
Sean dengan tenang duduk di depan Dokter Devian yang sejauh ini menangani Crystal, entah apa yang akan dikatakan oleh Dokter Devian pada nya. Dia hanya berharap hanya hal-hal baik yang dia dengar, sudah cukup bagi wanita itu untuk menderita.
"Syukurlah pernafasan dan darah Nona Crystal sudah kembali normal, Tuan Sean." Ujar Dokter Devian memulai obrolannya.
"Tapi kenapa Crystal belum juga sadar?" Tanya Sean mengernyitkan dahinya, dia sungguh mengkhawatirkan kondisi Crystal.
"Anda tidak perlu khawatir Tuan, setelah menjalani operasi sudah sewajarnya pasien tidak langsung sadar karena efek dari obat bius pasca operasi. Selain itu semuanya sudah stabil, kita hanya perlu menunggu bagiamana kondisi yang di rasakan oleh Nona Crystal karena pasti butuh penyesuaian bagia penerima donor jantung." jelas Dokter Devian secara perlahan.
Sean mendengarkan ucapan Dokter Devian dengan seksama, tak ingin melewatkan satu kata pun.
"Seperti yang sudah Saya katakan sebelumnya, bahwa operasi donor jantung ini tidaklah mudah. Mungkin kita bisa melewati fase awal saat operasi dilakukan, tapi kita tidak tahu keadaan tubuh pasien. Apakah bisa beradaptasi dengan baik atau tidak, untuk itu kami perlu lebih memantau lagi kondisi Nona Crystal setelah dia sadar nanti." Lanjut Dokter Devian.
"Saya mengerti Dokter, terimakasih untuk semuanya. Saya hanya ingin Crystal baik-baik saja, jadi tolong kerahkan semuanya. Apapun itu akan Saya lakukan entah biaya atau apa akan saya berikan semuanya." Ujar Sean dengan kedua mata yang melebar.
"Tenang Tuan Sean, tanpa ada minta kami tentu mengusahakan semaksimalkan mungkin untuk pasien kami. Jadi Anda tak perlu cemas, berdo'a saja semoga Tuhan memberikan keajaiban untuk Nona Crystal."
Clek.
Derit suara pintu membuyarkan lamunan keduanya dengan bersamaan mereka menolehkan kearah pintu yang terbuka.
Sean cukup terkejut, atas kehadiran pria yang tiba-tiba saja membuka pintu ruangan Dokter Devian tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Dan sepertinya bukan hanya Sean saja, tapi pria itu juga terlihat melebarkan kedua matanya karena terkejut. "Ah, maafkan Saya."
__ADS_1
Seketika semuanya terdiam, Dokter Devian yang merasakan atmosfer menjadi tidak bagus pun segera mencairkannya. "Oh yah, Dokter David. Maafkan Aku, sepertinya kau lama menungguku hahaha." Ucap Dokter Devian sambil terkekeh.
"Anda mengenalnya Dokter?" Tanya Sean menatap Dokter Devian tajam.
"Hahaha yah begitulah Tuan Sean, kebetulan kami dulu berada di rumah sakit yang sama." Jawab Dokter Devian.
"Maafkan Saya telah menggangu pembicaraan kalian... "
"Ada perlu apa Dokter David bertemu dengan Dokter Devian?" tanya Sean, memotong ucapan Dokter David. Dia memang sengaja memotongnya karena entah kenapa dia cukup kesal melihat existence pria ini yang selalu mengenal setiap Dokter yang tengah menangani Crystal.
"Kebetulan ada hal yang ingin Saya obrolkan dengan Dokter David, Tuan Sean. Jadi Saya memintanya untuk datang ke rumah sakit ini." Timpal Dokter Devian, mencoba menjawab pertanyaan Sean meski dia tahu bahwa pertanyaan itu Sean tunjukkan pada Dokter David.
"Sepertinya obrolan yang mendesak, kalo begitu Saya kembali ke kamar Crystal." Ujar Sean bangkit dari duduknya.
"T-tuan Sean..." Dokter Devian mencoba mencegah Sean untuk pergi,
"Tidak perlu, Saya memang sudah selesai berbicara dengan Dokter Devian. Selain itu, Saya khawatir dengan Crystal." Timpal Sean, langsung pergi meninggalkan kedua Dokter tersebut.
Sean menatap sejenak pintu ruangan Dokter Devian, kemudian kembali melangkah kan kedua kakinya menuju ruangan Crystal.
Di dalam ruangan, Dokter David menatap temannya dengan wajah tertekuk. "Maafkan Saya Devian." Ucap Dokter David cukup menyesal, jujur dia memang tidak tahu jika ada Sean di ruangan temannya.
"Tidak apa, David. Silahkan duduk, sepertinya kau cukup lelah." ujar Dokter Devian mempersilahkan Dokter David untuk duduk. "Sepertinya keadaan mu lebih baik dibandingkan sebelumnya." ujar Dokter Devian, menatap wajah temannya yang sudah membaik.
__ADS_1
"Hn, sedikit lebih tenang." Timpal Dokter David.
"David, Aku tidak tahu sejauh mana perasaan mu dengan Crystal. Tapi, sebagai seorang teman aku hanya ingin mengingatkan pada mu untuk berhenti dari sekarang."
Deg. Jantungnya berdetak tak beraturan, David tidak mengerti kenapa semua orang menyuruhnya untuk berhenti dengan perasaan ini? Di mana letak kesalahannya?
"Aku mengerti." timpal David, menelan ucapannya dengan berat hati. "Bagaimana kondisinya saat ini?" tanya David dengan suara yang memulai memberat.
"Aku tidak bisa mengatakannya secara menyeluruh pada mu karena kau tahu selain pihak keluarga, orang lain tidak bisa mengetahuinya."
"Tsk, keluarga?" ucap David sambil mendecih. "kau benar dan aku bukan termasuk di dalam nya."
Devian menatap David dengan menyesal, meski David adalah temannya dia tak bisa seenaknya menyebarkan informasi mengenai pasiennya ke orang lain tanpa persetujuan dari pihak keluarga pasien. "Kau tak perlu mengkhawatirkannya, sejauh ini kondisinya masih stabil. Kita hanya perlu menunggunya sadar, aku hanya bisa memberitahu mu cukup soal ini."
"hn, Terimakasih. Ini sudah cukup untukku, kau tak perlu menunjukkan wajah seperti itu." celetuk David, menatap aneh temannya.
"Wajah mu lebih menyedihkan!" ucap Dokter Devian mencibir seorang David. "Sudahlah, Aku masih memiliki banyak pasien. Kau kembalilah ke rumah sakit mu, jangan ganggu aku lagi."
"Biarkan Aku beristirahat di sini terlebih dahulu." Timpal David, mulai merebahkan tubuhnya di sofa.
"hn, terserah kau saja. Asal jangan mengacak-acak tempat kerjaku, sialan."
"Baiklah. Sebaiknya kau cepat pergi, aku ingin bersantai." ucap David mengusir Devian dari ruangan Kerjanya sendiri.
__ADS_1
"Astaga anak ini, dia memang menyebalkan." gerutu Devian langsung menutup pintu ruangan kerjanya.
David tak meladeni ocehan Temannya, kedua matanya menatap langit-langit ruangan dengan tatapan serius. "Melupakannya? Tsk, ini tidak bisa." Gumamnya,