
"Saya harap Anda berbesar hati menerima ini Tuan." ucap Dokter itu membuka percakapan mereka.
Sean mengernyitkan dahinya terlihat bingung. "Maksud Anda?"
Dokter itu menghela nafasnya dengan berat lalu memberikan selembar kertas pada Sean.
Dengan cepat Sean mengambil kertas itu dan langsung membacanya.
"A-pa maksudnya ini?" ucap Sean menatap nanar tulisan itu, tangannya bergetar tubuhnya seakan melayang.
"Tuan, kami telah berusaha semampunya. Maafkan kami telah memberikan berita yang tidak mengenakan pada Tuan."
Sean mengepalkan kedua lengannya, meremas kertas itu hingga tak berbentuk lagi. Terlihat rahangnya mengeras, wajahnya memerah menahan emosi.
"Kami benar-benar tidak menduganya ternyata kanker itu sudah menyebar , padahal jika di lihat dari kasar mata Jantung Nona Sulli baik-baik saja. Maafkan saya Tuan, ini salah saya karena tidak..." Dokter itu tak bisa melanjutkan ucapannya, dia membungkukkan tubuhnya.
"Cih." Sean tersenyum sinis, lalu tertawa dengan keras. "Hahahaha.... Tuhan kenapa kau tidak ambil nyawaku saja." Teriaknya.
"T-tuan, Anda tidak boleh berkata seperti itu."
Sean menepis lengan Dokter itu. "Pergilah, aku ingin sendiri."
__ADS_1
"A-h baiklah. Maafkan saya sekali lagi, Tuan." Ujar Dokter itu lagi, lalu pergi meninggalkan Sean yah masih termenung di tempatnya.
Entah kenapa Tuhan selalu memberikan harapan padanya, namun langsung menjatuhkannya ke dalam dasar yang membuatnya harus kecewa lagi.
Sambil memejamkan kedua matanya, tubuh yang biasa terlihat tegap itu merosot jatuh ke lantai. Dalam keadaan seperti ini dia dilanda bimbang, hanya beberapa jam lagi waktu yang diberikan tapi dia sudah tak bisa berbuat banyak lagi.
Kembali Sean mengingat potongan-potongan kebersamaan kedua anaknya dengan Crystal, bahkan suara mereka Sean masih bisa mengingatnya.
Tes
Tes
Tes
Tak mampu membendung kesedihannya, Sean langsung memukuli dadanya melampiaskan rasa sesak yang menyerangnya. "Kenapa kau berkehendak seperti ini? Kenapa Tuhan? Aku tahu ini semua salahku, tapi Tolong jangan ambil Crystal! Kami masih membutuhkannya, anak-anakku..... mereka membutuhkan sosok Crystal."
...****************...
Jack berlarian tanpa henti. Dia belum menyerah dan terus berusaha mendatangi rumah sakit satu ke rumah sakit lainnya. Dia juga telah meminta Jessica untuk membantu, tapi sampai saat ini dia belum menerima kabar baik dari Jessica. Begitu pun dari Tuannya, padahal seharusnya hasil jantung Nona Sulli sudah keluar. Entah kenapa hatinya merasa tak enak, dia takut hal buruk terjadi.
Untuk itu, Jack juga menghubungi Kai yang saat ini tengah berada di Amerika untuk ikut membantu mencarikan donor jantung yang cocok untuk Nona Crystal.
__ADS_1
"Ah, sial ini sudah lebih dari yang direncakan." gumam Jack terlihat frustasi saat melihat arlojinya.
Drrttt...
Drrttt ....
Ponselnya bergetar. Dia langsung melihat siapa yang memanggilnya dan ternyata Tuan nya Sean, wajahnya langsung berubah cerah melihat siapa yang memanggilnya. Jack berpikir ini adalah kabar baik yang diberikan Tuannya, makanya dia menelpon.
"Hallo Tuan, apakah semuanya berjalan dengan lancar?" tanya Jack langsung bertanya pada Tuannya.
"Ah, maafkan saya. Apakah ini Tuan Jack?"
"......." Jack terdiam, dia kembali menatap layar ponselnya. Dan memang benar ini adalah nomor Tuannya, tapi kenapa suara perempuan? Pikirnya bingung.
"I-iyah saya Jack. Anda siapa? Kenapa ponsel Tuan Saya ada di Anda?" tanya Jack berusaha tenang.
"Ah syukurlah jika begitu. Hm, saya adalah Sara, kebetulan saya lewat lorong bangsal A dan melihat Tuan Anda tergeletak tak sadarkan diri. Untuk itu...."
"Pingsan? Kenapa Tuan Sean bisa pingsan?" Tanya Jack memotong ucapan Sara.
"Ah, saya kurang tahu. Saat ini tengah di periksa Dokter, sebaiknya Anda datang ke rumah sakit."
__ADS_1
"Baiklah, saya akan pergi sekarang. Terimakasih untuk informasinya." ucap Jack menutup panggilan telponnya.
Jack bergegas keluar dari rumah sakit itu dan pergi ke tempat parkiran, di mana mobilnya berada. Dia tak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi dengan Tuannya.