Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
9. Mengenal Mas Adimas


__ADS_3

Mbok Jum berpesan waktu hendak akan pulang kalau Mas Adimas sering pulang larut malam. Mbok Jum menyuruhku untuk tidak menunggunya. Aku paham, dan siapa juga yang akan menunggunya? Bodoh! Kami berdua belum memutuskan untuk saling mengenal.


Besok adalah hari terakhir bulan maduku yang seharusnya di Bali. Setelah itu aku akan masuk kuliah seperti biasa. Dan aku juga sudah menyiapkan mentalku untuk mereka yang akan menyerang ku dengan berbagai pertanyaan. Bagi salah satu dari mereka yang tidak sengaja mendengar aku sudah menikah. Aku akan berterus terang jujur mengakuinya.


Makan malam sudah dibuatkan sama Mbok Jum. Dan tentu saja makanan itu disajikan hanya untukku dan satpam. Suamiku sudah pasti makan di luar. Agak sedih sih, belum satu minggu rasanya menikah dengannya. Aku sudah tidak bahagia. Kupikir dinner romantis di Bali saat itu, kebahagiaanku yang merasa sebagai wanita yang dispesialkan, diutamakan, paling dicintainya begitu saja sirna. Setelah aku mendengar beberapa karyawannya merendahkan aku. Dan kenyataan yang tak terduga bahwa suamiku dan kakakku saling mengenal satu sama lain.


Mengapa kau tak bilang padaku? Mengapa Kakak juga tak bilang padaku? Bahwa kalian berdua saling kenal? Mengapa kalian berdua diam saja? Menyembunyikan semua ini? Tidak ... aku tidak boleh berfikiran negatif. Apabila ada fakta-fakta yang tidak aku ketahui, aku tak sanggup berperan menjadi istri yang baik baginya.


Aku tak tahu jam berapa Mas Adimas pulang kerja kalau larut malam. Sebelum ia pulang aku berkesempatan untuk mencari tahu tentangnya lewat ruangan tertutup yang tak boleh dimasuki oleh siapa pun. Aku tak peduli lagi dengan larangan tersebut. Suara hatiku terus bergerak dan bersua aku harus memasukinya. Sayangnya aku tak tahu dimana ia akan menyimpan kuncinya.


Rumah sebesar ini, bagaimana aku mencarinya? Mungkin di kamar pribadinya. Orang seperti dia pasti punya kamar pribadi, kan? Ada banyak kamar di rumah ini. Dan aku tidak tahu kamarnya yang mana? Aku coba untuk mencari kuncinya di kamar kita berdua. Siapa tahu kamar kita sebelumnya adalah kamar pribadinya.


Dan ternyata aku tidak menemukannya. Aku coba mencarinya di kamar yang lain. Belum sampai 15 menit aku sudah takut memasuki tiap-tiap kamar kosong ini. Rasanya seram berada sendirian di rumah sebesar ini. Kurasa aku akan cepat jenuh bila terus sendirian di sini. Pada akhirnya aku menyerah mencari kunci tersebut. Dan memutuskan untuk melanjutkannya besok.


Waktu sudah menunjukkan jam 9 malam. Aku kembali ke kamar dan tidur. Pintu ruang tamu sudah ku kunci dengan aman. Dengan begitu aku bisa tidur dengan nyenyak. Untuk Mas Adimas, kata Mbok Jum dia punya kunci duplikat rumah ini. Jadi aku tak perlu khawatir.


***


Adzan berkumandang pertanda subuh telah tiba. Aku berencana bangun lebih awal. Tiba-tiba aku dikagetkan dengan pergelangan tangan yang kuat merangkul tubuhku. Ini tangan Mas Adimas? Ya Allah ... Dia tidur denganku lagi! Wajar sih, aku istrinya dan dia berhak tidur denganku.


Jam berapa Mas Adimas pulang? Aku penasaran dan ingin tahu dari mulutnya sendiri tanpa aku harus bertanya padanya. Aku melepaskan tangannya yang memeluk tubuhku pelan-pelan. Lalu segera mandi kemudian membukakan pintu untuk pelayan.


Pelayan atau pembantu Mas Adimas semua tidak tidur di sini. Mereka semua lebih memilih tidur di rumahnya masing-masing. Apa karena rumah ini serasa horor ya makanya mereka takut dan memilih tidur di tempat tinggal mereka sendiri. Atau mungkin ada alasan lain yang membuat mereka lebih suka karena bisa berkumpul keluarga.


Jam 6 semua pembantu Mas Adimas datang dan mulai bekerja. Persediaan makanan kulihat masih banyak di kulkas. Biasanya yang belanja kadang Mas Adimas sendiri saat-saat libur bekerja. Aku membuat sarapan untuk diriku sendiri. Sementara Mbok Jum aku memintanya membuat sarapan untuk Mas Adimas.


"Nyonya kenapa tidak nyonya saja yang membuat sarapan untuk Tuan?" tanya Mbok Jum tiba-tiba yang jemarinya sibuk mengupas kentang.

__ADS_1


"Takut masakanku nggak enak Mbok!"


"Belum dicoba kok malah pesimis begitu!"


"Memang nyatanya begitu Mbok! Aku, kan nggak bisa masak!"


Mbok Jum terdiam dan berfikir sesaat mendengar jawabanku yang mungkin pertanyaan Mbok Jum tadi telah menyinggungku. Padahal aku biasa saja.


"Kenapa Mbok Jum diam?! Mbok Jum nggak usah takut akan menyinggungku! Memang nyatanya begitu kok! Saya tidak berniat belajar memasak untuknya. Apalagi membuatkan makanan untuknya!"


Deg!


Lagi-lagi Mbok Jum diam kemudian tersenyum. Entah apa yang ada dalam pikirannya aku tak bisa menebaknya. Aku membuat telur ceplok sebanyak 2 butir. Selesai aku sajikan di meja makan dengan kecap sate favoritku. Dan roti tawar dengan selai coklat bertabur misis. Air putih dan susu vanila hangat.


Terdengar suara sepatu tampaknya Mas Adimas sudah bangun. Ia hendak ke ruang makan. Jantungku berdegup kencang. Entah perasaan apa ini, aku tak bisa menjelaskannya. Ku nikmati saja sarapan yang kusiapkan untuk diriku sendiri. Wajah Mas Adimas tiba-tiba berubah saat melihatku makan sendiri dengan lahapnya. Sementara di meja kursinya tampak kosong.


"Hmm, kayaknya apa yang kamu makan rasanya enak sekali ya?" katanya sedikit masam yang tetap masih berdiri di depan meja makan.


Sial, kata-katanya membuatku merasa bersalah sekaligus tertampar olehnya. Ya ... Aku memang bersalah. Sebagai seorang istri harusnya aku melayaninya. Bukan mengabaikannya.


"Aku nggak bisa masak Mas! Jadi Adik nggak berani membuatkan sarapan untuk Mas Adimas," kataku berterus terang.


"Nggak apa-apa kok. Mas nggak masalah Adik nggak bisa masak. Meskipun nggak enak tetap Mas makan kok! Jadi Adik nggak usah khawatir!"


"What's?! Aku nggak salah dengar nih! Mas bilang begitu, berharap aku tetap bisa membuatkan makanan untuknya meski terasa nggak enak, kan?!" pikirku.


"Oh ya kemarin apa Adik pergi ke Kantor Mas?" Tiba-tiba Mas bertanya mungkin ada kaitannya dengan bekal yang dibiarkan tergeletak di meja.

__ADS_1


"Iya Mas, kenapa?" tanyaku balik. Ingin tahu apa yang dikatakan Mas Adimas selanjutnya.


"Kenapa nggak hubungi Mas kalau mau mengantarkan bekal?!"


"Aku nggak punya nomor ponselnya Mas!" jawabku singkat.


Mas Adimas menghela nafas merasa bersalah. Kedua tangannya meraup wajahnya yang tampan kemudian berubah kusut.


"Apa terjadi sesuatu di Kantor?"


"Mas tanya aja ke resepsionisnya! Aku nggak mau membahasnya!"


"Adik marah?!"


Aku terdiam sesaat setelah mendengarnya. Haruskah aku menjawabnya dengan jujur kalau memang sedang kesal dan marah? Tapi jika aku jujur dahulu, aku takut ke belakangnya nanti aku tak bisa tahu tentangnya lebih jauh lagi.


"Untuk apa aku marah? Kemarin aku ke sana ketika Mas sudah nggak ada jadi aku kembali." Sengaja aku berbohong.


"Ya sudah kalau gitu. Lain kali hubungi Mas ya?"


"Ya."


Mbok Jum sudah selesai menyiapkan sarapan untuk Mas Adimas. Sementara aku sudah menghabisi makananku. Aku meninggalkannya makan sendirian di meja. Meski sebenarnya Mas Adimas tampak tidak senang makan sendirian.


Aku tak mengerti dengan ekspresi yang Mas Adimas tunjukkan pagi ini. Kalau aku menilai Mas Adimas menyukaiku itu mustahil dan terasa terlalu cepat. Apa yang ia lakukan di resepsi dan dinner di Bali saat itu, adalah wajar dan kewajibannya sebagai suami. Dan semata-mata di mata publik kita benar-benar suami istri.


Semakin ke sini aku semakin ingin tahu lebih banyak tentangmu Mas!

__ADS_1


***


__ADS_2