Dipaksa Menikah

Dipaksa Menikah
Chapter 145


__ADS_3

Hari ini mungkin bisa di bilang hari yang penuh kritis karena bukan hanya masalah mengenai Nyonya Crystal, tapi juga mengenai Tuannya Sean yang harus di rawat karena beberapa saat yang lalu ditemukan pingsan di rolong rumah sakit.


Sejak tadi, Jack mundar mandir di luar ruangan menunggu Dokter yang tengah memeriksa Tuannya. Dia benar-benar takut saat seseorang menelpon dan mengabarkan bahwa Tuannya jatuh pingsan. Kembali sudah ke berapa kali Jack menengok arlojinya lagi.


"Ini sudah dua jam berlangsung, kenapa Dokter belum kunjung keluar." gumam Jack yang semakin cemas.


Drttt....DRrrttt...


Ponselnya berdering, Jack merogoh saku jasnya dan melihat siapa yang menelponnya.


"Kevin? Ada apa dia menelpon." Seru Jack, dia langsung menekan tombol hijau di layar.


"Hey Jack! Di mana Tuan mu? Kenapa Ia tak kunjung datang, kau tau keadaan Crystal kembali Kritis!"


Jack sedikit menjauhkan benda pipih itu dari telinganya, mendengar suara Kevin yang emosi sepertinya keadaan di sana memang tidak baik-baik saja. Jack menjambak rambutnya, merasa kesal karena pendonor itu tak kunjung mereka temukan. Padahal, dia telah mengerahkan semua bawahannya ke rumah-rumah sakit besar sampai terkecil.


Jack menatap pintu bercat putih di mana Tuannya tengah di tangani. 'Tuan, apa yang harus aku lakukan.' Batinnya menjerit karena tidak bisa melakukan tugas yang benar dari tuannya.


".....Jack....Jack, kau dengar aku!"


"Ah, maaf. Ini sulit untuk dijelaskan, tapi Tuan Sean tengah di tangani oleh Dokter saat ini. Saya pun lagi menunggunya." Ucap Jack lirih.


"Apa lagi dirawat! Astaga, memangnya kenapa dia? Lalu bagaimana dengan pendonornya, tidak bisakah kau langsung membawanya tanpa menunggu Sean lagi."


Jack menarik nafasnya dengan kasar, sepertinya Kevin belum mengetahui mengenai hal itu. "Kevin dengarkan aku, itu semua gagal."


"A-pa maksudmu dengan gagal?" Tanya Kevin terkejut. "Katakan yang lebih jelas bodoh, kau tau di sini Crystal mempertaruhkan nyawanya hari ini. Bagaimana bisa donor itu gagal?" Teriak Kevin penuh dengan emosi.


"Ada kerusakan dalam jaringan jantung Nona Sulli karena sebelumnya Nona Sulli mengidap penyakit Kanker, tapi meski begitu kami telah mengusahakan untuk mencarinya kembali." Jack sulit mengatakan hal ini. "Namun tetap saja belum berbuah manis." Lanjut Jack lirih.


'Hah bisa gila aku, kenapa harus seperti ini. Bagaimana dengan Crystal.'


Jack mendengar Kevin menggerutu, dia tahu ini sulit untuk mereka.


"Ya sudah Jack aku tutup telponnya, kabari kembali jika ada perkembangan mengenai Pendonor karena....." Kevin menarik nafasnya dengan kasar. "Tinggal beberapa jam lagi."

__ADS_1


"Aku akan terus memantaunya." Balas Jack lalu mengakhiri panggilan itu.


Setelah mengakhiri panggilan telpon mereka, Jack langsung mengirim pesan pada seluruh anak buahnya untuk lebih mengerahkan pencarian entah itu di Korea Selatan ataupun di luar Korea mereka harus mendapatkannya.


Beberapa saat kemudian Dokter yang menangani Sean keluar, Jack langsung menghampirinya.


"Bagiamana keadaan Tuan saya Dokter?" tanya Jack dengan cemas.


Terdengar helaan nafas dari Dokter sebelum akhirnya menjawab kegelisahan Jack. "Kami harus memeriksanya lebih lanjut Tuan, karena kami tahu di kepala Tuan Sean itu tumor jinak apa ganas."


Deg. Kedua mata Jack membola, seluruh tubuhnya seakan ditarik lalu langsung dijatuhkan ke jurang terdalam. "T-t-tu-tumor Dok?" Tanya Jack terbata-bata.


"Benar Tuan dan sepertinya Tuan Sean selama ini sudah merasakan pusing yang berat, tapi sepertinya dia tahan sejauh ini. Mungkin karena hatinya juga tengah terguncang makanya saat tumor itu bereaksi tubuhnya tak kuat hingga tumbang." jelas Dokter tersebut.


Apalagi ini Tuhan. Kenapa menjadi lebih rumit, apa yang akan dirinya jelaskan pada Tuannya?


"Kita harus segera mengoperasi Tuan Sean, secepatnya."


"B-baik Dokter." Jawab Jack dengan lesu.


"Kalo begitu saya pamit untuk diri." Ucap Dokter, meninggalkan Jack yang masih dengan keadaan terkejut.


...****************...


"Sayang, kenapa diam saja. Katakan padaku kapan Sean akan datang?" Tanya Wendy dengan beruntun pada suaminya. "Kau lihat, Crsytal kita dia...." Wendy tak bisa melanjutkan ucapannya, suara tertahan di tenggorokan.


Kevin menatap Istrinya yang entah sudah berapa kali dia menangis, apa yang akan terjadi jika Istrinya mengetahui jika pendonor itu gagal. "Sayang." panggil Kevin lembut sambil mengusap punggung Istrinya dengan pelan. "Kau tau Crystal kuat bukan?"


Mendapati pertanyaan itu, Wendy menganggukkan kepalanya dalam dekapan suaminya.


"Sudah berapa tahun ini kita telah berjuang bersama-sama, adapun jika semuanya gagal kita akan serahkan semuanya pada......"


Wendy melepaskan pelukan suaminya dengan paksa, dia menatap suaminya dengan tajam. "Apa maksud dari ucapanmu itu?"


Kevin menatap balik Istrinya dengan lembur, dia sebisa mungkin tak goyah di sini. "Sayang dengarkan dulu perkataa....."

__ADS_1


"Tolong jangan berbasa-basi lagi! Katakan dengan sejujurnya apa yang terjadi, kenapa aku harus menerima?" Suara Wendy meninggi.


Kevin tau pasti akan jadi seperti ini jadinya.


"Kenapa diam saja, katakan dengan jelas padaku." Pinta Wendy.


"Kita harus menerima apapun konsekuensinya Wen." Seru Kevin.


"Konsekuensi dari apa? Bukankah Sean akan membawakan donor itu, kita tinggal menunggu dia datang." timpal Wendy sambil tertawa.


"Donor itu gagal." Ucap Kevin.


Deg. Wendy terkejut, dia tidak mungkin salah dengar dengan apa yang dikatakan oleh suaminya barusan. Tapi apa maksudnya ini? Wendy semakin tertawa. "Jangan bercanda, jelas-jelas dia akan datang." ucapnya mengabaikan perkataan Suaminya.


Kevin menarik bahu Wendy guna menghadap dirinya. "Tidak dia tidak akan datang, Sean tengah dirawat di rumah sakit. Jadi kita harus mempersiapkan segala kemungkinan."


Tes


Tes


Tes


Tes


Air mata Wendy mengalir membasahi pipinya. Tubuhnya lesu, dia tak bisa menahan bobot tubuhnya.


"Wendy." Pekik Kevin langsung menangkap tubuh Istrinya yang hendak ambruk dilantai. "Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Kevin, meski dia tahu keadaan Istrinya seperti apa. Dia tahu Istrinya terguncang mendengar kondisi saat ini.


Wendy menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, Ia memegang dadanya yang terasa sakit saat mendengar sesuatu seperti ini.


"Sayang." panggil Wendy lirih.


"Hm?"


"Kau bohongkan? Kau berkata bohongkan padaku?" Wendy mendongakkan wajahnya menatap suaminya dengan air mata yang tak kunjung henti.

__ADS_1


Melihat kondisi Istrinya, membuat Kevin tak bisa menahan laju air mata yang keluar dari kedua matanya. "Maafkan aku, maafkan aku sayang." Kevin merengkuh tubuh Istrinya, menangis dalam pelukan sang Istri. "Maaf." Berkali-kali Kevin meminta maaf.


"K-kenapa? hiks...." Lirih Wendy. "Apa yang akan aku katakan nanti pada kedua anak mereka hiks..."


__ADS_2