Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
5


__ADS_3

Di mansion Tuan Kusuma, semua pelayan sibuk dengan tungasnya masing-masing. Tuan Kusuma membaca koran di halaman rumah di temani segelas kopi dan brownies buatan koki terbaik di mansionnya.


Hatinya sangat bahagia. Usaha yang dia lakukan dengan mengancam paman dan bibi Anisa membuahkan hasil. Walaupun sedikit sedih karna terpaksa dia harus bertindak kejam tapi dia berjanji pada dirinya sendiri akan membahagiakan Anisa dan adiknya.


Pagi ini dia akan pergi ke rumah sakit untuk mengurus semua biaya operasi Dewi. Setelah itu dia akan mengurus pernikahan untuk anaknya dan Anisa.


"Bangunkan Rey dan suruh dia bersiap untuk sarapan bersama." Perintah Pak Kusuma


"Baik Tuan."


Seorang pelayan menunduk hormat dan berlalu pergi. Pelayan menaiki tangga dan menuju kamar Rey.


Tok,,,tok,,,tok,,,


"Tuan Rey. Tuan besar menyuruh Anda bersiap dan sarapan bersama"


"Eeemmhh,,, aaah, iya bik',, aku segera turun."


Ucap Rey dengan suara serak orang bangun tidur dan menggeliat-geliat di kasur. ciri khas Rey saat bangun tidur.


Pelayan meninggalkan kamar Rey. Rey bangun dan langsung ke kamar mandi. Setelah mandi dia menuju walk in closed. Didalamnya tertata rapi pakaian dan barang-barang milik Rey. Rey memilih kemeja biru dan memakainya di padukan dengan celana, dasi yang selaras, memakai jam rolex dan sepatu yang di buat dari Italia. Setelah menyisir rambut dan bagian belakang di biarkan berantakan.


Rey benar-benar terlihat sempurna. Selalu menjadi idola setiap wanita. Siapa yang bisa menolak kesempurnaan yang ada pada diri Rey.


Rey keluar dari kamarnya dan menuruni tangga menuju meja makan. Tuan Kusuma sudah berada di ruang makan menunggu Rey.


"Selamat pagi Ayah."


"Pagi Rey... Cepatlah sarapan. Sebentar lagi kita akan pergi."


Rey memotong motong rotinya dan melahapnya perlahan.


"Memang kita mau pergi kemana Ayah?" Tanya Rey lalu memasukkan potongan roti ke mulutnya.


"Kita akan ke rumah sakit menemui calon istrimu." Jelas ayahnya


Tiba-tiba Rey tersedak mendengar ucapan Ayahnya karna terkejut. Dia langsung meminum air yang di berikan pelayan sampai tandas.


"Apa yah? Ketemu calon istri? Ayah bilang bulan depan, kenapa secepat ini?"


"Ini hanya pertemuan Rey, agar kalian bisa saling mengenal. Pernikahannya tetap bulan depan. Apa jangan-jangan kamu sudah gak sabar ingin cepat menikah?" Ucap Tuan Kusuma dengan senyum-senyum menggoda anak semata wayangnya.


"Yang ada aku ingin pernikahan ini gak terjadi" Rey menumpahkan kekesalannya dengan menusuk potongan roti dengan kuat.


"Sudahlah Rey. Gak usah banyak bicara. Cepat habiskan sarapanmu, Ayah tunggu di mobil."


"Aku tidak percaya ternyata Ayah benar-benar dengan ucapannya."


"Huuhhh.." Helaan napas Rey mengungkapkan beratnya situasinya saat ini.


Setelah Rey selesai makan, dia menuju halaman rumah yang sudah terparkir mobil. Rey membuka pintu penumpang dan di sana sudah ada ayahnya yang menunggunya.


Supir pun menyalakan mobil dan menjalankan mobil keluar halaman mansion memecah jalan kota Jakarta.


Sepanjang perjalanan Rey memasang wajah cuek dan kesal.


"Rey... Ayah minta kamu segera memutuskan hubunganmu dengan Angel sebelum dia kembali ke Jakarta."


Rey tidak menjawab perkataan Ayahnya. Dia terus mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

__ADS_1


"Ayah gak habis pikir. Angel bisa liburan ke sana kemari. Berbelanja dengan uang dari perusahaan kita. Tapi kenapa gak mengajakmu.


Yang di cintai Angel hanya uangmu. Tapi dia gak pernah mencintai kamu. Kamu sudah dewasa, Ayah yakin kamu bisa memilih antara yang baik dan benar." ucap ayahnya menasehati Rey dan menepuk bahu anaknya.


Mobil memasuki parkiran rumah sakit. Tuan Kusuma dan Rey keluar dari mobil dan berjalan melewati lorong menuju ruang rawat inap Dewi.


******


Di ruangan Dewi sudah ada bibi Anisa. Dia terus menceramahi Anisa agar Anisa bersikap sopan dan menerima pernikahan ini. Tidak lama kemudian seseorang membuka pintu. Dia adalah Tuan Kusuma dan Rey.


"Selamat pagi Nyonya, Anisa, Dewi."


Tuan Kusuma menjabat tangan satu persatu ke mereka dan di ikuti Rey untuk berjabat tangan.


Sesaat Rey berhenti saat bersalaman dengan Anisa. Matanya terus menatap Anisa. Rey tersadar dan melepaskan tangannya saat Ayahnya menepuk bahunya.


"Sabarlah Rey. Sebentar lagi dia akan menjadi istrimu." Ucap Tuan Kusuma menggoda anaknya.


Tuan Kusuma dan bibi Anisa tertawa bersama melihat tingkah Rey.


Wajah Anisa merona dan Rey merasa sangat malu karna jadi bahan ledekan.


"Ayo silahkan duduk Tuan" ucap bibi


"Bibi.. Nisa mau menebus obat Dewi dulu, aku akan segera kembali."


"Baiklah. Cepat kembali Anisa" Dengan lemah lembut bibi Anisa berbicara karna sedang ada Tuan Kusuma di dalam ruangan ini.


"Rey..Kamu temani Anisa sana, kalian bisa ngobrol untuk saling mengenal."


"Hhhmm...." jawab Rey cuek.


Rey mengikuti Anisa keluar dari ruangan.


Dia berjalan di samping Anisa.


"Aku tahu kamu mau menikah denganku karna uang kan?"


Tanya Rey ketus.


"Iya, aku mau menikah karna uang yang di berikan Ayahmu"


" Itu karna ayahmu yang memaksa dan mengancam paman dan bibiku."


"Aku sudah memiliki seseorang yang ku cintai. Jadi jangan berharap kamu bisa mengambil hatiku seperti kamu merayu Ayahku."


"Baik Tuan. Jika Tuan gak ingin menikah dengan saya, Tuan bisa bicara dengan ayah Anda untuk membatalkan pernikahan ini." Dengan santainya Anisa menjawab perkataan Rey.


"Ge'er banget aku bakal punya perasaan ke dia, yang ada aku berharap pernikahan ini batal setelah melihat betapa angkuhnya dirimu."


"Aku juga terpaksa menikah denganmu. Kalau aku bisa batalkan,pasti sudah kulakukan."


"Shiitt... Gadis ini benar-benar sok jual mahal di hadapanku."


"Itu artinya kita sama-sama menikah karna di paksa,. Jadi sudah pasti gak akan ada perasaan lebih di antara kita." Ucap Anisa


"Bagus kalau begitu. Aku akan membuat surat perjanjian di antara kita tanpa sepengetahuan ayahku."


"Tidak masalah."

__ADS_1


Mereka sampai di apotik dan Anisa menyerahkan resepnya dan duduk di ruang tunggu.


"Apa kamu sudah punya kekasih?" tanya Rey


"Belum. Untuk saat ini Aku gak ada waktu untuk memikirkan urusan perasaan Tuan."


"Pasti karna gak ada yang mau denganmu" ucap Rey sedikit tersenyum meledek.


"Terserah apa katamu saja tuan."


"Pantas ayahnya mencarikan istri untuknya. Ternyata orangnya aneh kayak gini."


Seorang Apoteker memanggil nama pasien Dewi Pertiwi . Anisa segera menghampirinya dan mengambil obat. Anisa lalu pergi meninggalkan Rey yang masih duduk di ruang tunggu.


Rey yang melihat Anisa pergi langsung mengikuti Anisa.


Rey merasa Anisa berbeda dari gadis biasanya yang sering dia temui. Wanita yang biasa dia temui pasti langsung tebar pesona dan merayunya. Tapi berbeda dengan wanita satu ini. Dia malah cuek bebek. Apa dia rabun sampai tidak melihat pesona ketampanan Rey.


Rey dan Anisa memasuki ruangan Dewi.


"kalian sudah kembali.


Kemarilah..Ayah sudah memutuskan waktu untuk pernikahan kalian."


Anisa dan Rey duduk di sofa yang berbeda.


"Ayah sudah putuskan kalian akan menikah tanggal 19 Februari dan setelah Dewi sembuh. Jadi mulai dari sekarang, kalian berdua harus bersiap memilih undangan, fitting baju, memilih cincin dan foto.


Sisanya ayah dan bibi Anisa yang akan mengurusnya." Jelas ayah Rey


"Bagaimana Anisa, kamu menerima pernikahan ini kan?" Tanya Tuan Kusuma


"Iya. Saya menerimanya Tuan"


"Jelas aku tidak mungkin bisa menolak pernikahan paksa ini."


"Hahaha,,, jangan panggil Tuan.


Panggil saya ayah, karna mulai dari sekarang saya ayah kamu dan Dewi."


"Baiklah aa,,,ayah" Ucap Nisa terbata


"Dan untuk operasi Dewi, sore ini sudah bisa di lakukan karna saya sudah melunasi semua biayanya."


"Terima kasih banyak ayah atas bantuannya." Ucap Nisa dengan senyum yang dipaksakan.


"Oohh, jadi gadis ini meminta ayah untuk membiayai operasi adiknya, tapi kenapa harus meminta ke ayah, dia kan memiliki paman yang kaya. Pasti ada sesuatu yang dia inginkan dari ayah."Rey


"Baiklah, kalau begitu ayah pulang dulu Anisa" Ucap Pak Kusuma dan berdiri


"Ya silahkan ayah hati-hati di jalan." Ucap Anisa lalu mencium punggung tangan calon mertuanya.


"Kamu memang anak yang sopan Anisa. Ayah gak salah pilih kamu sebagai menantu ayah." Tuan Kusuma tersenyum dan mengelus kepala Anisa.


"Dewi kamu cepat sembuh ya."


"terima kasih Tuan"


"sama-sama nak. Jangan panggil saya Tuan. Panggil saya ayah karna kamu juga sudah saya anggap seperti anak saya sendiri." Tuan Kusuma mengelus kepala Dewi dengan lembut.

__ADS_1


Tuan Kusuma dan Rey pergi meninggalkan ruangan Dewi.


__ADS_2