
"Surat?" Gumam Fitria seraya menerima surat itu dengan mengerutkan keningnya samar.
"Terimakasih banyak ya, Bi." Ucap Fitria setelah menerima surat itu.
"Iya Non, sama-sama. Kalau begitu Bibi kembali ke bawah dulu va."
"Iya, Bi." Ucap Fitria yang diikuti kepergian asisten rumah tangga itu.
Ketika Fitria hendak menaruh amplop di atas nakas, amplop itu jatuh ke lantai karena jarak dirinya dan nakas tidak begitu dekat.
Namun, saat Fitria melihat ke arah lantai, terlihat sebuah kertas sudah keluar dari amplopnya.
"Ah, pantas saja suratnya sampai keluar dari amplop. Ternyata perekat amplopnya tidak di pasang dengan baik." Monolog Fitria ketika baru saja memungut amplop dan surat itu di lantai.
Tanpa ada rasa penasaran sama sekali dengan isi surat itu, Fitria pun langsung memasukkan surat ke dalam amplopnya kembali.
Secara tidak sengaja netra Fitria menangkap sebuah tulisan yang sangat mengganjal di hatinya. Fitria yang semula tidak menaruh rasa penasaran dengan isi surat itu, pun memutuskan untuk membacanya.
"Gue merindukan ciuman panas yang pernah kita lakukan dulu, Ta. Lo pasti nggak lupa dengan permainan kita saat malam itu. 'kan? Dari gue, Friska." Isi surat dalam amplop berwarna putih itu yang
berhasil membuat Fitria membolakan
matanya sempurna saat membacanva.
Rahang Fitria tiba-tiba mengeras, dan tangannya mengepal begitu kuat saat Fitria telah selesai membaca isi surat yang menurutnya sangat menjijikkan itu.
"Sialan! Kenapa gue nggak tahu kalau dia itu bajing*n." Monolog Fitria meluapkan emosinya dengan meremas surat itu kuat.
Agatha yang baru saja tiba di kediaman Rosa, tengah memarkirkan motor sport berwarna hitamnya di halaman yang tidak begitu luas. Namun, sebelum Agatha
beranjak dari motornya, Agatha kembali mengingat seorang wanita paruh baya yang terus memperhatikannya tadi, saat Agatha hendak meninggalkan kediaman Arya.
"Siapa beliau, ya? Apa beliau mengenalku? Tapi, sekilas mengapa wajahnya mengingatkanku kepada.Friska! Iya, benar. Wanita paruh baya tadi benar-benar sangat mirip dengan wanita ****** itu. Apa jangan-jangan dia.. Ah, tidak mungkin." Monolog Agatha penasaran dengan sosok
wanita paruh baya yang ditemuinya.
Setelah itu, Agatha pun mulai masuk ke dalam rumah Rosa.
"Assalamu'alaikum." Ucap Agatha.
"Wa'alaikumussalam, kok sendirian aja, Ta? Fitria mana?" Tanya Rosa celingukan mencari keberadaan menantunya itu.
"Kaki Fitria sedang cedera, Mah. Jadi nggak bisa ikut." Jawab Agatha seraya mencium tangan Rosa.
"Kenapa? Bukankah kalian baru saja pulang honeymoon?" Tanya Rosa dengan raut cemas.
"Dia terpeleset saat di kamar mandi hotel, Mah. Hingga kakinya harus dipasang gips."
"Ya ampun, kenapa kamu baru memberitahu Mamah sih, Ta."
"Bukan hanya Mamah saja, tetapi juga kedua orang tuanya, Mah. Mereka pun baru tahu tadi, saat aku dan dia baru sampai di rumah."
"Kalian ini dasar anak nakal, bisa-bisanya hal seperti itu tidak memberitahu kepada orang tua," Desah Rosa kesal.
"Lalu, bagaimana dengan honeymoon kemarin? Apa kalian sudah..." Sambung Rosa kembali dengan menggantungkan
pertanyaannya.
__ADS_1
"Sudah." Jawab Agatha cepat.
"Benarkah?" Tanya Rosa penuh antusias.
"Hmm." Gumam Agatha menganggukkan kepalanya.
"Ya ampun, Mamah jadi tidak sabar menunggu kehadiran anakmu, Ta."
"Mah, kami saja baru berhubungan kemarin. Bagaimana bisa Mamah sudah berpikir sejauh itu.
"Memangnya kenapa? Bisa saja bulan depan Fitria sudah hamil, kan? Makanya kamu harus sering-sering berhubungan, Ta. Agar Mamah cepat mendapatkan cucu."
Di sela-sela obrolan keduanya, Agatha meraih ponselnya dari dalam saku celana untuk melihat apakah ada pesan yang Fitria kirimkan kepadanya atau tidak.
"menghubungiku? Ah, mungkin saja dia masih malu." Monolog Agatha dalam hati seraya tersenyum menatap benda pipih di tangannya.
"Oh ya, Ta. Ini hidangan yang Mamah buat untuk Fitria. Sampaikan salam dari Mamah, ya. Lain waktu Mamah akan ke sana menjenguknya." Ucap Rosa memberikan tote bag berwarna coklat kepada Agatha.
"Iya Mah, kalau gitu aku pulang dulu, ya." Kata Agatha setelah berbincang cukup lama bersama Rosa.
Sebenarnya Agatha masih ingin berlama-lama di sana. Namun, melihat kondisi Fitria yang pasti akan membutuhkan bantuannya. Sehingga Agatha pun tidak bisa meninggalkan
istrinya itu untuk waktu yang lama.
"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan ya, Ta." Pesan Rosa kepada putranya itu.
"Iya Mah, assalamu'alaikum." Pungkas Agatha lalu pergi setelah mencium tangan Rosa.
"Wa'alaikumussalam." Jawab Rosa diikuti kepergian Agatha.
Dengan mengendarai motor sport berwarna hitam, Agatha mulai melaju membelah jalan raya dengan kecepatan tinggi.
Hanya memakan waktu dua puluh lima menit, Agatha sudah sampai di kediaman Arya. Sebelum Agatha melepaskan helm full face miliknya, Agatha menyempatkan diri sejenak untuk melihat ke arah jendela
kamar Fitria yang berada di lantai
dua.
Agatha melambaikan kedua tangannya ke arah jendela saat melihat Fitria tengah berdiri di sana. Agatha yang sudah tidak sabar untuk mendatangi istrinya, pun langsung bergegas turun dari motornya dan berjalan setengah berlari.
Namun, bukannya Agatha langsung menuju lantai dua. Agatha justru pergi ke dapur untuk memindahkan makanan yang Rosa
bawakan untuk Fitria ke dalam mangkuk.
"Tuan, biar Bibi saja yang melakukannya." Ucap wanita paruh baya yang bekerja di rumah Arya.
"Nggak usah, Bi. Biar aku saja." Kata Agatha menolak.
Saat Agatha sudah memindahkan hidangan itu ke dalam mangkuk, Agatha pun langsung membawanya dengan menggunakan nampan sebagai alasnya.
"Sini Tuan, biar Bibi saja yang membawanya." Ucap wanita paruh baya itu kembali.
"Nggak perlu, Bi. Aku ingin memberikan sendiri kepada istriku." Kata Agatha yang langsung dimengerti oleh asisten rumah tangga itu.
Dengan langkah hati-hati, Agatha pun berjalan menaiki anak tangga satu persatu, dengan tangan yang sibuk membawa nampan berisi makanan yang Rosa buatkan.
"Coba tebak, apa yang ku bawa untukmu?" Tanya Agatha ketika baru saja masuk ke dalam kamar yang bernuansa putih itu.
__ADS_1
Fitria yang tengah berdiri di depan jendela dengan netra yang tengah menatap ke arah luar. Hanya diam mematung tanpa menjawab pertanyaan dari Agatha, atau pun sekedar melihat ke arah suaminya
sedikit pun.
Sedangkan Agatha yang baru sadar dengan kondisi kaki Fitria, buru-buru menaruh nampan itu di atas meja yang tersedia di kamar.
"Kamu pasti sedang menungguku, ya?" Tanya Agatha berjalan mendekat ke arah Fitria.
Tidak ada suara sedikit pun yang keluar dari mulut Fitria, membuat Agatha bingung.
Agatha pun menyentuh bahu Fitria dan memutarnya agar berhadapan dengannya.
"Kenapa kamu murung seperti itu?" Tanya Agatha saat Fitria terus diam tak menanggapinya.
Namun, bukannya menjawab. Fitria justru menatap Agatha tajam.
"Apa yang terjad--"
PLAK.
Belum sempat Agatha menyelesaikan ucapannya, Fitria sudah lebih dulu menampar wajah tampan itu hingga membuat Agatha bungkam.
"BAJING*N!" Ucap Fitria penuh penekanan.
"Apa maksudmu?" Tanya Agatha tidak mengerti dengan perubahan sikap Fitria yang sangat tiba-tiba itu.
PLAK.
Untuk kedua kalinya Fitria menampar wajah Agatha, dan melemparkan surat yang sudah membuat amarahnya memuncak.
Agatha semakin dibuat bingung ketika melihat kemarahan Fitria yang tidak seperti biasanya. Agatha yang penasaran dengan penyebab perubahan sikap Fitria yang secara tiba-tiba itu, pun langsung meraih
kertas yang Fitria lemparkan dan langsung membacanya.
Agatha membelalakkan matanya sempurna saat membaca isi surat itu. Sementara Fitria hanya tersenyum hambar, lalu berusaha berjalan untuk kembali ke ranjang.
Dengan cepat Agatha mengikuti langkah Fitria dari belakang hendak membantunya. Namun, Fitria dengan segera langsung menepisnya.
"Jangan sentuh gue, gue jjik sama lo!" Bentak Fitria penuh emosi.
"Gue bisa jelasin semuanya."
"Pergi!" Bentak Fitria mendorong tubuh Agatha.
"Dengerin gue dulu-"
"Pergi!" Bentak Fitria kembali memotong ucapan Agatha.
"Fit." Ucap Agatha lirih dengan menatap Fitria sendu.
Tanpa memperdulikan Agatha yang berusaha menjelaskan, Fitria melanjutkan langkahnya kembali yang sempat terhenti.
Melihat Fitria yang terus mengabaikannya. Tanpa mengatakan apa pun, Agatha langsung menggendong Fitria dan
mendudukkannya di atas ranjang.
"Kalau kepergianku bisa membuatmu tenang, aku akan pergi. Tapi, yang harus kamu tahu. Itu semua nggak seperti apa yang kamu bayangkan." Pungkas Agatha lalu pergi meninggalkan Fitria.
__ADS_1