
"Terimakasih ya sayang" Kata Daffa seraya memeluk punggung milik Safira dan mengusapnya lembut.
Safira pun mendongak melihat wajah Daffa yang nampak begitu lelah akibat kegiatan yang cukup menguras tenaganya.
CUP!
Daffa mendaratkan ciumannya pada kening Safira lalu mengeratkan pelukannya dari dalam selimut, sebelum mulai memejamkan matanya.
Tok tok tok.
Baru saja keduanya mulai memejamkan mata, namun suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar. Yang membuat Daffa mengurungkan niatnya untuk tidur.
"Sial! Siapa yang ganggu malam-malam begini!" Umpat Daffa kesal.
Daffa pun bangkit dari posisi tidurnya lalu memakai baju terlebih dahulu sebelum membukakan pintu kamar.
"Apa kamu tidak lihat sekarang jam berapa?" Ucap Daffa kesal kepada pelayan yang bekerja di villa milik Bagaskara.
"Ma-maaf tuan jika saya menganggu waktunya, saya hanya ingin memberitahu, bahwa ada seorang wanita yang mencari tuan muda dan nona Fira" Tutur pelayan
wanita.
"Seorang wanita? Baiklah.katakan padanya saya akan turun ke bawah sebentar lagi" Titah Daffa.
"Baik tuan" Pungkas pelayan wanita itu lalu pergi.
"Ada apa mas?" Tanya Safira ketika Daffa sudah selesai berbicara dengan seorang pelayan.
Daffa pun berjalan ke arah Safira kembali setelah menutup pintu kamarnya dengan wajah yang masam.
Sepertinya Daffa sudah tahu siapa wanita yang dimaksudkan pelayan yang baru saja memberitahunya.
"Apa ada masalah mas?" Tanya Safira.
"Sayang, sekarang pakai baju gamismu kembali ya. Ada seseorang yang sedang menunggu kita di bawah" Titah Daffa kepada Safira.
"Seseorang? Siapa mas?" Tanya Safira.
"Kamu pasti akan tahu nanti sayang, lebih baik kita segera temui pengganggu itu agar dia cepat pergi dari sini" Ucap Daffa kesal.
"Iya mas, tunggu sebentar ya"
Sesuai perintah dari suaminya, Safira pun mulai menggunakan kembali pakaian gamisnya beserta hijab dan cadarnya.
Setelah Safira sudah selesai menggenakan kembali pakaiannya, keduanya pun keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga satu persatu dengan tangan yang saling
menggenggam erat.
"Fitria?" Panggil Safira saat sudah sampai di ruang tamu Fitria menoleh ke arah sumbernsuara ketika namanya dipanggil oleh seseorang.
"Firaaa" Ucap Fitria dengan menghambur kan pelukannya kepada Safira.
"Kamu sama siapa ke sini, Fit?" Tanya Safira.
"Aku sendirian, Fir. Hiks hiks hiks"
"Lebih baik kita duduk dulu yuk, Fit" Ajak Safira dengan menuntun Fitria untuk duduk.
Sementara tangan Safira masih digenggam erat oleh Daffa yang membuat gerakan Safira terbatas.
"Permisi, bisa lepaskan tangan Fira dulu gak? Dan, mending lo balik ke kamar Daff, dari pada gangguin gue sama Fira" Kata Fitria yang membuat Daffa menyeringai kesal.
__ADS_1
"Apa? Ganggu? Harusnya gue yang bilang gitu ke lo, Fit! Mana ada orang lagi honeymoon malah direcoki gini" Gerutu Daffa.
"Mas, udah" Saut Safira dengan meraih tangan Daffa dan mengajaknya untuk duduk.
"Kamu ada masalah apa Fit?"
Tanya Safira kepada Fitria.
"Fir, gue mau di jodohkan sama anak dari teman papah hiks hiks hiks"
Safira buru-buru memeluk Fitria untuk menenangkannya sebelum melanjutkan obrolannya kembali.
"Bagus dong, dari pada lo jadi perawan tua kan?" Saut Daffa yang membuat Fitria kesal.
"Sialan lo, Daff!" Jawab Fitria dengan melempar bantal sofa ke arah Daffa hingga mengenai lengannya.
"Ih mas Daffa! Kalau mau memperkeruh suasana mendingan kembali ke kamar saja sana"
"Iya sayang, maaf" Ucap Daffa patuh.
"Apa kamu sudah tau, laki-laki yang akan di jodohkan denganmu itu seperti apa Fit?" Tanya Safira lembut.
"Nggak Fir, makanya gue menolak untuk di jodohkan. Tapi papah malah maksa gue terus, agar gue mau menerima perjodohan itu"
"Apa tidak sebaiknya kamu coba lihat dulu, Fit? Siapa tau yang akan dijodohkan denganmu adalah laki-laki baik" Kata Safira.
"Tapi Fira, gue gak mau menikah dengan cara dijodohkan seperti itu!"
"Semua keputusan ada di tangan kamu Fit, tapi saran aku, nggak ada salahnya kan kita lihat dulu seperti apa laki-laki itu?"
"Memang ada benarnya juga sih saran dari lo, Fir, tapi gue mau mempertimbangkan dulu deh"
Daffa yang sedari tadi memilih diam, kini mulai mengeluarkan suara.
"Udah sih, tapi--apa gue boleh nginep di sini dulu malam ini? Gak mungkin kan gue balik sekarang?" Tanya Fitria.
"Boleh" Jawab Daffa seadanya.
"Tapi--" Kata Fitria dengan menggantungkan ucapannya.
"Apa lagi sih?" Tanya Daffa kesal.
Tidak ingin mendapatkan amukan dari Daffa, Fitria pun berlari ke arah Safira.
"Fira, lo tidur sama gue ya?" Ucap Fitria yang membuat Daffa membolakan matanya sempurna.
"fitria!" Kata Daffa dengan napas yang memburu seraya menyugar rambutnya kasar.
Kesabaran Daffa kini sudah setipis kertas ketika Fitria sudah mengacaukan bulan madunya.
"Mas" Ucap Safira menenangkan seraya mengusap dada bidang milik Daffa.
Sedangkan Daffa bisa apa jika Safira sudah seperti itu? Emosi Daffa yang semula sudah mendidih pun dengan cepat mereda.
"Apa aku boleh tidur bersama Fitria mas?" Tanya Safira ketika Daffa sudah mulai tenang.
"Kenapa lo gak tidur sendirian aja sih Fit?!" Tanya Daffa kesal kepada Fitria.
"Gue takut tidur sendirian Daff, ini kan puncak. Gue takut ada-"
Fitria menggantungkan ucapannya seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.
__ADS_1
"Gak akan ada hantu manapun yang mau deketin lo, Fitria. Lo aja lebih sangar dari hantu" Sindir Daffa.
"Sialan!" Umpat Fitria kesal.
"Udah, udah. Bagaiman mas? Apa aku boleh tidur bersama Fitria?"
"Baiklah sayang, aku mengizinkan" Ucap Daffa yang memilih mengalah dari Fitria.
"Terimakasih mas"
Sebelum akhirnya mereka berpisah kamar untuk malam ini, Daffa pun mencium kening Safira lalu memeluknya erat yang membuat Fitria geli melihat dua sejoli ini.
"Hueks!" Sindir Fitria dengan berpura-pura muntah.
"Diam lo, jomblo!" Saut Daffa.
***
Setelah kepulangan dari bulan madunya selama satu minggu di puncak, hari ini Daffa pun sudah mulai bekerja kembali seperti biasa.
Sedangkan Safira hari ini sudabh tidak
lagi bekerja sesuai dengan perintah Daffa, yang memintanya agar Safira tetap berada di rumah saja.
Safira tengah sibuk menyiapkan bekal makan siang untuk suaminya di dapur, tiba-tiba saja ponsel milik Safira bergetar.
Terdapat panggilan vidio call masuk dari Daffa pada ponsel miliknya. Safira pun menjawab panggilan itu, lalu meletakan ponselnya, dan memperlihatkan ke arahnya hingga Daffa bisa melihat aktifitas yang
Safira lakukan saat ini.
"Assalamu'alaikum mas" Jawab Safira dengan aktifitas masak yang masih berlanjut.
"Wa'alaikumussalam sayang, kamu sedang membuat apa?' Tanya Daffa.
"Aku sedang menyiapkan bekal makan siang untuk mas Daffa"
'Berarti kamu akan mengantarkan makan siang untukku kemari sayang?"
"lya mas, aww shhh" Pekik Safira kesakitan.
'Kenapa sayang? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Daffa panik.
"Nggak papa mas, tanganku hanya terkena pisau saja"
'Apakah darah yang keluar banyak sayang? Apa perlu aku panggilkan dokter Kayla ke rumah?"
"Nggak perlu mas, ini hanya luka kecil"
'Sungguh? Coba lihat'
"Nih" Kata Safira seraya menunjukan luka yang baru saja dia dapati ke arah kamera agar Daffa tidak khawatir.
'Syukurlah, ternyata lukanya hanya kecil'
"Aku selesaikan masak dulu ya mas, assalamu'alaikum"
'Iya sayang, wa'alaikumussalam' Pungkas Daffa bersamaan dengan terputusnya sambungan vidio call.
**
Seorang wanita berpakaian hoodie hitam senada dengan jeans dan topi yang dikenakannya, tidak lupa dengan masker beserta kaca mata hitam yang membuat identitasnya tidak mudah untuk dikenali orang lain, tengah mengintai rumah milik Daffa dari dalam mobilnya yang terparkir tidak terlalu jauh.
__ADS_1
Melihat Safira yang sudah keluar dari rumahnya dan mulai menaikki taksi yang sebelumnya Safira pesan. Wanita yang sudah mengintai sedari tadi pun bersiap untuk mengikutinya kepergian Safira dari belakang.
"Bersiaplah, target sudah di depan mata!" Ucap wanita berhoodie hitam dari sambungan suara.