Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
134. Penyesalan


__ADS_3

Setelah Safira dan Daffa telah pulang dari babymoon-nya di negara sakura. Safira banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar untuk beristirahat sesuai dengan


permintaan suami dan juga Ibu mertuanya.


Sedangkan Daffa yang masih bekerja dari rumah sudah disibukkan dengan banyaknya dokumen yang harus dikerjakan di ruangan kerjanya.


Sebuah notifikasi terdengar di telinga Safira yang saat itu tengah asik membaca buku favoritnya di dalam kamar. Safira letakan sejenak buku di tangannya, dan meraih benda pipih miliknya yang terletak di atas nakas.


'Fir, lagi ngapain?'Tulis Fitria pada pesan yang dikirimkan kepada Safira.


"Tumben sekali dia mengirimkan pesan seperti ini." Monolog Safira menatap layar ponselnya.


Saat Safira hendak mengetik balasan untuk pesan itu. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan diikuti Daffa yang mulai masuk ke dalam


"Siapa yang menghubungimu, sayang?" Tanya Daffa sedikit posesif ketika Safira sibuk dengan ponselnya.


"Fitria, Mas. Tumben sekali dia mengirimkan pesan kepadaku seperti ini. Biasanya dia itu langsung to the point, atau langsung meneleponku jika dia sedang bosan." Ucap Fitria memaparkan kebingungannya.


Daffa yang sudah duduk di sisi Safira, pun langsung ikut membaca pesan itu.


"Bisa saja dia memang sedang bosan, atau mungkin sedang rindu denganmu, sayang. Apalagi kalian belum bertemu selama seminggu ini." Ujar Daffa setelah membaca pesan itu.


Sementara Safira hanya diam sejenak, menangkap sebuah ide yang baru saja muncul di kepalanya.


"Mas, apakah pekerjaanmu sudah selesai?" Tanya Safira tidak sabar menunggu jawaban.


"Hmmm." Gumam Daffa seraya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Bagaimana jika kita ke rumah Fitria sekarang, agar dia terkejut dengan kehadiran kita?" Tanya Safira kembali, yang langsung disetujui oleh Daffa.


***


Sudah tiga hari Agatha tidak pulang ke rumah Arya setelah kejadian di mana Fitria salah paham dan mengusir Agatha dari rumah orang tuanya.


Selama tiga hari Agatha tidak ada di sana, Arya dan Evi terus saja menanyakan keberadaan laki-laki yang belum lama ini telah menjadi menantunya.


Arya dan Evi bahkan sempat menaruh curiga dengan rumah tangga putri semata


wayangnya itu. Namun kecurigaan itu tidak berlangsung lama, karena Fitria beralasan bahwa Agatha tengah sibuk membantu usaha Ibunya yang belakangan ini tengah ramai pembeli.


Sehingga Agatha tidak sempat pulang


ke rumah Arya. Karena kaki Fitria yang masih belum sembuh, Fitria banyak


menghabiskan waktu di kamarnya dengan netra yang terus menatap layar ponselnya tanpa mengenal waktu.


Seperti tengah menunggu sesuatu, notifikasi yang sangat Fitria tunggu-tunggu, pun nyatanya tak ada.


Tok tok tok.


Fitria tersentak kaget saat ketukan pintu berhasil menyadarkannya dari lamunan.


"Siapa?" Teriak Fitria dari dalam kamar.


Tok tok tok.


Tidak ada suara sedikit pun yang menjawab ucapannya, hanya sebuah


ketukan pintu saja yang kembali terdengar hingga membuatnya kesal.

__ADS_1


"Masuk!" Titah Fitria yang mengira bahwa itu adalah salah satu asisten rumah tangga Arya yang mungkin saja tidak mendengar


ucapannya tadi.


"Assalamu'alaikum." Ucap Safira mulai masuk ke dalam kamar yang bernuansa putih itu.


"Fira? Kapan lo datang?" Tanya Fitria tersentak kaget melihat kehadiran Safira.


"Kenapa? Kaget, ya?" Tanya Safira berjalan mendekat ke arah ranjang di mana Fitria tengah duduk di sana.


"Ke bawah yuk, Mas Daffa sudah menunggu kita di ruang tamu." Sambung Safira kembali yang sepertinya belum tahu mengenai kaki Fitria yang mengalami cedera.


Fitria hanya diam dan menatap ke arah kakinya yang tertutupi oleh selimut.


"Kenapa, Fit?" Tanya Safira dengan netra yang ikut menatap kearah selimut itu.


Fitria, pun membuka selimut itu hingga membuat Safira tersentak kaget saat melihat kondisi kaki Fitria yang dibaluti oleh gips di bawah sana.


"Astaghfirullah, kaki kamu kenapa, Fit?" Tanya Safira cemas.


"Hanya terpeleset saja kok, Fir."


"Pantas saja kamu mengirimiku pesan seperti itu, apa kamu merasa bosan?"


"Hmmm." Gumam Fitria nampak tak bersemangat.


"Oh ya Fit, dari tadi kok aku nggak melihat Agatha?" Tanya Safira celingukan.


"Itu.." Jawab Fitria sengaja menggantung kan ucapannya.


Ada apa, Fit?" Tanya Safira saat menangkap ada sesuatu yang tengah


Fitria diam sejenak, dan menatap Safira sendu.


"Fit, apa yang terjadi?" Tanya Safira kembali.


"Fir, Agatha.."


"Iya, kenapa dengan Agatha?"


"Dia pergi dari sini hiks hiks hiks." Ucap Fitria menangis.


Safira yang tidak tega menyaksikan teman baiknya menangis seperti itu, pun langsung


memeluknya dan mengusap bahu Fitria lembut tanpa menanyakannya lebih jauh.


Saat Fitria sudah tenang, Fitria pun melanjutkan ucapannya kembali yang sempat terhenti karena tangisannya yang sudah tidak bisa dibendung lagi.


"Lo ingat Friska, Fir? Mantan Daffa yang berprofesi menjadi seorang model itu,"


"Hmmm, aku mengingatnya." Jawab Safira yang tiba-tiba merasakan nyeri pada hatinya saat mengingat kembali nama itu.


"Dia mengirimkan surat untuk Agatha. Lo bisa baca sendiri isi surat itu yang gue letakan di sana." Ucap Fitria dengan mengarahkan pandangannya ke arah laci, diikuti dengan netra Safira setelahnya.


"Aku izin buka, ya." Ucap Safira sebelum membuka laci itu.


Safira, pun mulai membukanya setelah Fitria mempersilahkan.


"Astaghfirullah." Ucap Safira tersentak kaget saat membaca isi surat itu.

__ADS_1


"Coba bayangkan, bagaimana sakitnya hati gue, Fir? Padahal gue sudah mulai menaruh hati kepada Agatha, tapi kenapa akhirnya malah seperti ini, arrrgghh... Hiks hiks hiks."


"Fit.." Panggil Safira lirih.


"Apa kamu sudah mencari tahu kebenarannya, Fit? Paling tidak kamu harus mendengarkan dulu penjelasan dari Agatha. Kamu tidak tahu seperti apa wanita itu kan? Dia itu selalu bertindak sesuka hati. Lagi pula jika Agatha memang benar melakukan seperti yang Friska tuliskan pada surat yang dia buat, dan itu hanya bagian dari masa lalunya saja, jauh


sebelum mengenalmu. Aku sangat yakin jika Agatha sudah banyak berubah, tidak seperti Agatha yang kamu bayangkan." Kata Safira menasehati agar Fitria tidak


bertindak gegabah.


"Bagaimana lo bisa yakin dengan laki-laki bajing*n itu?"


"Dulu, Agatha pernah menolongku, saat aku disekap oleh Friska. Jika dia memang memiliki hubungan dengan Friska, tidak


mungkin, kan, Agatha memilih menolongku daripada membantu Friska menjalankan rencananya?"


Sepanjang Safira berbicara, Fitria hanya diam mendengarkan.


"Saranku, lebih baik kamu mendengarkan dulu penjelasan dari Agatha." Sambung Safira kembali agar Fitria merenungi ucapannya.


***


Saat malam hari tiba, Fitria berdiri di depan jendela untuk melihat langit malam yang sudah nampak gelap, seperti sudah menjadi rutinitas barunya.


Pikiran Fitria teringat dengan momen di mana dirinya berdiri bersebelahan dengan


Agatha di depan jendela saat di hotel Maldives kala itu.


Tidak puas menatap langit malam dari balik kaca, Fitria pun membuka kaca jendela kamarnya agar lebih leluasa lagi menatap ke arah luar seraya menikmati hembusan angin malam yang mulai menyusup masuk ke dalam kamarnya.


Fitria memejamkan matanya sejenak ketika angin malam berhasil membuatnya tenang.


Namun, saat Fitria membuka matanya perlahan, Fitria memicingkan matanya ketika menangkap seseorang yang tengah


menatapnya dari arah kejauhan yang


masih bisa dijangkau oleh pandangan Fitria dari kamarnya yang terletak di lantai dua.


"A-agatha..." Gumam Fitria lirih saat menangkap bahwa seseorang yang tengah duduk di atas motor sport itu adalah suaminya.


Fitria langsung buru-buru meraih ponselnya yang terletak di atas nakas dengan langkah yang tertatih. Setelah ponsel sudah ada di


tangannya, Fitria pun kembali ke arah


jendela.


Saat Fitria hendak menghubungi Agatha, tiba-tiba laki-laki itu sudah tidak ada di sana. Fitria terus mengedarkan pandangannya ke sembarang arah untuk mencari keberadaan suaminya itu. Namun


Fitria tidak menemukannya.


Tubuh Fitria melemas saat Agatha sudah pergi kembali, Fitria tiba-tiba teringat dengan nasehat yang Safira berikan,.


"Gue harus mencari tahu." Gumam Fitria, lalu membuka daftar kontak pada ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Cari tahu tentang hubungan suamiku dan wanita yang bernama Friska di masa lalu. Dan kirimkan semua rekaman CCTV yang terdapat Agatha dan Friska di mana pun


mereka berada." Ucap Fitria pada


seseorang yang dihubunginya melalui

__ADS_1


sambungan telepon.


__ADS_2