
"Fira." Sapa Fitria yang tengah berjalan mendekat ke arahnya dengan diantarkan oleh salah satu asisten rumah tangga Daffa.
Sedangkan Safira yang semula tengah duduk bersantai di sisi kolam renang, pun langsung menoleh ke asal suara yang baru saja memanggil
"Fitria, kapan kamu datang?" Tanya Safira tersentak kaget ketika mendapati Fitria sudah berada di sana, tanpa memberitahunya lebih dulu sebelumnya bahwa teman baiknya itu akan berkunjung ke kediamannya.
"Baru aja, Fir. Sorry ya gue nggak bilang dulu kalau mau datang hehe." Jawab Fitria ikut duduk di sisi Safira.
"Eh, kok malah duduk di sini. Kita masuk saja ke dalam yuk." Ajak Safira menarik tangan Fitria agar mengikutinya.
"Bi, tolong siapkan minuman beserta camilan untuk kita, ya." Titah Safira kepada asisten rumah tangganya yang baru saja mengantar Fitria tadi.
"Baik, Non." Ujar wanita paruh baya itu lalu pergi.
Setelah itu, Safira dan Fitria mulai berjalan ke ruang tamu.
"Tumben sekali kamu datang sepagi ini Fit, ada apa?" Tanya Safira ketika keduanya sudah duduk di sofa.
"Gue bosan di rumah Fir, semenjak pernikahan gue sudah ditentukan, Papah dan Mamah setiap hari selalu sibuk menyiapkan semuanya. Dan gue juga mau nggak mau harus ikut andil."
"Waah... Selamat ya, sebentar lagi akan menjadi seorang istri." Ucap Safira membuat Fitria memutar mola matanya malas.
Tidak lama, seorang wanita paruh baya datang membawa sebuah nampan berisi jus mangga beserta camilannya.
"Terimakasih banyak, Bi." Ucap Safira ketika asisten rumah tangganya telah meletakan jus mangga dan camilan di atas meja.
"Sama-sama, Nona." Sahut asisten rumah tangga itu lalu kembali pergi ke dapur.
"Ada apa, Fit?" Tanya Safira ketika melihat Fitria yang tengah menatap ke arah gelas yang berisi jus mangga di sana.
"Kenapa harus jus mangga sih." Ucap Fitria lalu mengambil salah satu gelas itu dan meminumnya.
Pikirannya tiba-tiba saja teringat kepada Agatha kerap kali Fitria melihat jus mangga. Apa gue mulai jatuh cinta dengannya? Nggak, nggak! Batin Fitria menepis jauh pikirannya tentang Agatha.
"Aku bisa meminta Bibi untuk membuatkan jus baru dengan rasa yang lain jika kamu tidak menyukainya, Fit." Kata Safira yang
mengira bahwa Fitria tidak menyukai
rasa mangga.
"Nggak perlu Fir, ini enak kok. Oh ya Fi, apakah lo hari ini sibuk?"
"Nggak, kebetulan Mas Daffa juga lagi ada urusan di luar. Kenapa?"
"Anterin gue belanja di mall yuk, gue butuh refreshing nih." Ucap Fitria tak bersemangat.
"Tapi aku--"
"Tidak boleh!" Sahut Aida memotong ucapan Safira yang baru saja datang entah dari mana.
"Tante Aida, Tante tinggal di sini juga?" Tanya Fitria terkejut saat melihat Aida berada di kediaman Daffa.
"Tante hanya menginap di sini beberapa hari saja untuk menjaga Fira."
"Menjaga Fira? Memangnya Fira kenapa Tante? Bukankah dia baik-baik saja?" Tanya Fitria seraya melihat secara teliti keadaan teman baiknya yang saat ini tengah duduk di sisinya.
Aida pun menceritakan semua kejadian kemarin kepada Fitria secara terperinci, membuat Fitria yang mendengarnya pun ikut menggeleng-gelengkan kepalanya tak
__ADS_1
percaya kalau Kartika bisa sejahat dan
senekat itu melakukan semuanya kepada Safira hanya karena seorang laki-laki yang dari dulu disukainya.
"Aku tahu kalau dari dulu Tika memang tidak menyukai Fira, Tan. Tapi aku tidak menyangka kalau dia bisa bertindak sampai sejauh itu." Ucap Fitria setelah mendengarkan cerita yang disampaikan oleh Aida.
"Sekarang dia sudah menerima semua konsekuensi dari perbuatannya, Tante hanya berharap tidak akan ada lagi orang-orang seperti Tika lainnya yang bisa
menyakiti menantu Tante ini."
"Iya Tan, aku harap juga seperti itu,"
"Bagaimana dengan Babymoon-nya, Fira? Apakah kamu sudah memutuskan akan pergi Babymoon ke negara mana?" Tanya
Aida melanjutkan obrolan pagi tadi yang belum selesai di bicarakan.
"Aku belum tahu, Mah. Nanti akan aku bicarakan bersama Mas Daffa."
"Hmm, baiklah. Ya sudah kalau begitu kalian lanjutkan saja ya mengobrolnya. Mamah akan mengambil ponsel di kamar dulu." Pungkas Aida lalu pergi meninggalkan keduanya di ruang tamu.
"Ah, satu lagi. Ingat ya Fit, jangan ajak Fira keluar untuk menemanimu belanja." Ucap Aida yang menghentikan langkahnya sejenak.
"Tenang saja Tante, aku tidak akan mengajaknya kemana-mana." Sahut Fitria membuat Aida melanjutkan langkahnya kembali.
Setelah Aida meninggalkan keduanya, Fitria tiba-tiba saja terdiam seraya menatap kepergian wanita paruh baya itu hingga
menghilang dari jangkauan matanya.
"Babymoon?" Tanya Fitria dalam hati seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Pasti setelah gue menikah, Papah dan Om Bayu akan meminta gue dan Agatha untuk pergi honeymoon. Hiih, membayangkannya saja gue nggak sanggup!" Monolog Fitria dalam hati seraya bergidik geli.
"Ah, iya, kenapa Fir?"
"Kamu kenapa sih?" Tanya Safira menatapnya bingung. Sesaat, Fitria langsung membenarkan posisi duduknya agar menghadap ke arah Safira sebelum
mengutarakan keinginannya.
"Fir, bagaimana kalau Babymoonya di lakukan bulan depan saja setelah gue menikah?" Tanya Fitria menaruh banyak harap dengan jawaban yang akan Safira berikan.
"Kenapa memangnya?" Tanya Safira balik bertanya.
"Babymoonnya bareng honeymoon gue saja ya, Fir. Gue nggak mau kalau sampai ada sesuatu hal yang nggak di inginkan terjadi ketika honeymoon gue nanti." Ucap Fitria menmbuat Safira menatapnya bingung.
"Maksudmu apa, it? Jangan bilang kalau maksud dari ucapanmu itu tentang malam pert--"
Belum sempat Safira melanjutkan ucapannya Fitria dengan cepat membungkam mulut Safira yang tertutupi oleh cadar dengan menggunakan tangannya.
"STOP! Jangan diteruskan, gue geli mendengarnya." Kata Fitria menurunkan kembali tangannya yang disambut gelak tawa oleh Safira.
"Fira, gue mohon ya. Tolong bicarakan ini ke Daffa kalau Babymoon kalian bareng honeymoon gue aja." Desak Fitria mengatupkan kedua tangannya namun tidak mendapatkan respon dari Safira.
"Gue mohon banget Fira, apa lo tega sama gue?" Ücap Fitria memohon, ketika melihat Safira hanya bergeming.
"Fira, hiks hiks hiks kenapa lo hanya diam saja." Sambung Fitria berpura-pura menangis.
"Baiklah, aku akan berbicara dengan Mas Daffa." Kata Safira setelah mendapatkan banyak desakan dari Fitria.
__ADS_1
"Serius? Thank you, Fira! Lo memang yang terbaik!" Ujar Fitria senang.
***
"Assalamu'alaikum." Ucap Daffa yang tiba-tiba saja datang membuat atensi Safira dan Fitria beralih kepadanya.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Safira dan Fitria bersamaan.
"Bagaimana kondisimu, sayang? Baik-baik saja 'kan selama aku pergi?" Tanya Daffa setelah mencium kening Safira.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja, Mas." Jawab Safira merapihkan sedikit rambut Daffa yang sedikit tak beraturan.
"Ekhem." Merasa dirinya tak dianggap, Fitria pun sengaja berdeham agar pasangan sejoli di depannya tidak mengabaikannya.
Sesaat, Daffa dan Safira langsung menoleh ke arah Fitria bersamaan.
"Sorry, gue lupa kalau ada jomblo di sini," Ucap Daffa membuat Fitria menatapnya kesal.
"Gimana dengan pernikahan lo bulan depan, Fit?" Sambung Daffa kembali.
"Ya gitu deh, Daff." Jawab Fitria malas.
"Gue jamin setelah menikah lo bakal bucin sama Agatha." Celetuk Daffa membuat Fitria yang tengah minum jus mangga pun tersedak mendengarnya.
"Hahaha gak akan!" Sahut Fitria penuh keyakinan.
"Oh ya? Kita lihat saja nanti." Ujar Daffa menantangi.
Di sela-sela obrolan sengit antara Fitria dan Daffa, tiba-tiba saja deringan ponsel milik Fitria terdengar membuat Fitria yang semula hendak menimpali ucapan Daffa langsung mengurungkannya kembali.
Fitria pun mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya dan menjawab panggilan itu.
"Halo, Pah." Ucap Fitria pada benda pipih miliknya.
'Kamu sedang di mana sekarang, Fit? Tanya Arya melalui panggilan Suara.
"Aku sedang berada di rumahbFira, Pah. Ada apa?"
'Datanglah ke butik melati sekarang untuk fitting baju.' Titah Arya.
"Untuk apa aku harus fitting baju sekarang? Bukankah acara pernikahannya bulan depan?"
'Bukan baju untuk acara pernikahan, Fit. Tapi baju untuk pemotretan foto prawedding kalian besok.'
"Untuk apa sih Pah ada foto prawedding segala? Menurutku itu hanya membuang-buang waktu saja."
'Bagaimana bisa kamu mengatakan hanya membuang-buang waktu? Apa kamu tidak tahu kalau Papah dan Om Bayu sudah
menyebarkan sebanyak dua ribu undangan? Dan semua tamu yang akan datang itu bukan dari kalangan sembarangan, Fitria. Masa iya di acara pernikahan kalian nanti tidak ada foto prawedding sama sekali. Sangat memalukan!'
Dalam hati Fitria sebenarnya sangat ingin menolak permintaan Arya yang menurutnya sangat konyol, padahal Fitria saja belum bisa beradaptasi bersama Agatha dengan takdir yang menurutnya sangat mengagetkan itu.
Tetapi Arya seolah membuatnya agar selalu terhubung dengan Agatha. Menyebalkan sekali! Batin Fitria.
"Baiklah." Ucap Fitria pasrah mengikuti keinginan Arya.
Kalau bukan karena ada Daffa dan Safira di
__ADS_1
sana, Fitria ingin sekali rasanya mendebat laki-laki paruh baya itu agar membatalkannya.