
"Tidak!" Tegas Daffa, yang baru saja tiba membuat atensi ketiga wanita itu tertuju padanya.
Daffa melangkah mendekat ke arah mereka. Nampaknya dia harus mempertegas, bahwa manusia yang bernama Kartika benar-benar tidak boleh mendekati Safira, karena bisa saja membuat psikis istrinya terganggu.
"Sial! Kenapa pula si Daffa muncul begitu saja.
Padahal gue ingin berpura-pura berdamai dengan Safira agar mereka semua percaya, bahwa gue telah berubah." Gerutu Kartika
dalam hati.
"Jangan pernah berani lo mendekati istri gue!"
Kartika tersentak kaget ketika Daffa berani mengatakan seperti itu di depan Linda, dan juga Aida.
Karena tidak ingin suasana menjadi canggung, Kartika pun langsung memasang wajah tersenyum.
"Apa yang lo bicarakan, Daff? Padahal gue hanya ingin meminta maaf kepada Fira saja, sungguh." Ucap Kartika.
"Siapa yang bisa menjamin, kalau lo gak berbuat macam-macam kepada Fira? Jadi, gue tegaskan sekali lagi sebelum itu terjadi, jangan pernah berani mendekati istri gue, apalagi sampai menyentuhnya!"
Kartika langsung berdiri dari posisi duduknya.
"Apa lo sebegitu tidak mempercayai gue, Daff?" Tanyanya, dengan wajah memelas.
"Ya, tentu saja! Salah besar jika gue bisa mempercayai lo, Kartika!"
Kartika membelalakkan matanya sempurna. Itu artinya, Daffa akan membuat rencananya terhambat. Dan lagi, itu berarti Kartika harus menelan kekalahan lagi untuk kali ini? Tidak, gue tidak akan membiarkan itu terjadi! Batin Kartika.
"Daffa, kau tidak perlu cemas. Tika tidak lagi seperti dulu, bukankah semua orang bisa berubah? Iya 'kan, Jeng?" Kata Linda membela Kartika, lalu meminta dukungan dari Aida.
Sedangkan Aida hanya diam tak menanggapi, tidak membenarkan ataupun menyalahkan.
"Apa yang Mamah gue katakan itu benar, Daff."
"Terus? Lo pikir gue akan percaya begitu saja?"
"Apa lo masih gak percaya kalau gue telah berubah? Lo sudah mengenal gue dari lama, Daff. Bukannya hanya sehari atau dua hari saja."
Daffa melipat kedua tangannya di dada. Rupanya wanita yang sedang dia ajak bicara memiliki keras kepala yang sangat tinggi, padahal sudah jelas bahwa Daffa melarangnya, namun, Kartika justru seolah
mendesak Daffa agar mempercayainya.
"Justru karena gue telah mengenal lo cukup lama, Tik. makanya gue paham betul bagaimana, lo!"
Rasanya, Kartika seperti dipermalukan di depan Aida, sepertinya kali ini, rencana Kartika tidak berjalan dengan mulus, karena Daffa begitu mencurigainya.
"Kalau begitu, aku permisi dulu Mah, Tan." Pungkas Daffa, yang tidak ingin melanjutkan perdebatannya dengan Kartika.
__ADS_1
"Eh, tunggu sebentar Daff! Gue belum selesai bicara." Cegah Kartika, yang melihat Daffa hendak pergi.
Bukannya Daffa berhenti, dia justru terus berjalan tanpa menoleh ke arah Kartika sedikitpun. Merasa dirinya abaikan, Kartika
pun mendudukkan dirinya di atas sofa dengan kasar. Setelah Daffa memerintahkan salah satu ajudan untuk membelikan kebab yang Safira inginkan, Daffa pun kembali ke dalam kamarnya yang masih ada Dokter Kayla di sana.
"Jadi, bagaimana keadaan istri saya, Dok?" Tanya Daffa kepada Dokter Kayla, yang baru saja selesai memeriksa keadaan Safira.
"Nona Fira hanya mengalami syok saja, Tuan. Dia harus banyak beristirahat, dan sebaiknya, hindari hal-hal yang membuatnya stres."
"Apakah istri saya perlu perawatan rumah sakit, Dok?" Tanya Daffa kembali.
"Tidak perlu, Tuan. Nona Fira cukup perbanyak istirahat saja. Oh iya, ini sudah saya resepkan obatnya," Ujar Dokter Kayla, dengan memberikan secarik kertas kepada
Daffa.
"Lekas sembuh ya, Nona. Jangan banyak pikiran dulu, ok?" Sambungnya kembali.
"Iya, Dok. Terimakasih banyak ya, sudah mau datang kemari, dan memeriksaku." Saut Safira.
"Iya Nona, sama-sama. Itu sudah menjadi kewajiban saya, kalau begitu saya pamit dulu, ya." Pungkas Dokter Kayla, lalu keluar dari kamar Daffa.
"Sayang, bagaimana jika malam ini kita pulang ke rumah saja?" Tanya Daffa, ketika sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Safira mengerutkan keningnya samar.
"Kenapa mendadak sekali, Mas? Bukankah Papah meminta kita untuk pulang ke sini dulu, lagi pula kita belum sempat bertemu dengan Papah. Rasanya sangat tidak sopan, jika kita langsung pulang begitu saja."
"Aku nyaman kok Mas berada di sini."
"Tapi sayang, aku rasa tempat ini tidak aman untukmu."
"Tidak aman bagaimana, Mas? Di sini ada Oma, Mamah, dan yang lainnya. Jadi, apa yang Mas Daffa cemaskan?" Tanya Safira.
"Justru itu, aku tidak tenang jika kamu berada di dekat Mamahku. Apalagi mamah masih berhubungan baik dengan Kartika, aku tidak bisa menjamin, jika Mamah tidak akan berbuat macam-macam denganmu di
belakangku." Monolog Daffa dalam hati.
Di sisi lain, Kartika yang masih kesal dengan kejadian tadi pun tidak luput dari menyalahkan Aida, yang memilih diam saja tanpa membelanya sedikitpun.
"Tante, kenapa tadi diam saja?" Tanya Kartika kepada Aida.
"Lalu, tante harus mengatakan apa lagi? Lagi pula yang Daffa katakan ada benarnya juga." Jawab Aida santai, tanpa memperdulikan Kartika akan sakit hati atau tidak.
Sedangkan Linda, yang mendengar itu pun langsung melihat ke arah Aida.
"Maksud dari Jeng Aida apa, ya?" Tanya Linda, yang merasa bahwa Aida sedang menyinggung putrinya.
__ADS_1
"Bukankah sebelumnya, Tante selalu membelaku jika Daffa bersikap seperti itu?" Protes Kartika tidak terima.
"Tika, Tante sudah mengatakan kepadamu sebelumnya 'kan? Bahwa apa yang kamu lakukan hanyalah sia-sia." Jawab Aida menatap lekat manik Kartika.
Linda mengepalkan tangannya kuat, kali ini emosinya berhasil terpancing. Tidak ingin semua rencananya gagal, Linda pun hanya
memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menetralkan amarahnya seraya menghembuskan napasnya panjang.
"Aku hanya ingin berteman dengan Fira, Tante. Apa salahnya? Lagi pula, aku berhak untuk berubah menjadi lebih baik kan?" Kata Kartika membela diri.
"Benarkah? Lalu, Bagaimana dengan ambisimu itu, Tik? Tante tidak yakin kamu bisa melepaskan obsesimu begitu saja." Sindir Aida, yang membuat Linda akhirnya
meluapkan emosi yang sedari tadi susah payah dia tahan.
PLAK.
"Jaga ucapan Jeng Aida, ya! Kami datang kemari itu untuk niat baik, bukan malah dihardik." Saut Linda, setelah menampar wajah Aida.
Aida berdiri dari posisinya saat ini, lalu berjalan keluar begitu saja tanpa mengatakan apa pun.
"Pak Kasim." Panggil Aida dengan berteriak.
Pak Kasim yang bekerja sebagai satpam di rumah Bagaskara itu pun langsung berlari ke arah Aida, ketika namanya dipanggil.
"Iya Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Pak Kasim.
"Seret kedua wanita yang ada di ruang tamu, dan bawa mereka keluar!" Titah Aida, dengan berkacak pinggang.
Sedangkan Linda dan Kartika, yang mendengar ucapan Aida dari dalam rumah pun langsung keluar untuk mengeluarkan semua emosinya.
"Bagaimana bisa, Jeng Aida berbuat kasar kepada kami?" Kata Linda dengan menaikkan nada bicaranya.
"Bukankah Jeng Linda yang memulai duluan? Lagi pula, aku rasa kalian memang pantas diperlakukan seperti itu, "
"Jeng AIDA! Berani sekali kamu mengatakan itu kepada kami. Lihat saja, aku akan membuat perhitungan kepadamu!" Ancam Linda, dengan suara lantang.
"Beruntung sekali, Daffa tidak menikah denganmu, Tika. Daffa sungguh pintar dalam menilai seseorang." Ucap Aida dengan santai.
Bukannya langsung menyeret Linda dan Kartika, Pak Kasim justru asik melihat perdebatan ketiganya.
"Pak Kasim, apa yang kau lakukan? Cepat seret mereka keluar!" Titah Aida penuh ketegasan.
"Ba-baik, Nyonya." Jawab laki-laki paruh baya itu.
Pak kasim pun mulai menarik Linda dan Kartika secara paksa.
"Lepaskan! Saya bilang lepas!" Berontak Linda dengan berusaha melepaskan tangannya dari Pak Kasim.
__ADS_1
"Akan aku pastikan, Tante menyesali semua ucapan, dan perlakuan Tante Aida terhadap kan Pungkas Kartika yang ikut
mengancam, sebelum pergi meninggalkan Aida.