Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
130. Akhirnya Unboxing


__ADS_3

Tidak seperti pasangan baru pada


umumnya yang melakukan honeymoon diisi dengan memadu kasih. Namun tidak dengan Agatha dan Fitria, dari hari pertama


keduanya telah sah menjadi pasangan


suami istri hingga di hari terkahir honeymoon-nya di Maldives, keduanva sama sekali belum melakukan malam pertama.


Di sebuah kamar yang begitu luxury dengan bantuan pencahayaan dari lampu tidur, Agatha dan Fitria tengah berbaring bersebelahan dalam satu ranjang. Tidak ada sedikit pun suara dari keduanya yang terdengar.


Padahal, baik Agatha maupun Fitria


sama-sama masih terjaga satu sama lain.


Sesekali Fitria memalingkan kepalanya ke arah Agatha yang berada di sampingnya, kemudian Fitria kembali menatap langit-langit kamar yang berwarna putih itu


kembali.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Agatha yang berhasil memecahkan kecanggungan di antara keduanya.


"Gue belum ngantuk, lo sendiri kenapa belum tidur?" Tanya Fitria balik, dengan memalingkan wajahnya ke arah Agatha, dan diikuti oleh Agatha setelahnya hingga jarak wajah keduanya begitu dekat.


"Gue juga belum ngantuk." Ucap Agatha dengan netra yang menatap Fitria begitu lekat.


Setelah itu tidak ada lagi yang mengeluarkan suara kembali, hanya netra keduanya saja yang saling beradu, seolah mereka berbicara melalui bahasa mata.


Tiba-tiba, Agatha menangkap wajah Fitria dan mendaratkan ciuman di bibir wanita yang saat ini telah menjadi istrinya.


Setelah Agatha telah melepaskan ciumannya yang berlangsung beberapa menit itu, keduanya saling melihat ke arah kaki Fitria yang terpasang gips di bawah sana. Kemudian keduanya saling tertawa


kecil.


"Pasti akan sedikit sulit," Celetuk Agatha membuat wajah Fitria merah


padam.


"Kita lakukan pelan-pelan saja, ya. Gue janji, nggak akan mengenai kaki lo." Sambung Agatha kembali yang disambut anggukkan kepala oleh Fitria.


Kemudian, ciuman yang sempat Agatha hentikan sejenak, pun Agatha lanjutkan kembali.


***


"Jadi, dia sudah menikah?" Tanya seorang wanita muda yang tengah berbicara dengan seorang wanita paruh baya.


"Iya, tidak adil, 'kan? Bagaimana bisa dia hidup bahagia di luar sana setelah dia berhasil menjungkirbalikkan kehidupanmu


seperti ini." Ucap wanita paruh baya itu penuh kekesalan.

__ADS_1


Wanita muda itu, pun meraih sebuah kertas dan menuliskan sesuatu di sana, dan memberikannya kepada wanita paruh baya di hadapannya.


"Semoga kejutan dariku bisa menghancurkan kebahagiaannya." Ujar wanita muda itu menyeringai.


Sebelum Agatha dan Fitria meninggalkan hotel dan menuju ke bandara, Agatha terus dibuat bingung dengan sikap Fitria yang tidak seperti biasanya. Setelah semalam keduanya telah melakukan malam pertama, sikap Fitria benar-benar telah


berubah menjadi sangat pemalu.


Ternyata, wanita yang seperti singa betina bisa lunak juga, ya. Apa gue, ah bukan, maksudnya, apakah aku sudah berhasil menjadi pawangmu?" Tanya Agatha mengusap pucuk kepala Fitria lembut.


"Aku?" Ucap Fitria mengulangi ucapan Agatha.


"Iya, aku. Mulai sekarang jangan ada lo, gue, di antara kita." Kata Agatha yang dikuti anggukkan kepala oleh Fitria.


"Apa kamu sudah siap?" Tanya Agatha membuat Fitria tersentak kaget dan langsung menatap laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.


"Siap apa? Bukankah kita akan ke bandara sekarang?" Tanya Fitria yang seperti salah mengartikan pertanyaan yang diberikan oleh Agatha.


"Iya, maksudku apa kamu sudah siap pergi ke bandara sekarang? Hahaha memangnya apa yang kamu pikirkan?" Agatha tertawa renyah membuat Fitria malu.


"Tidak ada," Kata Fitria menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.


Sesaat Agatha mendekatkan wajahnya ke telinga Fitria.


"Apa kamu menyukai permainan kita semalam?" Bisik Agatha pelan, membuat wajah Fitria menjadi merah padam saat mendengarnya.


BUGH.


"Wajahmu merah sekali." Goda Agatha mendekatkan wajahnya ke arah Fitria.


"Ayo!" Kata Fitria bangkit dari duduknya dan hendak pergi.


Namun, belum sempat Fitria melangkah, Agatha langsung meraih pergelangan tangan Fitria dan menahannya.


"Tunggu sebentar, aku akan menghubungi resepsionis dulu, untuk meminta bantuan staf agar membawakan koper milik kita." Ujar Agatha berjalan ke arah meja kecil


yang terdapat telepon yang di sediakan pihak hotel di sana.


Sedangkan Fitria hanya diam mematung seraya cengar-cengir sendiri saat memandangi Agatha yang tengah berbicara melalui sambungan Suara.


"Kenapa gue baru nyadar kalau dia begitu tampan. Jika mengingat kejadian semalam rasanya..." Gumam Fitria dalam hati, kemudian menggelengkan kepalanya cepat


untuk menyadarkan dirinya dari lamunan liar yang hampir saja memasuki pikirannya itu.


"Aduh apa yang gue pikirkan, sih" Monolog Fitria seraya mengipas-ngipaskan kedua


tangannya ke wajahnya.

__ADS_1


"Bagaimana jika kita melakukan itu lagi sebelum pergi?" Ucap Agatha dari balik tengkuk leher Fitra, membuat wanita itu tersentak kaget dibuatnya.


"Se-sejak kapan kamu di situ?" Tanya Fitria terbata-bata.


"Sejak kamu memikirkan--"


Buru-buru Fitria membekap mulut Agatha menggunakan tangannya.


"Stop!" Ucap Fitria yang dikuti anggukkan kepala oleh Agatha.


Namun, baru saja Fitria melepaskan tangannya dari mulut Agatha, laki-laki itu kembali membuka mulutnya hendak


menggodanya lagi.


"Kalau kamu tidak bisa diam, aku akan melakban mulutmu ini." Ancam Fitria yang akhirnya kesal karena terus menerus di goda oleh Agatha.


"Hahaha baiklah."


***


Arya dan Evi yang sudah menunggu kedatangan anak dan menantunya sedari tadi, tidak henti-hentinya terus menatap ke arah gerbang untuk menantikan keduanya


datang.


Karena Agatha dan Fitria menolak untuk di jemput di bandara dan memilih untuk pulang ke rumah dengan menaiki taksi, membuat Arya dan Evi semakin tidak sabar


menunggu kedatangan keduanya.


"Pah, apakah tidak lebih baik kita jemput mereka ke bandara saja?" Tanya Evi kepada Arya.


"Jangan Mah, lebih baik kita tunggu saja di rumah. Sebentar lagi juga mereka akan datang." Jawab Arya.


Tidak lama, sebuah mobil taksi mulai memasuki halaman rumah Arya. Evi yang sudah menebak bahwa itu taksi yang Agatha dan Fitria tumpangi, pun langsung bergegas mendekati taksi yang sudah terparkir di halaman rumahnya.


Senyuman Evi terpancar saat melihat Agatha yang baru saja keluar dari taksi itu, namun saat Fitria mulai keluar dengan di gendong oleh Agatha, senyuman Evi perlahan memudar dan memasang wajah


Cemas.


"Ya Allah, apa yang terjadi?" Tanya Evi cepat.


"Pah, Papah, lihatlah. Kaki Fitria, Pah." Panggil Evi nampak panik.


Dengan langkah setengah berlari, Arya menghampiri istri, anak dan menantunya itu.


"Ada ap--" Ucapan Arya terhenti saat melihat Fitria yang dalam gendongan Agatha.


"Apa yang terjadi dengan kakimu, Fit?" Tanya Arya cepat.

__ADS_1


"Bagaimana jika kita masuk ke dalam dulu, Pah, Mah. Kasihan suamiku yang menggendongku seperti ini." Ucap Fitria yang langsung diükuti anggukkan kepala oleh Arya dan Evi.


Agatha pun membawa Fitria masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Arya dan Evi di belakangnya. Dan, disusul oleh asisten rumah tangga Arya yang membawa koper milik Agatha dan Fitria.


__ADS_2