
Dipaksa Menikah Bagian 12
Oleh Sept
Rate 18 +
Bertemu ibu mertua membuat Sofi merasa canggung. Apalagi ibu dari Garda tersebut terlihat sangat terbuka dan sikapnya pun ramah. Jadi, mana berani ia macan-macam. Sofi tidak enak sendiri jadinya. Dan akhirnya ia pun tersenyum menyapa sang mama mertua. Tentunya senyum palsu yang dibuat sangat manis.
[Mengapa aku jadi ngedrama begini?]
Sofi memasang wajah paling ramah yang ia punya, kali ini ia akan bersikap manis pada Garda di depan ibu yang telah melahirkan suaminya tersebut. Meski ia tidak menyukainya, hanya saja ia ingin membuat mertuanya terkesan.
“Ish, mengapa aku ingin terlihat mengesankan di depan Mama?” tanya Sofi pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia ingin caper pada mertua, padahal pada anaknya saja ia tak sudi.
“Duduk sebelah sini, Sayang. Dekat dengan Mama,” wajah wanita paruh baya tersebut sangat meneduhkan, sedap dipandang. Beda sekali dengan putranya. Ya, Sofi mulai membanding-bandingkan.
“Duduk sini saja!” titah Garda yang menarik kursi di sebelahnya. Ia ingin Sofi duduk di sebelahnya, bukan karena ia ingin dekat-dekat dengan Sofi. Garda hanya ingin membayar perbuatan Sofi yang membuat hidungnya terluka. Ia akan membuat Sofi mencicil, mulai detik ini juga.
Melihat Garda begitu menginginkan Sofi berada dekat dengannya, mama jadi salah mengira. Ia pikir putranya dan Sofi tak ingin dipisahkan. Mendadak mama jadi terharu, termakan dengan praduganya sendiri. Andai mama tahu, kalau anak dan menantunya sedang perang dingin bukannya malah sedang mesra-mesranya. Mereka itu seperti kucing dan guk guk.
Sementara itu, sambil menelan ludah dengan kasar, Sofi melangkah mendekati suaminya. Belum apa-apa ia sudah merinding duluan. Hawa dingin begitu kental terasa ketika ia duduk di sebelah Garda.
Tanpa komentar, Garda mulai memakan sarapannya. Namun, matanya tetap sesekali mencuri pandang pada Sofi yang duduk tepat di sebelahnya.
“Jangan makan yang itu, kalorinya sangat tinggi!” seru Garda pada Sofi yang akan menyendok makanan.
JLEB
Sofi menghela napas sebal, ia diam terpaku sesaat sambil menahan marah. Kemudian ia pun beralih ke menu makanan yang lainnya.
“Itu juga jangan, tidak bagus untuk pencernaanmu!” sela Garda.
Sofi semakin kesal, ia kemudian melirik suaminya, dengan geram ia mencengkram sendok yang ia pegang.
“Ini itu gak boleh, trus ia harus makan apa? Makan piring juga gak akan bikin perut kenyang,” rutuk Sofi sambil menegelamkan wajahnya, tidak ingin wajahnya yang menahan marah dilihat oleh sang mertua.
Sesaat kemudian, tiba-tiba Sofi mengangkat tinggi-tinggi mukanya, tidak peduli lagi dengan ocehan serta larangan Garda. Sofi langsung mengambil ayam goreng, ia memilih bagian yang paling besar. Tanpa menoleh ke arah suaminya, Sofi langsung memakannya. Amarahnya membuat ia kehabisan tenaga, ingin mengisi bahan bakar untuk balas dendam. Sofi makan sarapannya dengan lahap.
"Ehem!"
Melihat Sofi yang seperti orang kelaparan, Garda pun berdehem. Ia ingin Sofi makan dengan cara yang anggun. Namun, percuma deheman Garda hanya membuat Sofi mengulurkan segelas air pada dirinya.
“Aku tidak batuk, aku menegurmu!” gumam Garda dalam hati. Ia menatap sebal pada istrinya yang tidak mengerti kode.
Di tengah-tengah acara makannya, Sofi melirik mertuanya.
"Buset," gumam Sofi.
[Makan kayak begitu apa bisa kenyang? Mending puasa sekalian dapat pahala]
__ADS_1
Sofi heran dengan apa yang dimakan mama, pantas meski usia tak lagi muda, mama terlihat lebih muda dari pada usianya. Pola makan yang seperti ini mana bisa Sofi tiru. Cih, nasi masih enak dan Sofi enggan diet.
Tidak peduli dengan apa yang terjadi nanti bila ia makan terlalu banyak, yang penting ia sekarang ingin mengisi perutnya yang kosong. Energinya sudah habis terkuras karena emosi menahan sikap suaminya sejak kemarin. Masalah diet pikir belakangan, besok aja.
HAPPPM ...
Sofi menyendok lagi makanan ke dalam mulutnya. Tidak peduli mama dan Garda yang sepertinya mencuri pandang pada dirinya. Makan tetap jalan terus sampai kenyang.
“Lahap bener anak Mama makannya, apa Garda gak kasih kamu makan dari kemarin?” canda mama yang menatap takjub saat Sofi makan begitu lahap. Seperti orang kelaparan yang berhari-hari gak ketemu nasi. Itulah gambaran Sofi saat ini.
Uhuk... uhuk..
Mendengar kata-kata mama, entah mengapa membuat Garda malah tersedak. Kali ini ia terbatuk-batuk betulan, bukan lagi batuk yang mengada-ada seperti sebelumnya.
Sofi pun tersenyum sinis, dalam hati ia mengatai suaminya.
"Jangankan dikasih makan, ish ... sudahlah. Bila diceritakan maka akan habis buku satu. Menghabiskan banyak tinta," batin Sofi.
Sofi pun kembali teringat kejadian tadi malam. Benar-benar sial.
“Pelan-pelan, Garda!”
Garda hanya menatap mamanya sebentar, lalu meminum segelas air yang tadi diberika Sofi pada dirinya. Mungkin ia kena azab, karena memperlakukan istrinya dengan dingin. Setelah selesai makan bersama, Garda langsung mengambil mantelnya.
“Ma, titip Sofi. Aku ada urusan!” ucap Garda kemudian.
“Mau kemana?” tanya mama.
“Ada janji sama klien, Ma! Mama awasin dia, dia hobi kabur. Jangan lupa beri tahu para penjaga rumah. Suruh mengawasinya!” sindir Garda terang-terangan di depan istri dan ibunya.
Seketika, Sofi ingin menghajar laki-laki tersebut. Tidak pernah ia membayangkan akan hidup dalam cengkraman seorang pria seperti itu. Tunggu saja, Sofi akan melakukan aksi balas dendam, untuk saat ini ia akan diam dan menerima segala perlakuan suaminya.
“Tenang Sofi, tenangkan hatimu. Ini ujian,” ucap Sofi dengan lirih. Ia mencoba menguatkan hatinya seraya mengambil napas dengan dalam.
Begitu Garda meninggalkan ruangan, suasana canggung terjadi antara Sofi dan mama mertuanya.
“Sof, apa rencana kamu setelah ini?” mendadak mama memulai obrolah.
“Kembali ke rutinitas, Ma.”
“Melanjutkan mengolah kafe itu?” Mama mengrenyitkan dahinya. Seolah ia tidak suka apa yang akan menantunya lakukan. Mereka kan golongan high class, masa punya menantu hanya bisnis kafe kecil? Apa kata orang nanti.
“Iya.”
“Bisa tidak kamu tutup saja kafe kamu?”
Sofi menatap mertuanya dengan aneh, ternyata sama saja antara Garda dan mamanya. Kalau berbicara tidak perlu dipikir, langsung ngomong seenak dan semaunya. Sofi meringis dalam hati, bisa-bisanya dipertemukan dengan orang-orang tipe seperti ini.
“Maksud Mama?” Sofi menatap mertuanya, menanti jawaban apa yang akan terucap dari bibir sang mertua. Apakah air yang tenang itu memang benar-benar menghanyutkan?
__ADS_1
“Mama mau kamu menekuni sesuatu yang lebih berkelas!” tukas Mama pedas.
Sofi memutar bola matanya dengan sempurna.
“Tuhan, ternyata ada yang lebih parah dari pada seorang Garda. Sekilas senyumnya sangat ramah dan meneduhkan. Oh ... ternyata ia tidak lebih dari sekedar mawar berduri!” Sofi pun merutuk tak henti dalam hati.
“Bukan maksud Mama menyinggung, hanya saja media pasti mencari cela. Mereka pasti mencari kelemahan, keburukan sisi terjelek dari keluarga kita. Mama gak ingin kamu jadi sorotan!” tukas Mama sekali lagi dengan tenang.
[Keburukan? Sisi terjelek? Apa? Jadi aku dianggap itik buruk rupa dalam keluarga ini? Oh My God!]
Ingin rasanya Sofi beteriak sekencang-kencangnya. Sumpah dia kesal setengah mati.
Sementara sang mertua, masih dengan wajah yang terlihat ramah dan bersahabat, mama menyeruput teh hijau miliknya. Ia terlihat sangat santai tanpa beban.
Sedangkan Sofi menatapnya dengan dongkol dan kesal.
[Apa di mana-mana mertua memang begitu? MENGEMASKAN!]
Sofi mencoba menahan diri, ia mendengus dengan kesal. Sudah jatuh ketiban tangga, dapat suami seperti Garda bonus mertua macam, hemm entahlah. Sofi pun pasrah, sudah hilang kata-kata.
***
Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, ketika malam mengelar jubahnya, Sofi sedang rebahan di dalam kamar Garda. Bosan harus apa, capek juga seharian hanya main Hp. Sofi pun berguling-giling di tempat tidur king size itu, mumpung pemiliknya belum pulang. Sejak tadi ia muter-muter tidak jelas. Kepala di bawah, kakinya di atas. Segala gaya sudah ia coba, sekedar mengusir rasa bosan yang mendera.
Ia sedang dilanda kebosanan, di sana sini banyak penjaga yang siap siaga. Rumah ini benar-benar bagai penjara Azkaban. Lama kelamaan ia semakin jenuh. Dan tidak terasa malam semakin larut, rasa kantuk mulai menyerang Sofi.
Tap tap tap
Tepat tengah malam Garda masuk ke dalam kamar, rupanya ia baru saja tiba. Setelah melepas mantel dan sepatunya, langsung saja ia ke kamar mandi. Badannya terasa gerah setelah seharian di luar rumah. Selesai membersihkan diri, Garda keluar hanya dengan mengenakan selembar handuk yang melilit di pinggang.
“Aghh...!” teriak Sofi tiba-tiba yang melihat sosok Garda di depannya. Rupanya Sofi terbangun saat Garda tengah mandi.
Dengan sigap, pria itu pun membungkam mulut Sofi memakai tangannya, teriakan Sofi bisa membangunkan seisi rumah. Bisa-bisa nanti dikira ada pencuri yang masuk.
“Jangan berteriak!” bisik Garda seraya melepas bekapan jari-jarinya.
Sofi yang terkejut, menelan ludanya dengan kasar. Hampir saja jantungnya copot.
“Kau membuatku terkejut!” cetus Sofi sambil mendorong tubuh Garda yang sangat dekat dengan tubuhnya. Karena tidak siap siaga dan kakinya sedikit basah serta terasa licin, pria itu hampir terpeleset. Untung ia dapat menahan tubuhnya sendiri, tapi tidak dengan handuknya.
"Astaga!" pekik Sofi langsung menutup matanya.
BERSAMBUNG
Rejeki Sofiii ... Alhamdulillah. Hahahaha
Jagan lupa like dan Komen, yukkk ... ngebut. Hehehe
__ADS_1