Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
135. Pantai


__ADS_3

"Aku akan membayarmu mahal, jika secepatnya video yang ku minta sudah kamu dapatkan." Pungkas Fitria memutuskan panggilan suaranya.


Setelah selesai berbicara dengan orang bayarannya, Fitria kembali menatap ke arah tempat di mana Agatha sebelumnya berada.


Selama lima menit netra Fitra terus terpaku di tempat itu dengan harapan Agatha kembali ke sana. Namun, Agatha tidak kunjung terlihat. Sepertinya laki-laki itu memang sudah pergi sejak tadi.


Hembusan angin malam yang semakin lama semakin membuat Fitria dingin, Fitria pun kembali menutup jendela kamarnya dan beranjak pergi ke ranjangnya kembali.


Sudah empat hari ini Agatha menginap di kediaman Rosa setelah Fitria mengusirnya hanya karena kesalahpahaman yang ditimbulkan oleh Friska melalui surat yang


diberikan kepada istrinya itu. Agatha


memilih tinggal di rumah Rosa karena Agatha merasa tidak pantas untuk Fitria setelah mendengar ucapan dari Friska yang menyadarkannya bahwa dirinya


bukanlah laki-laki yang baik.


Di meja makan berbahan kayu yang terdapat Agatha dan Rosa di sana, keduanya tengah menikmati sarapannya masing-masing.


Sebenarnya Rosa sudah menduga bahwa Agatha tengah bertengkar dengan Fitria. Namun Rosa memilih diam terlebih dahulu sebelum Agatha sendiri yang menceritakan


masalahnya kepadanya. Rosa tidak ingin disebut sebagai orang tua yang gemar ikut campur dengan rumah tangga anaknya.


Ternyata untuk menunggu Agatha menceritakan masalah rumah tangganya kepadanya adalah keputusan yang salah. Terbukti hingga empat hari ini, pun Agatha


masih tetap bungkam seolah tidak ada


yang terjadi.


"Sebenarnya kalian ada masalah apa?" Tanya Rosa tiba-tiba hingga membuat Agatha menghentikan aktivitas sarapannya sejenak.


"Tidak ada, Mah." Jawab Agatha masih menutupi.


"Kamu tidak perlu membohongi Mamah, Ta. Meskipun sampai seratus kali kamu mengatakan itu. Tetap saja Mamah tahu bahwa ada sesuatu yang sedang kamu tutupi."


Tidak ada jawaban apa pun dari mulut Agatha, laki-laki itu jutsru sibuk menyuapkan sarapannya ke dalam mulutnya, seperti tengah menunjukkan kepada Rosa bahwa dirinya memang tidak ada masalah apa pun.


"Mamah tidak tahu masalah apa yang terjadi di antara kalian. Namun, dengan cara kamu pergi seperti ini tidak akan bisa menyelesaikan masalah."


Agatha hanya diam mendengarkan seraya mengunyah makanannya.


"Apa kamu mendengar ucapan Mamah tadi, Ta?" Tanya Rosa kepada putranya itu.


"Hmm." Gumam Agatha menganggukkan kepalanya.


"Apa laki-laki sebrengs*k aku pantas bersanding dengan Fitria?" Gumam Agatha yang teringat dengan ucapan Friska.


***


Setelah Fitria pulang dari Maldives, Fitria benar-benar melakukan segala aktivitasnya di dalam kamar. Karena kondisi kakinya


yang masih mengalami cedera, sehingga Fitria tidak bisa ke mana-mana. Tidak jarang Fitria merasakan bosan dengan rutinitasnya yang hanya dilakukan di dalam kamar saja.


Mungkin akan berbeda jika ada Agatha di sisi Fitria, tidak ada rasa bosan yang datang. Bahkan kegiatan yang hanya di lakukan di dalam kamar saja, pun bisa menjadi hal yang menyenangkan. Seperti saat keduanya melakukan honeymoon di

__ADS_1


Maldives kemarin.


Ketika Fitria bingung ingin melakukan apa lagi di dalam kamarnva, Fitria memilih menonton televisi untuk sekedar menghilangkan rasa bosan yang menyusup masuk pada dirinya.


Sebuah notifikasi tiba-tiba terdengar dari arah nakas, membuat Fitria menoleh ke asal sumber suara dengan gerakan secepat kilat. Buru-buru Fitria meraih ponselnya yang terletak di sana dengan


senyuman yang mengembang sempurna.


"Akhirnya kamu menghubungiku juga." Gumam Fitria sebelum tangannya meraih benda pipih itu. Namun, saat Fitria melihat layar ponselnya, senyuman yang semula


sudah bertengger di sana perlahan menghilang ketika bukan Agatha yang mengirimkannya pesan.


Fitria tersentak kaget saat melihat beberapa video rekaman CCTV yang baru saja dikirimkan oleh orang bayarannya itu.


Di video pertama memperlihatkan di mana Agatha dan Friska sedang duduk bersebelahan di sebuah club malam. Namun yang lebih membuat Fitria kaget saat melihat Friska lebih dulu mencium


Agatha di tengah keramaian pengunjung club lainnya.


Tidak lama di dalam video itu memperlihatkan Daffa yang tiba-tiba datang di sana hingga berakhir adu jotos dengan Agatha.


Namun setelah itu, Daffa langsung pergi dari sana diikuti oleh Friska di belakangnya. Sedangkan Agatha yang masih berada di sana, pun ikut pergi meninggalkan club itu


setelah Daffa dan Friska sudah pergi


lebih dulu.


"Jadi, tidak ada apa pun yang terjadi di antara Agatha dan Friska seperti apa yang aku pikirkan?" Gumam Fitria setelah melihat semua rekaman video itu.


"Aku harus menemui Agatha sekarang dan meminta maaf langsung kepadanya." Sambung Fitria kembali.


"Memangnya kamu mau ke mana sih, Fit? Kenapa tidak meminta kepada Agatha agar menjemputmu kemari?" Tanya Arya dengan tangan yang yang masih menggendong Fitria, berjalan ke arah halaman utama


untuk membawa putri semata wayangnya itu masuk ke dalam mobil sesuai dengan yang Fitria inginkan.


Fitria hanya diam sejenak sebelum memberikan jawaban kepada laki-laki paruh baya itu.


"Aku akan memberikan Agatha kejutan, Pah." Jawab Fitria yang langsung di mengerti oleh Arya.


Setelah Fitria sudah masuk ke dalam mobil berwarna hitam. Mobil itu pun langsung melaju membelah jalan raya menuju tempat yang Fitria tujukan, dengan diantarkan oleh salah satu sopir yang Arya kerjakan di rumahnya.


Saat mobil hitam itu telah berhenti di sisi jalan yang tidak jauh dari toko Rosa, Fitria mengedaran pandangannya ke arah halaman toko itu untuk mencari keberadaan motor Agatha di sana, namun tidak ditemukannya.


Fitria pun meminta kepada sopirnya kembali agarbmengantarkannya ke sebuah restoran di mana dirinya dan Agatha pertama kali bertemu dulu saat Agatha


menjadi pelayan di sana. Namun, lagi-lagi Fitria tidak mendapati keberadaan Agatha kembali.


Tidak sampai di situ saja, Fitria yang masih belum menyerah mencari keberadaan Agatha, pun melanjutkan pencariannya hingga di kediaman Bayu, sampai di tempat-tempat yang mungkin ada Agatha di sana.


Namum, tetap saja Fitria tak menemukannya. Setelah pencariannya di berbagai tempat itu tidak membuahkan hasil, Fitria hanya diam sejenak dan


memejamkan matanya. Tak terasa sebuah cairan bening mengalir di pipi wanita itu, kini Fitria tidak tahu lagi harus mencari keberadaan Agatha di mana.


Perlahan Fitria membuka tasnya dan meraih benda pipih dari dalam sana. Lalu Fitria mulai membuka riwayat pesan yang terdapat percakapan antara dirinya dan Agatha di ponsel itu. Ingin sekali jari Fitria

__ADS_1


mengetik sesuatu dan menanyakan


keberadaan suaminya. Namun Fitria enggan melakukannya.


Senyuman Fitria tiba-tiba mengembang saat teringat kepada satu tempat yang belum dia datangi.


"Pak, tolong antarkan saya ke pantai, ya." Titah Fitria kepada laki-laki paruh baya yang mengemudikan mobilnya itu.


"Baik, Non." Ucap sopir itu langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


Dengan mnenempuh jarak yang lumayan jauh, mobil berwarna hitam itu pun telah sampai di sebuah pantai. Fitria yang sudah tidak sabar ingin memastikan keberadaan Agatha di sana, pun langsung bergegas turun dari mobil itu dengan menggunakan


kruk yang sudah Arya bawakan di bagasi mobilnya untuk Fitria gunakan.


"Tidak usah Pak, biar aku sendiri yang ke sana. Lebih baik Bapak tunggu di sini saja." Ucap Fitria saat sopirnya hendak membantu.


"Tapi Non--"


"Aku baik-baik saja, Pak. Tenang saja, nanti kalau terjadi apa-apa, aku akan segera hubungi." Kata Fitria memotong ucapan laki-laki paruh baya itu.


Tidak ingin banyak membantah, sopir itu pun hanya bisa pasrah menuruti keinginan putri dari majikannya.


Tiupan angin yang di dominasikan dengan suara dari desiran ombak begitu sangat


menenangkan bagi siapa pun yang berada di sana. Tidak terkecuali dengan Fitria.


Perlahan Fitria mulai melangkahkan kakinya dengan bantuan kruk berjalan menyusuri pantai yang berpasir putih.


Pandangannya terus mengedar ke sembarang arah untuk mencari keberadaan suaminya yang sebenarnya belum tentu juga berada di sana.


Sebenarnya tidak mudah berjalan di pasir pantai dengan menggunakan kruk seperti itu. Namun demi Agatha, Fitria tidak ingin menyerah untuk mencari keberadaannya.


Tubuh Fitria langsung mematung saat netra miliknya menangkap keberadaan Agatha yang tengah berdiri seorang diri dengan pandangan yang menatap ke arah laut berwarna biru.


Sesaat fitria tersenyum lega saat berhasil menemukan keberadaan suaminya setelah beberapa tempat sudah Fitria datangi untuk mencarinya.


Perlahan, Fitria pun berjalan ke arah Agatha. Ketika langkah Fitria sudah


terhenti tepat di belakang laki-laki itu, Fitria langsung melepaskan kruknya dan memeluk Agatha dari belakang dengan melingkarkan tangannya di pinggang suaminya itu.


Sedangkan Agatha yang semula tengah menikmati sapuan ombak hingga terhanyut dalam lamunannya, tersentak kaget saat tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang.


"Fitria...Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Agatha tersentak kaget saat mendapati istrinya di sana.


"Maafkan aku." Ucap Fitria lirih.


Agatha memutar tubuhnya dan menangkap wajah Fitria agar menatapnya.


"Kamu tidak salah." Ucapnya lembut.


"Maafkan aku." Ucap Fitria kembali dengan air mata yang mengalir deras menyesali


tindakannya.

__ADS_1


Tanpa mengatakan apa pun, Agatha langsung memeluk Fitria erat dan mendaratkan dagunya di tengkuk leher Fitria.


"Aww... Geli." Cicit Fitria yang berhasil membuat keduanya tertawa kembali dengan air mata yang mengalir deras menyesali tindakannya.


__ADS_2