
"Astaga! Adik laknat" Umpat Kai mendengus kesal dengan kelakuan adiknya yang suka sekali membuat dirinya seperti ini, untung saja Jenni bisa luluh dengan kata-katanya, jika tidak entah sampai kapan dia akan mendapatkan ceramah dari Istrinya itu.
Drt... Drt... Drt....
Ponselnya kembali berdering, Kai segera melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponselnya, setelah dia tahu bahwa itu adalah nomor Eomma nya Kai segera menekan tombol hijau.
"Iyah Eomma, ada apa?" tanya Kai dengan suara rendah.
"Aish, Sayang kenapa kau baru mengangkat telpon Eomma? Kau sama saja dengan Sean yang selalu menghindar saat Eomma hubungi." ujar Nyonya Williams dengan kesal.
"Maaf Eomma, tadi sedang ada panggilan dengan Jenni." timpal Kai.
"Hn, ya sudah lupakan! Eomma ingin mengatakan sesuatu dengan padamu.."
Kai mencoba menyimak, apa yang akan di katakan Eomma nya karena dari nada bicaranya sepertinya Eomma nya ingin mengatakan suatu hal yang serius.
"Aku dengar kabar dari Jack kau sedang di sana bersama Istrimu, Eomma lega mendengarnya jika kau bisa menemani adikmu." Ucap Nyonya Williams dengan tarikan nafas tanpa beban. "lalu bagaimana keadaan Crystal sayang?" sambungnya bertanya pada Kai.
"Hn, Eomma tidak perlu mengkhawatirkan kondisi Crystal karena dia sudah selesai di operasi dan sedang dalam masa pemulihan." Jawab Kai tersenyum.
"Ah Eomma ikut senang mendengarnya, bagaimana kabar cucu-cucuku di sana sudah lama tidak bertemu terutama anak mu itu."
"Semuanya baik-baik saja Eomma, Putriku bersama Grandma nya di Amerika. Kami sengaja tidak membawanya dan meminta tolong pada Eomma Jenni untuk menjaganya, selama kami berada di sini."
"Huem, Eomma cemburu mendengarnya Kai." celetuk Nyonya Williams membuat Kai tertawa kecil.
"Kai janji akan membawanya bertemu Eomma."
"Yah, kau selalu bilang begitu seti..... Astaga!" pekik Nyonya Williams membuat Kai sedikit menjauhkan ponselnya, karena suara Eomma nya terlalu nyaring.
"Eomma lupa, seharusnya Eomma menanyakan kabar Sean astaga."
"Sean? Memangnya kenapa dengan anak itu Eomma? Dia tengah menunggu Crystal di kamar nya." Ujar Kai merasa bingung.
__ADS_1
"Uekh tidak, tidak, tidak. Ini serius Kai, Eomma juga terkejut saat mengetahuinya." ujar Nyonya Williams dengan suara sendu.
Kai semakin dibuat bingung. "Eomma tolong katakan lebih jelas, Kai tidak mengerti...."
"Kai, adikmu dikepala adik mu terdapat tumor." ucap Nyonya Williams memotong ucapan putranya.
1
2
3
Kai belum bisa mencerna apa yang baru saja dia dengar, ini sesuatu yang benar sulit untuk di percaya.
"Eomma, katakan bahwa itu hanya bercanda. Mana mungkin...."
"Awalnya Eomma juga berpikir begitu." Lagi-lagi Nyonya Williams menyela ucapan Kai. "tapi sayang, adikmu harus segera di operasi. Dokter sudah bersikeras memintanya melakukan itu, tapi dia tetap keras kepala dan pergi ke New Zealand."
"Iyah Sayang, Eomma percayakan semuanya padamu. Maaf yah, Eomma kembali merepotkan dirimu lagi Kai." Ucap Eomma nya dengan menyesal.
"Hn, Eomma jangan berkata begitu. Kita adalah keluarga, tentu saja sudah sewajarnya untuk membantu."
"Iyah Sayang terimakasih, kalo begitu Eomma tutup panggilannya. Kau hati-hatilah di sananya, nak." Ucap Eomma nya kemudian mematikan sambungan telpon mereka.
"Fyuh, kenapa Sean tidak membicarakan hal ini padanya." Ucap Kai sambil menghela nafas berat.
...****************...
Setelah selesai berbicara dengan Dokter Devian, Sean kini berada tepat di depan pintu kamar rawat Crystal. Dengan perlahan, lengannya menarik gagang pintu dan membukanya. Entah kenapa meski Crystal belum siuman, Sean tak ingin menimbulkan suara yang akan mengganggu tidur wanita itu.
"Sepertinya kau memiliki kekuatan lebih, hingga mengabaikan kesehatan mu dan terbang jauh ke sini." Celetuk Kai tiba-tiba, sesaat Sean memasuki kamar Crsytal.
Hal itu membuat Sean cukup terkejut karena dia pikir tak ada siapapun selain Crystal di ruangan ini, meski begitu dia tetap mempertahan wajah Stay Cool miliknya.
__ADS_1
"Aku pikir kau sudah bersikap dewasa, ternyata masih tetap sama adikku." sindir Kai pada Sean.
"Sebaiknya kau tutup mulut mu Hyung, aku tidak ingin berbicara dengan mu.'' timpal Sean tak kalah tajam dengan kata-kata nya, dia melengos saja melewati Kai yang tengah duduk di sofa tak jauh dari pintu berada.
"Hahaha." Kai tertawa sedikit keras. " Hah, maafkan aku karena tertawa. Tapi kau memanglah seorang Sean.'' ucap Kai kembali mengatakan hal ambigu yang membuat Sean merasa tak paham dengan situasi yang terjadi.
"Jangan katakan hal konyol seperti itu, sebaiknya kau lekas pergi. Nanti Crystal terganggu dengan suara jelek mu itu, Hyung." ejek Sean secara sarkasme.
"Sean, aku sudah dengar semuanya mengenai kondisi mu saat ini." suara Kai terdengar serius.
Sean melirik Kai dari ekor matanya.
"Kau butuh Dokter, bodoh!"
"Apa Eomma yang memberitahu hal ini pada mu, Hyung?" tanya Sean setenang mungkin.
"Bukan saatnya kau bertanya seperti itu, segera lakukan pengecekan secara menyeluruh." Titah Kai, kali ini pria berperawakan kekar itu tak bisa menyembunyikan kegelisahannya.
Sean tersenyum kecil lalu menggelengkan kepalanya ke kanan dan kiri. "Tidak Hyung, Aku ingin berada di sisi Crystal sampai dia bangun." Timpal Sean pelan. "Aku tidak di ingin membuatnya kecewa karena saat dia membuka kedua matanya, ternyata aku tidak ada di sisinya." Lanjutnya sendu, dia kembali mengingat beberapa minggu kebelakang di mana dia pergi meninggalkan Crystal karena ingin memastikan sesuatu.
Tapi ternyata semuanya menjadi sia-sia, tapi dia sangat bersyukur karena Kaka Ipar membantunya sehingga Crystal bisa cepat di operasi dalam waktu gentingnya. Dia sungguh akan menyesal seumur hidup jika ada hal yang lebih buruk terjadi pada Crystal dan pastinya dia akan malu bertemu dengan kedua anaknya karena telah gagal menyelamatkan Eomma mereka.
Untuk urusan penyakitnya, dia bisa melakukannya lain waktu. Yang terpenting untuknya adalah Crystal, tidak dirinya tidak siapapun hanya Crystal dan kedua anaknya.
"Crystal akan marah jika mengetahui hal ini, Sean."
"Tidak apa, itu lebih baik untukku."
"Hah, apa yang sebenarnya kau lakukan Sean." Erang Kai penuh frustasi "Penyakit mu tidak seringan itu, kenapa kau masih keras kepala."
"Besok sebelum anak-anak datang, Aku yakin Crystal akan segera sadar." ucap Sean penuh keyakinan. "Dia pasti tahu bahwa aku dan anak-anak menunggunya, jadi dia tidak akan lama bangun."
Mendengar keyakinan adiknya, Kai tidak bisa memaksa kehendak Sean. Dia hanya berharap Crystal segera siuman agar penyakit Sean langsung di tindak lanjuti oleh Dokter.
__ADS_1