Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
Selamat Tinggal


__ADS_3

Dipaksa Menikah Bagian 32


Oleh Sept


Rate 18 +


POV Sofi


Sebuah suara membuatku tersentak, aku panik campur gelisah. Aku berharap itu bukanlah Garda. Berkali-kali hatiku merapal doa dan rupanya, dewi fortuna benar-benar memihakku.


Pihak keamanan Bandara ternyata banyak yang naik ke dalam pesawat, semuanya mengamankan para pria berpakaian serba hitam yang hendak menganggu penerbangan.


Dari suaranya, aku rasa mereka semua sedang bersitegang. Hingga ketika seorang salah satu dari mereka mengucap kata turun dengan tegas, tiba-tiba suasana menjadi hening. Para anak buah suamiku sepertinya turun satu persatu. Meski terpaksa, mereka harus meninggalkan pesawat dengan segera. Karena pesawat ini harus lepas landas.


"Apa semuanya sudah pergi?" bisikku dengan perasaan yang campur aduk. Tanganku masih terasa dingin karena takut ketahuan.


"Ya ... Kita sudah aman!" ucap Juna dengan hembusan napas penuh kelegaan.


Akhirnya, aku juga bisa bernapas lega. Selama perjalanan aku yang kelelahan karena sempat berlarian di Bandara tadi, kini mulai menguap berkali-kali. Beberapa saat kemudian, aku sudah tidak ingat. Tahu-tahu Juna menepuk pundakku.


"Sof! Kita sampai!"


Suara Juna terdengar pelan, mungkin tidak ingin membuatku terkejut. Dan aku pun membuka mata, kulihat satu persatu penumpang mulai turun.


Akhirnya aku dan Juna, kami sama-sama turun di sebuah Bandara yang sangat ramai itu. Juna sejak tadi memperhatikan sekitar, dan sepertinya semuanya aman. Kami tidak perlu panik, karena anak buah suamiku tidak terlihat sama sekali di sini.


***


"Maaf, kita harus makan di sini!" ucap pemuda yang kabur bersamaku.


Aku tersenyum tipis, ya kami harus makan di tempat sepi dan sangat sederhana untuk menghindar dari kejaran suamiku dan para anak buahnya. Kami tidak bisa makan di tempat nyaman dan bersih, karena akan memudahkan suamiku menangkap aku lagi.


"Maaf, Jun. Maaf karena harus menyeretmu dalam masalahku," ucapkku yang tidak enak karena harus membawa Juna dalam masalahku.


Pria itu malah mengusap kepalaku, persis seperti yang ia lakukan saat kami pacaran dulu. Tapi sayang, getar-getar itu tidak sama. Aku malah merasa Juna seperti sosok kakak bagiku.


Aku merasa cintaku padanya kini sudah berubah, benar-benar tidak sama seperti aku dulu yang begitu mengilainya. Dan, tiba-tiba lagi aku justru mengingat bayang-bayang suamiku.

__ADS_1


Mendadak aku merasa jengkel, karena aku menyadari satu hal, selama ini dia hanya menyukai wajahku yang sama dengan kekasihnya. Bukan karena cinta denganku, itu hanya obsesi gila suamiku. Apalagi ada anak di antara mereka. Seketika hatiku serasa sesak.


Dan sepertinya Juna memperhatikan perubahan ekspresi wajahku.


"Kamu kenapa?" tanya pria itu lembut. Tapi terdengar mengelikan di telingaku.


Aku hanya menggeleng, kemudian kembali makan. Aku harus makan untuk bisa mendapat energi. Agar aku bisa lari dari suamiku yang gilaa tersebut. Sudah ada wanita dan anak itu, lalu mengapa dia terus mengejarku. Ini membuatku sangat marah.


Entahlah, aku marah karena cemburu atau marah karena hal yang lainnya. Sebal, aku makan dengan cepat. Membuat aku tersedak. Untung Juna langsung memberikan aku sebotol air mineral.


"Pelan-pelan, Sof!" seru Juna sambil menepuk punggungku.


Aku hanya diam, lalu melanjutkan makanku. Dengan mata yang tiba-tiba terasa perih. Sungguh, aku sangat marah pada suamiku. Ketika dia sudah bersama perempuan lain, mengapa dia mengejarku seperti pencuri?


***


Kami bermalam di salah satu hotel bintang tiga, ini untuk menghemat uangku. Aku tidak punya lagi uang cash. Meski dalam tabunganku terdapat sangat banyak. Ya, uang siapa lagi kalau bukan uang mahar yang diberikan suamiku.


Tapi percuma, itu hanya nominal yang hanya bisa dilihat tanpa bisa kupakai. Aku takut jika mengambil uang itu lagi, maka suamiku bisa mengendus jejakku kembali.


"Jun, rasanya tidak mungkin kita kabur ke LN," ucapku yang merasa putus asa.


Juna menatapku sambil berpikir. Mungkin dia juga tahu, kalau itu juga berat sebab aku tidak mungkin mengambil uang lagi dari tabungan.


"Lalu kamu mau menyerah dan kembali?"


Aku jelas menggeleng.


"Ke tempat lain, tempat yang tidak bisa ditemukan suamiku," ucapku.


Esok harinya, setelah check out kami langsung naik bis. Dengan membawa baju yang hanya dua lembar, kami kembali nekat lari jauh.


Entah kota apa yang sudah kami lewati, dan sudah berapa gunung yang terlewatkan. Bus yang kami tumpangi terus berjalan. Beberapa jam sekali bis yang kami tumpangi berhenti di sebuah rest area. Kami makan sebentar dan ke kamar kecil. Setelah itu, bis kembali berjalan. Berjalan hingga hari berganti.


Sudah 12 jam lebih kami berada di bus, dan akhirnya kami sampai di kota tujuan. Sebenarnya bukan kota tujuan, ini hanya kota persinggahan. Sebab, habis dari kota ini, kami masih harus naik mobil sayur. Ya, kami numpang mobil pick up yang membawa sayur.


Ya Tuhan, ini benar-benar pelarian yang sangat berkesan. Aneh, sepanjang hari bukannya sedih kami berdua malah saling memandang dan sesekali terkekeh. Meresapi lucunya skenario hidupku.

__ADS_1


CHITTTTT ....


"Sudah sampai! Kami mau menurunkan barang!" ucap sopir pick up.


Aku pun turun setelah Juna terlebih dahulu yang sudah ada di bawah. Ia membantuku turun di antara sayur-sayur yang tadi menemaniku.


Aku merasa, bauku sudah mirip sawi dan wortel, serta daun bawang yang sangat hijau dan segar tersebut.


"Terima kasih, Pak!" ucap kami bersamaan karena sudah diberi tumpangan.


Sopir hanya mengangguk dan kembali menurunkan bawaanya.


"Jun, kita akan ke mana?" tanyaku penasaran karena kami sudah berjalan cukup lama.


Kulihat kanan kiri pemandangan gunung, hampir sama dengan tempat pelarian yang pertama. Hanya saja sepertinya di sini tidak ada kuda. Yang ada banyak kambing yang sejak tadi mengembilkk sepanjang jalan yang kami lewati.


"Jun, aku capek. Bisahkan kita berhenti?"


Jalan semakin menajak, dan kakiku semakin lelah. Rasanya betiskuuu sudah berkonde.


"Sebentar lagi, sudah menjelang malam. Matahari mau terbenam. Tidak ada lampu jalan di sini. Tahan ya ..."


Aku menghela napas panjang, kemudian mengangguk. Mengingat hari mulai gelap, aku pun kembali berjalan.


Lima belas menit kemudian.


Tiba-tiba kepalaku terasa pusing, mataku berkunang-kunang. Tubuhku juga terasa lemas.


"SOFFF! Sofiii!"


Samar-samar kudengar suara Juna cukup kencang memanggil namaku. Aku tidak ingat bagaimana kejadiannya, yang jelas ketika aku membuka mata, aku sudah di semak-semak.


Sepertinya aku jatuh dan berguling-guling, setengah sadar aku bisa mendengar suara kepanikan Juna. Sedangkan aku, aku merasakan sesuatu yang basah di dalam sana. Bukan air, bukan. Seketika butiran bening keluar dari sudut mataku. Sampai akhirnya aku menutup mata karena pingsan. BERSAMBUNG



Kamu harus kuat Sofi ...

__ADS_1


__ADS_2