Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
153


__ADS_3

Keesokan paginya, kedua anak itu tengah sibuk bersiap-siap untuk pergi ke Rumah Sakit. Mereka sangat berantusias untuk pergi karena setelah hampir 3 harian mereka tak diperbolehkan untuk pergi ke rumah sakit. Dan lagi, gadis kecil itu sejak semalam merengek ingin segera bertemu dengan Appa nya.


"Oppa, cepetan ini sudah siang tahu. Oppa kenapa lambat sekali sih." Ucap Ana menggerutu, sambil menatap sebal Cleo yang masih mengikat tali sepatunya.


"Dasar adik cerewet." Cibir Cleo pelan.


"Eh, eh ada apasih?" tanya Jenni yang baru turun dari lantai dua berjalan menghampiri ponakan kembarnya. "Kenapa pagi-pagi kalian sudah beradu mulut dan Cleo kau tidak boleh mengatakan kata-kata tidak seperti itu pada adikmu." ujar Jenni menasehati Cleo.


"Tuh Oppa, kau tidak boleh berkata seperti itu." Timpal Ana merasa puas karena Oppa nya ditegur oleh aunty nya.


"Dan Ana kamu juga tidak boleh berkata dengan nada tinggi seperti itu pada Oppa mu, dia kan lebih tua darimu."


"Heuh, padahal hanya beda beberapa menit saja." Ujar Ana langsung memanyunkan bibirnya.


Cleo tak banyak menanggapi percakapan mereka, dia berjalan mendahului keluar rumah.


Jenni melihat Cleo yang sudah pergi, dia pun segera memutus percakapan mereka. "Ah, sudah yuk. Nanti kita terlambat ke Rumah sakit." ujarnya menggandeng lengan Ana dengan lembut.


Setelah keluar, Jenni langsung membukakan pintu mobil untuk Ana dan menuntunnya masuk ke dalam mobil. Di bangku belakang samping kanan, sudah duduk Cleo yang tengah memejamkan kedua matanya sambil melipat kedua lengannya di dada. Entah apa yang dipikirkan anak itu, dia jarang berbicara dan mengekspresikan perasaannya.


"Apa kau senang akan bertemu dengan Appa dan Eomma kalian?" tanya Jenni sesaat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Tentu saja Aunty! Ana benar-benar tak sabar melihat mereka, pokoknya Ana akan menceritakan tentang sekolah Ana di sini pada Appa." Seru Ana dengan senyum lebar di wajahnya.


"Benarkah? Woah pasti Appa mu benar-benar bangga dan senang mendengarnya, benarkan Cleo?" Tanya Jenni melirik ponakan laki-lakinya dari kaca mobil.


"Hn, Cerita Ana sering sekali membosankan." timpal Cleo, terlihat tak tertarik dengan percakapan mereka.


Ana yang mendengar itu wajahnya langsung merah padam. "Hueh." Dengus Ana langsung membuang mukanya ke arah jendela, membelakangi Oppa nya.


Jenni yang memperhatikan kedua nya dari tempat pengemudi pun merasa tak enak hati, entah kenapa Cleo selalu bersikap dingin pada adiknya. Ia jadi merasa kasihan pada Ana kecilnya.


"Tidak apa Ana, jika tidak ada yang ingin mendengar ceritamu. Aunty dengan senang hati akan mendengarkan ceritamu." Bujuk Jenni, mencoba mencerahkan situasi.


"Tidak apa, Aunty." Jawab Ana dengan nada suara memelan, terlihat gurat sedih di wajahnya. "Terimakasih." sambung gadis kecil itu, kembali menatap jalanan kota.


Suasana di dalam mobil itu masih sangat sunyi dan hawanya terasa mencekam hingga mereka sampai di depan rumah sakit, tak banyak suara yang biasa gadis itu timbulkan. Cleo pun tetap acuh, seakan tidak terjadi apa-apa. Melihat itu, Jenni hanya bisa terdiam. Dia belum bisa beradaptasi dengan sifat kedua ponakannya ini, selain itu putrinya sangat blak-blakan dengan nya jadi dia agak sulit ketika menghadapi anak yang pendiam.


...****************...


Di sisi lain, Sean masih tertidur di samping Crystal dengan kepala yang tertumpu di sisi ranjang. Tak berapa lama, terdengar suara erangan pria itu sambil meregangkan kedua lengannya ke atas.


"Eungh..."


Perlahan kedua mata Sean terbuka tapi masih terlihat remang-remang, Ia melihat sekitarnya dan tepat di Sofa tempat Kai tidur semalam sekarang sosoknya sudah tidak ada.

__ADS_1


"Kau tidak ingin bertemu aku yah? Makanya tidur mu sampai nyenyak begini." ujar Sean masih dalam setengah sadar, dia mengusap lengan Crystal lembut.


"Crystal, maafkan aku." Gumam Sean sambil menciumi lengan Crystal lembut. "Maafkan aku, sungguh cepatlah sadar. Aku membutuhkanmu, benar-benar membutuhkan mu di sisiku."


"APPA...."


Sean terkejut saat mendengar panggilan seseorang yang sangat amat dia ketahui siapa, Ia pun langsung menolehkan wajahnya ke arah sumber suara. Sejak kapan Putrinya datang? Padahal dia tidak mendengar suara pintu terbuka.


"Ana, Putriku." Seru Sean dengan berbinar, perlahan dia meletakkan kembali lengan Crystal dengan pelan. Kemudian bangun dari duduknya menghampiri putri tercintanya.


"Di mana Oppa mu? kenapa kau sendirian sayang?" tanya Sean beruntun.


"Appa pelukanmu terlalu erat." ujar Ana dengan suara yang sedikit tertahan akibat pelukan Sean yang mengerat.


"Ah, maafkan Appa sayang." ujar Sean langsung mengendurkan pelukannya. "Sayang, jawab pertanyaan Appa tadi. Kemana Oppa mu?"


"Oppa bersama Aunty Jenni sebentar lagi mereka datang." Jawab Ana dengan wajah yang terlihat tidak senang dan Sean menyadari gerak-gerik putrinya itu.


"Hey Putriku, kenapa wajahmu murung seperti ini ketika menyebut Oppa mu? Apa sesuatu terjadi selama Appa pergi?" tanya Sean mengelus pipi gembul Ana.


"Tidak Appa, semuanya baik-baik saja." Bohong Ana.


"Benarkah? Tapi wajahmu tidak mengatakan itu sayang."


"hn, katakan sayang." jawab Sean, meski dia masih bingung ada dengan putrinya.


"Apa Appa selama ini bosan mendengar cerita Ana? coba katakan Appa jika memang cerita Ana sellau membosankan untuk Appa." ujar Ana dengan sendu.


Sean langsung melepas pelukan putrinya agar menatap dirinya. "Sayang siapa yang berkata seperti itu? Cerita mu sungguh tidak membosankan, Appa senang mendengarnya. Jadi jangan bersedih yah sayang, Oppa mu hanya bercanda saja."


"Aku tidak bercanda Appa, cerita Ana memang membosankan." celetuk seseorang dari arah pintu.


Sean menolehkan wajahnya ke arah pintu dan menatapnya dengan tajam. "Cleo, jangan berkata seperti itu."


Cleo tetap acuh, langsung berjalan dan duduk di sofa. "Appa jangan terlalu memanjakan Ana, dia sudah besar." Ujar Cleo lagi.


"Astaga! Baik kamu dan Ana, kalian masih terlalu kecil untuk berpikiran seperti orang dewasa." Erang Sean, dia tak tahu harus menanggapi Cleo sepeti apa karena putranya itu pemikirannya terlampau seperti orang dewasa. Disitulah dia juga menyesalinya, semuanya karenanya.


"Sudahlah, kalian sudah sarapan belum?" tanya Sean mengalihkan pembicaraan.


"Sudah Appa, Aunty Jenni yang menyiapkan semuanya untuk kita." Timpal Ana.


"Syukurlah. Lalu, di mana Aunty Jenni saat ini?" tanya Sean karena tak melihat kemunculan kakak iparnya itu sejak Cloe datang.


"Dia sedang bersama Uncle Kai di Kantin." Jawab Cleo.

__ADS_1


"Hn, baiklah kalau begitu Appa mau membersihkan wajah dulu di kamar mandi."Ujar Sean sambil menurunkan Putrinya, lalu mendudukkannya di sofa.


"Kalian jaga Eomma yah dan jangan terlalu banyak becanda serta bersisik di sini. Ok?"


"Tentu Appa, Kami akan menjaga Eomma seketat mungkin." pekik Ana girang.


"Hn, pintar." timpal Sean mengelus rambut putrinya, "Appa masuk dulu." Ujarnya kemudian masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar tersebut.


Setelah hanya mereka berdua dan tentu Eomma nya, Ana langsung turun dari sofa lalu menghampiri ranjang Eomma nya berada. Dia memperhatikan wajah Crystal yang masih terlihat pucat dengan bibir yang kering.


"Oppa kenapa wajah Eomma sangat putih sekali seperti kapas?" tanya ana dengan polosnya.


Mengerti dengan pertanyaan sang adik, Cleo langsung menjawabnya "Eomma nya masih dalam pemulihan."


"Benarkah? hmm, Ana harap Eomma segera pulih dan membuka kembali kedua matanya yang cantik." Seru Ana tersenyum lembut.


Cleo melirik Ana yang masih terus mengoceh, adiknya memang benar-benar cerewet entah turun dari siapa? Padahal Eomma dan Appa nya termasuk orang yang diam, hn sepertinya dia tahu dari mana sifat Ana berasal. Memikirkannya saja membuat Cleo tersenyum kecil.


"Hah Oppa..."


"Ada apalagi Ana?" tanya Cleo memotong ucapan adiknya.


"Oppa, a-apa orang tidur i-tu lengannya bergerak?" tanya Ana sedikit ragu, suaranya juga terdengar gugup.


"Apa yang coba kamu tanyakan sebenarnya Ana?" ucap Cleo balik bertanya pada adiknya. "sebaiknya jangan ganggu Eomma, kembalilah duduk." titah Cleo.


"Tapi Oppa, lengan Eomma bergerak dan..."


Kedua mata Cleo langsung membola mendengar penuturan adiknya, dia langsung melempar asal buku yang tengah dia baca. Anak laki-laki itu segera menghampiri Ana.


"Kau jangan bercanda Ana." Ucap Cleo dengan suara berat, dia memperhatikan lengan Eomma nya tapi tak ada reaksi apapun.


"Sungguh Oppa, Ana melihatnya. Lengan Eomma bergerak begini." Ujar Ana memperagakannya.


"Sudahlah, kamu kebanyakan bicara sebaiknya duduk dan kembali membaca buku mu." kali ini suara Cleo meninggi, tanpa sadar dia telah tersulut emosi.


"Oppa, kenapa Oppa selalu berkata jahat pada Ana hiks..." ucap Ana dengan raut wajah memerah dan ketakutan.


"Sudahlah Ana jangan berlebihan, nada suaraku memang seperti ini dan lagi..."


"C-le-cleo...."


Deg. Kedua mata Cleo membola mendengar suara penuh rintihan itu. Dia langsung membalikan tubuhnya, benar tidak salah lagi.


"Eommaa.." Ujar Cleo dengan suaranya yang bergetar.

__ADS_1


__ADS_2