikan sebuah tote bag berisi kado berwarna merah muda kepada Fitria.
"Dibukanya nanti saja ya Fit, selah sampai di sana." Sambung Safira kembali ketika tote bag itu sudah beralih ke tangan Fitria.
"Apa ini?" Tanya Fitria tidak sabar ingin mengetahui isi kado itu.
"Kejutan spesial dari Fira." Tỉmpal Daffa.
"Makasih banyak ya, Fira." Ucap Fitria nampak begitu senang. Tidak terasa jam penerbangan pun telah tiba, keempat orang itu pun bersiap untuk memasuki pesawat
setelah mengikuti beberapa proses
prosedur di bandara itu.
Saat masuk ke dalam pesawat, Daffa sengaja membelikan tiket untuk Agatha dan Fitria agar duduk di kursi depan.
Sedangkan Daffa sengaja memilih kursi di belakang Fitria dengan jarak yang lumayan jauh.
"Kalian duduk di mana?" Tanya Fitria kepada Daffa dan Fitria.
"Di sana." Jawab Daffa dengan mengarahkan telunjuknya ke kursi
yang berada di belakang.
"Kok jaraknya jauh banget sih, Daff?"
"Kebetulan kemarin tiket bisnis yang tersisa hanya yang ini dan itu saja." Jawab Daffa mengarahkan netranya ke kursi milik Agatha dan Fitria, dan juga miliknya dan Safira.
Fitria mengangguk mengerti.
"Kalau gitu gue dan Fira ke sana dulu, ya." Pungkas Daffa sebelum pergi meninggalkan kursi Fitria.
__ADS_1
Namun, bukannya Daffa duduk. Dia justru menggandeng tangan Safira dan mengajaknya agar keluar dari pesawat kembali.