Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
107. Fakta Keluarga Agatha


__ADS_3

Setelah Fitria menyetujui ajakan Agatha yang sebenarnya Fitria juga tidak tahu kemana Agatha akan membawanya, Fitria memilih diam sepanjang perjalanan tanpa banyak bertanya, namun tidak jarang Fitria


sesekali melihat ke arah Agatha yang


saat itu tengah mengendarai mobil miliknya.


"Ada apa?" Tanya Agatha yang menyadari bahwa Fitria mencuri pandang kepadanya sejak tadi.


Sementara Fitria yang tiba-tiba saja kikuk, pun langsung membuang wajahnya ke arah lain agar Agatha tidak melihat ekspresinya saat ini.


"Tenang saja, gue gak akan menculik wanita kayak lo." Celetuk Agatha membuat Fitria dengan cepat menatap sebal ke


arahnya.


"Maksudnya apa dengan wanita kayak gue?" Tanya Fitria penuh intimidasi.


Namun bukannya Agatha menjawab, Agatha justru mengarahkan kaca spion dalam ke arah wajah Fitria. Sedangkan Fitria yang tidak mengerti dengan apa yang Agatha maksud, pun hanya mengerutkan


keningnya samar.


"Masih belum mengerti juga?" Tanya Agatha, yang disambut gelengan kepala kepala oleh Fitria.


"Apa lo nggak melihat, betapa menyeramkannya itu?" Tanya Agatha kembali.


Fitria yang berusaha mencerna ucapan Agatha, pun hanya diam seraya berpikir.


"Sialan lo, Ta! Jadi maksud lo wajah gue menyeramkan? Begitu? Heuh?" Tanya Fitria kesal setelah berhasil menangkap maksud dari ucapan Agatha itu.


Namun, bukannya Agatha merasa bersalah. Agatha justru tertawa dengan cukup puas saat melihat wajah Fitria yang begitu menatapnya kesal.


Tanpa terasa perjalanan keduanya yang memakan waktu tiga puluh menit itu, pun telah sampai di tujuannya. Ketika Agatha baru saja menghentikan mobilnya di depan


salah satu toko baju yang terbilang tidak begitu besar, Fitria langsung melihat ke arah jendela untuk melihat keberadaannya


saat ini.


"Bukankah lo ingin mengajak gue ke suatu tempat, Ta? Kenapa lo malah mengajak gue belanja?" Tanya Fitria membutuhkan penjelasan.


"Tinggal ikuti saja, lo pasti akan tahu sendiri nanti." Jawab Agatha, kemudian langsung bergegas keluar dari mobil itu, diikuti oleh Fitria Tanpa mengajak Fitria.


Agatha masuk lebih dulu ke dalam toko itu.


Membuat Fitria berlari kecil mengejarnya.


"Bisa-bisanya lo meninggalkan gue sendirian di luar, Ta!" Desah Fitria kesal ketika sudah memasuki toko baju itu.


Tanpa mengatakan apa pun Agatha langsung menarik tangan Fitria dan mengajaknya duduk di kursi yang tersedia di toko baju tersebut. Kemudian Agatha pun melihat ke arah seorang wanita paruh


baya yang tengah sibuk melayani

__ADS_1


beberapa pembelinya.


Fitria yang merasa penasaran dengan sesuatu di depan sana yang berhasil mencuri atensi Agatha, pun langsung mengikuti arah netra laki-laki itu.


"Dia siapa, Ta?" Tanya Fitria dengan netra yang masih sibuk menyaksikan kesibukan wanita paruh baya di sana.


"Dia, Mamah gue. Namanya Rosa." Jawab Agatha tanpa melihat ke arah Fitria sedikit pun, seolah wanita paruh baya itu telah menghipnotis Agatha.


Sementara Fitria yang merasa terkejut mendengar itu langsung mengalihkan pandangannya ke arah Agatha.


"Kenapa? Lo kaget?" Tanya Agatha, yang kali ini beralih menatap ke arah Fitria.


"Ng-nggak, siapa bilang!" Jawab Fitria cepat, bersamaan dengan gelengan kepalanya.


"Pasti nggak menyangka kan, kalau kehidupan Papah dan Mamah gue sangat berbeda?" Tanya Agatha, yang terpaksa dijawab anggukan kepala oleh Fitria, karena sejujurnya di dalam hati kecil Fitria begitu amat ingin tahu.


"Karena Papah dan Mamah gue sudah bercerai sejak gue duduk di bangku SMA." Ujar Agatha menceritakan.


Sebuah Fakta lain tentang Agatha yang baru saja Fitria tahu. Fitria benar-benar tidak menyangka jika Agatha tumbuh di keluarga yang tidak utuh, tidak seperti dirinya. Sesaat, Fitria jadi teringat nasehat dari Safira mengenai Agatha.


"Ta, sejak kapan kamu datang?" Tanya seorang wanita paruh baya yang baru saja menghampiri keduanya.


"Belum lama, Mah." Jawab Agatha.


"Ini siapa, Ta? Apakah-" Tanya Rosa yang sengaja menggantungkan ucapannya.


"Halo Tante, kenalkan, aku Fitria" Sapa Fitria ramah.


Ucap Rosa, membuat Fitria yang semula hendak menyambar Agatha dengan ocehannya, pun mengurungkan niatnya kembali.


"Anggun dan manis? Mamah tidak tahu saja jika dia seperti singa betina." Monolog Agatha dalam hati.


"Apakah Agatha menceritakan tentangku seperti itu, Tan?" Tanya Fitria berusaha tersenyum ramah Yang disambut anggukan kepala oleh Rosa.


Sementara Agatha yang menyadari bahwa Fitria tengah menahan kesal kepadanya, pun hanya menatapnya dengan penuh ejekan.


"Kalian belum makan, 'kan?" Tanya Rosa kepada keduanya.


"Belum Mah." Jawab Agatha cepat, pasalnya Agatha sangat menyukai masakan Mamahnya tersebut.


Baginya, tidak ada yang bisa menandingi cita rasa buatan Mamah Rosa.


"Ya sudah, kalau begitu Mamah akan menyiapkan makan siang untuk kalian dulu di dapur."


Meskipun toko baju Rosa bisa terbilang tidak begitu besar. Namun, jika hanya untuk sebuah dapur sudah tersedia di sana. Rosa sengaja mencari toko yang menyediakan dapur di area belakangnya, karena kedua putranya sering selkali datang ke toko baju


miliknya hanya untuk makan siang bersama menikmati masakan Rosa.


"Baik Mah." Sahut Agatha penuh semangat.

__ADS_1


Tidak ingin Agatha dan Fitria merasa kelaparan, Rosa pun langsung bergegas menuju dapur untuk menyiapkan hidangan makan siang.


Sementara Fitria yang sedari tadi hanya diam pun merasa tidak enak sendiri karena tidak banyak membantu. Fitria pun memutuskan untuk menyusul Rosa di dapur.


"Mau kemana, lo?" Tanya Agatha ketika Fitria bangkit dari posisinya.


"Mau bantu Tante Rosa lah, memangnya gue itu lo. Yang maunya menikmati makanannya saja tapa ingin bersusah payah." Sindir Fitria kepada Agatha sebelum meninggalkan Agatha di sana.


"Ngapain di sini, Fit. Sudah ke depan saja. Nanti bajumu jadi kotor." Kata Rosa, yang tidak ingin Fitria sampai repot-repot membantunya.


"Nggak apa-apa Tante, justru aku sangat senang bisa membantu."


"Baiklah, jika itu kemauan mu." Ucap Rosa akhirnya menyetujui.


Namun, sebelum Fitria membantunya. Rosa meminta Fitria agar duduk terlebih dahulu agar dirinya bisa membantu menguncirkan rambut milik Fitria. Sedangkan Fitria langsung menurutinya saja tanpa menolak sedikit pun.


Setelah rambut Fitria sudah selesai Rosa bantu ikatkan. Rosa kembali membantu


Fitria untuk memasangkan apron agar pakaiannya tidak terkena noda dari dapur. Mamah Rosa benar-benar mertua idaman!


"Terimakasih banyalk, Tante." Ucap Fitria merasa tidak enak karena diperlakukan bak princess oleh Rosa.


Sedangkan dengan anaknya? Sungguh sangat berbanding terbalik dengan Agatha! Batin Fitria.


"Iya, sama-sama. Kalau gitu apakah bisa tolong potongkan wortel itu, Fit?" Tanya Rosa sebelum memulai aktivitas masaknya.


"Bisa, Tante." Jawab Fitria penuh semangat, padahal jelas-jelas Fitria sama sekali belum pernah memasak di dapur, apalagi memotong sayur.


Biasanya di rumah Fitria selalu mengandalkan asisten rumah tangganya saja, tanpa pernah terpikir sampai harus belajar memasak sendiri.


"Kalau gitu tolong ya, Fit." Kemudian keduanya pun mulai sibuk dengan bagiannya masing-masing.


Di sela-sela kesibukan keduanya, Rosa tiba-tiba saja mengatakan sesuatu yang berhasil membuat Fitria bergeming sesaat.


"Agatha itu sebenarnya baik, hanya saja pembawaan dia yang terkesan arogan."


"Sebelumnya Fira pun mengatakan bahwa Agatha adalah orang yang baik. Dan sekarang, Mamahnya pun mengatakan


demikian. Apakah dia memang seperti itu?" Monolog Fitria dalam hati.


"Fit." Panggil Rosa saat menyadari bahwa Fitria tengah melamun saat di ajak berbicara dengannya.


"Ah, iya Tante." Sahut Fitria yang baru saja tersadar dari lamunannya.


"Apakah kamu menyukai anak Tante?" Tembak Rosa ramah.


"A-aku--"


"Tante mengerti jika kamu memang belum menyukai Agatha untuk saat ini. Tapi pesan Tante hanya satu, Fit. Tolong jangan sakiti

__ADS_1


dia, ya. Karena dia sudah banyak menerima penekanan dari Papahnya sejak kecil."


__ADS_2