Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
Papa


__ADS_3

Dipaksa Menikah Bagian 27


Oleh Sept


Rate 18 +


Maunya memberikan kejutan, tapi sepertinya Sofi yang terkejut.


"Tas siapa ini? Dia sedang makan siang bersama siapa?" batin Sofi. Wajahnya terlihat gelisah. Sofi seolah dapat membaca apa yang sedang terjadi.


Perubahan sikap Garda, bahkan sudah akhir-akhir ini tidak menyentuh. Dan kini sepertinya Garda sedang bertemu dan makan siang bersama orang lain, seorang wanita.


"Kamu ... Kamu kenapa ada di sini? Bukannya ada di rumah mama?" tanya Garda. Ia mencoba bersikap sangat biasa. Meski wajahnya terlihat gamang.


"Ini ... mama suruh aku kasih ini!" ucap Sofi kemudian. Matanya melihat sekeliling, ia sedang mencari pemilik tas yang ada di sampingnya.


"Oh, terima kasih. Ayo Kita ke kantor. Makan di sana."


"Makan di sini saja!" sela Sofi ketika melihat suaminya beranjak berdiri dari kursinya.


[Bagaimana kalau mereka bertemu?]


Garda memutar otak, ia tidak ingin Sofi bertemu dengan wanita yang sudah janjian dengannya.


"Kita cari tempat lain, lebih nyaman dari ini," bujuk Garda.


Sofi membalas dengan menggeleng pelan. Kemudian tangannya meraih tas yang ada di sebelahnya dan meletakkan benda itu di atas meja.

__ADS_1


Sementara itu, Garda mendesis, menahan napas. Ia bingung mau bilang apa.


"Katakan ini milik siapa?" tanya Sofi sembari menelan ludah. Ia takut jika mendengar jawaban Garda, tapi ia juga marah bila suaminya ketahuan bersama wanita lain.


Lalu untuk apa mereka menikah? Untuk apa pria itu mengejarnya selama ini? Begitu ia mulai tertarik, pria itu malah seolah tidak peduli. Sebagai seorang wanita, pasti hatinya merasa sakit.


"Tas ini milik siapa?" ucap Sofi mengulang pertanyaan semula.


"Aku jelaskan di rumah."


Tiba-tiba seorang anak berlari menghampiri Garda dan langsung memeluk tubuh pria tersebut. Gadis 5 tahun itu habis dari kamar kecil bersama mamanya.


"Papaaaa!" panggil anak itu dengan ceria.


[PAPA?]


Lalu apa sekarang, malah ada anak kecil yang memanggil suaminya dengan sebutan papa. Astaga, langit Sofi mendadak runtuh.


"Siapa Tante ini, Pa? Mirip sekali sama Mama ... tapi Mama rambutnya panjang. Mama cantik ... Mama ..." anak itu berhenti bicara saat Amelia yang datang dari belakang langsung menggendong tubuhnya.


"Sini, sayang!"


"Mau Papa!" gadis itu merajuk, kemudian minta diturunkan dari gendongan sang mama.


Karena terus meronta, Amelia pun menurunkan gadis tersebut. Sehingga anak itu kembali memegangi tubuh Garda.


Sedangkan Sofi, ia masih shock. Tercenggang atas apa yang matanya lihat. Tidak bisa berpikir jernih, tidak bisa bertanya lagi. Lidahnya keluh, bibirnya hanya bergetar tak bersuara.

__ADS_1


Dengan hati terluka, ia mencoba berdiri dan mengumpulkan kesadaran. Karena dilihatnya, Garda hanya diam membisu. Tidak mau menjelaskan apa-apa.


Barulah saat Sofi benar-benar pergi beberapa saat kemudian, ia mendudukan anak kecil itu di kursi dan mengejar istrinya.


"Sof!! Berhenti!" panggil Garda memanggil Sofi yang berjalan sambil mengusap pipinya.


Pria itu dilema berat. Sebentar menoleh ke belakang, kemudian kembali menyusul Sofi.


"Dengarkan aku!"


Garda menarik lengan istrinya agar berhenti. Namun, ditepis dengan kasar oleh Sofi yang sudah dipenuhi rasa kecewa.


"Jangan sentuh aku!" sentak Sofi dengan mata yang sudah sembab.


Sofi kemudian berlari keluar dan menuju mobil.


"Pa ... Papa!" gadis kecil itu menangis menghampiri Garda.


Benar-benar simalamkama. Mau mengejar Sofi lagi, tapi gadis kecil itu menangis semakin kencang. Hingga para pelangan menatapnya dengan aneh.


Akhirnya, Garda pun meraih anak gadis itu dan menggendongnya. Sedangkan Sofi, ia sudah masuk mobil dan meninggalkan lokasi. Ia menyetir dengan perasaan yang kalut.


Sofi mengendara tidak fokus, hampir beberapa kali ia mau menabrak kendaraan di depannya. Mobil itu terus melaju, hingga ia memutuskan berhenti dan menepi di pinggir jalan.


Ia tidak sanggup, dadadnyaa terasa sesak, hatinya sakit melihat seorang anak kecil memanggil suaminya dengan sebutan papa.


BERSAMBUNG

__ADS_1



__ADS_2