Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
106. Alasan


__ADS_3

"Bagaimana ceritanya, kenapa lo bisa di jodohkan dengan dia?" Tanya Daffa ingin tahu.


"Dia anak dari Om Bayu, teman Papah gue," Jawab Fitria, yang disambut anggukan kepala oleh Daffa sebagai isyarat mengerti.


"Dan, apa kalian tahu?--" Imbuh Fitria kembali, sengaja menggantungkan ucapannya.


"Apa? Kalau cerita jangan setengah-setengah, gue malas menanggapinya." Sahut Daffa kesal.


Bisa-bisanya seorang Daffa yang begitu sibuk, masih saja diminta untuk mendengarkan curhatan perihal percintaan dari temannya itu. Bukankah ini hanya


membuang-buang waktu saja? Pikir Daffa.


"Sebelumnya gue sempat meminta Agatha untuk menjadi pasangan pura-pura, kemudian gue membawanya ke rumah untuk mengenalkannya kepada Papah,


namun kalian tahu apa yang terjadi?-" Tanya Fitria, yang disambut gelengan kepala oleh Safira sebagai jawaban tidak tahu.


"Ternyata di rumah gue pada saat itu ada Om Bayu yang sedang makan malam di sana." Papar Fitria penuh ekspresif.


"Pppfft, jadi dari situ keluarga kalian semakin gencar menjodohkan lo dengan Agatha, karena mereka tahu kalau kalian itu pacaran?" Tanya Daffa dengan menahan tawanya.


"Iya." Jawab Fitria malas.


"Hahaha rasakan Fit, itu namanya lo menggali lubang untuk diri lo sendiri." Ejek Daffa dengan mentertawakan Fitria puas.


Fitria yang tidak ingin menanggapi ejekan dari Daffa, pun langsung meminta solusi kepada Safira.


"Gue harus apa sekarang, Fir?"


Ada perasaan kecewa di hati kecil Safira saat mendengar kebohongan Fitria, bagaimana bisa teman dekatnya itu tega membohongi orang tuanya sendiri? Safira yang sedari tadi hanya mendengarkan, pun memilih diam tanpa menimpali percakapan


keduanya.


"Nggak seharusnya kamu bersikap seperti tadi ke Agatha, Fit." Jawab Safira mencoba menasehati teman dekatnya itu.


"Maksudnya?"


"Aku tahu kamu pasti kesal dengan perjodohan ini, apalagi sekarang kamu mengetahui bahwa Agatha adalah laki-laki itu. Tapi Fit, ini juga bukan kesalahan Agatha. Nggak seharusnya kamu


melemparkan semua kesalahan itu


kepadanya, 'kan?" Terang Safira memaparkan, membuat Fitria menatapnya tidak percaya.


"Jangan bilang kalau lo memihak dia, Fir." Ucap Fitria lirih, yang di sambut gelengan kepala oleh Safira.


"Nggak Fit, aku gak membela siapa pun di sini. Tapi jika aku boleh bertanya, apa alasan yang membuat kamu begitu membenci dia?"


"Karena dia gak mau membatalkan perjodohan ini, Fira. Jelas-jelas gue sudah memintanya agar dia mengatakan kepada Om Bayu untuk membatalkan perjodohan


ini." Ujar Fitria yang tanpa sadar menaikkan nada bicaranya.


"Fitria!" Bentak Dafa tidak terima, meskipun itu temannya sendiri.


Safira yang tidak ingin Daffa membuat suasana menjadi runyam, pun lekas mengusap punggung tangan Daffa agar suaminya itu kembali tenang.

__ADS_1


Sedangkan Fitria yang baru menyadari, pun langsung merasa tidak enak. Pasalnya, reaksi Fitria itu benar-benar di luar kendalinya.


"Maaf Fir, gue benar-benar gak ada maksud untuk membentak lo."


"Iya Fit, aku mengerti," Sahut Safira tersenyum lembut dari balik cadarnya, yang bisa di saksikan melalui netranya yang menyipit.


"Apakah kamu sudah menanyakan kepada Agatha, tentang alasan dia yang enggan membatalkan perjodohan itu?" Sambung Safira kembali.


"Nggak, apa itu penting?"


"Jelas penting, Fitria. Seperti kamu saja, apakah Om Arya akan membiarkanmu begitu saja jika kamu menolak perjodohan itu? Tentu saja tidak kan? Begitu pula dengan Agatha, Fit. Pasti dia memiliki alasan sendiri mengapa enggan


membatalkan perjodohan itu."


Sementara Fitria yang mendapatkan nasehat itu dari Safira, pun hanya bergeming meresapi.


"Gue terlalu jahat ke Agatha, gue seolah menutup mata dan telinga tentang resiko yang dia hadapi jika menolak perjodohan ini." Monolog Fitria dalam hati.


"Fit, maaf ya, jika ucapanku tidak nyaman untuk di dengar." Ucap Safira yang berhasil menyadarkan Fitria dari lamunannya.


"Ah, nggak kok Fir. Justru gue berterima kasih sama lo karena sudah menyadarkan otak gue yang sedikit bebal ini."


"Iya, sama-sama. Aku senang jika kamu menerima nasehat dariku."


"Kalau gitu gue pergi duluan, ya. Ada sesuatu yang harus gue selesaikan." Pungkas Fitria dengan menyambar tasnya.


***


"Agatha." Ucap Kartika lemas, ketika sudah melihat keberadaan Agatha di sana.


"Gue rasa akhir-akhir ini lo begitu tertarik kepada gue. Apa dugaan gue salah, Ta?" Tanya Kartika dengan berbisik di telinga Agatha.


"Singkirkan tangan kotor lo dari wajah gue, ******! Lo kira gue akan terkecoh dengan rayuan murahan lo itu?" Bentak Agatha, menepiskan tangan Kartika agar menjauh dari wajahnya.


Namun bukannya Kartika menjauh, Kartika justru semakin bersikap di luar nalar. Membuat Agatha semakin menatapnya jijik


kepada wanita di hadapannya itu.


"Katakan saja jika lo memang menyukai gue," Ujar Kartika, mengalungkan tangannya di tengkuk leher Agatha.


"Aww, lepasin!" Teriak Kartika kesakitan saat rambutnya ditarik oleh Agatha.


"Jangan pernah berani menyentuh gue, apalagi sampai bertindak menjijikan seperti itu. Gue nggak mau ada jejak tangan kotor lo di tubuh gue, ******!"


"Menjijikan lo bilang? Oke, gue akan memberikan lo sebuah hadiah kecil. Setelah ini mari kita lihat, apakah lo masih mengatakan bahwa itu menjijikan atau tidak." Ujar Kartika menyeringai.


Setelah mengatakan itu Kartika pun mendekatkan dirinya ke arah Agatha, hendak mendaratkan ciumannya pada bibir milik laki-laki itu.


PLAK.


"Ups, sorry. Gue kira nyamuk yang ingin mengigit Agatha." Ejek Fitria, ketika berhasil menggagalkan kegilaan Kartika.


Sedangkan Kartika yang baru saja mendapati tamparan dari Fitria pun langsung membelalakkan matanya sempurna.

__ADS_1


"Sialan!" Umpat Kartika tidak terima.


"Ayo! Lebih baik kita pergi dari sini." Ajak Fitria menarik tangan Agatha, tanpa memperdulikan reaksi Kartika di sana.


Setelah Fitria dan Agatha telah pergi meninggalkan Kartika sendirian di parkiran, Kartika pun buru-buru


masuk ke dalam mobilnya dan langsung menyambar tisu basah.


"Kalau saja bukan untuk mengalihkan perhatian Agatha agar gue tidak ketahuan, gue benar-benar nggak sudi melakukan kegilaan tadi." Monolog Kartika seraya


membersihkan tangannya yang baru saja menyentuh wajah Agatha.


Di sisi lain, Fitria yang menarik tangan Agatha dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. Membuat Agatha menatapnya bingung, karena sikap Fitria yang menurutnya begitu aneh.


"Kenapa tadi lo hanya diam saja sih, saat kera siluman menyosor seperti itu?" Tanya Fitria kesal.


"Tadi tangan gue belum sempat melayang, bukankah tangan lo sudah melayang lebih dulu?"


"Alasan! Lo senang, 'kan?"


"Senang? Dengan ****** seperti dia? Nggak sama sekali!"


"Oh." Ucap Fitria singkat seraya membuang wajahnya ke arah lain.


"Lo cemburu?" Tanya Agatha tiba-tiba, membuat wajah Fitria merah padam saat mendengarnya.


"Astaga, jadi benar lo cemburu?" Tanya Agatha kembali.


"Apa sih, Ta! Mana mungkin gue cemburu." Jawab Fitria salah tingkah.


"Gue rasa hanya orang bodoh yang percaya dengan ucapan lo itu," Ujar Agatha, karena reaksi yang Fitria berikan dengan apa yang Fitria ucapkan sangat tidak sinkron.


"Jadi begini rasanya dicemburui oleh singa betina." Sambungnya kembali, dengan mengejek Fitria.


BUGH.


"Sekali lagi lo mengatakan yang nggak-nggak. Gue gak segan-segan untuk melaporkannya ke Om Bayu." Ancam Fitria setelah memukul lengan Agatha, membuat ekspresi Agatha berubah seketika.


Sesaat keduanya pun hening.


"Sorry, Ta." Ucap Fitria lirih.


"Untuk?" Tanya Agatha, tanpa melihat ke arah Fitria.


"Kalau ucapan gue ada yang menyinggung perasaan lo."


"Lo gak salah."


"Apa gue boleh menanyakan sesuatu?" Tanya Fitria ragu-ragu.


"Hmm."


"Apa alasan lo sebenarnya, kenapa lo enggan membatalkan perjodohan ini?" Tanya Fitria, yang berhasil mengalihkan atensi Agatha yang semula melihat ke arah jendela, kini beralih kepadanya.

__ADS_1


"Lo mau tahu?" Tanya Agatha, yang disambut oleh anggukkan kepala Fitria.


"Ikut gue sekarang juga, lo akan tahu sendiri jawabannya." Ajak Agatha menatap lekat netra Fitria.


__ADS_2