Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
154


__ADS_3

Setelah suaminya selesai menyantap sarapannya, Jenni segera meminta Kai untuk pergi ke kamar Crystal. Dia mengkhawatirkan dua ponakannya, apalagi jika mengingat situasi di mobil beberapa jam yang lalu. Jika saja suaminya tidak merengek manja meminta Ia untuk menemaninya sarapan, Jenni tak rela membiarkan Cleo dan Ana pergi berdua saja ke ruang Eomma nya.


"Kenapa wajahmu sejak tadi di tekuk seperti itu sayang? Apa kedua keponakanku membuatmu kerepotan?" tanya Kai yang tengah berjalan bergandengan dengan Istrinya di koridor, dia memang sudah menyadari sejak tadi jika wajah istrinya menunjukkan ekspresi kesal tapi dia tak tahu kenapa.


Jenni langsung menarik lengannya dari rengkuhan suaminya dan langsung menautkan nya di atas dada, bibirnya bawahnya yang sedikit tebal terlihat memanyun.


"Ini bukan karena mereka, tapi karena mu tau." timpal Jenni semakin kesal, entah kenapa suaminya tidak pernah peka.


"Hah aku sayang? memang nya kenapa dengan aku?" tanya Kai terpengarah.


Lihatlah wajah suaminya itu. Padahal, dia selalu mengoceh dan berkata bahwa Sean adiknya lah pria yang tak pernah peka sehingga tak menyadari perasaan Crystal tapi lihatlah dirinya saat ini lebih tidak peka dari adiknya.


"Siapa coba yang langsung menyeret aku ke kantin? Padahal aku harus menemani kedua keponakanku ke kamar Eomma nya." sungut Jenni pada suaminya.


"Aduh sayang kirain kenapa, lagian kan mereka sudah tahu kamar Eomma nya. Lagi pula aku kangen banget sama kamu, sudah seharian tidak bertemu denganmu." ujar Kai sambil beringsut memeluk tubuh Istrinya erat.


"Ist apaan sih, ini tempat umum tahu." pekik Jenni mengok kanan kiri, wajahnya jangan di tanya lagi sudah semerah buat tomat.


"Biarkan saja, kita kan sudah suami istri. lagian kenapa wajahmu memerah begitu Istriku?" Goda Kai.


"Kai!" pekik Jenni, wajahnya semakin merah padam. Merasa malu dengan suaminya, Jenni langsung berlari kecil meninggalkan suaminya.


"Ya sayang, tunggu!" Seru Kai tak bisa menahan tawanya karena reaksi menggemaskan dari Istrinya, padahal sudah memiliki satu anak tapi kelakuannya seperti masih gadis saja.


...****************...


"Appa" Panggil Ana dengan suara kencangnya, tak lupa gedorannya pada pintu kamar mandi.


"Sebenar Sayang, Appa sedang ganti baju." timpal Sean dari dalam kamar mandi.


"Aish, kenapa Appa lama sekali." Gumam Ana kesal, dia pun semakin dengan bertubi-tubi memikul pintu kamar mandi. "CEPAT KELUAR APPA, EOMMA APPA EOMMA...." Teriak Anna lebih keras dari sebelumnya.


Deg. Sean yang hendak mengambil kaosnya langsung terhenti saat putrinya menyebut tentang Crystal. Crystal? Ada apa dengannya? Pikir Sean, tubuhnya bergetar memikirkan hal yang buruk. Pikirannya menjadi dangkal, kinerja otaknya seakan melambat.


Bruk. Sean membuka pintu itu dan membantingnya, pemandangan pertama yang Ia tangkap adalah Putrinya yang tengah menangis. Darahnya seakan membeku, tubuhnya semakin tak berenergi. Dengan kedua tangan yang bergetar, dia merengkuh wajah putrinya.


"K-kenapa menangis Sayang?" Tanya Sean dengan suara yang bergetar, "ada apa dengan Eomma hm, katakan pada Appa?" Sean berusaha terlihat sebisa mungkin untuk tenang.


"Appa ...." Ujar Ana tambah menangis, "Kenapa Appa lama sekali berada di kamar mandi." sambungnya masih tersedu akibat tangisnya.


"M-maafkan Appa sayang, se-baiknya kita ke tempat Eomma." Ajak Sean meraih lengan mungil putrinya, sejujurnya dia ingin menanyakan terlebih dahulu mengenai kondisi Crystal. Tapi, melihat kondisi putrinya dia urungkan kembali. Mungkin, seandainya tidak ada Putrinya saat ini dia sudah berlari menghampiri Crsytal.

__ADS_1


Jarak kamar mandi dengan tempat tidur Crystal memang berada dalam satu ruangan, hanya saja di dalam ruangan ini terdapat beberapa tempat lagi yang mana semuanya tersekak dengan tembok. Dia memang sengaja memindahkan tempat Crystal ke bagian VIP premium, sebelumnya Crystal berada di VIP biasa.


"Appa.." seru Cleo saat melihat Appa nya muncul.


Kedua mata Sean semakin membola saat melihat Putra nya juga ikut menangis, tidak biasanya Cleo seperti itu. Hatinya semakin kacau, dia tak sanggup melangkah lebih dekat lagi.


"Appa..." Panggil Ana sambil terus menggoyangkan lengan Appa nya yang sejak tadi terlihat termenung. "Appa... Appa... APPA!" panggilnya lagi dengan sedikit keras.


"Hueh." Sean kembali tersadar, dia menundukkan kepalanya dan menatap putrinya dengan tatapan kosong. "maaf sayang." gumamnya merasa menyesal karena telah bertindak konyol di depan anaknya.


"Appa k-kemarilah, Eomma menunggu." Celetuk Cleo menginterupsi pembicaraan adik dan Appa nya.


"Menunggu..?" Tanya Sean dengan wajah bingung. "Apa maksud mu menunggu Cleo?"


"Eomma, bukalah matamu. Appa sudah berada di sini." Ujar Cleo berbisik di telinga Crystal dengan suara pelan.


Sean yang melihat itu masih terlihat kebingungan, apa sebenarnya yang terjadi saat ini.


"Cleo, apa maksudmu kenapa kau berkata demikian?"


"Appa, Eomma sudah bangun." timpal Ana menarik lengan Sean.


"B-b-bangun?" Sean segera menghampiri tempat tidur Crystal.


"C-crys..." Panggil Sean dengan suaranya yang tergagap, "Kau dengar Aku? Ini aku Sean." sambung Sean, lengannya yang gemetar memegang jemari Crystal dengan erat.


"S-s-sean...."


"Iyah ini Aku... Oh Tuhan terimakasih." ucap Sean dengan penuh rasa bahagia yang menggelitik perutnya, saat wanita yang Ia cinta kembali menyebut namanya.


"Terimakasih..." Bisiknya lagi dengan suara yang tersedu, Sean menangis menumpahkan semua rasa sulitnya selama ini.


"K-kau m-enangis." ujar Crystal sambil mengusap kepala Sean dengan lengan kirinya. "ke-kenapa ka-u menang-is?"


"Aku menangis karena bahagia bisa melihat kedua mata mu, Crys." Timpal Sean menitikkan air matanya, tapi bibirnya tersenyum lebar.


Cleo dan Ana yang sejak tadi hanya diam menonton pun, terlihat terkejut ketika melihat Appa mereka menangis tersedu seperti itu. Keran pada dasarnya, mereka tak pernah melihat Appa nya sekalipun menunjukkan kelemahannya pada mereka.


"K-kau juga kuru-san Sean? Apa k-au tidak ma-kan dengan benar sej-auh ini?" tanya Crystal, yang mulai lancar berbicara sedikit demi sedikit.


"Ra-mbut mu juga pa-njang? sudah berapa bulan tidak kau potong?" tanya Crystal secara berturut, dari sini entah siapa sebenarnya yang sakit sehingga wanita itu harus bawel bertanya mengenai kondisi Sean.

__ADS_1


Di sisi lain, Ana mencoba mendekat ke arah Oppa nya. "Oppa, apa Eomma sekhawatir itu pada Appa padahal yang tengah sakit kan Eomma." Bisik Ana, bertanya pada Oppa nya.


"Hn, entahlah. Kau tak perlu ikut campur, biarkan saja. Ini urusan orang dewasa, jangan ganggu." Timpal Cleo kembali membaca buku bacaannya,


"Ist dasar batu es dingin, memangnya Oppa saja yang dewasa aku juga sudah besar tahu." ujar Ana mencibir Oppa nya.


Cleo melirik sekilas kedua orang tuanya yang masih bercakap-cakap, dia bisa merasakan perasaan keduanya yang tulus. Entah kenapa itu membuatnya lega, awalnya dia berpikir Appa dan Eomma nya tak bertemu selama ini karena hubungan mereka memburuk. Tapi ternyata tidak begitu, syukurlah.


Sean merasa gemas dengan tingkah Crsytal yang terlihat memelas seperti ini, rasanya dia ingin merengkuh nya dengan erat jika saja Crystal sedang tidak sakit.


"Aku baik-baik saja, sungguh." jawab Sean tersenyum lembut, "Aku benar-benar senang kau sudah siuman. Apa ada hal yang mengganjal atau sakit pada tubuhmu? Aku akan memanggilkan Dokter, agar mereka memeriksa kondisi mu saat ini."


"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Aku senang bisa melihat kau dan anak-anak." Ucap Crystal menatap kedua anaknya yang sedang duduk di sofa bersama. "Aku merindukan mereka dan merasa bersalah karena tidak ada pada saat tumbuh kembang mereka." Sesal Crsytal.


"Tolong jangan katakan itu, setelah kau diperbolehkan pulang. Kau bisa bersama mereka 24 jam penuh, bahkan setiap detik menit pun kau akan bersama mereka." Ujar Sean, menghibur Crystal.


*Benarkah? Hah, aku sangat menantikannya." Ucap Crystal tersenyum lembut.


Sean senang melihat senyum itu lagi, hatinya merasa kosong ketika dia tak bisa bertemu Crystal selama ini. Dia berjanji akan menjaganya sampai kapan pun itu, tak ingin mengecewakan lagi sudah cukup sekali saat itu.


"Crys, kamu yakin tidak ingin memanggil Dokter ...?"


Crystal menggelengkan kepalanya, menolak usulan Sean.


"Baiklah, aku ingin kembali ke kamar mandi dulu. Jam tanganku tertinggal, kau di sini bersama anak-anak yah."


"Hmm, tentu." Timpal Crystal tersenyum cerah.


Sean bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri kedua anaknya. "Sayang, Appa minta kalian tunggu Eomma di sini. Appa hendak mengambil jam tangan Appa di kamar mandi." Ujar Sean mengusap Surai putrinya dengan lembur.


"Baik Appa." Ujar Ana dan Cleo berbarengan.


...****************...


Dibalik tembok penghalang itu, Sean berjalan tertatih sambil memegang kepalanya yang berdenyut sejak beberapa saat yang lalu.


"Sial! Kenapa pada situasi ini." Desisnya terus mengumpat.


Sean memang beralasan pada Crystal untuk pergi ke kamar mandi karena ingin mengambil jam tangannya, padahal sebenarnya dia hanya tak kuat dengan nyeri di kepala nya. Dia tak ingin kedua anaknya dan juga Crystal tahu kondisi nya saat ini.


Bruk! Sean menutup pintu itu dengan sedikit kencang, kedua lengannya langsung bertumpu pada wastafel. Kedua matanya menatap horor wajahnya lewat cermin di depannya, hal itu membuatnya gila.

__ADS_1


"Brengsek!" Umpatnya lagi, langsung membasuh lalu menyeka darah yang keluar dari hidungnya.


Sean mengambil tisu, lalu memasukkannya ke dalam kedua lubang hidung nya berharap darahnya berhenti mengalir keluar. Tak lupa, dia juga sedikit mendongakkan kepalanya ke atas.


__ADS_2