Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
88. Daffa Yang Penyayang


__ADS_3

Karena tidak mendapatkan jawaban dari Safira, Daffa memutuskan untuk mengakhiri sambungan teleponnya secara


sepihak, dan bergegas untuk mendatangi lokasi, di mana Safira berada melalui GPS.


Sedangkan para karyawan yang saat ini tengah berada di ruang meeting, pun menaruh atensi pada laki-laki berparas tampan itu. Ketika Daffa terlihat panik, setelah menerima panggilan dari ponselnya.


"Pak, bagaimana dengan meeting-nya?" Cegah Azam, ketika Daffa tiba-tiba saja beranjak pergi tanpa mengatakan apa pun.


"Kalian boleh kembali ke pekerjaan kalian masing-masing, kita lanjutkan meeting-nya nanti." Kata Daffa buru-buru.


Dengan langkah cepat, Daffa berjalan menuju parkiran, untuk mengambil mobilnya yang terparkir di sana.


GPS pun sudah Daffa arahkan ke titik lokasi di mana Safira berada. Dengan segera, Daffa pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sesampainya Daffa di titik lokasi tersebut, terlihat begitu banyak orang yang sedang mengerumuni sesuatu, hingga Daffa pun tidak bisa melihat, apa yang sebenarnya terjadi di sana?


Dengan wajah yang sudah menegang, Daffa pun turun dari mobilnya, dan langsung berjalan mendekat ke arah kerumunan itu. Untuk mencari tahu.


Detak jantung Daffa bergemuruh begitu cepat, ketika melihat pemandangan di depannya yang berhasil membuat tubuh Daffa gemetar. Seakan dunia Daffa runtuh


detik itu juga. Dengan cepat, Daffa membuka pintu mobil itu dan langsung meraih tangan mungil istrinya.


"Sayang?" Panggil Daffa lirih, dengan suara yang sedikit bergetar.


"Mas, maafkan aku..." Gumam Safira lirih, yang terlihat sudah banyak darah segar di bagian pelipis, hingga pakaiannya.


"Ssstt, simpan energimu sayang. Tahan sebentar, ya. Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang juga" Ucap Daffa berusaha tenang, agar Safira merasakan


nyaman.


Kemudian, Daffa punangsung membawa Safira ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Daffa terlihat begitu cemas ketika Safira sedang di tangani oleh


beberapa Dokter di dalam ruang tindakan.


Daffa terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri tapa henti. Saat ini, pikiran Daffa seakan bercabang, bukan hanya memikirkan keselamatan istri dan anaknya saja, melainkan memikirkan siapa dalang


dari semua ini? Karena setelah Daffa berada di lokasi kejadian tadi, hanya terdapat mobil Daffa saja yang di kemudikan oleh sopir pribadinya, namun tidak terdapat mobil si penabrak di lokasi


tersebut, sudah dipastikan bahwa ini


adalah kasus tabrak lari.


Disela-sela Daffa yang tengah sibuk berpikir, seorang Dokter keluar dari ruang tindakan itu.


Daffa yang saat ini merasa khawatir dengan kondisi istrinya, pun langsung bangkit dari posisi duduknya.

__ADS_1


"Dok, bagaimana kondisi istri saya?" Tanya Daffa dengan raut wajah yang terlihat kacau.


"Alhamdullillah, keadaan istri Tuan tidak ada yang serius, hanya saja terdapat beberapa luka." Jawab Dokter menjelaskan.


"Lalu, bagaimana dengan keadaan anak saya, Dok?" Dokter itu pun langsung


tersenyum, melihat kekhawatiran yang begitu jelas pada wajah Daffa.


Terlihat sekali, bahwa Daffa adalah laki-laki yang begitu mencintai istri dan juga anaknya.


"Tenang saja, Tuan. Anak Tuan baik-baik saja."


Seketika Daffa pun langsung menghembuskan napasnya lega.


"Terimakasih banyak, Dok." Kata Daffa yang sedikit merasa tenang.


"Iya Tuan, sama-sama." Pungkas Dokter itu pergi meninggalkan Daffa.


***


Laki-laki paruh baya nampak begitu kesal dengan seorang laki-laki muda yang berada di hadapannya. Namun berbeda dengan laki-laki muda yang saat ini sedang diajaknya bicara, terlihat begitu santai bahkan seolah malas menanggapi.


"Mau sampai kapan sih, Ta? Kamu seperti ini terus?" Tanya laki-laki paruh baya yang memiliki nama Bayu, Ayah kandung Agatha.


"Sudahlah, Pah. Percuma saja Papah terus mendesakku seperti itu." Jawab Agatha.


"Apakah Bang Arkana saja tidak cukup?" Tanya Agatha, dengan melirik ke arah Bayu melalui ekor matanya.


"Kalian ini memiliki tugas masing-masing, bagaimana bisa dikatakan cukup? Arkana memiliki tugasnya sendiri, dan kamu, Ta.


Sudah saatnya kamu pun mengikuti jejak Abangmu itu."


"Sampai kapan pun aku tidak mau, Pah! Aku tidak ingin hidup di bawah tekanan seperti itu."


"Agatha! Apa yang kamu inginkan sebenarnya?" Tanya Bayu yang akhirnya hilang kesabarannya.


"Aku hanya ingin seperti ini saja, Pah. Hidup tenang tanpa ada tekanan dari mana pun."


Seketika Bayu tersenyum menyeringai, ketika mendengar ucapan Agatha.


"Hidup tenang bagaimana yang kau maksud? Apakah menjadi gelandangan, yang tak memiliki arah tujuan membuatmu bahagia, seperti itu?" Ucap Bayu, dengan wajah meremehkan.


"Terserah Papah, mau mengatakan apa pun, aku tidak perduli." Pungkas Agatha bangkit dari duduknya, dan hendak pergi


meninggalkan Bayu tanpa permisi.

__ADS_1


"Mau kemana kamu? Papah belum selesai bicara!" Cegah Bayu kepada putranya.


Agatha memilih terus berjalan, tanpa menanggapi Bayu sedikitpun.


"Jika kamu terus seperti ini, lebih baik kamu menikah saja, Ta! Agar kamu bisa berpikir lebih dewasa." Kata Bayu, yang berhasil membuat Agatha menghentikan langkahnya.


"Ini sudah kita bahas sebelumnya, Pah. Jawabanku tetap sama, aku tidak ingin menikah dengan wanita yang tidak aku cintai."


"Baiklah, kalau begitu, maka kamu harus siap Papah kirim ke Amerika, untuk belajar bisnis di sana."


"Pilihan macam apa itu? Keduanya sama sekali tidak ada yang menguntungkanku." Kata Agatha dingin.


Kemudian Agatha pun memilih melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


Saat Agatha telah sampai di area parkir untuk mengambil motor sportnya, tiba-tiba ponsel Agatha berdering.


"Halo, Mah." Kata Agatha, dengan menempelkan benda pipih ke telinganya.


"Sedang di mana, Ta? Apakah besok bisa mengantarkan Mamah check up di rumah sakit?" Tanya Rosa, Mamah Agatha.


Papah dan Mamah Agatha sudah bercerai sejak Agatha duduk di bangku SMA, Agatha dan Arkana terpaksa tinggal terpisah dengan Rosa, karena Bayu sendiri yang meminta agar semua anak-anaknya ikut.


"Aku sedang di kantor Papah. Baiklah, besok akan aku jemput Mamah."


***


Safira yang saat ini sudah dipindahkan ke ruang rawat inap VIP, tak henti-hentinya diselimuti rasa bersalah kepada suaminya itu.


"Kenapa terus menatapku seperti itu, sayang?" Tanya Daffa seraya mengusap lembut pipi istrinya.


"Maafkan aku ya, Mas." Kata Safira lirih.


"Untuk?" Tanya Daffa dengan mengernyitkan dahinya samar.


"Soal tadi siang, tadinya aku berniat untuk memberikan Mas Daffa kejutan, maaf jika aku tidak meminta izin kepada Mas Daffa terlebih dahulu"


"Sayang, bukankah aku pernah mengatakan kepadamu sebelumnya? Aku hanya melarangmu untuk mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi tidak untuk datang ke kantor Papah. Aku justru senang, mendengar bahwa kamu ingin memberikanku kejutan," Tutur Daffa lembut.


"Jadi, jangan menyalahkan diri sendiri lagi, ya?" Sambung Daffa kembali, yang diikuti anggukan dari Safira.


"Oh iya, sayang, aku akan mempekerjakan lima body guard untuk menjagamu nanti. Aku harap, kamu tidak lagi menolaknya." Ucap Daffa memberi tahu.


"Iya, Mas. Baiklah." Jawab Safira yang akhirnya menyetujui.


Daffa yang baru ingat, bahwa dirinya belum menyapa sang buah hati sejak tadi, pun langsung mendekatkan wajahnya pada perut Safira.

__ADS_1


"Sayang, terimakasih sudah tumbuh dengan baik. Hari ini, anak Papah benar-benar hebat.!" Ucap Daffa seraya mengusap lembut perut Safira.


__ADS_2