Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
98. Pacar Pura Pura Agatha


__ADS_3

Agatha mengerutkan keningnya samar, ketika menangkap wajah Kartika yang terlihat begitu gugup setelah mendapati pertanyaan dari dirinya, sedangkan Fitria yang sedari tadi hanya mendengarkan, pun ikut penasaran dengan topik yang sedang


dibicarakan antara Agatha dan Kartika.


"Kenapa dengan wajah, lo? Kok gugup gitu?" Sindir Agatha dengan menaikkan salah satu alisnya.


Tidak ingin gerak-geriknya dicurigai oleh Agatha dan Fitria, Kartika pun langsung membuang wajahnya ke arah lain.


Sedangkan Agatha yang sudah bisa menangkap bahwa Kartika memang sedang menyembunyikan sesuatu, pun memberikan respon dengan tertawa sinis.


"Minggir, gue mau lewat." Pungkas Kartika yang tidak ingin berlama-lama di sana.


"Lo kenal dia?" Tanya Agatha kepada Fitria, ketika Kartika sudah pergi dari hadapan keduanya.


"Dia teman SMA gue dulu, begitu juga dengan Fira dan Daffa," Jawab Fitria, yang dijawab dengan anggukkan kepala oleh Agatha.


"Lo, kenal Tika juga?" Sambung Fitria kembali dengan bertanya.


"Nggak, gue hanya beberapa kali bertemu dia. "


Sesaat, keduanya hanya bergeming tidak ada lagi yang mengeluarkan suara.


Fitria yang baru tersadar bahwa dirinya telah berbicara santai kepada Agatha, pun seketika langsung memasang wajah permusuhan kembali.


"Urusan kita belum selesai, ya!" Ucap Fitria dengan tatapan memburu.


"Gue udah bilang, kalau gue hanya mengambil kunci ini yang gak sengaja gue jatuhin di lantai." Sahut Agatha memaparkan.


"Mana ada maling ngaku, pokoknya gue nggak mau tahu, lo harus minta maaf sekarang juga!" Titah Fitria penuh penekanan.


"Jangan harap! Karena gue gak salah sama sekali." Kata Agatha dengan mendekatkan wajahnya ke arah Fitria hingga jarak keduanya begitu dekat.


Sedangkan Fitria yang langsung terbungkam, pun hanya mengerjapkan matanya cepat.


"Kenapa dengan wajah, lo? Jangan bilang kalau lo mulai tertarik sama gue?" Tanya Agatha memasang wajah mengejek.


"Astaga, selain menyebalkan, ternyata lo juga sangat besar kepala, ya!" Ucap Fitria dengan memutar bola matanya malas.


Tanpa mengatakan apa pun, Agatha berjalan begitu saja meninggalkan Fitria yang masih menuntut maaf darinya.


BUGH.


"Sialan!" Umpat Agatha, ketika mendapati tendangan di bagian betisnya hingga dirinya tersandung.


Sedangkan Fitria yang merasa puas, karena telah berhasil memberikan pelajaran kepada Agatha pun langsung tertawa lepas ketika melihat Agatha yang hampir


tersungkur ke tanah.


Melihat sudah banyak pasang mata yang tertuju kepadanya, Agatha memilih mengurungkan niatnya sesaat ketika hendak membalas Fitria.

__ADS_1


"Ikut gue!" Ucap Agatha dengan suara baritonnya, seraya menarik lengan Fitria.


"Mau dibawa ke mana, gue? Lepasin nggak!" Protes Fitria dengan terus memberontak.


Agatha terus membawa Fitria ke dalam mobilnya, tanpa memperdulikan Fitria yang terus berusaha menarik tangannya dari


cengkraman Agatha.


"Ngapain lo bawa gue masuk ke dalam mobil ini?" Tanya Fitria dengan menyilangkan kedua tangannya di dada, ketika dirinya sudah berhasil di bawa masuk ke dalam mobil Agatha.


"Maksud lo apa tadi?" Tanya Agatha menatap Fitria tajam.


"Siapa suruh nggak mau minta maaf." Jawab Fitria tidak perduli.


"Gue kan sudah blang, kalau gue gak bersalah. Apa telinga lo tuli?" Fitria hanya bergeming, dengan pikiran yang tiba-tiba saja muncul sebuah ide.


"Oke, gue nggak akan menuntut lo untuk meminta maaf. Tapi, gue ada satu syarat." Ucap Fitria, yang tidak ingin melewatkan kesempatan.


Sedangkan Agatha yang mendengar itu, pun hanya diam tak memperdulikan. Karena baginya, apa pun yang diucapkan oleh Fitria sama sekali tidak penting.


"Gue anggap semuanya impas, kalau lo bersedia menjadi pasangan pura-pura gue." Ucap Fitria menawarkan kesepakatan.


Agatha yang semula tidak perduli, seketika langsung menimbang tawaran yang diberikan oleh Fitria.


"Gue bisa manfaatin ini untuk membohongi Papah, agar gue gak dipaksa lagi untuk pergi ke Amerika." Monolog Agatha.


"Oke, gue setuju!" Jawab Agatha setelah menimbang penawaran itu.


***


Setelah semalam membahas dalang dari kecelakaan yang Fira alami bersama Bagaskara dan yang lainnya saat di meja makan.


Aida terus memikirkan hal itu tanpa henti, hingga dirinya dihantui rasa gelisah karena takut hal itu terjadi kepada menantunya kembali dan bisa mencelakai cucunya yang masih di dalam kandungan.


"Aku sangat yakin, pelaku dari semua ini pasti Linda dan Tika." Monolog Aida yang terus berjalan mondar-mandir.


"Tapi aku tidak memiliki bukti bahwa mereka pelakunya." Sambungnya kembali.


Tidak lama, Aida pun langsung menyambar tas dan ponselnya. Lalu pergi keluar kamar dengan langkah tergesa-gesa.


"Aida, kamu kamu kemana?" Tanya Oma Rahma yang kebetulan melihat menantunya yang berjalan tidak seperti biasanya.


Aida yang baru menyadari keberadaan Oma Rahma di ruang televisi, pun langsung menghentikan langkahnya detik itu juga.


"Sebaiknya aku tidak memberitahu kepada Ibu dulu, sebelum aku mendapatkan bukti


bahwa Linda dan Tika adalah pelakunya." Monolog Aida dalam hati.


"Itu, Bu-- aku ingin menemui Mas Bagas di kantor." Jawab Aida berbohong, yang sempat menghentikan ucapannya sejenak.

__ADS_1


"Oh, Ibu pikir kamu mau kemana. Soalnya terlihat buru-buru sekali."


"Kalau begitu aku ke kantor Mas Bagas dulu ya, Bu." Pungkas Aida yang tidak sabar beranjak pergi.


"Apakah ada sesuatu yang dia sembunyikan?" Tanya Oma Rahma dalam hati, ketika Aida sudah pergi dari hadapannya.


***


Agatha yang sebenarnya sangat malas ketika diminta oleh Bayu untuk menemuinya di sebuah restoran mewah di Jakarta. Untuk apa lagi, kalau bukan membahas masalah bisnis dan menikah? Batin Agatha


"Coba deh Ta, sekali-kali kamu menuruti omongan Papah." Ucap Bayu yang dibuat kesal karena Agatha terus saja tidak menuruti setiap ucapannya.


"Percuma Papah terus memaksaku seperti itu, itu hanya membuang-buang waktu Papah saja." Sahut Agatha tidak perduli.


"Membuang-buang waktu, katamu? Justru kamu yang membuang-buang waktu, Ta! Untuk apa kamu bekerja sebagai pelayan di


restoran dengan gajih yang tidak seberapa itu? Lebih baik kamu belajar bisnis saja, dan bergabung dengan Abangmu di kantor.


Bagaimanapun juga, kalian yang nantinya menjadi penerus Papah." Terang Bayu


memaparkan.


Sedangkan Agatha yang mendengar itu hanya diam tak menanggapi.


"Baiklah, jika kamu memang nyaman bekerja sebagai pelayan. Maka jalan satu-satunya kamu harus menikah dalam waktu dekat, agar kamu bisa memahami semua ucapan Papah."


"Aku sudah katakan, aku belum ingin menikah!" Tolak Agatha dengan cepat.


"Kenapa? Kamu takut jika tidak bisa menghidupi istrimu dengan pekerjaan seperti itu?" Tanya Bayu menyeringai.


Mendapati pertanyaan yang terdengar sedikit merendahkan harga dirinya, Agatha pun membuang wajahnya ke arah lain untuk menetralkan emosinya yang sedikit


tersulut akibat ucapan bayu tadi.


Tidak sengaja, netra Agatha menangkap keberadaan seorang wanita yang saat itu juga berada di salah satu meja yang tidak jauh dari dirinya saat ini.


Agatha pun langsung berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah wanita itu, lalu menggandeng tangannya dan di bawa ke mejanya kembali.


"Kenalin Pah, dia Fitria, pacarku" Ucap Agatha membuat Fitria tersentak kaget


mendengarnya.


"Dasar sinting!" Bisik Fitria yang tidak sampai terdengar di telinga Bayu.


Agatha mengeratkan genggamannya pada tangan Fitria untuk memberikan isyarat, bahwa ini hanyalah sandiwara.


Sedangkan Fitria yang menangkap isyarat itu dengan cepat, pun langsung memerankan peran sebagai pacar Agatha dengan baik.


"Halo, Om. Aku Fitria pacar Agatha." Sapa Fitria dengan merangkul lengan Agatha erat.

__ADS_1


__ADS_2