Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
101. Sandiwara Yang Menjadi Nyata


__ADS_3

SEBELUMNYA.


Tidak seperti biasanya Bayu yang selalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Namun kali ini, Bayu justru bersantai di rumahnya di jam-jam seperti ini bukan tanpa alasan, Bayu memang sengaja menunggu kedatangan Agatha untuk


melanjutkan pembicaraannya yang


sempat terhenti karena ke datangan


Fitria siang tadi.


Bayu langsung melihat ke arah pintu ketika mendengar suara pintu utama terbuka, Bayu yang semula tengah duduk, pun langsung bangkit dan mendekat ke arah Agatha yang baru saja masuk ke dalam rumahnya.


"Dari mana saja kamu, kenapa jam segini baru pulang?" Tanya Bayu yang membuat Agatha mengerutkan dahinya samar.


"Sejak kapan Papah memperdulikanku?" Tanya Agatha dingin, membuat Bayu yang


mendengar itu pun langsung membolakan matanya sempurna.


"Jaga ucapanmu, Ta! Kalau Papah tidak perduli denganmu untuk apa Papah memberikanmu kehidupan yang baik?" Ucap Bayu menaikkan sedikit nada bicaranya.


"Jadi Papah menyesal melakukan itu semua?" Tanya Agatha dengan sedikit memiringkan senyumnya.


"Sudahlah, jangan berpikir macam-macam. Intinya apa yang kamu pikirkan itu semuanya tidaklah benar." Ujar Arya, mencegah Agatha untuk berpikir negatif tentangnya lebih jauh.


"Tidaklah benar? Jadi, yang benar itu seperti apa, Pah? Apakah seperti mengabaikan ku dan Abang Arkana sejak kecil, karena Papah lebih mementingkan pekerjaan. Seperti itu?" Tanya Agatha dengan mengeluarkan semua unek-uneknya yang selama ini dia pendam sendiri.


Sedangkan Bayu yang tidak menyangka jika anaknya selama ini memendam begitu banyak luka akibat dirinya yang terlalu gila dengan pekerjaannya, pun hanya bergeming tanpa mengatakan apa pun.


"Kenapa Papah hanya diam saja? Apakah Papah baru menyadari kesalahan Papah selama ini?" Tanya Agatha dengan tersenyum hambar.


"Apa yang kamu katakan itu tidaklah benar, Ta. Papah melakukan itu semua juga untuk kalian," Jawab Bayu, yang disambut anggukkan kepala oleh Agatha.


Setelah itu, Agatha pun pergi meninggalkan Bayu tanpa mengatakan apa pun.


"Ikutlah dengan Papah nanti malam." Ucap Bayu, yang berhasil membuat Agatha menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh ke arahnya.


"Tidak bisa, Pah. Aku ada acara dengan Fitria dan keluarganya malam ini." Sahut Agatha menolak ajakkan laki-laki paruh baya itu.


"Bagaimana bisa kamu lebih mementingkan pacarmu itu daripada Papah?" Protes Bayu ketika Agatha tidak memprioritaskan dirinya dibandingkan kekasihnya.


"Memangnya Papah ingin mengajakku kemana?"


"Papah ingin mengajakmu untuk makan malam bersama di rumah teman Papah."


"Pasti tidak mungkin hanya makan malam saja, kan?" Tanya Agatha menerka.


"Kamu akan tahu nanti." Ucap Bayu, yang di sambut senyuman hambar oleh Agatha.


"Jadi benar." Gumam Agatha lirih, yang masih terdengar di telinga Bayu.

__ADS_1


Agatha begitu kecewa ketika Bayu mengajaknya makan malam hanya untuk kepentingannya saja. Agatha yang sudah malas melanjutkan perbincangan itu pun melanjutkan langkahnya kembali yang sempat terhenti tadi.


"Pokoknya Papah tidak mau tahu, kamu harus ikut Papah nanti malam Ta!" Ucap Bayu ketika Agatha sudah berjalan meninggalkan dia di sana.


"Mengapa sulit sekali menghadapi anak ini." Monolog Bayu seraya memijat pelipisnya.


Arya tersentak kaget ketika mendengar ucapan dari laki-laki yang baru saja Fitria kenalkan sebagai kekasihnya itu memanggil temannya dengan sebutan 'Papah'.


***


Namun bukan hanya Arya saja, ternyata Bayu juga merasakan hal yang sama ketika


melihat Agatha datang bersama Fitria. Siapa sangka jika gadis yang Agatha katakan sebagai kekasihnya siang tadi ternyata anak dari teman lamanya.


"Bay, apakah dia putramu?" Tanya Arya kepada Bayu dengan wajah sumringah.


"Iya, Ar. Dia putraku, jadi gadis itu putrimu?" Jawab Bayu dengan kembali bertanya.


"Iya, dia putriku. Kamu sudah pernah bertemu dengannya?"


"Baru saja siang tadi Agatha mengenalkan putrimu kepadaku sebagai kekasihnya." Ujar Bayu menceritakan.


"Wah, benar-benar kebetulan yang sangat langka, ya. Padahal putriku sebelumnya menolak untuk dijodohkan. Tapi siapa sangka, jika dia ternyata sudah menjalin


hubungan dengan putramu tanpa


mengetahui bahwa dia adalah laki-laki yang akan di jodohkan dengannya." Terang Arya


"Hahaha begitu pula dengan putraku, Ar. Dia selalu menolak jika aku jodohkan dengan anakmu, tapi ternyata, mereka sudah saling menyatu tanpa kita minta, kan?" Sahut Bayu tertawa lepas.


Sedangkan Agatha dan Fitria hanya bungkam mendengar percakapan dari kedua laki-laki paruh baya yang sedang membicarakan keduanya.


Tanpa Agatha dan Fitria sadari, tangan mereka masih menggenggam satu sama lain yang di sadari oleh netra Arya dan Bayu.


"Ekhem, memang kalau lagi kasmaran itu serasa dunia milik berdua ya, Bay?" Sindir Arya kepada Agatha dan Fitria.


"Hahaha benar sekali Ar." Sahut


Bayu terkekeh.


Agatha dan Fitria yang menyadari jika kedua laki-laki paruh baya itu tengah menyindir mereka pun melihat ke arah tangan masing-masing yang saat ini masih


dalam keadaan menggenggam satu sama lain.


Sesaat. baik Agatha maupun Fitria langsung melepaskan tangannya dari genggaman itu yang menurutnya sangat menggelikan. Dan juga tidak ada lagi elkspresi ramah di wajah keduanya setelah mengetahui fakta yang baru saja mereka ketahui.


"Lo pasti senang, kan?" Bisik Agatha dan Fitria bersamaan.


Mendapati pertanyaan yang serupa dengan apa yang dia tanyakan kepada Fitria, Agatha langsung membuang wajahnya ke arah lain.

__ADS_1


"Ck, merepotkan sekali!" Gerutu Agatha yang di dengar oleh Fitria.


Baru saja Fitria ingin menarik lengan Agatha untuk melayangkan protesnya atas gerutu Agatha itu namun Arya sudah memotongnya lebih dulu.


"Bagaimana jika kita percepat saja perjodohan ini Bay? Lagi pula anak kita juga sudah saling mengenal satu sama lain." Ucap Arya untuk menggoda Agatha dan Fitria membuat mereka tersentak kaget mendengarnya.


Seketika baik Agatha maupun Fitria langsung menggelengkan kepalanya cepat


secara bersamaan sebagai bentuk penolakannya.


"Hahaha lucu sekali kalian ini." Ucap Evi tertawa renyah ketika melihat reaksi yang diberikan oleh Agatha dan Fitria begitu


menggemaskan baginya.


"Ide bagus, Ar. Lebih cepat lebih baik." Sahut Bayu menimpali.


"Pah!" Ucap Agatha yang akhirnya mengeluarkan suaranya yang sejak tadi tidak terdengar di ruangan itu.


"Hahaha baiklah, baiklah." Jawab Bayu senang ketika berhasil membuat Agatha kesal dengan godaan yang dibuatnya bersama Arya.


"Mau sampai kapan kalian berdiri seperti itu?" Tanya Arya kepada Agatha dan Fitria yang belum juga duduk sedari tadi.


Tanpa mengatakan apa pun keduanya mulai duduk di kursi dengan ekspresi dingin yang begitu nampak jelas di wajah mereka.


"Susah payah gue menghindari perjodohan ini, ternyata laki-laki yang akan dijodohkan justru gue jadikan target pacar pura-pura. Benar-benar bodoh sekali!" Gerutu Fitria dalam hati merutuki dirinya sendiri.


"Gue harus apa sekarang? Nggak mungkin kalau gue pura-pura amnesia hanya untuk menghindari masalah ini kan?" Monolog Agatha dalam hati.


***


Setelah mendengar cerita dari Linda mengenai ucapan Aida, yang mengatakan bahwa Safira mengalami kecelakaan, Kartika yang tidak ingin dirinya dicurigai sebagai pelakunya pun memutuskan untuk berkunjung ke kediaman Bagaskara untuk melihat keadaan Safira meskipun sudah sehat kembali.


"Kamu yakin akan pergi ke sana, Tik?" Tanya Linda kepada Kartika yang tengah menyetir mobilnya.


"Iya Mah, sebenarnya aku juga malas untuk ke sana. Namun demi kebaikan kita juga, maka aku harus berpura-pura menunjukkan rasa empatiku kepada Safira agar mereka


tidak mencurigai kita." Jawab Kartika dengan netra yang fokus melihat ke arah depan.


Linda yang sebenarnya sudah sangat malas untuk bertemu dengan Aida, pun terpaksa mengikuti rencana Kartika yang menurutnya ada benarnya juga.


"Baiklah, kalau memang itu bisa membuat mereka tidak mencurigai kita, Mamah akan mengikuti rencanamu itu." Ujar Linda


menyetujui meskipun dengan berat


hati.


Tidak butuh waktu lama, kini mobil Kartika pun telah sampai di kediaman milik Bagaskara.


Sedangkan Aida yang saat itu kebetulan tengah bersantai di taman pribadi miliknya bersama Safira, pun turut melihat ke arah mobil yang baru saja terparkir di halaman depan.

__ADS_1


"Ada apa, Mah? Tanya Safira ketika menyadari mertuanya itu tiba-tiba saja diam tidak seperti sebelumnya.


"Ah, tidak ada sayang." Jawab Aida yang baru saja sadar dari lamunannya.


__ADS_2