Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
67. Friska Ditangkap


__ADS_3

Untuk melarikan diri namun tidak berhasil karena tenaga Daffa cukup kuat.


"Kalian pasti sudah tau siapa dia, saya hanya ingin memberitahukan bahwa dia telah menculik dan menyandera istri saya"


"Yang memanggil mereka kesini pasti lo kan, Daff?" Bisik Friska kesal.


"Iya, lo pikir gue akan melepaskan lo begitu aja? Gue gak sebaik itu Friska! Dan, selamat mendekam di jeruji besi"


"Maksud lo apa?"


Daffa hanya mengarahkan matanya ke arah lain, di mana polisi berada.


"Sialan lo, Daff! Tega lo melakukan ini semua ke gue!" Ucap Friska.


"Lo pantas mendapatkan ini semua!" Pungkas Daffa meninggalkan Friska bersamaan dengan polisi yang sudah membawa Friska dengan tangan yang terborgol.


"Lepasin!" Teriak Friska.


Daffa dengan cepat melepaskan ikatan pada tubuh Safira, ketilka ikatannya sudah berhasil terlepas.


Daffa pun mengambil cadar milik istrinya yang terjatulh di lantai dan mengenakannya kembali.


"Maafkan aku sayang, jika aku datang sedikit terlambat" Ucap Daffa dengan memeluk Safira erat.


"Iya mas, terimakasih banyak sudah menyelamatkan aku"


"Apa tubuhmu ada yang terluka sayang?"


"Nggak ada mas"


"Katakan kepadaku, apa saja yang Friska sudah lakukan kepadamu"


"Dia hanya menamparku saja mas"


"Hanya? Mana bisa itu dikatakan hanya! Apakah wajahmu baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja, seperti yang mas Daffa lihat" Ucap Safira lembut.


Disela-sela obrolan keduanya, dua orang polisi pun datang.


"Permisi pak, kami akan membawa pelaku yang lainnya" Ucap salah satu polisi.


"Tunggu" Cegah Safira ketika salah satu polisi hendak menangkap Agatha.


"Kenapa sayang?" Tanya Daffa kepada Safira.


"Dia tidak bersalah mas" Tutur Safira.


"Tapi dia itu bagian dari mereka sayang"


"Nggak mas, justru dia yang ingin menolongku tadi"


"Benarkah?"


Daffa pun mendekat ke arah Agatha. Dan menatap laki-laki yang tengah lunglai lemah itu.


"Apa mas Daffa bisa membawanya ke rumah sakit? Kita harus menolong dia mas,


bagaimanapun juga dia telah menolongku tadi" Pinta Safira.


"Baiklah, aku akan memanggil ambulans kemari untuk membawanya" Kata Daffa.


"Kita pulang sekarang ya?" Lanjut Daffa kembali.

__ADS_1


"Iya mas"


Daffa pun melepaskan jasnya dan memasangkan di tubuh Safira agar tidak kedinginan akibat basah.


Kemudian Daffa pun menggendong Safira ala bridal style.


"Mas, turunin aku. Aku bisa jalan sendiri" Cicit Safira yang malu karena dilihat oleh polisi dan Agatha yang berada di sana.


"Nggak bisa sayang, bagaimanapun juga kamu adalah korban di sini. Kamu harus


mendapatkan perawatan setelah ini"


"Aku baik-baik saja mas"


"Aku bisa memastikan bahwa kamu baik-baik saja, ketika dokter sudah memeriksa keadaanmu langsung. Sebaiknya kita sekarang pulang untuk mengganti pakaian, setelah itu kita harus ke rumah sakit"


"Tapi mas--"


"Diam dan patuhlah sayang"


"Baiklah mas"


"Syukurlah dia baik-baik saja" Gumam Agatha dalam hati yang sedari tadi memperhatikan Safira dan Daffa.


Daffa yang baru saja sampai di rumah, langsung berjalan menuju kamar dengan terus menggendong Safira ala bridal style.


Meskipun Safira sudah menolak untuk


digendong, namun Daffa tidak memperdulikannya dan tetap menggendongnya.


Ketika Daffa dan Safira sudah sampai di dalam kamar mereka, Daffa pun mendudukkan Safira di atas ranjang.


"Sebelum kita ke rumah sakit, lebih baik kamu mandi dulu ya sayang.


"Iya mas. " Ucap Safira seraya berdiri dari posisinya saat ini.


"Kamu tunggu di sini dulu, biar aku saja yang menyiapkan air hangat untuk kamu mandi, beserta pakaian gantinya. " Kata Daffa dengan mendudukkan Safira kembali.


"Baiklah."


Daffa pun menggulung lengan kemejanya sebelum menyiapkan air hangat untuk Safira berendam di kamar mandi, kemudian di lanjut dengan menyiapkan handuk dan


pakaian ganti milik Safira.


Sedangkan Safira yang sedari tadi hanya duduk di atas kasur pun terus tersenyum melihat Daffa yang sibuk menyiapkan kebutuhan dirinya dengan sangat telaten.


"Ayo sayang, air hangatnya sudah siap. " Ajak Daffa kepada Safira.


"Terimakasih banyak ya, mas. Ucap Safira.


"Kamu tidak perlu berterimakasih sayang, itu sudah menjadi kewajibanku," Kata Daffa.


"Lebih baik sekarang kamu mandi, nanti airnya keburu dingin sayang. " Lanjut Daffa kembali.


"Iya mas. " Pungkas Safira seraya berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.


"Berhenti sayang!" Cegah Daffa cepat.


Tanpa mengatakan apa pun Daffa langsung menggendong Safira dan membawanya masuk ke kamar mandi.


"Mas Daffa, turunin aku ih. "


"Nggak!" Tolak Daffa dengan terus menggendong Safira.

__ADS_1


Langkah Daffa terhenti, ketika sudah sampai di depan bathup yang sudah diisi dengan air hangat oleh Daffa sebelumnya.


Daffa pun menurunkan Safira dengan


pelan-pelan. Namun Safira hanya menatap


Daffa bingung, ketika suaminya tetap diam di tempat, bukannya keluar dari kamar mandi, justru berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada.


"Mas Daffa keluar dulu, aku mau mandi. "


"Nggak bisa sayang, aku akan tetap di sini


dan mengawasimu. Tenagamu belum sepenuhnya pulih akibat ulah Friska tadi, jadi aku harus merawatmu dengan baik."


Safira hanya menghela napasnya panjang. Safira pun memilih pasrah dan mematuhi apa yang suaminya katakan.


"Baiklah, kalau begitu mas Daffa balik badan dulu" Titah Safira.


"Kenapa?"


"Aku ingin melepaskan pakaianbdulu.


"Mengapa harus balik badan? Kamu istriku sayang, jadi tidak perlu malu. Lagi pula aku sudah melihat semuanya.


BUGH


Karena merasakan malu, Safira pun memukul dada bidang milik Daffa secara tiba-tiba.


"Aww, sakit sayang. " Pekik Daffa.


"Balik badan mas! " Titah Safira kembali dengan wajah yang sudah terlihat merah padam.


"Hahaha baiklah, baiklah. "


Daffa memilih untuk menuruti perintah istrinya yang sepertinya sedang


dilanda rasa malu. Ketika Daffa sudah membalikkan badannya, Safira dengan cepat melepaskan pakaiannya dan langsung masuk ke dalam bathup.


Saat terdengar Safira sudah mulai masuk ke dalam bathup, Daffa pun bertanya kepada istrinya itu.


"Sudah sayang?"


"Sudah mas, " Jawab Safira dengan menutupi area tubuhnya dengan menggunakan tangannya.


GLUK


Daffa menelan salivanya kasar ketika melihat pemandangan di depannya saat ini.


"Mas Daffa ih, jangan liat! " Cicit Safira yang masih terdengar oleh Daffa.


"Aku tiba-tiba gerah sayang, apa aku boleh bergabung mandi? " Goda Daffa kepada Safira.


"Mas Daffa!"


***


"Dok, bagaimana keadaan istri saya? " Tanya Daffa ketika Safira baru selesai diperiksa oleh dokter Kayla.


"Keadaan nona Fira baik-baik saja tuan, jadi tidak perlu ada yang di cemaskan." Ujar dokter Kayla.


"Sungguh, dok? Coba periksa sekali lagi dengan teliti. " Pinta Daffa yang masih kurang yakin.


Dokter Kayla pun akhirnya memeriksa ulang keadaan Safira sesuai permintaan Daffa.

__ADS_1


__ADS_2