
Mendengar pertanyaan yang Safira layangkan kepadanya, membuat Daffa bingung ingin menceritakan kepada istrinya itu.
Sebab, Daffa tidak ingin masalah yang tengah dihadapinya malah menambah beban pikiran Safira. Bukannya menjawab, Daffa hanya diam sepanjang Safira
menunggu jawaban yang akan diberikannya.
"Mas?" Panggil Safira hingga berhasil menyadarkan Daffa dari lamunannya.
"Ya?" Sahut Daffa tersentak kaget.
"Apa yang tadi Papah katakan sebenarnya, Mas? Apa ada masalah?" Tanya Safira kembali membuat Daffa mau tidak mau harus menceritakan semuanya kepada istrinya itu.
Sebelum Daffa menceritakan, Daffa mengusap lembut pucuk kepala Safira dan menatapnya lekat, kemudian Daffa, pun mengajaknya untuk duduk di sofa.
"Papah memintaku agar ke Amerika, sayang. Karena cabang perusahaan yang di sana sedang mengalami masalah." Terang Daffa memaparkan dengan suara pelan.
"Jadi, kapan Mas Daffa akan pergi?" Tanya Safira yang mengira bahwa Daffa sudah menyetujui permintaan Bagaskara.
"Aku tidak akan ke sana."
"Kenapa? Bukankah Mas Daffa harus menyelesaikan masalah di sana? Tidak mungkin kan, jika Papah yang pergi. Apalagi Papah baru saja keluar dari rumah sakit."
"Aku tahu, tapi aku tidak mungkin meninggalkanmu, sayang. Bagaimana jika bayi kita lahir di saat aku berada di Amerika?" Dengan lembut, jari lentik Safira
mengusap wajah Daffa dan tersenyum
menatapnya seolah menunjukkan bahwa tidak ada hal yang perlu Daffa khawatirkan.
"Mas Daffa tidak perlu khawatir, lagipula ada Oma dan juga Mamah."
"Tapi sayang- "
"Dan, yang pasti ada Allah yang selalu bersamaku dan juga anak kita." Ucap Safira memotong ucapan Daffa Hingga berhasil membuat Daffa bungkam.
"Pergilah, Mas. Aku baik-baik saja di sini. Bagaimanapun kamu harus membantu Papah." Sambung Safira kembali membuat Daffa semakin tidak bisa berkata-kata lagi.
"Apa kamu yakin, sayang?" Tanya Daffa menatap Safira lekat.
"Hmm." Gumam Safira seraya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Sesaat Daffa langsung menarik Safira dan menenggelamkan ke dalam pelukannya. Sungguh beruntungnya Daffa bisa memiliki istri yang memiliki pengertian yang tinggi dan yang selalu menjadi support system
baginya.
"Aku berjanji akan segera kembali jika urusan di sana telah selesai." Kata Daffa semakin mengeratkan pelukannya. Disambut anggukkan kepala oleh Safira.
Ting nong.
__ADS_1
Suara bel terdengar di telinga keduanya yang masih berpelukan di ruang keluarga hingga membuat pelukan yang semula begitu erat pun terlepas.
Tidak lama dari suara bel itu terdengar, seorang wanita paruh baya datang menghampiri keduanya.
"Maaf Tuan, Nona. Ada Non Fitria dan suaminya datang." Ujar asisten rumah tangga itu. Membuat Daffa mendengus kesal.
"FITRIAAAAAAA! Benar-benar manusia satu ini, kenapa selalu datang di waktu yang nggak tepat, sih? Dari dulu sampai sekarang selalu menjadi pengganggu!" Teriak Daffa menggerutu seraya berjalan
menghampiri tamunya itu.
Sedangkan Safira yang masih duduk di ruang keluarga mentertawakan tingkah Daffa bersama asisten rumah tangga yang
masih berada di sana.
Dengan memasang wajah kesal Daffa terus berjalan ke arah ruang tamu di mana Fitria dan Agatha sudah duduk di sana.
"Hai, Daff!" Sapa Fitria melambaikan salah satu tangannya ke arah tuan rumah yang baru saja tiba.
Dengan napas yang naik turun, Daffa menatap keduanya tajam secara bergantian.
"Hahaha ada apa dengan wajah lo?" Tanya Fitria tanpa merasa bersalah.
"Nggak, ayo ke ruang tamu saja. Fira menunggu di sana." Ajak Daffa langsung pergi, diikuti oleh Fitria dan Agatha di belakangnya.
Saat ketiganya baru saja tiba di ruang keluarga, Fitria langsung berlari mendekat ke arah Safira dan duduk di sebelahnya, sebelum Daffa mendahuluinya lebih dulu.
"Fira, coba tebak gue ada kejutan apa?" Tanya Fitria dengan senyuman yang melebar sempurna.
"Ck, nggak seru banget sih!" Decak Fitria kesal.
Karena sudah tidak sabar ingin memberikan kabar baik kepada Daffa dan Safira, Fitria pun langsung membuka tasnya dan meraih sesuatu dari dalam sana.
"Tadaaaaaaa!" Ucap Fitra gembira dengan memperlihatkan sebuah test pack bergaris dua di
"Masyaallah, selamat ya Fit." Kata Safira tak kalah bahagia.
"Akhirnya, Fir. Selama beberapa bulan gue dan suami berusaha, akhirnya hamil juga."
"Selamat, Ta. Semoga ngidamnya Fitria nggak menyusahkan lo, ya." Ucap Daffa kepada Agatha, membuat wajah Fitria berubah masam secara tiba-tiba.
"Memangnya aku pernah menyusahkanmu, sayang?" Tanya Fitria memanyunkan bibirnya.
"Nggak kok, sayang. Nggak sama sekali." Jawab Agatha membuat Fitria menatap Daffa penuh kemenangan.
"Oh ya Fir, bagaimana jika nanti anak kita di jodohkan saja?" Tanya Fitria yang sudah berangan-angan.
Belum sempat Safira menjawab, Daffa sudah lebih dulu mengeluarkan Suara.
__ADS_1
"Sayangnya gue nggak mau punya besan kayak lo, Fit. Hahaha." Goda Daffa membuat Fitria mendengus kesal.
Drt... Drt ...Drt..
Di sela-sela obrolan Daffa dan yang lainnya, tiba-tiba ponsel miliknya yang di letakan di atas meja bergetar, membuat atensi semuanya beralih ke benda pipih itu.
"Sorry, gue angkat telepon dulu, ya." Ucap Daffa meraih ponselnya lalu pergi.
Sedangkan Safira yang masih duduk di sana, hanya bisa menatap kepergian Daffa dari belakang. Hingga laki-laki yang membawa benda pipih tadi, pun perlahan hilang dari jangkauan matanya.
Malam hari telah tiba, Daffa dan Safira yang sudah berada di kediaman Bagaskara sesuai dengan permintaan Oma Rahma yang disampaikan oleh Bagaskara secara langsung, yang meminta agar keduanya makan malam dan menginap di kediamannya.
***
Di meja makan berbahan dasa kaca, semua anggota keluarga Bagaskara tengah serius membicarakan masalah yang terjadi di perusahaan Bagaskara yang berada di Amerika.
"Tidak, Ibu tidak setuju jika Daffa yang pergi ke sana." Ucap Oma Rahma menghentikan aktivitasnya makannya.
"Benar! Mamah setuju dengan Ibu. Bagaimana jika cucu kita lahir disaat Daffa sedang berada di Amerika, Pah? Aduh,
membayang kannya saja Mamah tidak
sanggup." Timpal Aida ikut mengeluarkan suara.
"Dari awal aku memang tidak memaksa Daffa untuk pergi, Bu, Mah. Tapi, solusinya memang hanya dua. Daffa yang pergi ke sana untuk menggantikanku, atau membiarkan perusahaan itu bangkrut." Kata Bagaskara menjelaskan Membuat
kedua wanita yang semula menolak keras, pun langsung terdiam.
Sedangkan Safira yang sedari tadi hanya diam mendengarkan, pun akhirnya mengeluarkan suaranya.
"Oma... Mamah..." Panggil Safira pelan.
"Iya sayang, apa kamu butuh sesuatu?" Tanya Aida siaga, yang langsung disambut gelengan kepala oleh Safira.
"Aku tidak keberatan jika Mas Daffa pergi ke Amerika untuk menggantikan Papah Bagaskara." Ujar Safira membuat atensi Oma Rahma, Aida, dan Bagaskara tertuju
kepadanya.
"Tidak!" Kata Oma Rahma dan Aida secara bersamaan.
"Oma. Mamah. Lagipula Mas Daffa ke sana, pun tidak lama. Aku baik-baik saja, sungguh. Apalagi ada Oma dan Mamah yang berada di sisiku." Kata Safira meyakinkan Oma Rahma dan Aida.
Sesaat Oma Rahma dan Aida terdiam menimbang kembali ucapan Safira. Bagaimanapun juga masalah di cabang perusahaan Bagaskara harus di selesaikan sebelum mengalami kebangkrutan. Apalagi
jika mengingat kerugian yang mencapai puluhan miliar. Membuat Oma Rahma dan Aida semakin dilema.
Namun di sisi lain jika Daffa pergi. Bagaimana dengan nasib anak Safira yang melahirkan tanpa kehadiran Ayahnya? Batin Aida.
__ADS_1
"Sayang, aku akan tetap tinggal jika kamu meminta." Ucap Daffa mengusap lembut tangan Safira, berharap istrinya kembali
mempertimbangkan lagi keputusannya.