
Safira menatap Daffa seraya tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, Mas. Aku tidak akan melarangmu untuk pergi. Perusahaan sedang membutuhkanmu." Ucap Safira lembut, membuat semua orang yang berada di meja makan, pun terdiam mendengar ucapan Safira.
Bagaimana pun perusahaan Bagaskara memang membutuhkan Daffa di sana. Seluruh anggota keluarga Bagaskara benar-benar merasa dilema dengan situasi yang tengah dilhadapi saat ini.
Antara menahan Daffa agar tidak pergi, namun bangkrutnya cabang perusahaan Bagaskara yang akan menjadi taruhannya. Atau, Daffa tetap pergi di saat Safira tengah hamil tua.
Sebuah ide tiba-tiba muncul di kepala Aida, dengan segera wanita paruh baya itu, pun
mengutarakannya.
"Bagaimana jika Fira dan Mamah ikut ke Amerika juga?" Ujar Aida memberikan saran.
"Yang Ibu mertuamu katakan ada benarnya juga, Fira. Bagaimana jika kamu ikut saja bersama Daffa?" Kata Oma Rahma menimpali.
"Ide bagus!" Sahut Bagaskara.
Mendengar semua pendapat yang ditujukan untuknya, Safira hanya diam mendengarkan.
"Bagaimana, sayang?" Tanya Daffa meminta pendapat dari istrinya itu.
"Aku rasa tidak perlu, Mah. Aku tidak ingin merepotkan Mas Daffa di sana." Kata Safira membuat seluruh anggota keluarga Bagaskara pasrah menerima keputusannya.
Setelah makan malam telah berakhir dua jam yang lalu. Safira tengah asik membaca buku favoritnya di kamar Daffa yang berada di lantai dua. Sedangkan Daffa yang biasanya selalu di sisi Safira, kini tak terlihat berada di dalam sana.
Daffa sudah mengatakan kepada Safira
sebelumnya, bahwa dia akan membantu Bagaskara mengerjakan beberapa dokumen di ruang kerja yang berada di lantai satu.
Perlahan netra Safira mulai merasakan kantuk di sela-sela aktivitasnya membaca buku. Safira pun menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul
sepuluh malam, dan meletakan bukunya di atas nakas.
"Mas Daffa sudah selesai belum, ya?" Monolog Safira ketika Daffa sudah cukup lama meninggalkan kamarnya.
Safira pun mulai beranjak keluar kamar, berniat untuk melihat suaminya di ruang kerja Bagaskara. Dengan langkah hati-hati, Safira mulai menuruni anak tangga satu per satu untuk sampai di ruangan yang
terdapat laki-laki berbeda generasi di sana.
"Baru saja hitungan jam, kenapa keadaannya semakin kacau saja!" Suara Bagaskara terdengar di telinga Safira yang baru saja tiba di depan ruangan kerja itu.
Karena pintu kerja Bagaskara tidak ditutup dengan rapat, Safira pun melihat Daffa dari luar ruangan tanpa memanggilnya agar Daffa tetap fokus dengan pekerjaannya.
Terlihat Daffa tengah sibuk di depan komputer dengan raut wajah yang begitu serius, begitu juga dengan Bagaskara.
Safira yang semula ingin mengajak Daffa tidur, pun memutuskan untuk kembali ke dalam kamar.
Daffa menyenderkan bahunya pada kursi saat rasa pegal sudah mulai terasa di beberapa titik pada bagian tubuhnya. Tanpa terasa dirinya sudah menghabiskan waktu empat jam untuk membantu
Bagaskara hingga melupakan Safira
yang berada di kamarnya.
__ADS_1
Tidak seperti biasanya Daffa seperti ini, mengerjakan sesuatuhingga melupakan Safira. Sadar akan istrinya, dengan cepat Daffa melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul dua belas malam.
"Astaghfirullah, Safira." Ucap Daffa terkesiap saat dirinya baru sadar sudah meninggalkan Safira terlalu lama.
Sedangkan Bagaskara yang masih sibuk di depan komputer, pun sampai melepaskan kaca mata minusnya dan melihat ke arah putra semata wayangnya itu.
"Ada apa, Daff?" Tanya Bagaskara kaget.
"Aku ke kamar duluan ya, Pah. Pasti Fira sudah menungguku sejak tadi." Kata Daffa sebelum pergi.
Dengan langkah setengah berlari, Daffa menaiki anak tangga satu per satu hingga sampai di depan kamarnya. Perlahan Daffa mulai membuka pintu dan masuk ke dalam
sana.
Saat Daffa telah menutup pintu kamarnya kembali. Daffa tersenyum menatap ke arah sofa, di mana terdapat Safira di sana tengah duduk menahan kantuk.
Daffa berjalan mendekat ke arah Safira dan menekuk kedua lututnya ketika sudah berada di hadapan wanita yang dicintainya itu.
"Sayang." Panggil Daffa lirih seraya mengusap lembut wajah Safira Hingga berhasil membuat Safira tersadar dari rasa kantuknya yang semula tengah menguasainya.
"Mas, Daffa.." Ucap Safira dengan netra yang belum terbuka sempurna.
"Maafkan aku, sudah membuatmu menunggu lama."
"Tidak apa-apa, Mas. Aku mengerti."
CUP.
"Ayo tidur!" Ajak Daffa setelah mendaratkan ciuman pada kening Safira dan mulai menggendongnya menuju ranjang ala bridal style.
Oma Rahma, Bagaskara dan juga Aida tengah serius membicarakan sesuatu di ruang keluarga dengan raut wajah yang menegang.
Sedangkan Daffa yang baru saja keluar kamar bersama Safira tidak sengaja mendengar percakapan ketiganya.
"Apa tidak ada cara lain, Pah? Coba Papah pikirkan kembali jalan keluar yang lain." Ucap Aida yang terdengar di telinga Daffa dan Safira.
"Tidak ada, Mah. Hanya ini satu-satunya cara yang bisa kita lakukan."
"Tapi... Apa harus secepat ini?" Tanya Aida, segera bungkam saat melihat kedatangan Daffa dan Safira.
"Ada apa ini, Pah?" Tanya Daffa menatap ketiganya secara bergantian.
Sedangkan Aida yang tidak sanggup untuk mengatakan kepada anak menantunya, pun hanya membuang wajahnya ke arah lain.
"Pah?" Panggil Daffa penasaran.
"Sepertinya kamu harus segera berangkat ke Amerika, Daf." Kata Bagaskara akhirnya membuka suara.
"Kapan?"Tanya Daffa santai, seolah tahu bahwa dirinya akan pergi bulan depan, atau paling cepat pekan depan.
"Besok." Ucap Bagaskara membuat Daffa dan Safira terkesiap secara bersamaan.
"Kenapa secepat ini, Pah?" Tanya Daffa nampak kaget.
__ADS_1
"Keadaan di sana semakin kacau, Daff. Kita tidak bisa menundanya lagi. Jika tidak segera ditangani, maka perusahaan itu akan hancur." Kata Bagaskara memaparkan.
Daffa menggenggam tangan Safira erat, entah mengapa rasanya begitu sesak saat mendengar ucapan Bagaskara. Rasanya benar-benar berat meninggalkan Safira dengan tiba-tiba.
Padahal Daffa pikir, dia akan ke Amerika tidak secepat itu. Setelah Daffa berbincang
mengenai masalah perusahaan Bagaskara di Amerika bersama keluarganya, pun langsung memutuskan untuk pulang ke
rumahnya untuk menyiapkan pakaian yang akan di bawa ke sana.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Daffa saat keduanya telah sampai di kediamannya.
"Aku baik-baik saja, Mas." Jawab Safira tersenyum, tidak ingin menunjukkan kesedihannya di depan Daffa. Karena jika Daffa mengetahui bahwa Safira tengah bersedih, Daffa tidak akan segan-segan untuk membatalkan kepergiannya.
"Benarkah?"
"Hmm." Gumam Safira menganggukkan kepalanya pelan.
Dr... Dr... Dr..
Getaran ponsel milik Daffa berhasil menghentikan percakapan keduanya. Daffa pun mulai meraih ponselnya yang berada di saku celana.
"Sebentar dulu ya, sayang." Ucap Daffa sebelum mengusap tombol berwarna hijau ke atas.
"Iya, Mas. Kalau gitu aku ke kamar duluan, ya." Kata Satfira yang langsung disetujui oleh Daffa.
Melihat Daffa yang sudah mulai menjawab panggilan teleponnya, Safira pun mulai melangkah pergi menuju kamarnya.
Saat langkah Safira sudah sampai di kamar, Safira langsung menaruh tasnya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Cairan bening langsung tumpah begitu saja dari manik indah miliknya. Rasa sesak yang sedari tadi Safira tahan saat mendengar besok adalah hari kepergian suaminya, pun
langsung luluh lantah bersamaan air mata yang berhasil membanjiri pipi yang seputih susu itu.
Dengan menutup mulutnya menggunakan tangan, Safira tergugu menahan tangis agar tidak didengar oleh Daffa yang barangkali saja sudah masuk ke dalam kamar.
"Sayang.." Panggil Daffa dari dalam kamar.
Safira yang tengah menangis pun buru-buru mengusap air matanya menggunakan tangan dan langsung
menyalakan shower, agar Daffa tidak
mendengar jelas suaranya yang tengah menangis.
"Iya, Mas?" Sahut Safira dari dalam kamar mandi.
"Kamu sedang apa di dalam sana?" Tanya Daffa dari balik pintu.
"Aku ingin mandi, Mas. Apa ada sesuatu yang Mas Daffa butuhkan?" Jawab Safira balik bertanya. Lalu, buru-buru dia lepaskan pakaiannya beranjak mandi agar tidak nampak bekas tangisan pada wajahnya.
"Baiklah, kalau begitu aku mandi dulu, ya." Kata Safira dari dalam sana.
"Iya, sayang." Ucap Daffa lalu berjalan ke arah sofa.
__ADS_1
Selama Daffa menunggu Safira yang tengah berada di dalam kamar mandi, Daffa terus memijat kedua pelipisnya yang terasa pening akibat situasi yang tengah dihadapinya.
"Apa aku sanggup berjauhan denganmu, Fira?" Monolog Daffa melihat ke arah pintu kamar mandi dengan tatapan nanar.