
Dipaksa Menikah Bagian 11
Oleh Sept
Rate 18 +
Tiba-tiba ada yang menarik lengannya, terang saja Sofi tersentak. Ia kaget melihat siapa dalangnya. Siapa lagi kalau bukan pria sok berkuasa atas dirinya. Siapa lagi kalau bukan Garda Arkasa Rajasa, pria paling pemaksa.
Masih kesal pasca kejadian di lift, Sofi pun menghempaskan tangannya.
“Lepaskan!” titah Sofi.
Dengan sekuat tenaga ia mencoba lepas dari jeratan suaminya itu. Sementara itu, Garda tidak peduli dengan perlawanan Sofi, pria itu terus menarik istrinya sampai mendekat padanya.
“Aduh! Apa yang akan dia lakukan?” jerit Sofi dalam hati.
Ingin kabur, tapi apa daya. Kekuatan Garda buankanlah tandingannya.
Marah campur jengkel, Sofi langsung menandingkan kepalanya ke hidung suaminya itu.
"Ish!" Garda mengaduh. Ia meringis menahan sakit.
“Apa yang kamu lakukan?” teriak Garda masih dengan memegang wajahnya.
Sofi yang semula kesal mendadak menjadi menyesal dan sedikit takut sih, lantaran melihat cairan merah yang mengucur dari hidung suaminya. Hasil perbuatan siapa lagi? Kalau bukan karena adu kepala.
Sofi tadi bak banteng yang menyeruduk dengan sempurna hidung nan mancung tersebut. Semoga hidung mancung bak milik pria Arab itu tidak kenapa-kenapa. Bila sampai patah, wah apa yang akan terjadi dengan Sofi nanti. Tinggal tunggu sebentar lagi, hukuman apa yang akan didapat oleh wanita tersebut.
“Kamu sih,” sesal Sofi seraya ingin menyentuh wajah suaminya. Baru juga di awang-awang, Garda langsung menepis tangan Sofi dengan kasar.
Rupanya pria tersebut sangat marah dengan aksi brutal Sofi barusan. Siapa yang tidak akan marah bila ada yang membenturkan kepala dengan sengaja ke hidungnnya. Sampai berdarah-darah pula, kali ini mungkin Sofi terlalu keras.
“Keterlaluan!” ucap Garda dengan geram, matanya tajam melirik Sofi. Ia langsung meraih tisu yang tergeletak di atas meja, lembar demi lembar ia keluarkan untuk menghapus cairan merah yang terus menetes tak henti.
__ADS_1
“Aku gak sengaja!” ujar Sofi membela diri. Ia kembali mendekati suaminya. Wajahnya tampak menyesal. Ia tidak mengira aksinya akan menimbulkan pertumpahan darah seperti ini. Kalau bisa memutar waktu, pasti Sofi akan melakuannya lagi.
Dalam hati ia menyumpahi suaminya itu.
“Rasakan pembalasan dariku,” gumam Sofi dalam hati. Ia bersorak riang gembira melihat kesakitan dari seorang Garda, suaminya.
“Ayolah, aku gak sengaja!” Sofi semakin mendesak, ia pura-pura, dengan wajah yang dibuat secemas mungkin ia akan membersihkan hidung suaminya dari darah yang masih mengucur itu. Baru saja Garda mulai terpengaruh dan luluh, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok,
“Biarkan saja!” seru Garda seraya menatap Sofi yang ingin beranjak pergi membuka pintu. Ia memegang lengan Sofi, hingga istrinya terdiam di tempat tidak jadi melangkah ke arah pintu.
“Tapi...” bantah Sofi. Ia berhenti berbicara ketika melihat sorot kemarahan di wajah sang suami. Takut dimakan hidup-hidup lagi, ia pun menurut saja.
“Tanggung jawablah dulu, bersihkan sampai tuntas,” titah Garda sambil mengulurkan tisu ke tangan Sofi, tidak lupa ia memasang wajah yang dingin.
Sofi pun hanya bisa menelan ludah, membiarkan pintu terus diketuk begitu saja. Sedangkan kini ia berdiri terpaku tepat di depan Garda. Entah mengapa rasa canggung tiba-tiba menjalar di antara mereka berdua, apa karena posisi mereka yang terlalu dekat? Rasanya tidak. Karena sebelumnya bahkan jauh lebih dekat dari pada saat ini.
Lalu sebenarnya apa yang telah terjadi di antara mereka? Yang terdengar hanya deru dua jantung yang saling memburu. Berdegup dengan kencang di saat yang sama, menghasilkan dentuman kencang tak beraturan. Entah karena perasaan cinta atau karena mereka belum makan.
“Hemmm,” Sofi hanya berdehem sambil tangannya membersihkan noda darah di bawah hidung .
“Apa sakit?”
“Sudah tidak lagi,” dengan cuek Garda beranjak, ia ke kamar mandi membersihkan wajahnya dengan air setelah darah sudah berhenti dengan sempurna. Dari pantulan cermin Ia terlihat meringis menahan sakit ketika memegang hidungnya sendiri. Sambil mengusapnya dengan air, ia mendengus kesal. Mungkin ia sedang memikirkan pembalasan apa yang akan ia lakukan pada istrinya malam nanti.
“Mengapa lama sekali? Apa perlu bantuan?” teriak Sofi dari balik pintu. Nadanya terdengar cemas, tapi tidak dengan wajahnya. Ia seperti meledek kondisi sang suami. Senang melihat suaminya menderita.
KLEK
Garda keluar dari balik pintu dengan muka masam. Wajahnya seperti cucian kusut yang belum disetrika. Rupanya ia masih marah atas tragedi hidung berdarah. Sepertinya rasa ngilu masih dirasakannya. Sepertinya juga Sofi harus bersiap siaga menghadapi kemurkaan suaminya itu.
Pria dingin itu pun berjalan begitu saja melewati Sofi, tanpa melirik sekalipun ia berlalu seolah Sofi adalah nbenda astral yang kasat mata. Mungkin perang dingin baru saja dimulai.
__ADS_1
Setelah itu, Garda turun ke bawa tanpa peduli dengan istrinya, entah ikut turun atau masih diam di kamarnya.
Tap tap tap
Mama menoleh. Melihat siapa yang datang.
“Mana Sofi?” tanya mama dengan nada yang lembut. Sangat jauh berbeda dengan putranya, mama pribadi yang hangat dan sangat lemah lembut. Sementara Garda, sangat berbanding terbalik. Mungkin karena hanya dibesarkan oleh sang mama, membuat sifat Garda menjadi kaku dan sangat dingin pada sesama.
“Di atas,” jawab Garda singkat.
“Gak diajak turun sekalian?” tanya mama dengan heran.
“Bi, pangilin istri saya,” perintah Garda pada asisten yang ada di belakangnya.
Mama mengeryitkan dahi, ada apa dengan pengantin baru itu. Ia kok jadi curiga.
“Itu hidung kamu kenapa kok merah gitu?” Mama berdiri mendekat ke Garda. Ia amati hidung putranya.
“Gak papa!” Garda menepis tangan sang mama yang akan menyentuh hidungnya.
Mama hanya bisa menatap putranya, kemudian kembali ke tempat duduknya. Karena sang putra terlihat sedang tidak bersahabat, maka mama engan menanyakan banyak hal. Bila mood putranya sedang buruk, mama memilih untuk diam.
Sambil menunggu Sofi turun, keduanya tengelam dalam lamunan masing-masing. Duduk di meja yang sama seperti ini, tiba-tiba Garda terkenang masa lalunya. Sudah lama ia tak mendengar kabar tentang papanya, yang ia tahu sang papa sudah lama meninggalkan keluarganya sejak ia kecil.
Berkat usaha sang mama lah dan keluarganya, ia menjadi seperti sekarang. Kakeknya memang dari keluarga berada, sehingga mudah saja bagi mamanya untuk membesarkan Garda. Mungkin ia bergelimangan harta, tapi Garda adalah pribadi yang kurang kasih sayang.
Dari kecil sang mama sudah sibuk dan tengelam dalam pekerjaan, waktu yang diberikan untuknya sangat terbatas. Mungkin itulah yang membuat kepribadian seorang Garda Arkasa Rajasa menjadi seperti sekarang ini, dingin dan angkuh. Ia menjadi sosok yang tidak pandai dalam mengungkapkan perasaan, ia hanya akan melakukan apa yang kepalanya perintahkan.
***
Tap tap tap ...
Langkah kaki Sofi yang menuruni tangga membuyarkan lamunan Garda, baik mama maupun Garda sama-sama menatap ke arah Sofia.
__ADS_1
“Yang satu bagai malaikat, yang satu seperti ibliis!” gumam Sofi yang risih karena semua mata tertuju padanya.
BERSAMBUNG