
"Kang, lepasin." Cicit Safira ketika dirinya dibawa masuk oleh Baron di sebuah bangunan tua.
Mendengar suara dari Safira, Daffa pun memicingkan matanya ke arah pintu. Daffa membelalakkan matanya sempurna ketika melihat istrinya tengah ditarik paksa oleh
Baron dengan kedua tangan yang
terikat.
"Lepaskan istri gue, pecundang!" Teriak Daffa dengan rahang mengeras.
"Rupanya kamu sudah sadar?" Tanya Baron mendekat ke arah Daffa seraya mencengkram rahang Daffa dengan cukup kuat.
"Salah besar jika kamu mencari masalah denganku, bodoh! Kamu tidak tahu siapa aku?" Tanya Baron kembali dengan penuh penekanan.
"Cuih! Gue gak perduli siapa lo, bagi gue, lo hanya seorang pecundang." Kata Daffa dengan meludahi wajah Baron. Membuat Baron menjauhkan wajahnya dengan kesal.
BUGH.
Baron pun mendaratkan tendangannya pada dada bidang milik Daffa tepat di depan mata Safira.
"Mas Daffa!" Pekik Safira takut jika terjadi sesuatu kepada suaminya.
"Kamu tidak perlu khawatir sayang, serangga seperti dia tidak akan bisa mengalahkanku sampai kapanpun." Ucap Daffa lembut agar Safira tidak khawatir.
"Tidak usah banyak bicara! Lihatlah? Apa yang bisa kau lakukan sekarang? Hahaha." Ejek Baron dengan tertawa puas.
"Lepasin gue sekarang!" Bentak Daffa kepada Baron.
"Tidak! Sampai Neng Fira setuju untuk menikah denganku."
"Dasar sinting! Jelas-jelas Fira itu istri gue!"
"Aku tidak perduli, aku bisa membuat Neng Fira menceraikanmu!"
"Oh ya? Bagaimana jika itu hanya imajinasi lo saja?" Ejek Daffa dengan menyeringai.
"Kamu menantangku?" Tanya Baron geram.
"Akang marah?" Tanya Daffa mengejek, dengan sengaja memanggilnya dengan sebutan Akang.
BUGH.
Tidak tahan lagi dengan ejekan yang diberikan Daffa, Baron pun mendaratkan bogeman mentah pada wajah tampan itu.
"Kang, hentikan!" Jerit Safira dengan menutup matanya.
"Ada apa, sayang?" Tanya Baron yang mendekat ke arah Safira.
"Jangan sakiti Mas Daffa lagi, Kang."Ucap Safira tergugu.
"Akang tidak akan menyakiti dia, asalkan... Neng Fira mau menjadi istri Akang." Kata Baron dengan menyentuh wajah Safira dengan menggunakan jari tangannya yang
__ADS_1
dilapisi oleh cadar.
Tidak ingin dirinya disentuh oleh laki-laki yang bukan mahromnya, Safira pun terus memalingkan wajahnya ke arah lain ketika Baron terus menyentuhnya.
"Singkirkan tangan kotor lo itu dari wajah istri gue, brengsek!" Bentak Daffa yang sudah habis kesabarannya.
Baron seakan menulikan telinganya dari teriakan Daffa kepadanya.
"Neng, lihat Akang." Bisik Baron ke telinga Safira.
Safira menggelengkan kepalanya sebagai bentuk penolakan.
"Menjauh dari istri gue, atau lo akan menyesal!" Bentak Daffa lagi.
Semwntara itu, Ardi yang baru saja pulang ke rumahnya, setelah melihat kiosnya yang ternyata tidak terbakar, tak mendapati keberadaan Safira dan Daffa di sana.
Ardi mengira keduanya mungkin sedang keluar membeli sesuatu, atau berkeliling desa.
"Iseng sekali Kang Ujang, Pak. Jelas-jelas kios kita tidak terjadi apa-apa, membuat orang panik saja." Gerutu Rani kepada tetangganya yang menyampaikan kabar bohong.
"Beruntungnya tidak terjadi apa-apa dengan kios kita, Bu." Saut Ardi yang tidak ingin istrinya terus kesal.
"Tapi tetap saja, Pak. Apa yang dilakukan Kang Ujang itu tidak benar kelewatan"
"Mungkin Kang Ujang hanya bercanda, Bu."
"Bercanda sih boleh, tapi tidak kelewatan seperti ini dong, Pak."
Disela-sela obrolan keduanya, tiba-tiba saja ada seseorang yang datang.
Ardi yang semula sedang duduk pun bangkit dari posisinya untuk membukakan pintu.
"Maaf, mencari siapa ya?" Tanya Ardi kepada laki-laki yang datang menggunakan mobil box.
"Apa benar, ini rumah dari Bapak Ardi?"
"Iya benar, dengan saya sendiri."
"Saya mengantarkan bingkisan dari Tuan Daffa, untuk Bapak Ardi."
"Maksudnya bagaimana? Baru saja siang tadi Daffa sampai di sini." Kata Ardi yang tidak mengerti.
"Sebelum Tuan Daffa kemari, beliau memang sudah menghubungi ke toko kami untuk membeli banyak bingkisan, dan beliau meminta agar bingkisan itu diantarkan langsung ke alamat ini."
"Maksudnya bingkisan itu oleh-oleh?" Saut Rani yang masih bingung.
"Singkatnya seperti itu, Ibu," Jawab laki-laki itu sopan.
"Sebentar ya, Pak, Bu. Saya ambilkan bingkisannya dulu di mobil." Lanjutnya kembali.
Baik Ardi maupun Rani hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
__ADS_1
Ardi kira hanya satu bingkisan saja yang akan dia terima, ternyata bingkisan itu sangat banyak hingga memenuhi seluruh ruang tamu.
"Kami permisi dulu, Pak." Pungkas laki-laki itu setelah meletakan banyak bingkisan pesanan Daffa.
"Terimakasih banyak ya." Saut Ardi.
Setelah kepergian mobil box yang baru saja mengantarkan bingkisan, terlihat kelima laki-laki berlarian ke arah rumah Ardi.
"Pak, bukankah mereka ajudan Pak Bagaskara? Ada apa mereka berlarian seperti itu?" Tanya Rani dengan memicingkan matanya.
"Huh huh huh, apa Tuan muda berada di sini Pak?" Tanya salah satu ajudan itu dengan mengatur napas.
"Tidak ada, kami baru saja sampai tadi. Apa kalian tidak melihat mereka?" Jawab Ardi dengan bertanya.
"Kami baru saja dikeroyok oleh segerombolan laki-laki yang tidak tahu datang dari mana," Tutur salah satu ajudan itu.
"Sial, sepertinya kita telah dikelabuhi. Mereka sengaja mengeroyok kita untuk mengalihkan perhatian. Kita harus berpencar dan mencari Tuan muda dan nona secepatnya!" Lanjutnya kembali.
Tanpa mengatakan apa pun, kelima ajudan itu pergi mencari keberadaan Daffa dan Safira, sedangkan Ardi dan Rani saat ini
sudah merasakan cemas.
"Pak, apa semua ini kerjaan Baron?" Tanya Rani yang mondar-mandir karena gelisah.
"Bapak juga berpikir begitu, Bu. Coba hubungi nomor Neng Fira sekarang." Titah Ardi kepada Rani.
Rani pun berlari mengambil ponselnya yang berada di atas meja, namun ketika Rani menghubungi Safira, suara ponsel berdering terdengar dari kamar keponakannya itu.
"Pak, apa itu suara ponsel Neng Fira?" Tanya Rani.
"Coba ibu matikan panggilannya, apa suara deringan ponsel dari kamar Neng Fira ikut berhenti juga?"
Rani pun mengikuti intruksi dari Ardi.
"Benar, Pak. Sepertinya itu suara ponsel milik Neng Fira." Ucap Rani ketika deringan ponsel yang didengarnya ikut berhenti bersamaan dengan terputusnya panggilan.
Tidak berselang lama, terdengar suara deringan ponsel yang berbeda dari sebelumnya, Ardi yang tahu kalau deringan itu berasal dari ponsel milik Daffa, membuat dirinya dan Rani ragu-ragu untuk mengangkatnya.
"Pak, apa tidak sebaiknya diangkat saja?" Tanya Rani yang saat ini sudah berada di depan pintu kamar Safira.
"Tidak enak, Bu. Itu namanyatidak sopan." Saut Ardi yang enggan melakukan.
"Siapa tau penting, Pak. Lagi pula saat ini keadaannya sedang genting, barangkali saja kita bisa tahu keberadaan Daffa dan juga Neng Fira "Tapi, Bu--baiklah, Bapak akan mengangkatnya." Kata Ardi yang
sempat menghentikan ucapannya
sejenak.
"Halo assalamu'alaikum." Ucap Ardi pada benda pipih milik Daffa.
"Wa'alaikumussalam, Loh? Kok yang angkat teleponnya Pak Ardi? Memangnya Daffa sedang berada di mana, Pak?" Tanya Bagaskara melalui sambungan suara.
__ADS_1
"Begini, Pak. Daffa dan Safira sepertinya menghilang."
"Apa?!! Apa ajudan saya tidak menjaga anak dan menantuku di sana?" Tanya Bagaskara yang tidak sadar menaikkan nada bicaranya.