Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
83. Perhatian Aida


__ADS_3

Karena intensitas sakit pada kepalan Safira semakin menusuk ketika dirinya bangun, akhirnya Safira pun berdiri dengan tangan yang memegangi lengan Daffa.


"Sayang." Pekik Daffa ketika Safira sempat hilang keseimbangannya.


Safira pun diam sejenak, sebelum melanjutkan langkahnya kembali.


Sedangkan Daffa yang sedari tadi sudah cemas, rasanya tidak tenang melihat Safira yang menahan rasa sakit seperti itu. Tidak ingin kondisi istrinya semakin memburuk, Daffa pun memilih menggendong Safira


tanpa persetujuannya.


"Loh, loh, Mas Daffa, turunin ih!." Titah Safira saat dirinya terkejut.


Sedangkan Ardi, dan yang lainnya yang tengah menunggu keduanya pun sontak melihat ke arah mereka, ketika suara Safira terdengar dari ruang tamu.


"Ih, romantis pisan!" Ucap Naomi iri melihat Safira yang diperlakukan dengan sangat manis oleh Daffa.


Sedangkan Safira yang baru saja duduk bergabung hanya tersenyum malu.


"Bu, kalau setelah lulus sekolah nanti, aku mau langsung menikah saja ya, Bu. Biar kayak Teh Fira." Kata Naomi kepada Rani.


"Husst! Masih kecil sudah bicara nikah, nikah. Sekolah saja dulu yang benar." Saut Rani.


"Teh, apa menikah itu menyenangkan?" Tanya Naomi kepada Safira penasaran.


Bukannya langsung menjawab, Safira justru melirik ke arah Daffa sejenak.


"Tentu saja menyenangkan, lihat saja kami." Jawab Daffa yang sudah mendahului


Safira.


CUP.


Safira membelalakkan matanya sempurna ketika Daffa mencium keningnya tepat di depan mata keluarganya.


Sedangkan Naomi yang menyaksikan adegan romantis ala telenovela di hadapannya itu pun hanya tersenyum hingga deretan giginya terlihat.


"Tutup mulutmu, Nao. Nanti ada lalat masuk." Saut Rani dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ih Ibu, lagi pula mana ada lalat berkeliaran malam-malam begini."


"Sudah, sudah. Ayo makan." Timpal Ardi yang mulai memasukkan nasi ke dalam mulutnya.


"Neng, bagaimana keadaanmu?" Tanya Ardi yang mulai membuka obrolan.


"Kepalaku masih sedikit pusing, Mang." Jawab Safira yang tengah disuapi oleh Daffa.


"Apa tidak sebaiknya Safira di bawa ke klinik saja setelah ini, Daff? Agar bisa diperiksa oleh Dokter langsung." Kata Ardi yang mencemaskan keadaan keponakannya itu.

__ADS_1


"Bagaimana sayang?" Tanya Daffa meminta persetujuan Safira.


"Tidak perlu, Mas. Lagi pula besok kita akan pulang, jika setelah sampai rumah kondisiku masih seperti ini, aku akan meminta Dokter Kayla memeriksaku."


"Besok kalian pulang?" Tanya Ardi yang belum diberitahu.


"Ah iya, aku sampai lupa memberitahu Mang Ardi. Tadi sore Papah meminta agar aku dan Fira kembali besok, Mang."


"Hmm, baiklah. Sebenarnya kami masih ingin kalian berada di sini. Tapi, Bagaimanapun juga ini demi kebaikan Neng Fira."


"Insyaallah jika keadaan di sini sudah dipastikan aman, kita akan sering berkunjung kemari, Mang." Timpal Daffa.


Keesokan harinya, setelah berpamitan dengan keluarga Ardi, mobil milik Daffa pun mulai melaju membelah jalan menuju Jakarta, yang dikuti oleh mobil yang di naikki kelima ajudan Bagaskara di


belakangnya.


Setelah memakan waktu selama tiga jam, kini mobil milik Daffa pun sudah memasuki halaman rumah milik Bagaskara, karena sebelumnya, Bagaskara meminta Daffa agar pulang ke rumahnya lebih dulu.


Sedangkan Oma Rahma yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan keduanya, dengan terus mondar-mandir melihat ke halaman dengan perasaan yang mencemaskan kondisi Safira.


Ketika mendengar suara mobil Daffa telah tiba, Oma Rahma pun langsung bergegas keluar.


"Roy, tolong bawakan kursi roda di dalam, dan berikan kepada Daffa." Titah Oma Rahma kepada ajudan pribadinya.


Daffa yang baru saja turun dari mobil pun hendak membukakan pintu untuk Safira, dan akan menggendongnya masuk.


"Ehh, mau ngapaian?" Tanya Oma Rahma yang mengetahui apa yang akan Daffa lakukan.


"Jangan! Nanti kalau kamu tersandung, lalu Fira terjatuh bagaimana? Oma tidak ingin terjadi apa-apa dengan cicit Oma." Cegah


Oma Rahma dengan protektif.


Daffa hanya menghela napasnya panjang.


"Itu tidak akan terjadi, Oma. Jadi tenang saja." Timpal Daffa yang hendak menggendong Safira kembali.


"Roy! Cepatlah, sebelum anak ini lebih dulu menggendong cucuku!"vTeriak Oma Rahma yang khawatir Daffa lebih dulu membawa Safira.


"Iya, Nyonya." Saut Roy berlari dengan kursi roda di tangannya.


"Pakai ini saja, daripada kamu menggendongnya." Titah Oma Rahma


ketika Roy telah memberikan kursi


roda kepada Daffa.


"Baiklah." Daffa yang akhirnya memilih patuh.

__ADS_1


Karena saat itu jendela kamar Aida sedang dalam keadaan terbuka, sehingga percakapan antara Oma Rahma dan Daffa pun terdengar oleh Aida yang tengah berada di dalam kamar.


Aida yang penasaran pun langsung bangkit dari posisinya, dan melihat ke halaman depan dari balik jendela. Melihat anak dan


menantunya telah pulang, Aida pun buru-buru untuk keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan Bi Asih.


"Bi.. Bi Asih." Panggil Aida seraya berjalan mendekat ke arah dapur.


"Iya, Nyonya." Saut Bi Asih yang baru selesai mencuci piring.


"Tolong katakan kepada Chef agar menyiapkan hidangan ikan salmon, lengkap dengan hidangan lain berbahan dasar sayuran hijau, dan juga siapkan buah-buahan yang paling segar. Ah... Satu lagi, jangan lupa sediakan yoghurt juga." Titah Aida kepada Bi Asih.


"Apa hidangan ini untuk makan siang nanti, Nyonya?" Tanya Bi Asih.


"Bukan, ini untuk Fira, Bi. Nanti, jika hidangan itu sudah siap, tolong Bi Asih antarkan ke kamar Daffa ya. Tetapi jangan bilang kepada siapa-siapa jika saya yang meminta menyiapkan ini semua."


"Baik, Nyonya."


Setelah mengatakan itu kepada Bi Asih, Aida pun langsung kembali masuk ke dalam kamarnya dengan menaiki anak tangga satu persatu.


"Tumben sekali Nyonya bersikap baik kepada Nona Fira, apa dia sudah sadar?" Monolog Bi Asih melihat kepergian Aida.


Setelah tiba di kediaman Bagaskara, Daffa langsung membawa Safira menuju kamarnya agar bisa beristirahat. Karena kesehatan Safira sedang menurun, Daffa bukan hanya mengkhawatirkan Safira saja,


melainkan calon anaknya yang masih berada di dalam kandungan.


Sesuai dengan permintaan Aida sebelumnya, hidangan yang telah Chef siapkan sudah berada di atas nampan, tidak lupa pula dengan buah segar dan juga yoghurt yang bisa meningkatkan imunitas bagi ibu hamil.


Tok tok tok.


Suara ketukan pintu berhasil membuat Daffa kesal, pasalnya saat ini dia tidak ingin siapapun mengganggu waktu istirahat Safira.


"Astaga, Menganggu saja!" Gerutu Daffa yang mulai melangkahkan kaki ke arah pintu.


"Ini Tuan, hidangan untuk Nona Fira." Ujar Bi Asih ketika Daffa sudah membuka pintu kamarnya.


Daffa mengerutkan keningnya samar, karena seingatnya, dia tidak meminta Bi Asih menyiapkan hidangan untuk Safira. Apakah Oma yang meminta Bi Asih


menyiapkannya? Pikir Daffa.


"Siapa yang meminta Bibi menyiapkan ini?" Tanya Daffa kepada wanita paruh baya di depannya.


"Itu--"


"Ah, lupalkan saja. Berikan nampan itu kepadaku." Titah Daffa yang memotong ucapan Bi Asih.


Setelah nampan yang berisi makanan itu sudah berpindah tangan, Daffa pun kembali masuk ke dalam kamarnya tanpa permisi.

__ADS_1


Sedangkan Bi Asih yang masih berdiri di sana langsung menepuk mulutnya pelan.


"Hampir saja keceplosan!" Gerutu Bi Asih pada mulutnya sendiri.


__ADS_2