Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
DICURIGAI


__ADS_3

Dipaksa Menikah Bagian 37


Oleh Sept


Rate 18 +


Hari itu Sofi akan dibawa ke kota, bila kemarin Sofi terlihat terbaring lemas, kini Sofi jauh berbeda. Mungkin karena dapat energi baru dari kemarahannya, membuat Sofi terlihat lebih hidup. Sejak tadi, ia menatap sebal pada suaminya. Tatapan dingin, marah dan kesal.


Mereka masih perang dingin, Sofi bahkan belum membahas anak dan wanita lain suaminya dari masa lalu. Karena Sofi pikir itu tidak penting, lagian ia juga akan dipulangkan ke rumah orang tuanya. Sofi masih mengira, semuanya akan segera berakhir saat mereka tiba di rumahnya.


***


Sepanjang perjalanan Sofi tertidur, seorang perawat menemani perjalanan mereka. Dan ketika sudah keluar dari daerah terpencil di perbukitan yang jauh dari kota, mereka pindah transportasi.


Kini, sebuah mobil besar sedang menunggu mereka. Siap mengantar ke kota tujuan.


"Capek?" tanya Garda saat melihat wajah kusut Sofi.


Wanita itu hanya melirik, kemudian naik ke dalam mobil. Sofi memilih duduk di samping perawat. Sedangkan Garda, pria itu harus tersenyum kecut, karena Sofi enggan duduk di sampingnya.


Mobil pun mulai melaju saat semua sudah masuk dan duduk di dalam. Melesat, cepat tapi tidak terasa. Mesinnya halus, membuat jalan yang bergelombang pun tidak begitu kentara.


***


Beberapa jam kemudian


Mobil besar warna putih itu berhenti tepat di halaman rumah sakit. Sofi yang terbangun merasa heran, mengapa ia di bawa ke rumah sakit lagi?


"Kenapa ke sini?"


Garda yang baru dianggap ada oleh Sofi, karena baru diajak bicara. Ia pun mulai bersuara.


"Kita cek semuanya dulu," ucapnya.


"Aku nggak apa-apa!"


"Jika kamu tidak peduli pada dirimu sendiri, tolong ... sedikit saja khawatir pada anak yang kamu kandung!"


Garda memasang muka serius, mungkin campur kesal. Karena Sofi jutek dari kemarin.


Sofi memejamkan mata, menghela napas dalam-dalam. Ia lalu menatap perawat dan ikut masuk ke dalam rumah sakit.


Di ruang pemeriksaan


Sofi berbaring karena mau di USG. Semua normal, tidak ada keluhan, hanya saja tensi Sofi tergolong tinggi.


Garda sendiri meminta penjelasan dari dokter. Ia sampai menemui dokter lagi karena belum puas saat di jelaskan.

__ADS_1


"Kamu ke depan dulu, ada yang ingin aku tanyakan pada dokter."


Garda pergi menemui dokter, di sana ia mendapat penjelasan yang sedikit berbeda. Mungkin karena tidak ada Sofi di sana.


"Ibu hamil itu sangat rawan, apalagi ini awal kehamilan. Kalau bisa, Pak Garda jaga mood bu Sofi. Karena suasana hatinya yang tidak bagus bisa mempengaruhi janin."


GLEK ...


Garda menelan ludah.


"Ada obatnya, Dok? Agar tensi istri saya cepet redah. Saya juga heran, dia sekarang gampang marah."


"Pengunaan obat kurang bagus untuk ibu hamil, yang bisa dilakukan hanya mencegah ibu hamil agar tidak gampang stress. Jangan biarkan banyak pikiran."


"Ada lagi, Dok?"


"Semuanya bagus, kesehatan bu Sofi cukup bagus. Hanya itu saja yang bermasalah. Tensinya terlalu tinggi."


Garda mengusap pelipisnya.


"Baik, Dok."


***


Tiba di parkiran, Garda langsung masuk ke dalam mobil. Di sana Sofi sudah menunggu sejak tadi.


"Bukan apa-apa."


Garda kemudian bicara pada sopir. Ia menyebut alamat yang akan mereka tuju. Bukan alamat rumahnya, melainkan rumah kediaman papa Danu, orang tua Sofi.


[Bener-bener diantar pulang?]


Sudut bibirnya tertarik ke atas, Sofi tersebut kecut. Bukannya harus senang? Tapi mendadak ia merasa mellow.


[Ini pasti karena hormon kehamilan, mengapa aku jadi bad mood?]


MBREM ...


WUSHHHH ...


Mobil kembali melaju, seperti yang sudah-sudah. Suasana di dalam kendaraan itu seperti gua. Sepi dan terasa horor.


***


CHITTTTT ...


Dengan perhatian, Garda membantu Sofi turun. Meski awalnya enggan, Sofi akhirnya mau saja menyambut uluran tangan suaminya untuk turun dari mobil.

__ADS_1


Ting Tung ...


Ting Tung ...


"Ma ...!" panggil Garda.


"Mereka ke mana? Apa tidak ada di rumah?" tanya Sofi yang khawatir.


"Aku telpon dulu," sela Garda. Ia memang belum menghubungi mertuanya itu. Jadi tidak tahu, apa mama dan papa mertuanya ada di rumah.


Ting Tung ...


Ganti Sofi yang memencet bell pintu rumahnya. Tapi tidak ada sahutan. Namun, beberapa saat kemudian, sebuah mobil hitam masuk.


Baru berhenti, dua orang langsung keluar dan menghampiri Sofi.


"SOFIII!" panggil mama Hana.


Mama jelas kaget, putrinya yang lama tidak ada kabar kini sudah pulang.


Begitu juga papa Danu, ia langsung memeluk tubuh putrinya.


"Kamu ke mana, Sofi? Kenapa suka sekali membuat kami jantungan?" Papa Danu khawatir, tapi juga ingin marah.


"Pa ... Ma ... jangan marahi Sofi, Sofi hamil. Jadi, jangan dimarahi," sela Garda bak prajurit kesiangan.


Mama dan papa mertuanya langsung menatap Garda. Kemudian melihat perut Sofi.


"Hamil?" tanya mama dan papa bersamaan. Wajah mereka nampak sangat terkejut. Sofi sudah kabur lumayan lama, kok hamil?


[Anak siapa?]


Mama Hana gelisah.


[Ya Tuhan Sofi ... kamu benar-benar ingin menyiksa Papa]


Sama seperti istrinya, papa Danu pun bertanya-tanya dalam hati. Putrinya itu hamil anak siapa?


Bersambung.



Sudah Tamat


judul dinikahi Milyader


yang belom baca, cuss ya heheh

__ADS_1



__ADS_2