Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
133. Meninggalkan Rumah Karena Pertengkaran


__ADS_3

Netra Fitria terus menatap kepergian Agatha hingga perlahan Agatha menghilang dari jangkauan matanya.


Tiba-tiba sebuah cairan bening mengalir di pipi Fitria yang sedari tadi sudah susah payah dia tahan.


"Padahal untuk menerima pernikahan itu bukanlah hal yang mudah bagiku. Apalagi


menumbuhkan rasa cinta. Tapi, di saat aku sudah bisa menerima dan menaruh cinta kepada Agatha, kenapa semua ini baru ku ketahui?" Batin Fitria merutuki dirinya sendiri karena sudah menaruh hati kepada laki-laki yang salah menurutnya.


Tidak sengaja, netra Fitria menangkap sebuah mangkuk berisi makanan di atas meja yang sebelumnya Agatha bawa.


Pikiran Fitria kembali teringat dengan


percakapan Agatha melalui telepon bersama wanita paruh baya yang saat ini sudah menjadi Ibu mertuanya itu.


Sesaat, Fitria memejamkan matanya sejenak untuk menetralkan pikiran dan perasaannya yang tengah kacau.


Sedangkan di sisi lain, Agatha yang baru saja keluar dari kamar Fitria, sempat berdiri di depan pintu untuk beberapa saat sebelum dia pergi.


Seorang asisten rumah tangga yang sebelumnya sempat menawarkan bantuan kepada Agatha saat di dapur, pun melihat Agatha yang tengah berjalan menuruni anak tangga satu persatu.


Padahal laki-laki tampan itu belum lama membawakan makanan untuk istrinya. Tapi kenapa sudah turun kebawah kembali? Apa


ada sesuatu yang dibutuhkan? Pikir asisten rumah tangga itu menerka.


"Tuan, apa ada yang bisa Bibi bantu?" Tanyanya mengikuti langkah Agatha yang berjalan menuju pintu utama.


Seperti dengan sengaja Agatha menulikan pendengarannya, pertanyaan yang wanita paruh baya berikan kepadanya, pun diabaikan begitu saja.


"Aneh selkali suami Non Fitria, padahal saat di dapur tadi benar-benar sangat ramah. Kenapa tiba-tiba jadi menyeramkan seperti itu?" Monolog asisten rumah tangga itu nampak bingung.


Saat Agatha telah menggunakan helm full face miliknya dan bersiap untuk pergi, Agatha langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya hendak menuju ke suatu tempat.


Tidak membutuhkan waktu lama bagi Agatha untuk sampai di tempat tujuannya. Saat Agatha telah sampai di sana, Agatha pun langsung bergegas turun dari motornya dengan tatapan tajam seperti hewan buas yang siap menerkam mangsanya.


"Silahkan tunggu sebentar, Tuan. Saya akan memanggilkan dia dulu." Ucap seorang wanita berseragam biru muda.


Dengan tatapan yang tidak berubah sejak turun dari motor tadi, Agatha pun terus menatap ke arah pintu untuk menunggu seseorang yang ingin ditemuinya.


Prok prok prok.


Suara tepuk tangan terdengar bersamaan datangnya seorang wanita yang berjalan mendekat ke arah Agatha yang tengah duduk di sebuah kursi.

__ADS_1


"Ternyata lo datang lebih cepat dari perkiraan gue." Ucapnya, lalu duduk.


"Maksud lo apa mengirimkan surat sampah seperti itu?" Tanya Agatha dengan rahang yang mengeras.


"Gue hanya ingin memberikan itu sebagai kado pernikahan lo, apakah salah?" Tanya Friska balik bertanya dengan memainkan kukunya.


"Apa yang lo inginkan sebenarnya?" Tanya Agatha penuh penekanan di setiap ucapannya.


"Gue hanya ingin lo hancur!"


"Salah gue apa?"


"Lo masih tanya letak salahnya di mana? Jelas-jelas karena lo, hubungan gue dan Daffa jadi berakhir!" Ucap Friska menaikkan nada.


"Lo sendiri yang mencium gue lebih dulu, kalau lo lupa. Kenapa gue yang harus di salahkan?"


"Ini semua gara-gara lo, Ta. Gara-gara lo! Bukan hanya hubungan gue dan Daffa saja yang berakhir, karir gue pun hancur dan gue harus mendekam di penjara seperti ini.


Semua ini karena lo!" Bentak Friska


terus menyalahkan Agatha.


Sementara Agatha yang sudah menahan emosi sejak tadi, pun melayangkan pukulannya ke arah Friska. Namun dengan cepat Agatha menarik tangannya kembali ketika tersadar bahwa yang tengah di


"Kenapa? Lo mau pukul gue? Nih, pukul saja. Agar gue nggak usah susah payah memasukkan lo ke dalam jeruji besi." Kata Friska menantangi Agatha dengan mendekatkan wajahnya.


Kepalan tangan Agatlha semakin menguat ketika mendengar ucapan Friska. Agatha yang sudah tidak tahan lagi menahan emosi yang tengah berapi-api itu, pun langsung memukulkan tangannya pada dinding hingga tangannya mengeluarkan


darah segar.


"Coba gunakan otak lo untuk berpikir. Jangan bisanya hanya melemparkan kesalahan kepada orang lain saja. Itu pun kalau lo masih punya otak!" Pungkas Agatha bangkit dari posisinya hendak pergi.


"Lo nggak pantas bahagia!" Ucap Friska membuat Agatha menghentikan langkahnya sejenak.


"Lo itu bajing"n, nggak ada bedanya sama gue. Apa lo pantas menikah dengan Fitria." Sambung Friska kembali membuat Agatha


bungkam.


"Kenapa lo diam saja? Apa lo baru sadar dengan apa yang gue ucapkan?" Tanya Friska ketika Agatha tak lagi mengeluarkan suara.


***

__ADS_1


"Lo kapan pulang, Fir?" Tanya Fitria pada panggilan video dengan menghadapkan layar ponselnya ke arah wajahnya.


'Insyaallah besok, Fit. Oh ya, bagaimana dengan honeymoon kalian di Maldives kemarin?" Tanya Safira penasaran.


"Ya seperti itulah." Jawab Fitria yang sebenarnya malas membahas semua hal yang berkaitan dengan Agatha.


'Sudah mencetak gol, 'kan, Fit?' Tanya Daffa menimpali yang terlihat tengah duduk di sisi Safira dari layar ponsel itu.


Fitria diam sejenak, mencari topik lain untuk mengalihkan pembicaraan.


Tok tok tok.


Dengan cepat Fitria menoleh ke arah pintu saat mendengar suara ketukan dari arah luar. Fitria benar-benar merasa terselamatkan karena bisa terbebas dari pertanyaan Daffa tadi.


"Fit..." Panggil Evi dari balik pintu.


"Eh, udah dulu ya Fir, Daff. Mamah gue manggil soalnya." Pungkas Fitria sebelum memutuskan panggilan videonya.


"Iya Mah, masuk aja." Kata Fitria diikuti Evi yang mulai masuk ke dalam kamarnya.


"Agatha kemana, Fit? Mamah kira dia sedang di kamar bersamamu. Soalnya dari siang Mamah belum melihat dia sama sekali." Tanya Evi mengedarkan pandangannya ke sembarang arah.


"D-dia sedang ada urusan, Mah." Jawab Fitria berbohong, yang diikuti anggukkan kepala dari Evi sebagai jawaban mengerti.


"Kalau gitu Mamah akan panggilkan Papah dulu agar membantumu turun ke bawah untuk makan malam." Kata Evi sebelum


kembali pergi.


"Nggak usah Mah, aku makan di kamar saja." Sahut Fitria cepat.


"Baiklah, kalau gitu Mamah turun dulu, ya. Nanti Mamah akan meminta Bibi agar mengantarkan makan malam kemari."


Di sisi lain, Agatha yang tengah berada di luar kediaman Arya hanya bisa menatap ke arah jendela kamar Fitria dari kejauhan, hingga tidak di ketahui oleh satpam yang bekerja di rumah mertuanya itu.


Setelah sepuluh menit Agatha menatap jendela kamar Fitria, Agatha melajukan motornya kembali dan memutuskan untuk bermalam di luar.


Sementara di dalam kamar yang bernuansa putih, Fitria sedikit pun tidak menyentuh makanannya yang dibawakan oleh asisten rumah tangga yang diperintahkan oleh Evi.


Pikiran Fitria saat ini tengah sibuk melanglang buana entah kemana, sehingga makanan yang sangat menggugah selera itu, pun nampak hambar di matanya.


"Sedang apa dia sekarang?" Monolog Fitria dengan netra yang menatap ke arah jendela.

__ADS_1


Sesaat, Fitria melirik benda pipih miliknya, namun tidak ada satu pesan masuk pun dari Agatha.


"Seharusnya aku tidak langsung mempercayai isi surat itu, sebelum aku mencari tahu dulu." Gumam Fitria.


__ADS_2