Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
97. Fitria Vs Agatha


__ADS_3

"Tetapi jika itu terlalu sulit untukmu, lebih baik kamu menyerah saja, Fit." Ucap Arya, setelah duduk di sisi Fitria.


"Siapa bilang itu sulit? Bagiku, itu adalah hal yang mudah." Jawab Fitria menanggapi.


"Hahaha, benarkah? Bagaimana jika Papah pangkas saja waktunya, yang semula satu bulan menjadi dua minggu?" Tanya Arya, menantang Fitria agar menyerah.


"Loh, itu nggak adil dong, Pah." Protes Fitria dengan wajah yang sudah terlihat kesal.


"Bukankah kamu tadi mengatakan itu hal yang mudah? Lagi pula, Papah rasa satu bulan terlalu lama." Ujar Arya yang sengaja


menyudutkan Fitria.


"Tapi, bukan berarti Papah bisa mengubah waktu yang sudah kita sepakati sebelumnya, dong?"


"Papah... Fitria.. Cicipi deh kue buatan Mamah," Ucap Evi membawa sebuah nampan berisi beberapa kue di atasnya, membuat obrolan keduanya terhenti.


Evi yang baru saja meletakan nampan itu di atas meja, melihat ke arah Arya dan Fitria secara bergantian ketika mendapati Fitria


sudah memasang wajahnya masam.


"Ada apa lagi, sih?" Tanya Evi kepada suami dan anaknya itu.


Fitria yang enggan menjawab, pun hanya mendengus kesal. Sementara Arya yang juga enggan menjawab, hanya melemparkan pandangan ke arah putrinya sebagai isyarat jawabannya yang langsung


dimengerti oleh Evi.


"Sayang, bukan Mamah ingin berpihak kepada Papah. Tapi, keputusan kamu untuk mencari laki-laki yang siap menikahimu dalam waktu sesingkat itu juga bukanlah hal yang tepat, Fit." Ujar Evi, seraya mengusap lembut pundak Fitria.


Sedangkan Fitria yang semula membuang wajahnya ke arah lain, pun seketika menatap ke arah Evi dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Jadi, maksud Mamah perjodohan itu adalah yang tepat untukku?" Tanya Fitria kecewa.


"Bukan maksud Mamah seperti itu, tapi... Apa kamu bisa memastikan apakah laki-laki yang kamu temui itu baik atau tidak? Bagaimana jika laki-laki itu tidak baik? Menurut Mamah, lebih baik kamu coba bertemu dengan anaknya teman


Papah, dulu. Kamu kan bisa pelan-pelan mengenalnya. Lagi pula, menurut Mamah perjodohan itu bukanlah sesuatu hal yang buruk." Terang Evi memaparkan.


"Mah!" Sela Fitria kesal.


"Apa yang Mamah kamu bilang itu benar, Fit." Sahut Arya dengan mengubah posisi duduknya.


"Sekarang begini saja, Papah akan mengatur waktu untuk makan malam bersama dengan teman Papah dan anaknya. Agar kalian bisa bertemu satu sama lain." Sambung Arya kembali.


Fitria yang saat ini benar-benar merasa didesak secara halus oleh kedua orang tuanya, pun mengepalkan tangannya kuat karena menahan kesal yang tidak ingin dia


perlihatkan.

__ADS_1


Tanpa mengatakan apa pun Fitria beranjak pergi begitu saja, membuat Evi melayangkan protesnya.


"Jangan pergi dulu, Fitria! Cicipi dulu kue buatan Mamah." Cegah Evi, yang tidak mendapati respon dari putri semata wayangnya itu.


Fitria terus berjalan menuju ke kamarnya dengan menaiki anak tangga satu persatu. Tidak lama, Fitria keluar kembali memakai hoodie berwarna ungu dengan kunci mobil di tangannya.


Fitria terus berjalan ke arah pintu utama tanpa berpamitan kepada kedua orang berusia paruh baya yang sedari tadi memperhatikan dirinya.


"Mau kemana, Fit? Ini sudah malam." Tanya Arya yang akhirnya membuka suara, namun tidak mendapati jawaban dari Fitria.


"Pah, sudah, Biarkan Fitria menenangkan dirinya dulu." Ucap Evi pelan, yang dijawab dengan anggukkan kepala oleh Arya.


Fitria yang sudah berada di dalam mobil, pun perlaban melajukan mobilnya meninggalkan kediaman orang tuanya. Tanpa memiliki arah tujuan, Fitria terus menyusuri jalan raya hingga dirinya tersadar kalau jarak yang dia tempuh sudah lumayan jauh dari kediaman Arya.


Di tengah-tengah perjalanannya yang tidak memiliki tujuan, tiba-tiba Fitria merasakan kering di tenggorokannya. Sesaat, Fitria pun mengedarkan pandangannya ke sisi


jalan dari dalam mobilnya untuk mencari sebuah minimarket.


Tidak butuh waktu lama, Fitria pun mengentikan mobilnya di sebuah minimarket yang dia temui. Fitria yang sudah tidak sabar ingin membasahi tenggorokannya pun langsung buru-buru turun dari mobilnya, dan masuk ke dalam


minimarket tersebut.


Satu persatu, Fitria memperhatikan berbagai macam minuman yang tersusun rapih di lemari pendingin itu, Fitria yang masih kurang puas meminum jus mangga yang siang tadi ditumpahkan oleh Agatha, pun akhirnya memilih sebuah jus mangga kemasan.


"Terimakasih." Ucap Fitria sopan, setelah membayar jus mangga yang baru saja Fitria ambil di lemari pendingin.


"Segarnya, meskipun hanya jus kemasan, setidaknya bisa menggantikan jus mangga gue yang siang tadi tumpah." Monolog Fitria, setelah meminum jus mangga itu.


Di sela-sela Fitria tengah menikmati jus mangganya, tiba-tiba seorang laki-laki berjongkok tepat dibawah Fitria.


Fitria yang saat itu tengah menggunakan rok hitam sepanjang betis, pun langsung tersentak kaget.


"Eh, apa-apaan ini?" Tanya Fitria yang langsung berdiri dari posisi Sedangkan laki-laki yang baru saja berjongkok tepat di depan kaki Fitria, pun langsung menegakkan tubuhnya.


"Lo, lagi?" Ucap Fitria dengan membelalakkan matanya sempurna. Dia adalah Agatha, yang sudah menumpahkan jus mangga milik Fitria siang tadi.


"Ngapain lo jongkok kayak tadi? Pasti lo baru saja ngintip gue, 'kan? Dasar mesum!" Tukas Fitria geram.


"Idih, ngapain juga! Kayak gak ada kerjaan aja. Gue baru saja mengambil ini yang gak sengaja jatuh ke sana." Jawab Agatha dengan menunjukkan sebuah kunci mobil di bahan ia duduk.


"Gue gak percaya, lagi pula ini kunci pasti bukan milik lo. Mana ada seorang pelayan memiliki mobil mewah kayak gitu. Lo pasti nyuri mobil itu, 'kan?" Tukas Fitria kembali,


yang mengetahui bahwa kunci mobil yang berada di tangan Agatha adalah mobil kelas atas.


"Astaga, isi kepala lo kenapa buruk semua, sih?" Sahut Agatha, ketika kesabarannya yang setipis tisu itu kembali di uji.

__ADS_1


BUGH.


Agatha membelalakkan matanya sempurna ketika Fitria memukul lengannya cukup keras. Sesaat kemudian, Agatha


mencengkram lengan Fitria untuk membalas pukulan yang baru saja dia terima dari wanita yang menurutnya sangat menyebalkan.


"Aww, lepasin!" Pekik Fitria meringis kesakitan.


"Nggak, sebelum lo minta maaf! Ucap Agatha dengan suara baritonnya.


Mendengar bahwa dirinya diminta untuk meminta maaf, Fitria pun langsung menatap tajam wajah Agatha.


"Gak salah dengar, gue? Harusnya lo yang minta maaf, bukannya malah gue. Lagi pula gue mukul lengan lo itu karena lo sudah ngintip gue tadi." Tolak Fitria tegas.


Agatha yang semakin mengeratkan cengkramannya pada lengan Fitria, membuat Fitria memilih untuk meneriaki untuk menghentikannya.


"Dasar laki-laki mesum!" Teriak Fitria, membuat Agatha seketika membekap mulut Fitria menggunakan tangannya.


"Lepasin!" Titah Fitria yang masih dibungkam oleh tangan Agatha.


"Fitria?" Panggil seorang wanita yang baru saja keluar dari mobilnya.


Membuat Agatha yang semula sedang


membungkam mulut Fitria dengan menggunakan tangannya, pun langsung melepaskannya.


"Tika." Sahut Fitria.


Sedangkan Agatha yang mendengar bahwa Fitria dan Kartika saling mengenal, pun langsung melihat ke arah kedua wanita itu


secara bergantian.


"Ngapain lo di sini? Lo kenal dia? Tanya Kartika kepada Fitria dengan menunjukkan jarinya ke arah Agatha.


"Engg--"


Belum sempat Fitria menyelesaikan ucapannya, Agatha sudah memotongnya lebih dulu.


"Apa yang lo lakukan di rumah sakit waktu itu?" Tembak Agatha tanpa basa-basi.


"Bu-bukan urusan lo." Jawab Kartika dengan wajah yang sudah pucat pasi.


Fitria yang mendengar itu, pun seketika langsung teringat kepada Safira yang belum lama mengalami kecelakaan.


"Terus, kenapa waktu itu lo terlihat ketakutan saat melihat Daf--"

__ADS_1


"Gue bilang bukan urusan lo, ya bukan urusan lo. Kenapa suka ikut campur banget sih jadi manusia!" Bentak Kartika panik, yang sengaja memotong ucapan Agatha agar Fitria tidak mendengar semuanya.


__ADS_2