Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
131. Amplop Misterius


__ADS_3

Agatha terus menggendong Fitria hingga memasuki kamar wanita yang sudah menjadi istrinya. Sedangkan Arya dan Evi yang masih penasaran dengan kronologi penyebab kaki Fitria mengalami cedera, pun ikut mengekori Agatha dari belakang.


Dengan sangat hati-hati Agatha mendudukkan Fitria di sisi ranjang ketika sudah masuk ke dalam kamar yang bernuansa putih itu.


"Pelan-pelan, Ta." Titah Evi nampak khawatir.


"Sekarang ceritakan kepada Papah, bagaimana bisa kakimu sampai seperti itu, Fit? Bukankah kalian di sana bulan madu?" Tanya Arya membutuhkan penjelasan dari


anak dan menantunya itu.


"Aku hanya terpeleset di kamar mandi saja kok Pah, lagi pula sebentar lagi kakiku akan sembuh. Jadi jangan khawatir." Jawab Fitria berharap Arya dan Evi berhenti mengkhawatirkannya.


"Kamu ini, baru seminggu menjadi istri Agatha, sudah merepotkan dia saja." Gerutu Arya pada putri semata wayangnya itu.


"Pah, sudahlah. Anak kita lagi sakit, bukannya di sayang, ini malah dimarahi." Timpal Evi nampak kesal.


"Sayang, bagaimana jika minggu depan kamu ke Singapura untuk pengobatan di sana?" Tanya Evi kepada Fitria.


Fitria melirik ke arah Agatha sesaat selbelum menjawab pertanyaan dari Evi yang diberikan kepadanya.


"Nggak perlu Mah, aku bisa menjalani pengobatan di sini saja. Lagipula, fasilitas rumah sakit di Indonesia juga tidak kalah bagusnya kok dengan di sana." Tolak Fitria.


"Tapi Fit--"


"Mah, nggak perlu cemas. Kondisi kakiku tidak separah apa yang Mamah dan Papah bayangkan kok." Kata Fitria memotong ucapan Evi.


"Baiklah. kalau kamu maunya seperti itu. Mamah tidak akan memaksa. Tapi, jika kondisi kakimu semakin memburuk, kamu harus setuju untuk melakukan pengobatan di Singapura, ya?"


"Siap!" Ucap Fitria seraya memberikan hormat ala upacara bendera.


"Ya sudah kalau begitu kalian istirahatlah, Papah dan Mamah akan keluar." Pungkas Arya meninggalkan kamar Fitria.


Setelah Arya dan Evi sudah meninggalkan keduanya di sana, Agatha langsung duduk di sisi Fitria.


"Kenapa kamu menolaknya?" Tanya Agatha melanjutkan percakapan Evi kembali yang


menurutnya belum selesai.


"Aku tidak ingin saja." Jawab Fitria santai.


"Alasannya?"


"Aku tidak ingin jika kamu terlalu lama meninggalkan Mamah Rosa, Ta. Kemarin saja kita meninggalkan beliau lima hari kan? Bagaimana bisa aku membiarkanmu


meninggalkannya lagi, hanya untuk mengantarkanku ke sana."


"Tapi, ini juga demi kebaikanmu, Fit."


"Ta..." Ucap Fitria lirih, berhasil menghentikan Agatha yang hendak memaksanya seperti Evi sebelumnya.


"Baiklah, baiklah, aku tidak akan memaksa lagi."

__ADS_1


Kring... Kring... Kring...


Deringan ponsel milik Agatha tiba-tiba saja menggema di ruangan itu, membuat atensi keduanya beralih ke arah benda pipih yang terletak di saku celana milik laki-laki tampan itu.


"Siapa?" Tanya Fitria berbisik.


"Mamah." Jawab Agatha sebelum mengusap tombol berwarna hijau ke atas.


"Halo, Mah." Sapa Agatha dengan menempelkan benda pipih itu di telinganya.


'Apa kamu sudah sampai di rumah Fitria, Ta?' Tanya Rosa melalui sambungan suara.


"Sudah Mah, baru saja kami sampai."


'Syukurlah, Mamah jadi tenang mendengarnya. Oh iya, Ta. Baru saja Mamah membuat hidangan kesukaan Fitria, apa kamu bisa mengambilnya ke sini? Atau, Mamah saja yang mengantarkannya ke sana?"


"Biar aku saja yang mengambil hidangan itu ke sana, Mah. Aku tidak ingin Mamah lelah."


"Tapi kamu juga lelah, Ta-"


"Tidak, tidak sama sekali. Justru semangatku kembali lagi setelah mendengar suara Mamah."


"Sekilas, laki-laki ini benar-benar sangat arogan, tapi jika kita mengenalnya dengan baik, dia benar-benar pandai dalam


memperlakukan wanita." Gumam Fitria dalam hati seraya menatap lekat Agatha yang tengah berbincang melalui benda pipih itu.


"Fit!" Panggil Agatha menepuk pundak Fitria hingga berhasil menyadarkan wanita itu dari lamunannya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Agatha yang baru saja selesai berbicara dengan Rosa melalui sambungan suara.


"Ng-nggak ada." Jawab Fitria yang diikuti anggukan kepala oleh Agatha sebagai jawaban mengerti.


"Bagaimana jika kita mandi sekarang? Karena sebentar lagi, aku akan ke rumah Mamah untuk mengambil hidangan yang sudah Mamahku siapkan untukmu."


"Benarkah?" Tanya Fitria nampak sangat senang.


"Hmm."


"Aku ikut, ya." Pinta Fitria memohon.


"Tidak!"


"Kenapa?"


"Lebih baik kamu banyak istirahat saja di rumah, agar kakimu cepat pulih. Lagipula kamu pasti sangat lelah, Fit." Ucap Agatha


membuat Fitra nampak tak bersemangat tidak seperti sebelumnya.


"Ayo, ke kamar mandi sekarang." Ajak Agatha mengabaikan Fitria yang tengah merajuk.


"Nggak!" Ucap Fitria melipatkan kedua tangannya di dada seraya membuang wajahnya ke arah lain.

__ADS_1


Sedangkan Agatha yang nampak gemas dengan tingkah Fitria yang tengah merajuk, pun langsung menggendong Fitria begitu saja, tanpa mengatakan apa pun.


"Lepasin, aku nggak mau mandi." Rengek Fitria dalam gendongan Agatha.


Di sisi lain, asisten rumah tangga berusia paruh baya yang sedang bersih-bersih tepat di depan kamar Fitria tidak sengaja mendengar rengekan dari dalam sana, meskipun hanya terdengar begitu samar.


"Tuan Agatha hebat juga yo ternyata, sampai Non Fitria saja dibuat teriak-teriak seperti itu. Dasar pengantin baru hehehe." Monolog asisten rumah tangga itu dengan logat jawanya yang khas.


Seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari mobil berwarna merah dengan gaya hedonisme-nya nampak mondar-mandir di depan gerbang kediaman Arya seraya melihat sekelilingnya.


Siapapun yang melihat, pasti akan menaruh curiga terhadap wanita paruh baya itu.


"Nyonya sedang mencari siapa?" Tanya seorang laki-laki yang berprofesi sebagai satpam di kediaman Arya.


Namun, baru saja wanita paruh baya itu hendak membuka mulutnya, dia urungkan kembali saat melihat Agatha yang baru saja keluar dari gerbang menggunakan motor sport berwarna hitam.


"Nyonya, apa anda mendengar saya?" Tanya satpam kembali Hingga berhasil menyadarkan wanita paruh baya itu dari lamunannya.


"Tunggu sebentar," Ucap wanita paruh baya itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Berikan amplop ini kepada laki-laki yang bernama Agatha." Sambungnya kembali, seraya memberikan amplop berwarna putih


kepada satpam itu.


"Tapi, Tuan Agatha baru saja keluar, Nyonya."


"Kalau begitu berikan saja amplop itu kepada istrinya." Pungkas wanita parah baya, lalu pergi begitu saja.


***


"Jika seperti tadi, rasanya aku ingin mandi sehari sebanyak sepuluh kali." Monolog Fitria menatap langit-langit kamarnya seraya cengar-cengir sendiri ketika


mengingat momen saat dirinya mandi


bersama dengan Agatha.


"Sekarang aku baru tahu apa yang Daffa dan Fira rasakan, ternyata jatuh cinta dalam ikatan pernikahan itu begitu menyenangkan. Padahal sebelum aku menikah, rasanya geli sendiri saat melihat mereka, namun setelah merasakannya, aku bahkan menyukainya." Monolog Fitria.


Tok tok tok.


Lamunan Fitria tiba-tiba saja buyar saat ketukan pintu terdengar di telinganya.


"Siapa?" Tanya Fitria.


"Bibi, Non." Jawab wanita paruh baya dari balik pintu.


"Masuk aja, Bi. Nggak dikunci, kok." Titah Fitria, diikuti seorang asisten rumah tangga yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.


"Ada apa, Bi?" Tanya Fitria saat asisten rumah tangganya itu sudah berdiri di hadapannya.


"Ini Non, ada surat untuk Tuan Agatha." Ucap asisten rumah tangga itu seraya memberikan sebuah amplop putih kepada Fitria.

__ADS_1


__ADS_2