Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
142


__ADS_3

Dua manusia itu tengah duduk dengan lunglai, menunggu Dokter keluar dari ruang Operasi.


"Sebaiknya kau istirahat saja Yeri." Sean mempelai percakapan, setelah beberapa menit yang lalu keduanya bungkam.


"Tidak apa, aku akan menunggu Sulli selesai." Jawab Yeri menoleh ke arah Sean.


Sean menganggukkan kepalanya, tidak ingin mendebat lagi. Meski dia tahu, keadaan Yeri tengah tidak baik-baik saja.


"Apakah Sulli berpesan untuk di makamkan di mana?"


"Ada." Yeri meremas lengannya, mencoba menahan rasa sesak di dalam dadanya. "D-dia selalu mengatakan padaku agar jasadnya di kremasi dan abu nya di letakkan sebelah Eomma nya." sambungnya, mengingat bagaimana Sulli selalu mengatakan hal itu. Dia pikir temannya itu hanya bergurau belaka, tapi ternyata itu salah satu sebuah isyarat kepergiannya.


"Tenang saja, aku akan melaksanakan keinginan Sulli segera." ucap Sean menepuk bahu Yeri, mencoba memberikan ketenangan.


"Terimakasih Sean, Sulli pasti senang kau membantu dan melakukan semuanya pada Sulli meski aku tahu dia telah berbuat jahat pa......"


"Yeri." potong Sean cepat. "Itu sudah berlalu, aku telah memaafkannya."


"Tuan.." Panggil Jack yang entah sejak kapan kini telah berdiri di depan Sean dan Yeri. "Maafkan saya membuat Anda terkejut, tapi ada yang ingin saya sampaikan."


Mengerti apa yang di maksud oleh Jack, Sean meminta Yeri untuk menunggunya. "Aku akan berbicara dengan Jack terlebih dahulu, kau tidak apa sendiri?"

__ADS_1


"Ah, tidak apa. Aku akan menunggu di sini." Jawab Yeri dengan cepat.


"kabari aku jika ada sesuatu." Ucap Sean sebelum akhirnya pergi dengan Jack.


Setelah cukup menjauh, Sean menyuruh Jack untuk berbicara. Dia tahu pasti ada sesuatu hal yang terjadi, terlihat dari wajah Jack yang cemas.


"T-tuan." Jack ragu untuk mengatakannya, dia khawatir kondisi Tuannya semakin lemah.


"Katakan saja Jack, kau tak perlu menutupinya."


"Hanya tersisa 24 jam, jika tidak mendapatkan sesegera mungkin. Entah apa yang akan terjadi dengan kondisinya yang Kritis seperti sekarang."


"Jack, apa maksudmu? Berbicaralah dengan benar, kenapa bicara cepat begitu." tegur Sean membuatnya bingung.


"Jika tidak apa Jack? Sudah aku bilang bicara dengan benar!" teriak Sean yang mulai cemas.


"M-maaf Tuan. Itu yang mereka katakan, jika tidak dengan cepat Nona Crystal kemungkinan tidak akan selamat."


"TUTUP MULUTMU ITU JACK!" Teriak Sean langsung memukul wajah bawahannya membuat Jack sedikit terpelanting ke lantai. "Sekali lagi kau mengatakan hal seperti itu, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu." suara Sean memberat, ada kilatan amarah dalam sorot matanya.


"Maafkan saya Tuan, tapi itu yang dikatakan Tuan Kevin pada saya."

__ADS_1


Sean langsung menarik kerah baju Jack. "Diam Diam Diam!" teriaknya di depan wajah Jack. "Tolong jangan katakan itu lagi." kedua matanya menatap kearah Jack lirih.


"T-tuan..." Jack menatap Sendu Tuannya. "Kita harus segera mencarinya karena ada kemungkinan milik Nona Sulli tidak bisa untuk Nona Crystal."


Secara perlahan pegangannya mengendur, tubuhnya langsung merosot ke lantai. Kepalanya menolak mencerna apa yang dikatakan Jack barusan padanya.


"Dalam 24 jam berapa waktu yang tersisa lagi?" tanya Sean dengan nada rendah.


Sejenak Jack berpikir. "Kurang lebih 20 Jam lagi Tuan."


Sean menarik nafasnya kasar setelah mendengar jawaban dari Jack.


"Operasi Sulli akan rampung sekitar 2 jam lagi. Jika ada kemungkinan baik, kita bisa langsung membawanya dengan perjalanan 11 jam 23 menit." Gumam Sean.


"Itu memang lebih dari cukup Tuan, tapi kita tidak tahu seandainya ada kemungkinan terburuknya. Kita harus segera bersiap-siap, Tuan."


Hatinya terasa tercubit mendengar penuturan Jack, rahangnya mengeras. Ucapannya memang tidak salah tapi Sean tidak ingin memikirkan hal itu.


"Segera cari rumah sakit di mana pun itu untuk kondisi darurat." perintah Sean, meski pada hati kecilnya dia meragu karena mereka telah melakukan itu bertahun-tahun lamanya (mencari pendonor untuk Crystal).


"Baik Tuan, saya akan meminta yang lainnya juga untuk ikut mencari. Saya mohon undur diri dan tolong Tuan harus tenang." Jack menatap Tuannya, kemudian membungkukkan Tubuhnya pamit meninggalkan Tuannya yang malang.

__ADS_1


Sean merogoh ponsel yang berada di sakunya, menatap layar ponselnya yang wallpapernya menggunakan foto Crystal dan kedua anaknya. Foto itu Ia dapat setelah diam-diam mencuri foto saat kedua anaknya tengah bermain dengan Crystal.


"Maaf Appa, karena sekali lagi tak berdaya." Hati Sean serasa teriris jika kemungkinan buruk terjadi pada Crystal dan kedua anaknya melihat itu semua. "Cleo, Ana.... Apa yang harus Appa lakukan? Appa lelah."


__ADS_2